Ada orang yang kalau datang ke tongkrongan selalu paling ramai.
Bercanda.
Tertawa.
Membuat suasana hidup.
Kalau ada teman sedih, dia yang pertama mengatakan:
"Sudah, sini cerita."
Kalau ada masalah, dia terlihat tenang.
Kalau keadaan kacau, dia mencoba mencari jalan keluar.
Orang-orang mengenalnya sebagai manusia yang kuat.
Santai.
Jarang mengeluh.
Seolah hidup tidak pernah berhasil membuatnya benar-benar jatuh.
Tetapi mungkin tidak banyak yang tahu...
Setelah semua orang pulang, dia masuk kamar sendirian.
Meletakkan ponsel.
Duduk.
Diam.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, dia tidak perlu tersenyum.
Ada napas panjang yang sejak tadi ditahan.
Ada pikiran yang tidak pernah diceritakan.
Ada rasa lelah yang tidak terlihat.
Kemudian kalau seseorang bertanya:
"Kamu baik-baik saja?"
Jawabannya hampir otomatis:
"Baik kok."
Padahal mungkin tidak.
Aku sering berpikir, ada manusia yang bukan tidak mempunyai masalah.
Mereka hanya terlalu terbiasa menyelesaikan masalah sendirian.
Ada yang bukan tidak ingin bercerita.
Mereka hanya tidak tahu harus bercerita kepada siapa.
Dan ada orang yang terlihat begitu kuat bukan karena hidupnya ringan.
Tetapi karena selama ini dia merasa:
"Aku tidak punya pilihan selain kuat."
Kalau kamu membaca tulisan ini dan merasa sedang melihat dirimu sendiri, mari kita ngobrol.
Tidak perlu buru-buru menjadi kuat.
Di sini kita hanya akan mencoba memahami satu hal:
kenapa seseorang bisa begitu mudah hadir untuk semua orang, tetapi begitu sulit meminta orang lain hadir untuk dirinya sendiri?
Tidak Semua Senyum Berarti Seseorang Sedang Bahagia
Senyum adalah bahasa sosial.
Kita tersenyum ketika bertemu orang.
Ketika bekerja.
Ketika melayani pelanggan.
Ketika berada di depan keluarga.
Ketika bertemu teman.
Kadang kita tersenyum bukan karena bahagia, tetapi karena memang situasinya meminta kita tersenyum.
Dan itu normal.
Masalahnya adalah ketika kita mulai percaya bahwa karena seseorang masih bisa tertawa, berarti hidupnya pasti baik-baik saja.
Belum tentu.
Manusia mempunyai kemampuan luar biasa untuk tetap menjalankan kehidupan sambil membawa sesuatu yang berat di dalam dirinya.
Seseorang bisa bekerja sambil patah hati.
Bisa tertawa sambil mempunyai masalah keluarga.
Bisa menghibur orang lain sambil dirinya sendiri merasa kosong.
Bisa mengunggah foto bahagia sambil malamnya menangis.
Kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh isi kehidupan seseorang hanya dari ekspresi wajahnya.
Karena itu, mungkin kita perlu lebih berhati-hati ketika berkata:
"Ah, dia mah kuat."
Kadang orang kuat juga ingin ditanya dua kali.
"Aku Nggak Mau Merepotkan Orang"
Ini salah satu kalimat yang sering membuat seseorang menyimpan semuanya sendirian.
Ketika ingin bercerita, pikiran langsung berkata:
"Temanku juga punya masalah."
"Orang tua sudah banyak pikiran."
"Pasanganku sedang sibuk."
"Nanti aku malah bikin suasana buruk."
Akhirnya kita memilih diam.
Niatnya baik.
Kita tidak ingin menjadi beban.
Tetapi kalau terus-menerus seperti itu, ada pertanyaan penting:
Kalau semua orang boleh mempunyai masalah, kenapa hanya kamu yang merasa harus selalu baik-baik saja?
Kamu juga manusia.
Kamu juga mempunyai kapasitas.
Ada hari ketika kapasitas itu penuh.
Dan mengatakan sedang lelah tidak otomatis membuatmu menjadi beban.
Orang yang Terbiasa Menjadi Pendengar Kadang Lupa Bagaimana Caranya Bercerita
Ada teman yang selalu menjadi tempat curhat.
Semua orang mengenalnya sebagai pendengar yang baik.
Masalah percintaan?
Datang kepadanya.
Masalah pekerjaan?
Telepon dia.
Bertengkar dengan keluarga?
Cari dia.
Dia mendengarkan.
Memberikan pandangan.
Menenangkan.
Tetapi ketika suatu hari dirinya sendiri sedang berantakan, ada sesuatu yang aneh.
Dia membuka percakapan.
Mengetik:
"Bro, gue mau cerita..."
Kemudian dihapus.
Mengetik lagi.
Dihapus lagi.
Akhirnya mengirim:
"Lagi apa?"
Hehehe.
Sulit sekali mengatakan:
"Aku butuh seseorang."
Karena selama ini identitasnya adalah orang yang dibutuhkan.
Bukan orang yang membutuhkan.
Terlalu Lama Menjadi "Yang Kuat" Bisa Menjadi Identitas
Ketika semua orang mengatakan:
"Kamu kuat."
"Kamu paling dewasa."
"Kamu pasti bisa."
Awalnya mungkin membanggakan.
Tetapi perlahan muncul beban.
Kita mulai berpikir:
"Kalau aku hancur, berarti aku mengecewakan mereka."
Maka ketika sedih, disembunyikan.
Ketika takut, dipendam.
Ketika ingin menyerah, tetap tersenyum.
Kita menjaga citra diri sebagai orang kuat.
Padahal kekuatan bukan berarti tidak pernah runtuh.
Kekuatan juga bisa berarti mempunyai keberanian untuk mengakui:
"Hari ini aku tidak sanggup."
Ada Perbedaan antara Mandiri dan Merasa Harus Menanggung Semuanya Sendiri
Mandiri itu baik.
Kita belajar menyelesaikan masalah.
Mengatur emosi.
Mengambil keputusan.
Tidak selalu bergantung kepada orang lain.
Tetapi kemandirian tidak berarti kita tidak boleh membutuhkan manusia.
Kita makhluk sosial.
Bahkan orang paling mandiri sekalipun tetap membutuhkan koneksi.
Percakapan.
Pelukan.
Dukungan.
Seseorang yang berkata:
"Aku ada di sini."
Tidak semua masalah harus diselesaikan bersama.
Tetapi tidak semua masalah juga harus disimpan sendirian.
Kenapa Kita Takut Terlihat Lemah?
Mungkin karena pernah bercerita lalu diremehkan.
"Ah, cuma begitu."
Mungkin pernah menangis lalu dianggap lebay.
Mungkin pernah menunjukkan kelemahan kemudian kelemahan itu digunakan untuk menyakiti kita.
Kalau pernah mengalami hal seperti itu, wajar kalau kita menjadi lebih hati-hati.
Tetapi hati-hati berbeda dengan menutup seluruh pintu.
Tidak semua orang layak mendengar cerita kita.
Benar.
Tetapi bukan berarti tidak ada seorang pun yang layak.
Kita perlu memilih.
Bukan menghilang.
"Masalah Orang Lain Lebih Berat" Tidak Membuat Masalahmu Menjadi Tidak Valid
Ini juga sering kita lakukan.
Kita sedih.
Kemudian berkata:
"Ah, masih banyak orang lebih susah."
Benar.
Selalu ada orang yang mempunyai masalah lebih berat.
Tetapi apakah itu berarti kita tidak boleh merasa lelah?
Kalau tanganmu terluka, apakah rasa sakitnya hilang hanya karena ada orang lain yang kakinya patah?
Tidak.
Empati terhadap kesulitan orang lain tidak membutuhkan kita untuk menyangkal kesulitan sendiri.
Kamu boleh bersyukur dan tetap sedih.
Kamu boleh memahami bahwa orang lain lebih sulit dan tetap mengakui bahwa hari ini kamu sedang berat.
Dua hal bisa benar secara bersamaan.
Jangan Menunggu Sampai Tubuh Memaksamu Berhenti
Kadang tubuh memberikan sinyal sebelum kita mengakui bahwa sedang lelah.
Sulit tidur.
Sulit fokus.
Mudah marah.
Hal kecil terasa menjengkelkan.
Tidak bersemangat melakukan sesuatu yang dahulu disukai.
Ingin menjauh dari semua orang.
Tetapi kita terus berkata:
"Aku baik-baik saja."
Sampai suatu hari rasanya semuanya terlalu banyak.
Mungkin kita perlu belajar mendengar diri sebelum suara itu berubah menjadi teriakan.
Orang yang Banyak Bercanda Juga Bisa Sedang Membawa Beban
Humor adalah sesuatu yang indah.
Tertawa bisa membantu kita melewati hari sulit.
Tetapi jangan menggunakan stereotip bahwa orang yang lucu pasti paling sedih.
Tidak selalu begitu.
Yang lebih tepat adalah:
kita tidak pernah benar-benar tahu keadaan seseorang hanya dari seberapa sering dia tertawa.
Teman yang paling ramai pun layak ditanya kabarnya.
Orang yang selalu menghibur pun mungkin membutuhkan hiburan.
Seseorang yang terlihat paling santai pun mungkin sedang memikirkan banyak hal.
Karena ekspresi luar tidak selalu menunjukkan keseluruhan keadaan batin.
Coba Tanyakan "Apa Kabar?" dengan Benar-Benar Ingin Mendengar Jawabannya
Kita mengatakan:
"Apa kabar?"
Hampir setiap hari.
Tetapi sering kali itu hanya sapaan.
Orang menjawab:
"Baik."
Selesai.
Sesekali, ketika berbicara dengan orang yang kita sayangi, mungkin kita bisa bertanya lagi:
"Beneran, kamu akhir-akhir ini gimana?"
Lalu diam.
Berikan ruang.
Jangan buru-buru mengalihkan percakapan.
Kadang satu pertanyaan yang sungguh-sungguh bisa membuka pintu yang sudah lama tertutup.
Kalau Kamu yang Selalu Kuat, Mulailah dengan Satu Kalimat Kecil
Tidak perlu langsung menceritakan seluruh kehidupan.
Mulai sederhana.
"Akhir-akhir ini aku agak capek."
Atau:
"Aku sebenarnya lagi banyak pikiran."
Atau:
"Boleh temani aku ngobrol sebentar?"
Lihat bagaimana orang merespons.
Kalau dia mendengarkan, mungkin kamu bisa membuka sedikit lagi.
Kita tidak harus memberikan seluruh isi hati sekaligus.
Kepercayaan bisa dibangun perlahan.
Mindfulness: Berhenti Bertanya "Aku Harus Bagaimana?" Sebentar
Ketika ada masalah, orang kuat biasanya langsung mencari solusi.
Apa yang harus dilakukan?
Bagaimana menyelesaikannya?
Apa langkah berikutnya?
Sesekali, sebelum mencari solusi, tanyakan:
"Apa yang sebenarnya sedang kurasakan?"
Marah?
Takut?
Kecewa?
Kesepian?
Malu?
Lelah?
Kadang kita terlalu cepat memperbaiki keadaan sampai lupa mengalami perasaan.
Padahal emosi yang dikenali biasanya lebih mudah dipahami daripada emosi yang terus kita dorong ke bawah.
Cobalah Duduk dengan Dirimu Tanpa Menghakimi
Ambil beberapa menit.
Tidak perlu ritual rumit.
Duduk.
Tarik napas.
Kemudian perhatikan apa yang muncul.
Kalau sedih, sadari:
"Ada kesedihan."
Kalau takut:
"Ada ketakutan."
Kalau lelah:
"Tubuhku sedang lelah."
Jangan langsung:
"Aku lemah."
"Aku payah."
"Aku harusnya bisa."
Kesadaran tidak membutuhkan penilaian.
Kita hanya sedang belajar melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Kamu Tidak Harus Memperbaiki Semua Orang
Ini penting bagi orang yang sering menjadi penyelamat.
Ada teman bermasalah, kita ingin memperbaiki.
Pasangan sedih, kita merasa bertanggung jawab membuatnya bahagia.
Keluarga mempunyai masalah, kita mengambil semuanya.
Lama-lama kehidupan orang lain ikut tinggal di kepala kita.
Peduli itu baik.
Tetapi ada batas antara peduli dan mengambil seluruh beban.
Kamu bisa membantu seseorang tanpa menjadi penanggung jawab atas seluruh kehidupannya.
Belajar Mengatakan "Hari Ini Aku Tidak Punya Kapasitas"
Misalnya seseorang ingin curhat.
Biasanya kamu selalu tersedia.
Tetapi hari ini pikiranmu sendiri sedang penuh.
Kamu boleh berkata:
"Aku pengin dengerin, tapi hari ini kepalaku juga sedang penuh. Besok kita ngobrol ya."
Itu bukan egois.
Justru lebih jujur daripada mendengarkan sambil diam-diam merasa kesal.
Kita tidak harus memberikan sesuatu yang memang sedang tidak kita miliki.
Tidak Semua Orang Akan Mengerti Versi Dirimu yang Sedang Lelah
Ketika selama ini selalu kuat, orang mungkin kaget ketika kamu mulai mempunyai batas.
"Kok sekarang sensitif?"
"Kok sekarang susah diajak?"
"Kok berubah?"
Tidak masalah.
Mereka sedang mengenal versi dirimu yang lebih utuh.
Bukan hanya versi yang selalu tersedia.
Hubungan yang sehat seharusnya mampu menerima bahwa manusia mempunyai hari baik dan hari buruk.
Carilah Orang yang Tidak Hanya Menyukaimu Ketika Kamu Menyenangkan
Ada orang yang senang denganmu karena kamu lucu.
Karena membantu.
Karena selalu mendengarkan.
Karena selalu bisa diandalkan.
Tetapi hubungan yang dalam biasanya mempunyai ruang lebih luas.
Dia tetap nyaman ketika kamu diam.
Tidak pergi ketika kamu sedih.
Tidak merasa terganggu ketika sesekali kamu membutuhkan bantuan.
Tidak hanya bertanya:
"Apa yang bisa kamu lakukan untukku?"
Tetapi juga:
"Apa yang bisa kulakukan untukmu?"
Menangis Tidak Membatalkan Semua Kekuatanmu
Kalau selama ini kamu mampu melewati banyak hal, satu malam menangis tidak menghapus semuanya.
Kalau hari ini kamu membutuhkan bantuan, itu tidak menghilangkan seluruh kemandirianmu.
Kalau kamu mengatakan:
"Aku nggak kuat."
Bukan berarti selamanya tidak kuat.
Mungkin kamu hanya sedang manusia.
Dan manusia mempunyai batas.
Ada Saatnya Dukungan Profesional Juga Layak Dipertimbangkan
Tidak semua beban selesai dengan curhat.
Kalau perasaan berat berlangsung lama, sangat mengganggu pekerjaan, hubungan, tidur, aktivitas sehari-hari, atau terasa semakin sulit ditanggung, mencari bantuan profesional adalah pilihan yang masuk akal.
Tidak perlu menunggu semuanya menjadi sangat buruk.
Merawat keadaan mental sama wajarnya dengan mencari bantuan ketika bagian lain dari kehidupan membutuhkan penanganan yang lebih tepat.
Jangan Hanya Menjadi Rumah untuk Orang Lain
Ini kalimat yang ingin aku titipkan.
Mungkin selama ini kamu menjadi rumah untuk banyak orang.
Mereka datang ketika sedih.
Datang ketika bingung.
Datang ketika dunia tidak ramah.
Dan kamu membuka pintu.
Bagus.
Tetapi pertanyaannya:
Apakah kamu juga menjadi rumah yang nyaman bagi dirimu sendiri?
Ketika salah, apakah kamu memaafkan diri?
Ketika lelah, apakah kamu memberikan istirahat?
Ketika sedih, apakah kamu mengizinkan diri menangis?
Atau kamu justru menjadi orang paling keras terhadap dirimu sendiri?
Kuat Tidak Harus Berisik, dan Rapuh Tidak Harus Disembunyikan
Mungkin selama ini definisi kita tentang kuat perlu sedikit diperbaiki.
Kuat bukan orang yang tidak pernah menangis.
Bukan yang selalu mempunyai jawaban.
Bukan yang selalu tersenyum.
Bukan yang menyelesaikan semuanya sendirian.
Kadang kekuatan adalah keberanian berkata:
"Aku membutuhkan bantuan."
Kadang kekuatan adalah beristirahat.
Kadang kekuatan adalah tidak membalas pesan karena sedang membutuhkan ruang.
Kadang kekuatan adalah mengakui:
"Aku belum baik-baik saja."
Closing: Kalau Hari Ini Kamu Lelah Menjadi Kuat, Kamu Boleh Menurunkan Bahumu Sebentar
Kalau selama ini semua orang mengenalmu sebagai orang yang kuat, aku ingin mengatakan sesuatu.
Kamu tidak harus membuktikan kekuatanmu setiap hari.
Tidak ada penghargaan untuk manusia yang paling lama memendam semuanya sendirian.
Tidak ada piala untuk orang yang paling jarang meminta bantuan.
Dan tidak ada aturan bahwa orang yang selama ini kuat tidak boleh mempunyai hari ketika dirinya benar-benar lelah.
Mungkin hari ini kamu masih bekerja seperti biasa.
Masih tertawa.
Masih membuat orang lain tersenyum.
Masih menjawab:
"Aku baik kok."
Tetapi kalau setelah membaca tulisan ini kamu menyadari bahwa sebenarnya sedang tidak baik-baik saja, tidak perlu panik.
Mulai dari mengaku kepada dirimu sendiri.
"Iya, ternyata aku sedang capek."
Sederhana.
Tetapi jujur.
Tarik napas.
Turunkan bahu yang sejak tadi tegang.
Tidak perlu menyelesaikan semuanya malam ini.
Kemudian lihat sekeliling.
Apakah ada satu orang yang cukup aman?
Satu saja.
Teman.
Pasangan.
Saudara.
Seseorang yang selama ini mungkin sudah berkali-kali mengatakan:
"Kalau ada apa-apa, cerita."
Cobalah percaya sedikit.
Tidak harus menceritakan semuanya.
Katakan saja:
"Aku lagi nggak terlalu baik akhir-akhir ini. Bisa temani aku ngobrol?"
Mungkin ternyata kamu tidak merepotkan.
Mungkin orang itu justru senang akhirnya kamu memberikan kesempatan kepadanya untuk hadir.
Karena selama ini kamu terlalu sering menjadi tangan yang menolong.
Sesekali, izinkan dirimu menjadi tangan yang ditolong.
Kamu tidak kehilangan harga diri karena membutuhkan orang lain.
Kamu tidak kehilangan kekuatan karena menangis.
Dan kamu tidak menjadi lebih lemah hanya karena mengakui bahwa ada sesuatu yang berat.
Jangan sampai kamu menjadi tempat paling aman untuk seluruh dunia, tetapi tidak pernah merasa aman di dalam dirimu sendiri.
Belajarlah memberikan kepada dirimu kelembutan yang selama ini begitu mudah kamu berikan kepada orang lain.
Kalau teman gagal, kamu mengatakan:
"Tidak apa-apa, coba lagi."
Katakan itu kepada dirimu.
Kalau teman lelah, kamu mengatakan:
"Istirahat dulu."
Katakan juga kepada dirimu.
Kalau seseorang menangis di depanmu, kamu tidak menganggapnya lemah.
Jadi kenapa air matamu sendiri harus membuatmu malu?
Kita semua mempunyai batas.
Dan menerima batas bukan kekalahan.
Itu kesadaran.
Pada akhirnya mungkin kekuatan yang sesungguhnya bukan kemampuan untuk terus berdiri tanpa pernah jatuh.
Kekuatan adalah mengenali kapan kita bisa berjalan sendiri, kapan perlu berhenti, dan kapan harus berani mengulurkan tangan.
Jadi kalau malam ini kamu sedang sendirian setelah seharian tertawa bersama banyak orang, jangan langsung mengambil ponsel untuk kembali menghibur semua orang.
Duduk sebentar.
Dengarkan dirimu.
Tanyakan:
"Bagaimana kabarku sebenarnya?"
Dan kali ini...
jangan jawab otomatis:
"Aku baik-baik saja."
Jawablah dengan jujur.
Sebab kamu tidak harus selalu terlihat kuat agar tetap berharga.
Kamu hanya perlu menjadi manusia.
Manusia yang terkadang tertawa.
Terkadang menangis.
Terkadang membantu.
Dan terkadang membutuhkan bantuan.
Semua itu boleh hidup di dalam orang yang sama.
Dan kalau hari ini kamu lelah menjadi orang kuat...
istirahatlah sebentar.
Besok kamu tidak harus kembali menjadi manusia yang pura-pura tidak mempunyai masalah.
Besok cukup menjadi dirimu sendiri.
Mungkin justru dari situlah kekuatan yang lebih tenang mulai tumbuh.
— DJ BANGSA EAA


0Komentar