Ada orang yang mengajarkan kehidupan lewat buku.
Ada yang mengajarkannya melalui pidato panjang.
Ada yang membagikan kalimat-kalimat indah tentang kebahagiaan, kesetiaan, kesabaran, dan rasa syukur.
Tetapi di Sumbersari, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, saya seperti menemukan pelajaran kehidupan dalam bentuk yang jauh lebih sederhana.
Tidak ada panggung.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada kalimat motivasi.
Yang ada hanya hamparan sawah.
Pematang yang sempit.
Air yang mengalir perlahan di antara tanaman padi.
Seorang kakek yang setiap pagi datang melihat sawahnya.
Dan seorang nenek yang beberapa jam kemudian menyusul, menjaga tanaman sambil mengerjakan apa saja yang masih bisa dikerjakan oleh kedua tangannya.
Saya sengaja tidak menuliskan nama mereka.
Biarlah dalam CERITA RAKYAT DJ BANGSA EAA kali ini saya memanggil mereka dengan sebutan sederhana:
Kakek dan Nenek.
Sebab bagi saya, kisah ini bukan hanya tentang dua orang.
Mereka seperti mewakili banyak pasangan petani sederhana di desa-desa Indonesia yang mungkin tidak pernah muncul dalam berita, tetapi diam-diam memberikan pelajaran besar tentang kehidupan.
Kakek dan Nenek bukan orang kaya raya.
Setidaknya bukan kaya seperti ukuran yang sering kita gunakan hari ini.
Mereka tidak berbicara mengenai investasi besar.
Tidak sibuk membicarakan barang mewah.
Tidak pula menghabiskan hari dengan menghitung apakah kehidupan telah berlaku adil kepada mereka.
Setiap pagi Kakek pergi ke sawah.
Ia melihat padinya.
Memeriksa air.
Mengalirkannya ketika diperlukan.
Melihat pematang.
Memastikan tanaman yang sudah dirawat berbulan-bulan itu mendapatkan apa yang dibutuhkan.
Siang hari, giliran Nenek lebih banyak berada di sekitar sawah.
Ia menjaga tanaman dari gangguan hama.
Namun menariknya, ia tidak sekadar duduk menunggu.
Di sekitar sawah itu, tangannya tetap bergerak.
Kadang menanam cabai.
Kadang merawat jeruk.
Kadang menanam tanaman lain yang bisa tumbuh di lahan yang tersedia.
Apa saja yang memungkinkan untuk dirawat, mereka rawat.
Apa saja yang bisa tumbuh, mereka syukuri.
Tidak berlebihan.
Tidak pula bermalas-malasan.
Mereka seperti memiliki sebuah perjanjian diam-diam dengan tanah:
kami merawatmu semampu kami, selebihnya kami menerima apa yang diberikan kehidupan.
Saya memperhatikan mereka dan kemudian menyadari sesuatu.
Saya hampir tidak pernah mendengar keluhan tentang harga.
Padahal kita tahu kehidupan petani tidak selalu sederhana.
Harga hasil pertanian bisa berubah.
Biaya kebutuhan bisa berubah.
Cuaca bisa berubah.
Hama bisa datang.
Panen tidak selalu sesuai harapan.
Namun mereka terus melakukan rutinitasnya.
Besok pagi Kakek kembali ke sawah.
Siang Nenek kembali menjaga tanaman.
Hari berikutnya demikian lagi.
Bukan karena mereka tidak memahami persoalan kehidupan.
Bukan karena mereka tidak pernah merasakan kesulitan.
Mungkin justru karena mereka telah hidup cukup lama sehingga memahami satu hal:
tidak semua yang berada di luar kendali harus dijadikan alasan untuk berhenti menjalani apa yang masih bisa kita kerjakan.
Dan entah mengapa, dari dua orang sederhana inilah saya mendapatkan pelajaran yang sulit saya lupakan.
Tentang cinta.
Tentang pengabdian.
Tentang pekerjaan.
Tentang kesederhanaan.
Dan terutama—
tentang bagaimana seseorang bisa bersyukur bahkan tanpa perlu terus-menerus mengatakan bahwa dirinya sedang bersyukur.
PAGI YANG SELALU DIMULAI DENGAN SAWAH
Pagi di desa memiliki suara yang berbeda.
Sebelum matahari benar-benar tinggi, kehidupan sudah bergerak.
Udara masih cukup sejuk.
Jalan-jalan kecil belum ramai.
Di kejauhan terlihat hamparan tanaman padi.
Dan di antara hijaunya sawah itulah rutinitas Kakek dimulai.
Tidak ada alarm pekerjaan dari kantor.
Tidak ada kartu absensi.
Tidak ada atasan yang menelepon dan bertanya mengapa ia belum datang.
Tetapi hampir setiap pagi ia tetap berangkat.
Karena petani memiliki semacam jam biologis yang sulit dijelaskan.
Mereka tahu kapan sawah harus dilihat.
Mereka tahu kapan air perlu diperiksa.
Mereka tahu kapan tanaman sedang membutuhkan perhatian.
Pagi bagi Kakek bukan sekadar pergantian waktu.
Pagi adalah tanggung jawab.
Ia berjalan menuju sawah.
Melihat padi.
Memperhatikan air.
Kalau aliran air belum sesuai, ia mengaturnya.
Tidak banyak bicara.
Tangannya bekerja.
Kakinya berjalan menyusuri pematang.
Sesekali ia berhenti dan memperhatikan tanaman.
Bagi orang yang tidak terbiasa bertani, mungkin semua padi terlihat sama.
Tetapi bagi seorang petani yang setiap hari datang, setiap perubahan kecil bisa memiliki arti.
Ada bagian yang airnya cukup.
Ada yang membutuhkan perhatian.
Ada tanaman yang tumbuh baik.
Ada pula yang harus diperiksa lebih dekat.
Saya melihat rutinitas tersebut dan bertanya dalam hati:
Berapa tahun seseorang harus menjalani kehidupan seperti ini sampai pekerjaan tidak lagi terasa seperti sebuah kewajiban, melainkan menjadi bagian dari dirinya?
Mungkin jawabannya ada pada Kakek.
Ia tidak tampak seperti sedang menjalankan sebuah ritual besar.
Ia hanya melakukan apa yang memang harus dilakukan.
Sederhana.
Tetapi konsisten.
KETIKA MATAHARI MENINGGI, NENEK DATANG
Kalau pagi memiliki Kakek, siang seperti memiliki Nenek.
Matahari mulai terasa lebih panas.
Sawah tidak lagi sesejuk pagi.
Namun Nenek tetap datang.
Salah satu pekerjaannya adalah menjaga padi dari hama.
Tetapi Nenek bukan tipe orang yang betah hanya duduk tanpa mengerjakan apa-apa.
Di sekitar sawah, ada saja yang disentuh tangannya.
Cabai bisa ditanam.
Jeruk bisa dirawat.
Tanaman lain bisa dicoba.
Lahan kecil yang bagi sebagian orang mungkin tidak berarti, bagi Nenek tetap memiliki kemungkinan.
Saya kemudian berpikir bahwa mungkin begitulah generasi mereka memandang kehidupan.
Tidak terlalu sibuk menunggu sesuatu yang besar.
Yang kecil dirawat terlebih dahulu.
Satu tanaman cabai dirawat.
Pohon jeruk diperhatikan.
Sawah dijaga.
Rumah diurus.
Hari dilewati.
Besok diulangi lagi.
Sedikit demi sedikit.
Mereka tidak hidup dalam kecepatan seperti kita hari ini.
Hari ini kita terbiasa menginginkan hasil dengan cepat.
Baru memulai sesuatu beberapa bulan, sudah bertanya kapan berhasil.
Baru bekerja sebentar, sudah membandingkan kehidupan dengan orang lain.
Baru menghadapi satu masalah, kadang kita merasa seluruh kehidupan tidak berpihak.
Sedangkan saya melihat Nenek mencabut rumput di sekitar tanaman dengan ketenangan yang luar biasa.
Tidak terburu-buru.
Satu demi satu.
Seperti mengatakan:
yang bisa diselesaikan hari ini, selesaikan. Yang belum bisa, besok dilanjutkan.
Sederhana sekali.
Tetapi bukankah sebagian besar kehidupan memang seperti itu?
ROMANTIS VERSI MEREKA TIDAK MEMBUTUHKAN BUNGA
Kalau kita berbicara tentang pasangan romantis, bayangan yang muncul biasanya makan malam, hadiah, bunga, perjalanan bersama, atau kata-kata cinta.
Kakek dan Nenek memiliki bentuk romantisme yang berbeda.
Romantis mereka adalah pembagian pekerjaan yang mungkin bahkan tidak pernah dibicarakan.
Kakek pagi-pagi melihat sawah.
Nenek kemudian menjaga dan merawatnya.
Ketika ada pekerjaan rumah, mereka menjalankannya.
Ketika ada hasil dari kebun, dinikmati bersama.
Tidak banyak kalimat romantis yang terdengar.
Tetapi saya mulai bertanya:
Apakah cinta harus selalu terdengar?
Mungkin tidak.
Ada cinta yang bentuknya adalah memastikan sawah keluarga tetap mendapatkan air.
Ada cinta yang bentuknya menjaga tanaman ketika pasangan sedang mengerjakan hal lain.
Ada cinta yang tidak mengatakan,
"Aku akan selalu bersamamu."
Tetapi sudah puluhan tahun bangun dan menjalani hari bersama.
Ada cinta yang tidak dipamerkan.
Namun bertahan.
Dan menurut saya, cinta seperti itu memiliki keindahan tersendiri.
Mereka telah melihat wajah satu sama lain dalam berbagai keadaan.
Ketika masih muda.
Ketika mulai beruban.
Ketika tenaga masih kuat.
Sampai langkah mulai melambat.
Namun pagi masih datang.
Sawah masih ada.
Dan mereka masih berjalan bersama dalam kehidupan yang sama.
WAWANCARA DJ BANGSA EAA BERSAMA KAKEK DAN NENEK
Saya kemudian mencoba duduk dan berbicara dengan mereka.
Tidak dengan suasana wawancara yang terlalu resmi.
Karena saya justru ingin mendengar kehidupan melalui bahasa mereka sendiri.
Tentang rutinitas yang tidak pernah dianggap beban
DJ BANGSA EAA: Kek, setiap pagi selalu ke sawah?
KAKEK: Ya lihat-lihat saja.
DJ BANGSA EAA: Apa yang pertama dilihat?
KAKEK: Air. Padi juga dilihat. Kalau airnya kurang ya dialiri.
DJ BANGSA EAA: Tidak capek setiap hari seperti itu?
Kakek tersenyum.
KAKEK: Namanya punya sawah ya dilihat.
Jawabannya pendek.
Tetapi saya justru terdiam.
"Namanya punya sawah ya dilihat."
Tidak ada keluhan.
Tidak ada cerita tentang betapa berat pekerjaannya.
Sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya, ya dijalankan.
Saya kemudian bertanya kepada Nenek.
DJ BANGSA EAA: Kalau Nenek biasanya ke sawah jam berapa?
NENEK: Kalau sudah agak siang.
DJ BANGSA EAA: Menjaga padi?
NENEK: Iya. Sambil mengerjakan yang lain.
DJ BANGSA EAA: Saya lihat ada cabai juga.
NENEK: Ada. Sedikit.
DJ BANGSA EAA: Jeruk juga?
Nenek tersenyum.
NENEK: Ya, kalau bisa ditanam ya ditanam.
Kalimat itu kembali sederhana.
"Kalau bisa ditanam ya ditanam."
Saya merasa sedang berbicara dengan orang yang memiliki filosofi kehidupan tanpa pernah merasa sedang berfilosofi.
Tentang harga yang naik dan turun
Saya kemudian masuk ke persoalan yang sering menjadi pembicaraan ketika berbicara tentang petani.
Harga.
DJ BANGSA EAA: Kek, kalau harga hasil pertanian naik turun bagaimana?
Kakek terdiam sebentar.
KAKEK: Ya memang begitu.
DJ BANGSA EAA: Tidak kesal?
Kakek tersenyum.
KAKEK: Kalau dipikir terus ya capek.
Saya tertawa kecil.
Namun kalimat tersebut tertinggal di kepala saya.
Kalau dipikir terus ya capek.
Bukan berarti Kakek tidak peduli terhadap harga.
Tentu petani mengharapkan harga yang baik.
Hasil kerja keras siapa pun selayaknya memberikan kehidupan yang layak.
Namun Kakek sepertinya memahami batas antara sesuatu yang bisa ia kerjakan dan sesuatu yang tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya.
DJ BANGSA EAA: Jadi kalau harga sedang kurang bagus?
KAKEK: Ya tetap ke sawah.
DJ BANGSA EAA: Besok tetap melihat air?
KAKEK: Ya iya.
Kami tertawa.
Tetapi saya merasa mendapatkan tamparan kecil.
Sering kali kita berhenti melakukan hal yang berada dalam kendali karena terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang berada di luar kendali.
Harga berubah, Kakek tetap mengalirkan air.
Cuaca berubah, tanaman tetap diperiksa.
Hasil belum tentu sempurna, tetapi pekerjaan hari ini tetap dilakukan.
Tentang rasa cukup
Saya kemudian bertanya kepada Nenek.
DJ BANGSA EAA: Nek, kalau panennya bagus, senang?
NENEK: Ya senang.
DJ BANGSA EAA: Kalau hasilnya tidak sebanyak yang diharapkan?
NENEK: Ya yang ada disyukuri.
Saya berhenti sebentar.
Kalimat yang begitu sering kita dengar terasa berbeda ketika keluar dari seseorang yang benar-benar menjalankannya.
DJ BANGSA EAA: Nenek tidak ingin punya banyak?
Nenek tertawa.
NENEK: Semua orang kalau dikasih banyak ya mau.
Saya ikut tertawa.
DJ BANGSA EAA: Nah, benar.
NENEK: Tapi kalau adanya segitu mau bagaimana? Yang penting masih bisa makan, masih sehat.
Di situlah saya mulai memahami.
Bersyukur bukan berarti seseorang tidak boleh berharap mendapatkan kehidupan lebih baik.
Bersyukur bukan berarti tidak boleh menginginkan hasil panen yang lebih banyak.
Bukan pula berarti menerima keadaan tanpa usaha.
Justru Kakek dan Nenek bekerja hampir setiap hari.
Mereka berusaha.
Tetapi setelah usaha dilakukan, mereka tidak menghabiskan sisa hidup dengan memarahi hasil.
Tentang cinta yang sudah menua bersama
Saya penasaran dengan hubungan mereka.
DJ BANGSA EAA: Kek, sudah berapa lama sama Nenek?
Kakek tersenyum sambil melihat istrinya.
Jawabannya tidak langsung keluar.
Nenek malah tertawa.
NENEK: Sudah lama.
DJ BANGSA EAA: Kok jawabannya "sudah lama"?
NENEK: Ya memang sudah lama.
Kami kembali tertawa.
DJ BANGSA EAA: Kek, masih sayang sama Nenek?
Kakek tertawa kecil.
Nenek langsung melihat ke arahnya.
KAKEK: Ya kalau tidak sayang, buat apa sampai sekarang?
Jawaban sederhana itu membuat suasana berubah menjadi hangat.
Tidak ada puisi.
Tidak ada kata-kata berlebihan.
Hanya:
"Kalau tidak sayang, buat apa sampai sekarang?"
Bagi saya, kalimat itu lebih romantis daripada banyak kalimat cinta yang pernah saya dengar.
DJ BANGSA EAA: Nenek sendiri masih sayang Kakek?
NENEK: Ya masa tidak.
DJ BANGSA EAA: Pernah bertengkar?
Keduanya tertawa.
NENEK: Ya pernah.
DJ BANGSA EAA: Terus bagaimana bisa awet?
Nenek menjawab ringan.
NENEK: Nanti juga baik lagi.
Saya tertawa.
Tetapi sekali lagi saya belajar.
Mungkin hubungan yang panjang bukan hubungan tanpa pertengkaran.
Melainkan hubungan yang tahu bahwa setelah pertengkaran, kehidupan masih harus dilanjutkan.
Besok sawah masih harus dilihat.
Padi masih harus dijaga.
Makan masih harus dimasak.
Rumah masih harus dirawat.
Dan orang yang tadi membuat kita kesal tetap menjadi orang yang kita cari ketika membutuhkan bantuan.
Tentang siapa yang lebih cerewet
Saya mencoba membuat percakapan lebih ringan.
DJ BANGSA EAA: Kalau di rumah siapa yang paling cerewet?
Kakek langsung menunjuk Nenek.
Nenek tertawa.
NENEK: Lha kalau tidak diingatkan nanti lupa.
DJ BANGSA EAA: Berarti Nenek cerewet karena sayang?
NENEK: Ya terserah bilangnya apa.
Kami tertawa bersama.
DJ BANGSA EAA: Kek, kalau Nenek ngomel bagaimana?
KAKEK: Didengarkan.
DJ BANGSA EAA: Tidak dibalas?
KAKEK: Kalau dibalas tambah panjang.
Tawa kami pecah lagi.
Di tengah percakapan sederhana itu saya melihat sesuatu yang mungkin lebih penting daripada jawaban mereka.
Cara Kakek memandang Nenek.
Cara Nenek menanggapi Kakek.
Tidak ada romantisme yang dibuat-buat.
Mereka seperti dua manusia yang sudah terlalu lama mengenal satu sama lain sehingga tidak lagi membutuhkan banyak pembuktian.
Tentang kekayaan
Saya kemudian bertanya sesuatu yang cukup serius.
DJ BANGSA EAA: Kek, menurut Kakek orang kaya itu seperti apa?
Kakek diam.
Sepertinya pertanyaan saya justru terlalu rumit.
KAKEK: Ya punya banyak uang.
Kami tertawa.
DJ BANGSA EAA: Kakek ingin kaya?
KAKEK: Kalau dikasih ya mau.
Jawaban itu jujur.
Saya menyukainya.
Karena kesederhanaan tidak harus dibangun dari kepura-puraan bahwa uang tidak penting.
Uang tetap dibutuhkan.
Kehidupan membutuhkan biaya.
Petani juga ingin hidup sejahtera.
DJ BANGSA EAA: Tapi sekarang bahagia?
Kakek mengangguk.
KAKEK: Ya alhamdulillah.
Saya kemudian bertanya kepada Nenek.
DJ BANGSA EAA: Kalau Nenek, bahagia?
NENEK: Ya bahagia.
DJ BANGSA EAA: Padahal setiap hari masih ke sawah.
NENEK: Lha memang kerjaannya.
Sekali lagi saya dibuat tersenyum.
Kita terkadang menganggap kebahagiaan baru datang ketika tidak perlu bekerja.
Sedangkan bagi mereka, bekerja justru menjadi bagian dari kehidupan.
Pertanyaan yang membuat saya terdiam
Menjelang akhir percakapan, saya bertanya kepada Kakek.
DJ BANGSA EAA: Kek, selama hidup apa yang paling Kakek syukuri?
Ia tidak langsung menjawab.
Matanya melihat sawah.
Kemudian ia menjawab pendek.
KAKEK: Masih bisa begini.
Saya tidak langsung melanjutkan pertanyaan.
"Masih bisa begini."
Masih bisa berjalan.
Masih bisa melihat sawah.
Masih bisa bekerja.
Masih ada istri di sampingnya.
Masih ada tanaman yang harus dirawat.
Masih ada pagi yang bisa didatangi.
Saya kemudian beralih kepada Nenek.
DJ BANGSA EAA: Kalau Nenek?
Nenek tersenyum.
NENEK: Ya masih diberi sehat.
Tidak ada permintaan yang besar.
Saya yang awalnya datang untuk mendengar cerita mereka justru pulang dengan pertanyaan untuk diri sendiri.
Berapa banyak hal yang sudah saya miliki tetapi lupa saya syukuri karena terlalu sibuk melihat apa yang belum saya punya?
MEREKA TIDAK MISKIN KEBAHAGIAAN
Saya tidak ingin meromantisasi kesulitan hidup petani.
Petani tetap membutuhkan kesejahteraan.
Mereka membutuhkan harga hasil pertanian yang baik.
Mereka membutuhkan akses terhadap kebutuhan pertanian yang layak.
Mereka juga berhak memiliki kehidupan yang semakin baik.
Kesederhanaan tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk menganggap bahwa kesejahteraan tidak penting.
Namun dari Kakek dan Nenek saya melihat satu hal lain.
Kebahagiaan tidak selalu menunggu seluruh masalah selesai.
Mereka tetap memiliki kebutuhan.
Tetap memiliki kekhawatiran.
Tetap menghadapi harga yang berubah.
Tetap menghadapi cuaca.
Tetap menghadapi hama.
Tetapi kehidupan tidak mereka tunda sampai semuanya sempurna.
Mereka masih bisa tertawa hari ini.
Masih bisa bercanda.
Masih bisa duduk bersama.
Masih bisa menikmati hasil tanaman yang ada.
Dan bagi saya, itulah kekayaan yang sering tidak masuk dalam perhitungan.
MENGABDI TANPA TERLIHAT
Ada satu kalimat yang terus terlintas dalam pikiran saya setelah melihat kehidupan mereka:
mengabdi tanpa terlihat.
Kakek tidak pernah mengatakan bahwa dirinya sedang berkorban untuk keluarga.
Ia hanya bangun pagi dan pergi ke sawah.
Nenek tidak pernah membuat pengumuman bahwa dirinya adalah istri yang setia.
Ia hanya menjalani kehidupan bersama suaminya.
Mereka tidak pernah mengatakan bahwa sedang merawat bumi.
Tetapi tanah tetap mereka rawat.
Tanaman tetap mereka tanam.
Air tetap mereka jaga.
Mereka tidak pernah mengatakan bahwa sedang mengajarkan generasi berikutnya tentang kerja keras.
Namun orang yang melihat mereka bisa belajar.
Inilah pengabdian yang tidak membutuhkan penonton.
Hari ini kita hidup dalam zaman ketika hampir semua hal bisa diperlihatkan.
Kita bisa menunjukkan pekerjaan.
Menunjukkan makanan.
Menunjukkan perjalanan.
Menunjukkan kebahagiaan.
Tidak ada yang salah dengan itu.
Namun Kakek dan Nenek mengingatkan saya bahwa masih ada kehidupan yang berjalan meskipun tidak ada kamera.
Masih ada orang baik yang berbuat baik meskipun tidak ada yang memberikan tepuk tangan.
Masih ada pasangan yang saling mencintai meskipun tidak pernah mengunggah kata-kata romantis.
Masih ada orang yang bekerja keras meskipun tidak pernah menyebut dirinya pekerja keras.
Dan mungkin justru di situlah ketulusan menemukan bentuknya yang paling sederhana.
BERSYUKUR TANPA MENGUCAP
Pelajaran kedua adalah tentang syukur.
Kakek dan Nenek tentu pernah mengatakan kata syukur.
Tetapi yang paling menarik bukan kata-katanya.
Melainkan cara mereka hidup.
Ketika panen belum sempurna, besok tetap bekerja.
Ketika harga berubah, sawah tetap didatangi.
Ketika tanaman cabai hanya menghasilkan sedikit, tetap dipetik.
Ketika jeruk tumbuh, dirawat.
Ketika tubuh masih sehat, digunakan untuk bekerja.
Mereka seperti mengajarkan bahwa rasa syukur sebenarnya adalah sebuah tindakan.
Bersyukur karena memiliki tubuh sehat berarti menggunakan tubuh itu dengan baik.
Bersyukur karena memiliki sawah berarti merawatnya.
Bersyukur memiliki pasangan berarti tetap menjaganya ketika usia sudah tidak muda.
Bersyukur memiliki makanan berarti menikmatinya tanpa terus membandingkan dengan milik orang lain.
Syukur bukan berarti berhenti bermimpi.
Syukur adalah tidak membenci hari ini hanya karena hari esok belum seperti yang kita inginkan.
CLOSING: SAYA DATANG MELIHAT PETANI, TETAPI PULANG MEMBAWA PELAJARAN KEHIDUPAN
Saya datang melihat Kakek dan Nenek sebagai dua petani sederhana di Sumbersari, Kecamatan Ngombol, Purworejo.
Namun saya pulang dengan perasaan bahwa justru sayalah yang sedang belajar.
Saya belajar bahwa cinta tidak harus selalu diucapkan.
Kadang cinta adalah seorang suami yang pagi-pagi pergi melihat air di sawah.
Kadang cinta adalah seorang istri yang siangnya datang menjaga padi.
Kadang cinta adalah dua orang yang pernah bertengkar, tetapi keesokan paginya tetap menjalani kehidupan bersama.
Saya belajar bahwa kesetiaan tidak selalu berbentuk janji besar.
Kadang kesetiaan adalah rutinitas.
Bangun.
Bekerja.
Pulang.
Makan bersama.
Tidur.
Kemudian bangun lagi.
Bertahun-tahun.
Puluhan tahun.
Sampai rambut berubah putih dan langkah tidak lagi secepat dahulu.
Saya juga belajar bahwa rasa cukup bukan berarti kehilangan ambisi.
Kakek dan Nenek tentu senang kalau hasil panen bagus.
Mereka tentu senang kalau harga baik.
Mereka tentu ingin kehidupannya sejahtera.
Tetapi mereka tidak memberikan seluruh kendali kebahagiaan kepada sesuatu yang tidak bisa mereka atur.
Harga boleh berubah.
Yang bisa dilakukan Kakek pagi ini adalah memastikan air mengalir.
Cuaca boleh berubah.
Yang bisa dilakukan Nenek siang ini adalah menjaga tanaman.
Hasil panen belum diketahui.
Yang bisa dilakukan hari ini adalah merawat padi.
Sederhana.
Tetapi mungkin itulah kebijaksanaan.
Kita sering terlalu sibuk memikirkan hasil sampai lupa merawat proses.
Terlalu sibuk mengkhawatirkan bulan depan sampai lupa menjalani hari ini.
Terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain sampai lupa bahwa di halaman kita sendiri mungkin ada sesuatu yang sebenarnya sudah layak disyukuri.
Kakek dan Nenek tidak mengajari saya melalui teori.
Mereka mengajarkannya lewat kehidupan.
Dan ada satu pemandangan yang menurut saya akan sulit dilupakan.
Kakek berdiri di dekat sawah.
Nenek tidak jauh darinya.
Di depan mereka ada hamparan tanaman yang selama berbulan-bulan mereka rawat.
Tidak ada mobil mewah.
Tidak ada rumah megah dalam cerita ini.
Tidak ada pencapaian fantastis yang bisa dijadikan judul keberhasilan.
Tetapi mereka tersenyum.
Senyum dua orang yang mungkin sudah cukup lama hidup untuk memahami bahwa kebahagiaan bukan berarti memiliki segalanya.
Kebahagiaan terkadang hanyalah mengetahui bahwa hari ini kita masih diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan bersama orang yang kita sayangi.
Masih bisa berjalan ke sawah.
Masih bisa melihat padi tumbuh.
Masih bisa menanam cabai.
Masih bisa merawat jeruk.
Masih bisa mengeluh sebenarnya—
tetapi memilih untuk melanjutkan pekerjaan.
Mereka bukan manusia tanpa masalah.
Mereka hanya tampaknya tidak ingin menjadikan setiap masalah sebagai pusat dari seluruh kehidupan.
Dan bagi saya pribadi, itulah sesuatu yang luar biasa.
Di tengah dunia yang semakin cepat, mereka mengajarkan pelan-pelan.
Di tengah dunia yang sibuk menunjukkan pencapaian, mereka mengajarkan pengabdian tanpa terlihat.
Di tengah banyaknya orang berbicara tentang rasa syukur, mereka memperlihatkan bagaimana bersyukur tanpa harus banyak mengucapkannya.
Saya kemudian memahami satu hal:
Barangkali kita tidak selalu membutuhkan kehidupan yang lebih besar untuk menjadi lebih bahagia. Kadang kita hanya membutuhkan hati yang lebih mampu melihat besarnya kehidupan yang sudah kita miliki.
Kakek tidak perlu menjelaskan teori tentang ketekunan.
Besok pagi ia akan kembali melihat padinya.
Nenek tidak perlu memberikan seminar tentang kesetiaan.
Siang nanti ia mungkin kembali menjaga sawah sambil merawat cabai, jeruk, atau tanaman lainnya.
Mereka akan menjalani rutinitas yang sama.
Dan mungkin tidak ada seorang pun yang memperhatikannya.
Tidak masalah.
Karena pengabdian mereka memang tidak membutuhkan penonton.
Sore akan datang.
Matahari akan turun perlahan di balik hamparan sawah.
Kakek dan Nenek akan pulang.
Besok pagi, kehidupan dimulai lagi.
Dan selama mereka masih mampu berjalan bersama, mungkin bagi keduanya—
itu sudah lebih dari cukup untuk disyukuri.
Inilah CERITA RAKYAT DJ BANGSA EAA.
Cerita tentang dua manusia sederhana.
Tentang padi.
Tentang tanah.
Tentang kerja keras.
Tentang cinta yang menua bersama.
Dan tentang sebuah pelajaran yang saya dapatkan dari sawah di Sumbersari:
Mengabdi tanpa terlihat.
Mencintai tanpa banyak janji.
Bekerja tanpa banyak mengeluh.
Dan bersyukur, bahkan tanpa harus selalu mengucapkannya.


0Komentar