PULIHSEKETIKA.COM - "Cewek Touring Sendirian? Memangnya Berani?"
Pertanyaan itu hampir selalu muncul setiap kali aku mengatakan ingin melakukan perjalanan seorang diri menggunakan motor.
Sebagian orang langsung menggeleng.
Sebagian lagi mulai memberikan daftar panjang tentang berbagai risiko.
"Bahaya."
"Kalau motor mogok gimana?"
"Kalau hujan?"
"Kalau nyasar?"
"Kalau ada orang jahat?"
Aku memahami kekhawatiran itu.
Karena jujur saja...
Aku juga pernah merasakan hal yang sama.
Malam sebelum keberangkatan, aku hampir membatalkan semuanya.
Tas sudah siap.
Motor sudah diservis.
Rute sudah kusimpan di ponsel.
Tetapi pikiranku justru dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.
Aku duduk cukup lama di garasi.
Memandangi motor yang akan menjadi teman perjalananku.
Lalu aku berkata pelan kepada diriku sendiri,
"Kalau terus menunggu sampai rasa takut hilang, mungkin aku tidak akan pernah berangkat."
Akhirnya aku memutar kunci kontak.
Dan keputusan kecil itulah yang membawaku pada salah satu perjalanan paling berkesan dalam hidupku.
Pagi yang Sunyi, Jalan yang Masih Kosong
Aku berangkat sebelum matahari terbit.
Jalanan masih lengang.
Lampu-lampu kota mulai padam.
Udara pagi terasa dingin menembus jaket.
Tidak ada suara teman yang mengajakku mengobrol.
Tidak ada rombongan motor.
Hanya suara mesin motorku yang menemani.
Awalnya terasa aneh.
Namun semakin jauh perjalanan, aku mulai menikmati kesunyian itu.
Ternyata...
Kesunyian juga bisa menjadi teman yang baik.
Berhenti Pertama: Secangkir Kopi dan Keberanian
Sekitar satu jam perjalanan, aku berhenti di sebuah warung kopi kecil.
Pemilik warung tersenyum sambil bertanya,
"Sendirian, Mbak?"
Aku mengangguk.
Beliau kemudian menyeduhkan kopi hangat.
Sambil menikmati kopi, beliau berkata,
"Orang yang berani bepergian sendirian biasanya pulang membawa cerita lebih banyak."
Aku hanya tersenyum.
Saat itu aku belum tahu bahwa ucapan beliau akan menjadi kenyataan.
Tidak Ada yang Mengatur Tujuanku
Inilah hal pertama yang kurasakan.
Aku bebas.
Kalau ingin berhenti melihat sawah...
Aku berhenti.
Kalau ingin duduk satu jam di tepi sungai...
Aku duduk.
Kalau ingin mengubah rute...
Aku tinggal berbelok.
Tidak perlu berdiskusi.
Tidak perlu menunggu siapa pun.
Aku baru sadar bahwa solo riding mengajarkanku mendengarkan keinginan sendiri.
Jalan Kecil yang Tidak Sengaja Kutemukan
Google Maps menunjukkan jalan utama.
Namun aku melihat jalan kecil yang dipenuhi pohon-pohon besar.
Entah kenapa aku memilih masuk.
Beberapa menit kemudian aku menemukan desa yang sangat tenang.
Anak-anak bermain layang-layang.
Ibu-ibu sedang menjemur hasil panen.
Seorang bapak mempersilahkanku mampir ke warungnya.
Kalau aku sedang terburu-buru mengikuti itinerary orang lain, mungkin aku tidak akan pernah menemukan tempat itu.
Ketika Motor Hampir Kehabisan Bensin
Siang itu aku terlalu asyik menikmati perjalanan.
Aku lupa memperhatikan indikator bahan bakar.
Saat melihat jarum bensin hampir menyentuh huruf E, jantungku langsung berdegup lebih cepat.
Aku mulai mencari SPBU.
Tidak ada.
Beberapa kilometer kemudian aku melihat sebuah bengkel kecil.
Seorang bapak menjual bensin eceran.
Beliau membantu mengisi tangki motorku.
Kami mengobrol cukup lama.
Sebelum aku pergi, beliau berkata,
"Kalau touring sendirian, jangan tunggu bensin hampir habis."
Aku tertawa.
Pelajaran sederhana yang tidak akan pernah kulupakan.
Menikmati Sunset Tanpa Gangguan
Menjelang sore aku tiba di sebuah bukit.
Tidak banyak orang di sana.
Aku memarkir motor.
Lalu duduk di rerumputan.
Matahari perlahan turun.
Langit berubah jingga.
Tidak ada percakapan.
Tidak ada notifikasi.
Tidak ada suara musik.
Hanya angin.
Dan suara alam.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku benar-benar merasa hadir di momen itu.
Malam di Homestay Sederhana
Aku memilih menginap di homestay milik warga.
Pemilik rumah mengajakku makan malam bersama.
Kami berbincang tentang banyak hal.
Tentang desa.
Tentang kehidupan.
Tentang mengapa aku memilih bepergian sendirian.
Beliau tersenyum lalu berkata,
"Kadang kita memang perlu berjalan sendiri supaya lebih mengenal diri sendiri."
Kalimat itu membuatku terdiam cukup lama.
Hari Kedua: Aku Tidak Lagi Takut
Pagi berikutnya aku bangun dengan perasaan yang berbeda.
Rasa takut yang kemarin memenuhi pikiranku mulai menghilang.
Kini yang ada hanyalah rasa penasaran.
Aku kembali menyalakan motor.
Melanjutkan perjalanan.
Dan setiap kilometer membuatku semakin percaya diri.
Aku mulai memahami bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut.
Keberanian adalah tetap melangkah meskipun rasa takut masih ada.
Orang Baik Masih Banyak di Jalan
Selama dua hari perjalanan, aku bertemu begitu banyak orang baik.
Seorang bapak menunjukkan jalan ketika aku salah arah.
Seorang ibu memberiku air minum saat cuaca sangat panas.
Anak-anak desa melambaikan tangan ketika aku lewat.
Pemilik warung memberikan rekomendasi tempat wisata yang bahkan tidak ada di internet.
Semua itu membuatku sadar bahwa dunia tidak seburuk yang sering kita bayangkan.
Selama kita menghormati orang lain, sering kali kita juga akan diperlakukan dengan baik.
7 Tips Solo Riding Ala Lastari
Setelah perjalanan ini, aku selalu membagikan beberapa tips kepada siapa pun yang ingin mencoba touring sendirian.
1. Servis Motor Sebelum Berangkat
Pastikan oli, rem, ban, lampu, dan aki dalam kondisi baik.
Motor yang sehat akan membuat perjalanan lebih tenang.
2. Beritahu Keluarga atau Teman
Sampaikan rute perjalanan dan perkiraan waktu tiba.
Ini penting sebagai langkah berjaga-jaga.
3. Jangan Memaksakan Berkendara Saat Lelah
Kalau mengantuk atau tubuh mulai pegal, berhentilah.
Istirahat jauh lebih penting daripada mengejar target.
4. Isi Bensin Sebelum Masuk Daerah Sepi
Jangan menunggu tangki hampir kosong.
Biasakan mengisi ulang ketika bahan bakar sudah mulai berkurang.
5. Gunakan Perlengkapan Berkendara yang Lengkap
Helm berstandar SNI, jaket, sarung tangan, sepatu tertutup, dan jas hujan bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian dari keselamatan.
6. Jangan Terlalu Mengejar Banyak Destinasi
Solo riding bukan lomba.
Lebih baik menikmati beberapa tempat dengan santai daripada memaksakan mengunjungi terlalu banyak lokasi.
7. Percaya Diri, Tapi Tetap Waspada
Nikmati perjalanan, namun tetap perhatikan kondisi sekitar, patuhi aturan lalu lintas, dan hindari berkendara saat kondisi fisik atau cuaca tidak mendukung.
Estimasi Budget Solo Riding 2 Hari
| Kebutuhan | Estimasi Biaya |
|---|---|
| Sewa motor | Rp90.000 |
| Bensin | Rp70.000 |
| Homestay | Rp180.000 |
| Makan & minum | Rp150.000 |
| Tiket wisata & parkir | Rp60.000 |
| Dana darurat | Rp50.000 |
| Total | ± Rp600.000 |
Biaya di atas merupakan estimasi dan dapat berubah sesuai lokasi, jenis motor, lama perjalanan, serta pilihan penginapan dan destinasi.
Yang Kutemukan Bukan Hanya Tempat Wisata
Saat memulai perjalanan, aku berpikir akan menemukan pantai baru.
Bukit baru.
Air terjun baru.
Namun ternyata...
Yang paling berharga justru bukan semua itu.
Aku menemukan keberanian yang selama ini tersembunyi.
Aku belajar mengambil keputusan sendiri.
Belajar menikmati kesunyian.
Belajar mempercayai kemampuan diri sendiri.
Dan belajar bahwa perjalanan paling jauh sebenarnya bukan dari satu kota ke kota lain.
Melainkan dari rasa ragu menuju rasa percaya diri.
Penutup: Kadang Kita Memang Harus Berjalan Sendiri untuk Menemukan Diri Sendiri
Ketika motor kembali berhenti di halaman rumah, aku mematikan mesin dan melepas helm perlahan.
Perjalanan dua hari itu telah selesai.
Namun ada sesuatu yang berubah di dalam diriku.
Aku tidak lagi melihat solo riding sebagai perjalanan yang menakutkan.
Aku melihatnya sebagai ruang untuk mendengarkan diri sendiri.
Untuk memberi jeda dari hiruk-pikuk kehidupan.
Untuk menyadari bahwa kita ternyata jauh lebih kuat daripada yang selama ini kita bayangkan.
Karena pada akhirnya, jalan yang kita tempuh sendirian sering kali justru membawa kita pada versi diri yang paling berani.
Aku Lastari, dan sejak perjalanan itu aku percaya bahwa solo riding bukan tentang pergi sendirian. Ini adalah perjalanan untuk pulang dengan mengenal diri sendiri lebih baik, satu kilometer demi satu kilometer.
.jpg)

0Komentar