Ada satu kebiasaan manusia yang menurutku menarik.
Ketika sesuatu pergi, refleks pertama kita sering kali adalah:
mengejar.
Seseorang mulai menjauh, kita mendekat.
Pesannya semakin singkat, kita semakin banyak bertanya.
Perhatiannya berkurang, kita semakin berusaha.
Dia meminta ruang, kita takut memberikannya.
Bahkan ketika seseorang sudah mengatakan ingin pergi, sebagian dari kita masih berdiri di depan pintu sambil berkata:
"Apa benar-benar nggak bisa diperbaiki?"
Aku mengerti.
Kehilangan memang menakutkan.
Apalagi kalau orang tersebut pernah menjadi bagian penting dari kehidupan.
Dahulu setiap pagi ada pesannya.
Malam ada teleponnya.
Ada tempat untuk bercerita.
Ada seseorang yang tahu makanan kesukaanmu, kebiasaan burukmu, cerita keluargamu, sampai mungkin tahu ekspresi wajahmu ketika sedang mengatakan:
"Aku nggak apa-apa."
Kemudian suatu hari semuanya berubah.
Orang yang dahulu terasa seperti rumah tiba-tiba menjadi seseorang yang bahkan untuk mengirim pesan saja kita harus berpikir sepuluh kali.
Sakit?
Tentu.
Tetapi ada pertanyaan yang jarang kita tanyakan ketika sedang takut kehilangan:
Apakah semua orang yang pergi memang harus kita perjuangkan untuk kembali?
Bagaimana kalau beberapa kehilangan justru sedang membuka jalan supaya kita berhenti hidup dalam hubungan yang selama ini perlahan menghilangkan diri kita sendiri?
Mari kita ngobrol.
Kita Sering Takut Kehilangan Bukan Hanya karena Cinta
Ketika hubungan berakhir, kita sering mengatakan:
"Aku masih cinta."
Dan mungkin memang benar.
Tetapi rasa takut kehilangan biasanya tidak hanya terdiri dari cinta.
Ada kebiasaan.
Ada rasa aman.
Ada kenangan.
Ada rencana masa depan.
Ada ketakutan kesepian.
Ada rasa takut memulai lagi dari nol.
Ada pertanyaan:
"Nanti aku dapat orang seperti dia lagi nggak?"
Jadi ketika seseorang pergi, yang terasa hilang bukan hanya manusianya.
Kita juga kehilangan kehidupan yang sudah kita bayangkan bersama dirinya.
Mungkin dahulu pernah membicarakan rumah.
Pernikahan.
Anak.
Liburan.
Usaha.
Masa tua.
Kemudian hubungan selesai.
Yang berduka bukan hanya hati terhadap seseorang.
Kita juga sedang berduka terhadap masa depan yang ternyata tidak jadi terjadi.
Itulah mengapa perpisahan bisa terasa begitu berat.
Otak Kita Suka yang Familiar, Bahkan Kalau yang Familiar Tidak Selalu Membahagiakan
Ada sesuatu yang nyaman dari hal yang sudah kita kenal.
Kita tahu sifatnya.
Tahu kebiasaannya.
Tahu cara membuatnya tertawa.
Tahu apa yang membuatnya marah.
Ketika hubungan selesai, kita harus menghadapi sesuatu yang tidak pasti.
Sendiri lagi.
Menjalani hari tanpa dirinya.
Mungkin suatu saat mengenal orang baru.
Mulai cerita dari awal.
Menjelaskan diri lagi.
Capek membayangkannya.
Maka pikiran berkata:
"Lebih baik kembali saja."
Tetapi tunggu.
Apakah kembali memang lebih baik?
Atau hanya lebih familiar?
Ini dua hal berbeda.
Sesuatu yang familiar memberikan rasa aman karena kita mengenalnya.
Tetapi dikenal bukan berarti sehat.
Kenangan Mempunyai Kebiasaan Mengedit Masa Lalu
Setelah seseorang pergi, ada fenomena menarik.
Kita tiba-tiba mengingat semua yang indah.
Tempat pertama bertemu.
Percakapan malam.
Liburan bersama.
Cara dia tertawa.
Makanan favorit.
Lagu tertentu.
Kita membuka foto lama dan berpikir:
"Dulu kita bahagia banget."
Benar.
Mungkin memang pernah bahagia.
Tetapi hati-hati.
Jangan hanya membuka album kenangan terbaik dan melupakan alasan hubungan tersebut akhirnya selesai.
Ingat juga malam ketika kamu menangis.
Ingat komunikasi yang tidak berjalan.
Ingat rasa tidak aman.
Ingat masalah yang terus berulang.
Bukan untuk membenci.
Tetapi supaya ingatanmu lebih utuh.
Masa lalu tidak perlu dibuat buruk.
Namun juga jangan dibuat lebih sempurna daripada kenyataannya.
Rindu Tidak Selalu Berarti Harus Kembali
Ini salah satu hal yang menurutku penting dipahami.
Kamu bisa merindukan seseorang yang sebenarnya tidak cocok lagi untukmu.
Kamu bisa merindukan mantan meskipun tahu hubungan kalian tidak sehat.
Kamu bisa merindukan seseorang sambil tetap memahami bahwa keputusan berpisah adalah keputusan yang tepat.
Karena rindu hanyalah perasaan.
Ia bukan petunjuk arah.
Ketika rindu datang, kita sering menganggap:
"Berarti aku masih harus memperjuangkannya."
Belum tentu.
Mungkin kamu hanya sedang mengingat bagian kehidupan yang dahulu terasa nyaman.
Rasakan rindunya.
Tidak perlu malu.
Tetapi tidak setiap perasaan membutuhkan tindakan.
Ada Perbedaan antara Memperjuangkan Hubungan dan Memohon Seseorang untuk Tinggal
Aku percaya hubungan perlu diperjuangkan.
Tidak ada hubungan yang setiap hari sempurna.
Ada konflik.
Perbedaan.
Kebosanan.
Kesalahpahaman.
Fase sulit.
Tetapi perjuangan membutuhkan dua orang.
Kalau kamu maju satu langkah dan dia juga maju satu langkah, kalian sedang memperjuangkan.
Kalau kamu berlari sepuluh kilometer sementara dia terus menjauh, mungkin kamu sedang mengejar.
Dan mengejar seseorang terus-menerus melelahkan.
Kamu mulai bertanya:
"Aku kurang apa?"
"Apa yang harus aku ubah?"
"Kalau aku lebih perhatian dia akan tinggal?"
"Kalau aku lebih cantik?"
"Lebih tampan?"
"Lebih sukses?"
"Lebih sabar?"
Lama-lama kamu tidak lagi memperbaiki hubungan.
Kamu sedang membongkar dirimu sendiri supaya sesuai dengan seseorang yang bahkan belum tentu ingin tinggal.
Jangan Menjadikan Kepergian Seseorang sebagai Bukti Bahwa Kamu Tidak Layak Dicintai
Ini jebakan yang sangat menyakitkan.
Dia pergi.
Lalu kesimpulan kita:
"Berarti aku kurang."
Tidak sesederhana itu.
Hubungan berakhir karena banyak kemungkinan.
Perasaan berubah.
Prioritas berubah.
Kebutuhan berbeda.
Arah kehidupan berbeda.
Komunikasi tidak berjalan.
Kesiapan emosional berbeda.
Atau memang dua manusia yang dahulu cocok sekarang tidak lagi cocok.
Tidak semua perpisahan membutuhkan penjahat.
Dan tidak semua orang yang ditinggalkan berarti kalah.
Seseorang tidak memilihmu bukan berarti seluruh dunia juga tidak akan memilihmu.
Kadang Kita Mengejar karena Ingin Membuktikan Bahwa Kita Masih Diinginkan
Mari sedikit lebih jujur.
Ada kalanya yang terluka setelah perpisahan bukan hanya hati.
Harga diri juga.
Apalagi kalau dia lebih dahulu melanjutkan hidup.
Kita melihat dirinya terlihat bahagia.
Kemudian muncul dorongan:
"Aku harus mendapatkan dia kembali."
Tetapi tanyakan:
Kalau dia kembali malam ini, apakah masalah kalian otomatis selesai?
Atau kamu hanya ingin membuktikan bahwa kamu masih bisa membuat dirinya kembali?
Ada perbedaan antara:
ingin bersama seseorang
dan
ingin kembali merasa dipilih seseorang.
Kadang ego menyamar menjadi cinta.
Bukan berarti perasaanmu palsu.
Hanya saja manusia memang kompleks.
Dan kesadaran diri membantu kita melihat lapisan-lapisan tersebut.
Hubungan yang Membuatmu Kehilangan Diri Layak Dilihat Kembali
Coba ingat siapa dirimu sebelum hubungan tersebut.
Apakah dahulu kamu mempunyai banyak teman?
Hobi?
Mimpi?
Kepercayaan diri?
Kemudian perlahan semuanya mengecil?
Kamu berhenti melakukan sesuatu karena dia tidak suka.
Menjauh dari teman.
Takut berbicara jujur.
Selalu menjaga suasana.
Terus meminta maaf.
Terus menyesuaikan diri.
Sampai suatu hari kamu bercermin dan tidak tahu lagi:
"Aku sebenarnya mau apa?"
Kalau hubungan membuat seseorang terus kehilangan dirinya, kepergian memang tetap menyakitkan.
Tetapi setelah rasa sakit perlahan mereda, mungkin ada ruang untuk menemukan diri kembali.
Tidak Semua Kehilangan Adalah Hukuman
Ketika sesuatu berakhir, kita sering bertanya:
"Kenapa ini terjadi kepadaku?"
Bagaimana kalau pertanyaannya diubah?
"Apa yang bisa kupahami tentang diriku dari kejadian ini?"
Bukan berarti semua peristiwa buruk harus dipaksa mempunyai makna indah.
Tidak.
Ada kehilangan yang memang hanya menyakitkan.
Tetapi setelah terjadi, kita tetap mempunyai pilihan mengenai bagaimana membawanya.
Apakah pengalaman itu membuat kita semakin membenci diri?
Atau membuat kita semakin memahami kebutuhan, batas, pola hubungan, dan nilai yang penting bagi kehidupan kita?
Mindfulness Mengajarkan Kita Tidak Berlari dari Rasa Kehilangan
Ketika patah hati, kita ingin rasa sakit segera hilang.
Maka kita mencari pengalihan.
Kerja berlebihan.
Keluar setiap malam.
Scroll media sosial.
Mencari pasangan baru.
Atau terus menghubungi mantan.
Apa pun supaya tidak merasakan ruang kosong.
Tetapi ada saat ketika kita perlu duduk bersama perasaan tersebut.
Bukan tenggelam di dalamnya.
Cukup mengaku:
"Aku sedang sedih karena kehilangan seseorang yang berarti."
Itu saja.
Tidak perlu menambahkan:
"Berarti hidupku selesai."
Tidak perlu:
"Aku nggak akan bahagia lagi."
Kesedihan adalah keadaan saat ini.
Bukan ramalan masa depan.
Belajar Mengamati Rasa Sakit Tanpa Menjadi Rasa Sakit Itu Sendiri
Coba ketika rasa kehilangan datang.
Berhenti.
Tarik napas.
Perhatikan tubuh.
Mungkin dada terasa berat.
Tenggorokan seperti tertahan.
Perut tidak nyaman.
Mata mulai panas.
Kemudian katakan:
"Ada kesedihan di sini."
Bukan:
"Aku adalah orang paling menyedihkan."
Ada perbedaan.
Perasaan datang dan pergi.
Identitasmu lebih besar daripada perasaan yang sedang hadir.
Hari ini kamu sedih.
Besok mungkin masih sedih.
Tetapi suatu hari intensitasnya berubah.
Tubuh dan pikiran manusia mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri.
Jangan Menghubunginya Hanya karena Malam Sedang Sepi
Ini klasik.
Siang:
"Aku sudah ikhlas."
Jam 00.47:
"Apa kabar?"
Hehehe.
Aku mengerti.
Malam memang sering memperbesar rindu.
Tetapi sebelum mengirim pesan, coba tunggu.
Tanyakan:
"Aku benar-benar ingin membangun komunikasi yang sehat, atau aku sedang kesepian?"
Kalau hanya kesepian, pesan tersebut mungkin memberikan ketenangan selama lima menit.
Setelah itu?
Kamu kembali menunggu balasan.
Kalau dibalas dingin, sakit.
Kalau tidak dibalas, lebih sakit.
Kalau dibalas hangat, harapan muncul lagi.
Siklus dimulai dari awal.
Kadang tidak mengirim pesan adalah bentuk perlindungan diri.
Berhenti Mengintip Kehidupannya Kalau Itu Membuatmu Terus Terluka
Kamu tidak harus memblokir semua mantan.
Setiap situasi berbeda.
Tetapi kalau setiap melihat unggahannya membuatmu kembali hancur, memberikan jarak bisa menjadi keputusan yang sehat.
Mute.
Unfollow sementara.
Berhenti mencari namanya.
Bukan karena membenci.
Tetapi karena kamu tahu kemampuanmu saat ini.
Tidak semua informasi harus diketahui.
Dia makan dengan siapa?
Tidak perlu.
Dia pergi ke mana?
Tidak perlu.
Dia dekat dengan siapa?
Mungkin juga tidak perlu.
Kehidupannya perlahan bukan lagi wilayah yang harus kamu awasi.
Dan memang, menerima itu berat.
Jangan Jadikan Orang Baru sebagai Tempat Pelarian
Setelah kehilangan seseorang, kita bisa tergoda mencari pengganti secepat mungkin.
Supaya tidak sepi.
Supaya mantan cemburu.
Supaya merasa masih menarik.
Tetapi orang baru adalah manusia.
Bukan obat.
Kalau ingin mengenal seseorang, kenali karena memang tertarik.
Bukan karena sedang membutuhkan anestesi emosional.
Kalau belum siap, tidak masalah.
Tidak ada perlombaan siapa paling cepat mendapatkan pasangan baru setelah putus.
Gunakan Masa Sendiri untuk Mengenal Dirimu Lagi
Setelah lama menjadi "kita", tiba-tiba kembali menjadi "aku" memang aneh.
Dahulu akhir pekan bersama dia.
Sekarang kosong.
Dahulu memilih makanan berdua.
Sekarang sendiri.
Tetapi perlahan tanyakan:
Apa yang kusukai?
Apa yang ingin kupelajari?
Teman mana yang ingin kutemui lagi?
Mimpi apa yang dahulu tertunda?
Tempat mana yang ingin kudatangi?
Bagaimana kehidupan yang ingin kubangun?
Bukan kehidupan yang membuat mantan menyesal.
Kehidupan yang membuatmu sendiri merasa betah menjalaninya.
Memaafkan Tidak Selalu Berarti Membuka Pintu Kembali
Kamu bisa memaafkan seseorang tanpa kembali berhubungan.
Kamu bisa berhenti marah tanpa harus menjadi dekat lagi.
Memaafkan bukan berarti mengatakan bahwa semua yang terjadi benar.
Kadang memaafkan hanya berarti:
"Aku tidak ingin membawa kemarahan ini ke seluruh perjalanan hidupku."
Dan memaafkan juga termasuk memaafkan diri sendiri.
Karena mungkin kamu pernah bertahan terlalu lama.
Pernah memohon.
Pernah mengirim pesan yang sekarang membuat malu.
Ya sudah.
Saat itu kamu sedang takut kehilangan.
Tidak perlu menghukum versi dirimu yang sedang terluka.
Kalau Dia Kembali, Jangan Hanya Bertanya Apakah Kamu Masih Cinta
Suatu hari mungkin seseorang memang kembali.
Kalau itu terjadi, jangan langsung menjawab hanya berdasarkan rindu.
Tanyakan:
Apa yang berubah?
Apakah masalah lama sudah dipahami?
Apakah komunikasi sekarang lebih sehat?
Apakah dua-duanya ingin memperbaiki?
Apakah hubungan ini mempunyai arah?
Dan yang penting:
Apakah aku merasa aman menjadi diriku sendiri di dalam hubungan ini?
Karena cinta penting.
Tetapi cinta sendirian tidak selalu cukup.
Kehilangan Bisa Mengajarkan Kita Standar yang Selama Ini Tidak Kita Miliki
Kadang setelah hubungan berakhir kita baru sadar:
"Oh, ternyata selama ini aku terlalu sering memaklumi."
Atau:
"Ternyata aku jarang mengatakan kebutuhanku."
Atau:
"Aku terlalu takut ditinggalkan."
Pengetahuan itu berharga.
Bukan untuk menyalahkan diri.
Tetapi supaya hubungan berikutnya tidak dibangun dengan pola yang sama.
Mungkin kehilangan seseorang tidak membuatmu langsung menemukan orang yang lebih baik.
Tetapi bisa membantu kamu menjadi seseorang yang lebih memahami apa yang dibutuhkan dalam hubungan.
Tidak Perlu Membuktikan Kamu Bahagia Setelah Dia Pergi
Ini juga penting.
Setelah putus, kadang media sosial berubah menjadi panggung pembuktian.
Upload bahagia.
Pergi ke mana-mana.
Caption penuh semangat.
Tujuannya satu:
semoga dia lihat.
Tetapi kalau seluruh kebahagiaan masih diarahkan kepada reaksinya, bukankah dia masih mengendalikan hidupmu?
Tidak perlu membuktikan apa pun.
Sembuhlah diam-diam kalau perlu.
Bahagia bukan kompetisi.
Orang yang Pergi Tidak Mengambil Seluruh Masa Depanmu
Ketika sedang patah hati, masa depan terasa kosong.
Karena selama ini dia berada di dalam bayangan masa depan tersebut.
Tetapi masa depan sebenarnya belum ditulis.
Mungkin nanti ada orang baru.
Mungkin tidak dalam waktu dekat.
Mungkin sebelum itu kamu menemukan banyak hal lain.
Pekerjaan.
Persahabatan.
Perjalanan.
Karya.
Ketenangan.
Versi diri yang belum pernah kamu kenal.
Jangan menyimpulkan seluruh kehidupan dari satu bab yang baru selesai.
Closing: Mungkin Kehilangannya Bukan Akhir, Tetapi Jalan Pulang kepada Dirimu
Kalau seseorang sedang pergi dari kehidupanmu hari ini, aku tidak akan berkata:
"Sudahlah, lupakan."
Terlalu mudah.
Kalau kamu mencintainya, tentu ada rasa sakit.
Kalau kalian mempunyai banyak kenangan, tentu ada rindu.
Kalau pernah membangun mimpi bersama, tentu ada bagian diri yang merasa kehilangan arah.
Rasakan.
Tidak perlu pura-pura kuat.
Tetapi setelah itu, coba lihat dirimu.
Berapa lama kamu sudah mengejar?
Berapa kali kamu meminta kepastian?
Berapa banyak energi yang digunakan untuk membuat seseorang tetap tinggal?
Dan tanyakan satu pertanyaan sederhana:
"Kalau aku berhenti mengejarnya, siapa yang akhirnya bisa aku selamatkan?"
Mungkin jawabannya:
dirimu sendiri.
Mungkin setelah dia pergi, kamu akhirnya bisa tidur tanpa menunggu pesan.
Mungkin tidak lagi menebak-nebak perasaan seseorang.
Mungkin bisa bertemu teman lagi.
Melakukan hobi lagi.
Tertawa tanpa merasa bersalah.
Mungkin perlahan kamu menemukan bahwa kedamaian yang selama ini dicari dari seseorang ternyata juga bisa dibangun dari dalam diri.
Bukan berarti dia manusia buruk.
Tidak perlu begitu.
Dia mungkin orang baik.
Kamu juga orang baik.
Tetapi dua orang baik tidak selalu harus hidup bersama selamanya.
Kadang perjalanan memang selesai.
Dan sebuah perjalanan yang selesai tidak berarti perjalanan itu sia-sia.
Kamu pernah belajar mencintai.
Belajar kecewa.
Belajar meminta maaf.
Belajar kehilangan.
Dan sekarang mungkin waktunya belajar:
melepaskan.
Tidak semua yang pergi harus dikejar.
Tidak semua pintu yang tertutup harus didobrak.
Tidak semua hubungan harus diselamatkan hanya karena dahulu pernah indah.
Ada kalanya kita begitu sibuk berusaha menyelamatkan hubungan sampai lupa menyelamatkan diri sendiri.
Jadi kalau hari ini seseorang memilih pergi, kamu boleh menangis.
Boleh sedih.
Boleh rindu.
Tetapi jangan ikut pergi dari kehidupanmu sendiri.
Tetap makan.
Tetap bekerja.
Temui orang-orang yang menyayangimu.
Rawat tubuh.
Rawat pikiran.
Bangun kembali rencana-rencana kecil.
Pelan-pelan.
Suatu hari mungkin namanya masih kamu ingat.
Tetapi tidak lagi membuat dada sesak.
Kamu bisa mengingatnya sambil tersenyum:
"Terima kasih pernah hadir."
Lalu melanjutkan perjalanan.
Bukan karena kamu tidak pernah mencintainya.
Justru mungkin karena akhirnya kamu belajar bahwa cinta bukan hanya tentang mempertahankan seseorang.
Kadang cinta juga berarti menerima ketika sebuah cerita memang sudah sampai pada halaman terakhir.
Dan mindfulness mengajarkan kita satu hal sederhana:
Kita tidak bisa mengubah kemarin.
Kita belum hidup di hari esok.
Yang kita miliki adalah hari ini.
Maka jangan habiskan hari ini berdiri di depan pintu yang sudah tertutup.
Berbaliklah.
Lihat kehidupan yang masih terbentang.
Mungkin jalannya belum jelas.
Mungkin masih sepi.
Tetapi teruslah berjalan.
Sebab bisa jadi beberapa tahun dari sekarang kamu akan melihat kembali kepergian yang hari ini membuatmu menangis, lalu akhirnya memahami:
ternyata aku tidak sedang kehilangan seluruh hidupku.
Aku hanya sedang diarahkan kembali untuk menemukan diriku sendiri.
— DJ BANGSA EAA


0Komentar