Ada sebuah kebiasaan kecil yang mungkin pernah kita lakukan.
Awalnya cuma mau membuka ponsel lima menit.
Scroll.
Teman sekolah menikah.
Scroll lagi.
Teman kuliah membeli rumah.
Scroll.
Seseorang liburan ke luar negeri.
Scroll lagi.
Teman lama mengumumkan promosi pekerjaan.
Scroll.
Seseorang memamerkan bisnis barunya.
Scroll lagi.
Ada pasangan yang terlihat romantis sekali.
Lalu tanpa sadar kita berhenti.
Melihat kehidupan sendiri.
Dan muncul sebuah pertanyaan kecil:
"Kok hidup orang lain seperti jalan terus, sementara hidupku begini-begini saja?"
Padahal lima menit sebelumnya kita baik-baik saja.
Lucu, ya?
Kita tidak kehilangan pekerjaan.
Tidak tiba-tiba kehilangan rumah.
Tidak terjadi bencana apa pun.
Hanya melihat beberapa unggahan orang lain.
Tetapi dalam waktu singkat, rasa cukup yang tadinya ada bisa berubah menjadi perasaan tertinggal.
Umur 25 melihat teman menikah.
Panik.
Umur 30 melihat teman punya rumah.
Panik.
Umur 35 melihat teman mempunyai bisnis besar.
Panik lagi.
Seolah kehidupan mempunyai sebuah jadwal rahasia yang mengatakan:
"Di umur sekian kamu seharusnya sudah sampai di sini."
Pertanyaannya:
Siapa yang membuat jadwal itu?
Dan kenapa kita begitu mudah percaya bahwa kehidupan orang lain sedang jauh lebih baik hanya karena terlihat lebih menarik dari layar ponsel?
Mari kita ngobrol.
Manusia Memang Suka Membandingkan Diri
Membandingkan diri sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya aneh.
Kita hidup bersama manusia lain.
Secara alami kita melihat lingkungan untuk memahami posisi kita.
Apakah kita cukup baik?
Apakah kita diterima?
Apakah kita berkembang?
Masalahnya bukan sekadar adanya perbandingan.
Masalah muncul ketika perbandingan menjadi ukuran utama harga diri.
Teman mendapatkan pekerjaan baru.
Kita bukan hanya berkata:
"Wah, keren."
Tetapi kemudian:
"Berarti karierku jelek."
Teman menikah.
Bukan hanya:
"Semoga bahagia."
Tetapi:
"Berarti aku terlambat."
Seseorang membeli mobil.
Lalu:
"Berarti aku belum sukses."
Perhatikan polanya.
Keberhasilan orang lain tiba-tiba berubah menjadi bukti kegagalan kita.
Padahal sebenarnya dua hal tersebut tidak mempunyai hubungan langsung.
Seseorang berhasil bukan berarti kita gagal.
Seseorang menikah bukan berarti kita terlambat.
Seseorang kaya bukan berarti hidup kita tidak bernilai.
Media Sosial Membuat Kita Membandingkan Kehidupan Lengkap dengan Potongan Terbaik Orang Lain
Ini mungkin salah satu ketidakadilan terbesar dalam perbandingan sosial.
Kita mengetahui seluruh kehidupan kita.
Kita tahu tagihan.
Kita tahu pertengkaran.
Kita tahu kegagalan.
Kita tahu malam-malam ketika menangis.
Kita tahu ketakutan.
Kita tahu berapa uang yang tersisa.
Kita tahu semua keputusan bodoh yang pernah dibuat.
Tentang orang lain?
Kita melihat foto.
Video 30 detik.
Caption.
Story 15 detik.
Itu saja.
Tetapi kemudian otak membandingkan keduanya seolah informasinya sama lengkap.
Tentu kita kalah.
Karena kita sedang membandingkan behind the scenes kehidupan sendiri dengan highlight kehidupan orang lain.
Foto Bahagia Tidak Selalu Berarti Hidup Tanpa Masalah
Ini bukan berarti kita harus curiga setiap melihat orang bahagia.
"Ah, paling sebenarnya sengsara."
Jangan begitu juga.
Hehehe.
Kalau orang bahagia, ya semoga memang bahagia.
Kita ikut senang.
Tetapi yang perlu dipahami:
sebuah foto tidak mampu menjelaskan seluruh kehidupan manusia.
Pasangan yang terlihat romantis tetap bisa mempunyai masalah.
Orang yang baru membeli rumah mungkin sedang memikirkan cicilan.
Pemilik bisnis yang terlihat sukses mungkin sedang stres memikirkan gaji karyawan.
Orang yang liburan mungkin memang bahagia, tetapi setelah pulang tetap mempunyai persoalan.
Sama seperti dirimu.
Kamu juga mungkin pernah mengunggah foto tersenyum ketika sebenarnya sedang mempunyai masalah.
Bukan berarti berbohong.
Kita hanya tidak selalu membagikan seluruh kehidupan.
Kita Sering Membandingkan Bab 3 Kita dengan Bab 17 Orang Lain
Bayangkan kamu baru memulai usaha satu tahun.
Lalu melihat seseorang yang bisnisnya sudah berjalan lima belas tahun.
Kamu berkata:
"Kenapa aku belum seperti dia?"
Ya karena perjalanannya berbeda.
Hehehe.
Tetapi kita sering lupa melihat waktu.
Kita hanya melihat hasil.
Tidak melihat berapa lama prosesnya.
Tidak tahu modalnya.
Tidak tahu koneksinya.
Tidak tahu kegagalannya.
Tidak tahu dukungan yang dimiliki.
Tidak tahu keberuntungan yang mungkin datang.
Setiap manusia memulai dari titik berbeda.
Karena itu perbandingan yang terlalu sederhana sering kali tidak adil.
Ada Orang yang Memulai Hidup dengan Bekal Berbeda
Kita perlu jujur tentang ini.
Tidak semua manusia memulai dari garis yang sama.
Ada orang umur 20 sudah mempunyai modal bisnis dari keluarga.
Ada yang umur 20 justru harus membantu membayar kebutuhan keluarga.
Ada yang setelah lulus bisa fokus membangun karier.
Ada yang harus merawat orang tua.
Ada yang mempunyai jaringan luas.
Ada yang harus membangun semuanya sendiri.
Ada yang lahir dalam keadaan ekonomi stabil.
Ada yang sejak kecil sudah belajar bertahan.
Ini bukan alasan untuk menyerah.
Tetapi penting supaya kita tidak terus menghukum diri menggunakan standar kehidupan seseorang yang mempunyai keadaan berbeda.
"Teman-temanku Sudah Menikah, Aku Belum"
Nah, ini salah satu sumber perbandingan terbesar.
Undangan datang satu per satu.
Teman menikah.
Sepupu menikah.
Adik kelas menikah.
Bahkan mungkin seseorang yang dahulu pernah berkata:
"Aku kayaknya nggak mau nikah."
Eh, dia duluan.
Hehehe.
Kemudian keluarga mulai bertanya:
"Kapan nyusul?"
Pertanyaan sederhana yang kalau terlalu sering didengar bisa berubah menjadi tekanan.
Akhirnya kita mulai merasa pernikahan adalah perlombaan.
Padahal menikah bukan tentang siapa yang lebih cepat.
Pertanyaan yang lebih penting bukan:
"Kapan aku menikah?"
Tetapi:
"Dengan siapa aku membangun kehidupan?"
Cepat bukan selalu tepat.
Dan lambat bukan berarti gagal.
"Umur Segini Kok Belum Punya Rumah?"
Rumah adalah impian banyak orang.
Wajar.
Tetapi kondisi ekonomi, pekerjaan, lokasi, tanggung jawab, dan prioritas setiap manusia berbeda.
Ada orang memilih membeli rumah.
Ada yang masih menyewa sambil membangun usaha.
Ada yang tinggal bersama orang tua karena merawat mereka.
Ada yang sedang mengumpulkan dana.
Ada yang memang mempunyai prioritas lain.
Jangan mengubah sebuah pencapaian finansial menjadi ukuran nilai manusia.
Kamu tidak lebih rendah karena belum mempunyai rumah.
Sama seperti orang yang sudah mempunyai rumah tidak otomatis mempunyai kehidupan sempurna.
Perbandingan Bisa Membuat Kita Tidak Menikmati Sesuatu yang Dahulu Kita Doakan
Ini yang menurutku cukup menyedihkan.
Dahulu kamu berdoa mendapatkan pekerjaan.
Sekarang sudah bekerja.
Tetapi tidak menikmatinya karena melihat teman mempunyai jabatan lebih tinggi.
Dahulu ingin mempunyai penghasilan sendiri.
Sekarang sudah punya.
Tetapi merasa kecil karena orang lain menghasilkan lebih banyak.
Dahulu ingin hidup mandiri.
Sekarang sudah mampu.
Tetapi merasa gagal karena belum membeli rumah.
Akhirnya setiap pencapaian kehilangan rasa.
Begitu mendapatkan sesuatu, kita langsung melihat apa yang dimiliki orang lain.
Kita tidak pernah benar-benar sampai.
Karena garis finish terus berpindah.
Rasa Cukup Bukan Berarti Berhenti Berkembang
Ada kekhawatiran:
"Kalau aku merasa cukup, nanti aku nggak ambisius."
Tidak harus begitu.
Kamu bisa bersyukur dengan keadaan sekarang sambil tetap mempunyai mimpi.
Kamu bisa berkata:
"Aku menghargai hidupku hari ini, dan aku masih ingin berkembang."
Dua hal itu bisa berjalan bersama.
Rasa cukup bukan berarti:
"Aku tidak ingin apa-apa lagi."
Rasa cukup adalah:
"Nilai diriku tidak menunggu sampai semua keinginanku tercapai."
Jangan Jadikan Kesuksesan Orang Lain sebagai Serangan Pribadi
Kadang melihat teman berhasil membuat hati sedikit tidak nyaman.
Kita iri.
Kemudian merasa bersalah karena iri.
Tidak perlu langsung menghakimi diri.
Iri adalah emosi manusia.
Yang penting adalah apa yang kita lakukan setelah menyadarinya.
Coba tanyakan:
"Apa sebenarnya yang membuatku iri?"
Kalau iri melihat seseorang mempunyai bisnis, mungkin kamu sebenarnya ingin lebih mandiri secara finansial.
Kalau iri melihat pasangan bahagia, mungkin kamu sedang membutuhkan koneksi.
Kalau iri melihat orang bepergian, mungkin kamu sedang membutuhkan istirahat.
Dengan begitu, iri bisa menjadi informasi.
Bukan racun.
Mindfulness: Sadari Apa yang Terjadi Setelah Kamu Membuka Media Sosial
Coba latihan sederhana.
Sebelum membuka media sosial, perhatikan suasana hati.
Misalnya:
"Aku sedang cukup tenang."
Kemudian scroll selama dua puluh menit.
Setelah itu periksa lagi.
Apakah lebih tenang?
Lebih gelisah?
Lebih iri?
Lebih termotivasi?
Lebih rendah diri?
Tidak perlu menyalahkan aplikasi.
Tidak perlu pula menyalahkan diri.
Kita hanya sedang mengenali pengaruhnya.
Kalau setiap kali melihat akun tertentu kamu merasa buruk terhadap diri sendiri, mungkin kamu membutuhkan jarak.
Mute bukan kejahatan.
Unfollow juga bukan deklarasi perang.
Kadang itu hanya bentuk menjaga ruang mental.
Kamu Tidak Harus Mengetahui Kehidupan Semua Orang
Dahulu kita tidak tahu setiap hari teman SMA sedang melakukan apa.
Sekarang?
Sarapan tahu.
Makan siang tahu.
Gym tahu.
Liburan tahu.
Beli sepatu tahu.
Pacaran tahu.
Putus kadang juga tahu.
Kita mendapatkan informasi tentang terlalu banyak kehidupan.
Dan tanpa sadar otak menggunakan semua informasi itu sebagai bahan perbandingan.
Sesekali tidak tahu kabar semua orang mungkin justru menenangkan.
Bandingkan Dirimu dengan Dirimu Sendiri
Kalau memang ingin membandingkan, coba lihat ke belakang.
Dirimu dua tahun lalu.
Apa yang berubah?
Mungkin penghasilan belum seperti impian.
Tetapi sekarang lebih berani.
Mungkin belum mempunyai rumah.
Tetapi sudah mampu membantu keluarga.
Mungkin belum menikah.
Tetapi sekarang lebih mengenal diri.
Mungkin karier belum besar.
Tetapi keterampilanmu bertambah.
Tidak semua perkembangan terlihat di rekening bank atau foto.
Ada perkembangan emosional.
Cara berpikir.
Kemampuan menetapkan batas.
Kemampuan mengatakan tidak.
Kemampuan bangkit.
Semua itu juga pertumbuhan.
Ada Pencapaian yang Tidak Bisa Difoto
Berhasil keluar dari hubungan yang menyakitkan.
Tidak ada pialanya.
Belajar memaafkan diri.
Tidak ada sertifikatnya.
Berani meminta bantuan.
Tidak ada medali.
Berhenti mengejar validasi.
Tidak ada foto seremonial.
Tetapi semua itu bisa menjadi pencapaian besar.
Kita hidup dalam budaya yang mudah melihat pencapaian yang terlihat.
Gelar.
Rumah.
Mobil.
Jabatan.
Pernikahan.
Padahal beberapa kemenangan terbesar manusia terjadi di dalam dirinya.
Dan hanya dia yang tahu betapa sulit perjuangannya.
Jangan Membenci Orang yang Membuatmu Merasa Tertinggal
Masalahnya bukan mereka.
Temanmu berhak membagikan kebahagiaan.
Seseorang berhak bangga terhadap pencapaiannya.
Kita juga berhak merasakan emosi yang muncul setelah melihatnya.
Yang perlu diperbaiki adalah hubungan kita dengan perbandingan tersebut.
Kita bisa belajar mengatakan:
"Bagus untuk dia. Perjalananku berbeda."
Kalimat sederhana.
Tetapi sangat membebaskan.
Hidup Bukan Lomba Lari dengan Garis Finish yang Sama
Kalau kehidupan adalah perlombaan, sebenarnya siapa pemenangnya?
Yang paling kaya?
Paling cepat menikah?
Paling banyak pengikut?
Paling tinggi jabatan?
Kalau sudah mendapatkan semuanya lalu hidupnya tidak tenang, apakah tetap menang?
Kita terlalu sering menggunakan ukuran keberhasilan yang dibuat lingkungan tanpa bertanya:
"Aku sendiri ingin hidup seperti apa?"
Mungkin kamu tidak membutuhkan kehidupan yang terlihat mengesankan.
Mungkin kamu hanya ingin cukup uang, keluarga sehat, pekerjaan yang tidak menghancurkan pikiran, beberapa teman baik, dan tidur nyenyak.
Kalau itu kehidupan yang kamu inginkan, kenapa harus malu?
Tentukan Definisi Suksesmu Sendiri
Ini penting.
Kalau kita tidak menentukan definisi sukses sendiri, dunia akan memberikannya kepada kita.
Dunia mungkin berkata:
lebih banyak.
Lebih besar.
Lebih terkenal.
Lebih cepat.
Tetapi kamu boleh mempunyai definisi berbeda.
Sukses mungkin berarti mempunyai waktu untuk keluarga.
Mempunyai pekerjaan yang bermakna.
Tidak mempunyai utang.
Mempunyai kesehatan yang baik.
Bisa tidur dengan tenang.
Mampu membantu orang tua.
Mempunyai pasangan yang sehat secara emosional.
Atau cukup bisa bangun pagi tanpa membenci kehidupan sendiri.
Definisi sukses tidak harus sama untuk semua manusia.
Jangan Menunggu Kehidupan Sempurna untuk Mulai Merasa Hidup
Ini jebakan lain.
"Nanti kalau sudah punya rumah aku tenang."
"Nanti kalau sudah menikah aku bahagia."
"Nanti kalau gaji segini aku menikmati hidup."
"Nanti kalau bisnis sukses."
"Nanti."
"Nanti."
"Nanti."
Masalahnya, setelah satu target tercapai, pikiran biasanya membuat target baru.
Kalau kebahagiaan selalu diletakkan di masa depan, kita akan menghabiskan seluruh kehidupan untuk menunggu kehidupan dimulai.
Berikan Ruang untuk Menikmati Hari Ini
Coba sesekali lihat apa yang sudah ada.
Bukan sebagai kalimat motivasi kosong.
Benar-benar lihat.
Siapa yang masih ada dalam hidupmu?
Apa yang tubuhmu masih mampu lakukan?
Apa yang sekarang kamu miliki yang dahulu pernah kamu inginkan?
Ada makanan hari ini?
Ada tempat pulang?
Ada seseorang yang bisa dihubungi?
Ada satu hal kecil yang membuatmu tertawa?
Kesadaran terhadap hal sederhana bukan berarti menutup mata terhadap masalah.
Kita hanya berhenti membiarkan kekurangan mengambil seluruh ruang perhatian.
Kalau Kamu Memang Sedang Tertinggal, Tidak Apa-Apa
Aku juga tidak ingin mengatakan:
"Tidak ada yang namanya tertinggal."
Dalam beberapa hal, mungkin memang ada target yang belum tercapai.
Mungkin kariermu memang sedang lambat.
Mungkin keuangan perlu diperbaiki.
Mungkin ada keputusan yang terlalu lama ditunda.
Tidak masalah mengakuinya.
Mindfulness bukan menghibur diri dengan kebohongan.
Kesadaran justru melihat kenyataan dengan jernih.
Kalau ada yang perlu diperbaiki, perbaiki.
Tetapi lakukan karena kamu ingin kehidupanmu lebih baik.
Bukan karena ingin mengalahkan kehidupan orang lain.
Kamu Tidak Perlu Mengejar Semua yang Dimiliki Orang Lain
Seseorang membeli mobil.
Apakah kamu memang membutuhkan mobil?
Seseorang membuka bisnis.
Apakah kamu memang ingin berbisnis?
Seseorang menikah.
Apakah kamu memang sudah siap?
Kadang kita mengejar sesuatu bukan karena menginginkannya.
Kita hanya takut menjadi satu-satunya orang yang belum mempunyai.
Hati-hati.
Kamu bisa menghabiskan bertahun-tahun mengejar kehidupan yang ternyata bukan kehidupan yang kamu inginkan.
Closing: Mungkin Kamu Tidak Tertinggal, Kamu Hanya Terlalu Sering Melihat Jalur Orang Lain
Kalau akhir-akhir ini kamu merasa hidupmu lambat, coba lakukan satu hal.
Letakkan ponsel sebentar.
Bukan karena media sosial jahat.
Bukan.
Tetapi karena mungkin sudah terlalu lama kamu melihat kehidupanmu melalui kehidupan orang lain.
Kembali lihat perjalanan sendiri.
Mungkin belum sampai ke tempat yang diinginkan.
Tidak apa-apa.
Tetapi lihat seberapa jauh kamu sudah berjalan.
Ada masalah yang dahulu membuatmu merasa dunia berakhir.
Ternyata kamu melewatinya.
Ada orang yang dahulu kamu pikir tidak bisa hidup tanpanya.
Ternyata kamu masih di sini.
Ada masa ketika kamu tidak tahu bagaimana caranya bertahan.
Tetapi entah bagaimana kamu berhasil sampai hari ini.
Jangan meremehkan perjalanan tersebut hanya karena tidak menghasilkan foto yang menarik.
Kamu tidak harus menikah pada usia yang sama dengan teman.
Tidak harus kaya pada usia yang sama.
Tidak harus mempunyai rumah pada usia yang sama.
Tidak harus menemukan tujuan hidup pada usia yang sama.
Tidak ada satu jadwal yang berlaku untuk seluruh manusia.
Kamu mempunyai waktumu.
Tetapi jangan salah mengartikan ini sebagai alasan untuk diam.
Kalau ada sesuatu yang memang ingin dicapai, bergeraklah.
Belajar.
Bekerja.
Menabung.
Membangun.
Mencoba.
Gagal.
Mulai lagi.
Hanya saja, jangan bergerak karena panik melihat orang lain sudah lebih dahulu sampai.
Bergeraklah karena kamu tahu ke mana dirimu ingin pergi.
Ada perbedaan besar antara mengejar mimpi dan melarikan diri dari perasaan tertinggal.
Yang satu memberi arah.
Yang lain hanya membuat lelah.
Dan lain kali ketika melihat seseorang mengunggah keberhasilannya, coba katakan:
"Selamat untuk dia."
Lalu lanjutkan:
"Sekarang aku kembali ke jalanku."
Tidak perlu mengecilkan pencapaiannya supaya kita merasa lebih besar.
Tidak perlu pula mengecilkan diri karena orang lain berhasil.
Ada cukup ruang di dunia untuk keberhasilan banyak manusia.
Mungkin hari ini adalah harinya.
Besok mungkin bukan harimu juga.
Tidak apa-apa.
Terus berjalan.
Karena kehidupan yang baik bukan kehidupan yang paling cepat terlihat berhasil.
Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang ketika suatu hari kita melihat ke belakang, kita bisa berkata:
"Aku memang tidak berjalan seperti mereka. Tetapi setidaknya aku menjalani hidup yang benar-benar kupilih."
Dan kalau sekarang kamu sedang membaca tulisan ini sambil merasa semua orang sudah jauh di depan, aku ingin meninggalkan satu pertanyaan:
Apakah kamu benar-benar tertinggal, atau kamu hanya terlalu sering melihat ke samping sampai lupa melihat seberapa jauh dirimu sendiri sudah berjalan?
Tarik napas.
Lihat jalanmu lagi.
Tidak perlu berlari hanya karena orang lain berlari.
Tidak perlu berhenti hanya karena orang lain sudah sampai.
Berjalanlah sesuai kemampuanmu.
Tetap belajar.
Tetap tumbuh.
Tetap sadar.
Karena hidup bukan tentang siapa yang paling dahulu mendapatkan semuanya.
Pada akhirnya, yang jauh lebih penting adalah:
ketika semua yang kamu kejar berhasil didapatkan, apakah kamu masih mengenali manusia yang berdiri di depan cermin?
Kalau iya, mungkin itulah salah satu bentuk keberhasilan yang sesungguhnya.
— DJ BANGSA EAA


0Komentar