Ada manusia yang hanya kita temui sekali dalam kehidupan, tetapi anehnya tidak pernah benar-benar pergi dari ingatan.
Tidak ada hubungan panjang.
Tidak ada nomor telepon yang terus tersimpan.
Tidak ada foto bersama yang setiap tahun muncul sebagai kenangan.
Bahkan setelah pertemuan itu selesai, kehidupan membawa kita menuju jalan masing-masing.
Tetapi bertahun-tahun kemudian, ketika hidup sedang terasa berat, wajah seseorang yang pernah kita temui itu tiba-tiba muncul kembali dalam ingatan.
Dan tanpa sadar kita berkata kepada diri sendiri:
"Kalau dia waktu itu bisa berjuang sekeras itu, mengapa saya hari ini harus menyerah?"
Bagi saya, salah satu orang itu bernama Sari.
Setidaknya begitulah ia memperkenalkan dirinya kepada saya.
Saya tidak tahu apakah hari ini Sari masih menggunakan nama yang sama, tinggal di tempat yang sama, atau bahkan masih berada di Yogyakarta.
Saya tidak tahu.
Sebab pertemuan kami terjadi sekitar 17 tahun yang lalu.
Saat itu saya sendiri masih belasan tahun.
Masih ABG.
Masih berada pada usia ketika kehidupan rasanya begitu luas, tetapi pemahaman tentang kerasnya hidup sebenarnya masih sangat terbatas.
Saya bertemu Sari di Terminal Jombor, Yogyakarta.
Sebuah tempat yang dipenuhi manusia datang dan pergi.
Bus masuk.
Bus keluar.
Penumpang menunggu.
Pedagang menawarkan dagangan.
Suara kendaraan bercampur dengan percakapan orang.
Dan di antara kehidupan terminal yang terus bergerak itu, ada seorang perempuan muda yang mengamen sepulang sekolah.
Ia masih bersekolah.
Sepulang sekolah, ketika sebagian teman seusianya mungkin pulang, bermain, beristirahat, atau mengerjakan tugas, Sari justru turun ke jalan.
Bukan karena ia sedang mencari pengalaman.
Bukan pula karena ingin mendapatkan uang tambahan untuk membeli sesuatu yang sedang tren di kalangan anak muda.
Menurut cerita yang ia sampaikan kepada saya saat itu, uang hasil mengamen digunakannya untuk membantu membiayai sekolahnya sendiri dan kebutuhan makan keluarganya.
Sari tinggal bersama ibunya.
Ayahnya telah meninggal dunia.
Saya masih ingat bagaimana akhirnya kami berbincang di salah satu warung kopi di kawasan Terminal Jombor.
Saya yang waktu itu masih remaja mendengarkan seorang remaja lain menceritakan kehidupannya.
Usia kami mungkin tidak terpaut terlalu jauh.
Tetapi malam itu saya merasa seperti sedang berbicara dengan seseorang yang telah mengenal kehidupan jauh lebih cepat daripada saya.
Sekarang, 17 tahun kemudian, saya tidak tahu di mana Sari berada.
Tetapi saya masih mengingat ceritanya.
Dan setiap kali mengingatnya, ada semacam energi yang kembali muncul.
Saya seperti diingatkan:
jangan terlalu cepat mengeluh.
Bukan karena kita tidak boleh merasa lelah.
Bukan karena masalah kita tidak penting.
Tetapi karena di luar sana, sejak dulu hingga hari ini, selalu ada manusia yang harus berjuang jauh lebih awal daripada usia yang seharusnya.
Inilah CERITA RAKYAT DJ BANGSA EAA.
Tentang sebuah pertemuan sederhana di Terminal Jombor.
Tentang secangkir minuman di warung kopi.
Tentang seorang anak sekolah bernama Sari.
Dan tentang cerita yang baru saya sadari nilainya setelah 17 tahun berlalu.
TERMINAL JOMBOR, 17 TAHUN YANG LALU
Ingatan manusia memang aneh.
Ada kejadian kemarin yang hari ini sudah kita lupakan.
Namun ada kejadian belasan tahun lalu yang masih menyisakan potongan-potongan gambar di kepala.
Terminal Jombor menjadi salah satunya bagi saya.
Waktu itu saya masih belasan tahun.
Masih ABG.
Masih dalam fase kehidupan ketika banyak hal terasa baru.
Kalau hari ini saya mengingat diri saya pada usia tersebut, mungkin saya akan tersenyum.
Karena pada usia itu kita sering merasa sudah memahami dunia.
Padahal sebenarnya dunia baru saja membuka pintunya sedikit.
Di terminal, kehidupan tidak pernah benar-benar diam.
Ada orang yang baru datang ke Yogyakarta.
Ada yang hendak meninggalkan kota.
Ada orang tua membawa barang.
Ada anak muda menunggu kendaraan.
Ada pedagang.
Ada sopir.
Ada kernet.
Ada pengamen.
Setiap orang memiliki tujuan.
Dan di antara mereka saya bertemu Sari.
Seorang pengamen perempuan yang masih bersekolah.
Kalau hanya melihat sekilas, mungkin ia sama seperti pengamen lain yang kita temui di jalanan.
Datang.
Menyanyikan sebuah lagu.
Menerima uang seikhlasnya.
Kemudian berjalan menuju orang berikutnya.
Tetapi ternyata di balik beberapa menit lagu itu terdapat kehidupan yang jauh lebih panjang.
Sari mengamen setelah pulang sekolah.
Ia membawa tanggung jawab yang menurut saya cukup besar untuk seseorang seusianya.
Ia harus memikirkan sekolah.
Tetapi pada saat yang sama ia juga harus memikirkan bagaimana bisa mendapatkan uang.
Ada biaya pendidikan yang harus dipenuhi.
Ada kebutuhan makan di rumah.
Dan di rumah hanya ada dirinya bersama sang ibu.
Ayahnya telah meninggal dunia.
Saya tidak ingin menjadikan kisah kehilangan itu sebagai sesuatu yang terlalu dramatis.
Sebab yang paling membekas bagi saya justru bukan kesedihannya.
Melainkan caranya melanjutkan kehidupan.
SERAGAM SEKOLAH, JALANAN, DAN SEBUAH TANGGUNG JAWAB
Bayangkan sebentar.
Seorang pelajar menyelesaikan kegiatan sekolah.
Tubuh mungkin lelah.
Ada pelajaran yang harus dipikirkan.
Mungkin ada pekerjaan rumah.
Mungkin ada ujian.
Namun setelah itu hari belum selesai.
Ada pekerjaan lain yang menunggu.
Mengamen.
Berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Menyanyi di hadapan orang yang tidak dikenal.
Tidak semua orang akan memberikan uang.
Tidak semua orang akan memperhatikan.
Mungkin ada yang tersenyum.
Mungkin ada yang tidak peduli.
Mungkin ada yang sedang terburu-buru.
Tetapi Sari harus terus berjalan.
Satu lagu selesai.
Berpindah.
Bernyanyi lagi.
Sedikit demi sedikit uang dikumpulkan.
Bagi sebagian orang, nominalnya mungkin terlihat kecil.
Tetapi bagi Sari, setiap rupiah memiliki tujuan.
Untuk sekolah.
Untuk makan.
Untuk membantu ibunya.
Di usia ketika banyak anak masih sepenuhnya bergantung kepada orang tua, Sari justru berusaha meringankan kehidupan orang tuanya yang tersisa.
Saya tidak ingin mengatakan bahwa anak seusia itu seharusnya mengalami kehidupan seperti itu.
Tentu kita semua berharap setiap anak bisa belajar dengan tenang dan mendapatkan kehidupan yang layak.
Tetapi kenyataan hidup manusia memang berbeda-beda.
Dan ketika keadaan tidak memberinya pilihan yang mudah, Sari memilih melakukan sesuatu.
Ia bekerja dengan kemampuan yang dimilikinya.
Ia bernyanyi.
WARUNG KOPI DI TERMINAL JOMBOR
Pertemuan kami kemudian berlanjut menjadi percakapan.
Kami duduk di salah satu warung kopi di kawasan Terminal Jombor.
Tidak ada meja wawancara.
Tidak ada kamera.
Tidak ada alat perekam.
Waktu itu saya bahkan tidak sedang berpikir bahwa suatu hari saya akan menuliskan cerita ini.
Saya hanya seorang anak belasan tahun yang penasaran dengan kehidupan seseorang yang baru saja saya temui.
Sari bercerita.
Dan saya mendengarkan.
Sekarang, setelah 17 tahun, tentu saya tidak mungkin mengingat setiap kata persis seperti malam itu.
Karena itu dialog berikut saya tuliskan kembali berdasarkan inti percakapan dan kenangan yang masih saya simpan.
Bukan sebagai transkrip kata demi kata, melainkan sebagai rekonstruksi dari sebuah pertemuan yang membekas.
DIALOG DJ BANGSA EAA BERSAMA SARI, SEBUAH KENANGAN DARI 17 TAHUN LALU
DJ BANGSA EAA: Namamu siapa?
SARI: Sari.
DJ BANGSA EAA: Kamu masih sekolah?
SARI: Masih.
Saya sempat heran.
DJ BANGSA EAA: Terus ini habis sekolah langsung ngamen?
SARI: Iya. Biasanya habis sekolah.
DJ BANGSA EAA: Tidak capek?
Sari tersenyum.
SARI: Ya capek. Tapi sudah biasa.
Kalimat "sudah biasa" terdengar sederhana.
Namun hari ini saya memahami bahwa terkadang manusia menyebut sesuatu "sudah biasa" bukan karena hal tersebut ringan, tetapi karena sudah terlalu sering dijalani.
DJ BANGSA EAA: Memangnya uang ngamennya buat apa?
SARI: Buat sekolah. Sama buat bantu makan di rumah.
Saya masih muda waktu itu.
Mungkin cara bertanya saya juga masih sangat polos.
DJ BANGSA EAA: Orang tuamu?
Sari kemudian menceritakan bahwa ia tinggal bersama ibunya.
SARI: Tinggal sama Ibu.
DJ BANGSA EAA: Bapak?
SARI: Bapak sudah meninggal.
Ada jawaban yang tidak membutuhkan pertanyaan lanjutan.
Saya ingat ada rasa tidak enak setelah mendengarnya.
Pada usia remaja, kita terkadang belum tahu bagaimana harus merespons cerita kehilangan seseorang.
DJ BANGSA EAA: Maaf ya.
SARI: Tidak apa-apa.
Lalu percakapan berlanjut.
DJ BANGSA EAA: Jadi sekarang kamu sama Ibu saja?
SARI: Iya.
DJ BANGSA EAA: Ibu tahu kamu ngamen?
SARI: Tahu.
DJ BANGSA EAA: Tidak dilarang?
SARI: Yang penting saya tetap sekolah.
Kalimat itu masih terasa kuat bagi saya.
Yang penting saya tetap sekolah.
Sari tidak menjadikan pekerjaannya sebagai alasan untuk berhenti belajar.
Sebaliknya, ia bekerja agar tetap bisa belajar.
DJ BANGSA EAA: Kamu ingin sampai lulus?
SARI: Ya ingin.
DJ BANGSA EAA: Kenapa sekolah penting buat kamu?
Sari menjawab dengan cara yang sederhana.
SARI: Biar nanti bisa kerja lebih baik.
Saya tidak tahu apakah Sari waktu itu menyadari betapa kuat jawaban tersebut.
Ia tidak mengamen karena menyerah kepada masa depan.
Ia mengamen justru karena masih percaya pada masa depan.
"KALAU SAYA TIDAK NGAMEN, NANTI BUAT MAKAN DARI MANA?"
Percakapan kami kemudian masuk lebih jauh.
DJ BANGSA EAA: Sari, kamu pernah ingin berhenti ngamen?
Ia berpikir sebentar.
SARI: Ya pernah.
DJ BANGSA EAA: Terus kenapa tetap dilakukan?
Jawabannya membuat saya diam.
SARI: Kalau saya tidak ngamen, nanti buat makan dari mana?
Kalimat itu keluar tanpa pidato panjang.
Tidak terdengar seperti seseorang yang sedang meminta dikasihani.
Ia hanya menjelaskan kenyataan.
Bagi saya yang saat itu juga masih remaja, pertanyaan tersebut terasa berat.
"Kalau saya tidak ngamen, nanti buat makan dari mana?"
Saya mungkin memikirkan banyak hal pada usia itu.
Tetapi Sari sudah memikirkan makanan untuk rumah.
DJ BANGSA EAA: Kalau hasil ngamennya sedikit bagaimana?
SARI: Ya dibawa pulang.
DJ BANGSA EAA: Kalau banyak?
Sari tertawa kecil.
SARI: Ya senang.
Saya ikut tertawa.
Percakapan kami tidak selalu sedih.
Justru itu yang menarik.
Sari masih bisa bercanda.
Masih bisa tersenyum.
Ia tidak duduk di depan saya dengan wajah seolah seluruh dunia telah menyakitinya.
Ia adalah seorang anak muda biasa.
Hanya saja kehidupan memberinya tanggung jawab yang tidak biasa.
SARI TIDAK INGIN DIKASIHANI
DJ BANGSA EAA: Kamu tidak malu ngamen?
Sari menjawab cukup cepat.
SARI: Dulu malu.
DJ BANGSA EAA: Sekarang?
SARI: Ya enggak terlalu. Saya kan cari uang.
Jawaban itu sederhana.
Tetapi bagi saya hari ini, jawabannya memiliki harga diri yang luar biasa.
Ia tidak sedang mengambil milik orang lain.
Ia tidak memaksa.
Ia bernyanyi.
Orang yang berkenan memberikan uang.
Yang tidak berkenan pun tidak masalah.
Ia menukar keberaniannya berdiri di hadapan orang dengan beberapa rupiah yang kemudian dibawa pulang.
DJ BANGSA EAA: Pernah ada orang yang tidak enak sama kamu?
SARI: Ada saja.
DJ BANGSA EAA: Marah?
SARI: Buat apa? Tinggal pergi.
Saya tersenyum ketika mengingat bagian itu.
Betapa banyak energi dalam kehidupan kita habiskan untuk memikirkan orang yang tidak menyukai kita.
Sedangkan Sari pada usia muda sudah memiliki rumus sederhana:
kalau tidak diterima di satu tempat, tinggal berjalan ke tempat berikutnya.
Bukan berarti tidak sakit.
Bukan berarti tidak punya perasaan.
Tetapi kehidupan harus dilanjutkan.
TENTANG IBUNYA
Ketika pembicaraan beralih kepada ibunya, wajah Sari terasa berbeda dalam ingatan saya.
DJ BANGSA EAA: Kamu sayang banget sama Ibu ya?
Sari tersenyum.
SARI: Ya iyalah.
DJ BANGSA EAA: Ibu pernah bilang apa soal kamu ngamen?
SARI: Kadang kasihan.
DJ BANGSA EAA: Terus kamu jawab apa?
SARI: Tidak apa-apa.
Ada anak yang ketika lelah pulang dan mengadu kepada ibunya.
Sari mungkin juga pernah melakukannya.
Tetapi di sisi lain, ia justru berusaha membuat ibunya tidak terlalu merasa bersalah.
DJ BANGSA EAA: Kamu ingin nanti kalau sudah besar bisa apa?
SARI: Kerja.
DJ BANGSA EAA: Buat apa?
Ia tertawa.
SARI: Ya buat hidup.
DJ BANGSA EAA: Sama buat Ibu?
SARI: Iya.
Sederhana.
Tidak ada impian tentang menjadi terkenal.
Tidak ada cerita tentang ingin memiliki sesuatu yang mewah.
Setidaknya itulah yang saya ingat.
Impian Sari waktu itu adalah kehidupan yang bagi banyak orang mungkin terdengar biasa:
sekolah selesai.
Bisa bekerja.
Bisa hidup.
Bisa membantu ibu.
Namun bagi orang yang memulai dari keadaan sulit, hal-hal yang dianggap biasa oleh orang lain bisa menjadi cita-cita yang sangat besar.
"KAMU SENDIRI JANGAN MALAS"
Saya kemudian mengingat salah satu bagian percakapan yang sekarang terasa lucu sekaligus menampar.
Saya bertanya banyak hal kepada Sari.
Sampai akhirnya mungkin ia merasa gantian bertanya.
SARI: Kamu sendiri masih sekolah?
DJ BANGSA EAA: Masih.
SARI: Ya belajar yang benar.
Saya tertawa.
DJ BANGSA EAA: Kok malah saya yang dinasihati?
Sari ikut tertawa.
SARI: Ya jangan malas.
Bayangkan.
Seorang anak yang sepulang sekolah harus mengamen justru mengingatkan saya agar jangan malas sekolah.
Saat itu mungkin saya hanya tertawa.
Namun 17 tahun kemudian, saya memahami kalimat itu dengan cara berbeda.
Sari tidak sedang memberikan motivasi.
Ia hanya tahu betapa berharganya kesempatan untuk sekolah karena dirinya harus berjuang agar kesempatan itu tidak hilang.
JIKA HARI INI SAYA BISA BERTEMU SARI LAGI
Ada pertanyaan yang muncul sekarang.
Di mana Sari?
Bagaimana kehidupannya?
Apakah ia berhasil menyelesaikan sekolah?
Apakah ia mendapatkan pekerjaan yang dulu diimpikannya?
Apakah ibunya masih sehat?
Apakah kehidupannya sekarang jauh lebih baik?
Apakah ia masih ingat Terminal Jombor?
Dan apakah ia masih ingat seorang anak laki-laki ABG yang pernah mengajaknya berbincang di warung kopi?
Saya tidak tahu.
Mungkin Sari sudah berkeluarga.
Mungkin sudah memiliki anak.
Mungkin bekerja di suatu tempat.
Mungkin memiliki usaha.
Mungkin pula kehidupannya membawanya ke kota yang jauh dari Yogyakarta.
Apa pun itu, saya hanya berharap ia baik-baik saja.
Kalau suatu hari saya bisa bertemu dengannya kembali, mungkin saya tidak akan banyak bertanya.
Saya hanya ingin mengatakan:
"Sari, terima kasih. Kamu mungkin sudah lupa percakapan kita, tetapi ternyata ceritamu ikut berjalan bersama saya selama 17 tahun."
DULU SAYA MENDENGAR CERITANYA, SEKARANG SAYA BARU MEMAHAMINYA
Ada pelajaran yang baru bisa dimengerti setelah kita bertambah usia.
Ketika masih remaja, saya mendengarkan cerita Sari sebagai cerita kehidupan seseorang.
Hari ini saya melihatnya sebagai pelajaran.
Dulu saya melihat seorang pengamen.
Sekarang saya melihat seorang anak yang sedang mempertahankan pendidikannya.
Dulu saya melihat seorang perempuan muda bernyanyi mencari uang.
Sekarang saya melihat seorang anak yang mencoba mengambil sebagian beban dari pundak ibunya.
Dulu saya mungkin merasa kasihan.
Sekarang saya justru merasa hormat.
Ada perbedaan besar antara kasihan dan menghargai.
Sari tidak membutuhkan cerita ini untuk menjadikannya objek kesedihan.
Justru sebaliknya.
Saya ingin mengingatnya sebagai seseorang yang bergerak.
Seseorang yang ketika kehidupan memberinya keadaan sulit, tidak memilih diam.
Ia sekolah.
Ia mengamen.
Ia membantu ibunya.
Kemudian besok mengulanginya lagi.
JANGAN ROMANTISASI KESULITANNYA, HARGAI PERJUANGANNYA
Saya juga ingin mengatakan sesuatu yang menurut saya penting.
Cerita seperti Sari jangan membuat kita menganggap kemiskinan atau kesulitan sebagai sesuatu yang indah.
Tidak.
Setiap anak idealnya memiliki kesempatan belajar tanpa harus memikirkan apakah keluarganya bisa makan hari itu.
Setiap keluarga berhak memiliki kehidupan yang layak.
Setiap pelajar seharusnya memiliki kesempatan untuk fokus membangun masa depan.
Namun ketika realitas belum seideal itu, kita bisa menghargai manusia yang tetap berjuang di dalamnya.
Yang menginspirasi bukan kesulitannya.
Yang menginspirasi adalah respons Sari terhadap kesulitan tersebut.
Ia tidak memilih keadaan keluarganya.
Ia tidak memilih kehilangan ayah.
Tetapi ia masih memiliki pilihan mengenai apa yang akan dilakukan setelahnya.
Dan ia memilih bergerak.
17 TAHUN KEMUDIAN, SARI KEMBALI MENYEMANGATI SAYA
Hari ini saya sudah bukan ABG yang duduk di warung kopi Terminal Jombor itu.
Tujuh belas tahun telah berlalu.
Banyak hal berubah.
Kehidupan saya berubah.
Yogyakarta berubah.
Terminal mungkin berubah.
Dunia bahkan berubah sangat cepat.
Tetapi anehnya, Sari masih ada di salah satu sudut ingatan saya.
Terutama ketika semangat sedang turun.
Ketika pekerjaan terasa berat.
Ketika hasil tidak sesuai harapan.
Ketika kehidupan seolah berjalan terlalu lambat.
Saya tiba-tiba teringat seorang anak perempuan yang setelah sekolah tidak pulang untuk beristirahat.
Ia mengambil alat musik sederhananya.
Pergi mengamen.
Mengumpulkan uang.
Untuk sekolah.
Untuk makan.
Untuk ibunya.
Lalu saya merasa malu kalau terlalu lama menyerah.
Bukan karena penderitaan manusia harus dibandingkan.
Masalah saya tetap masalah saya.
Masalah Anda tetap masalah Anda.
Kita tidak perlu mengatakan, "Masalah saya tidak ada apa-apanya dibanding Sari."
Bukan itu maksudnya.
Yang bisa kita katakan adalah:
"Kalau Sari bisa mencari alasan untuk terus berjalan dalam keadaan seperti itu, mungkin saya juga bisa mencari satu alasan untuk melangkah lagi hari ini."
Itulah inspirasi yang sehat.
Bukan membandingkan luka.
Tetapi meminjam keberanian.
CLOSING: SARI, SEMOGA HIDUPMU HARI INI JAUH LEBIH BAIK
Tujuh belas tahun adalah waktu yang panjang.
Seorang anak bisa tumbuh menjadi orang dewasa.
Orang dewasa bisa menjadi orang tua.
Kota berubah.
Bangunan berubah.
Jalan berubah.
Teknologi berubah.
Kita berubah.
Tetapi ternyata ada cerita yang tidak ikut menua.
Cerita itu justru semakin memiliki arti ketika kita bertambah usia.
Sari adalah salah satunya bagi saya.
Saya tidak tahu di mana dirinya hari ini.
Saya tidak tahu apakah ia akan pernah membaca tulisan ini.
Bahkan saya tidak tahu apakah nama "Sari" yang ia sebutkan kepada saya kala itu adalah nama yang masih digunakannya hari ini.
Tetapi saya masih ingat inti ceritanya.
Seorang anak sekolah.
Seorang ibu.
Seorang ayah yang telah tiada.
Terminal Jombor.
Mengamen sepulang sekolah.
Biaya sekolah.
Uang makan.
Dan sebuah warung kopi tempat dua anak muda pernah berbicara mengenai kehidupan.
Dulu saya mungkin merasa sedang menemani Sari bercerita.
Hari ini saya baru sadar—
ternyata Sari yang sedang meninggalkan bekal untuk perjalanan hidup saya.
Bekal itu tidak berbentuk uang.
Bukan barang.
Bukan pula nasihat panjang.
Bekalnya adalah cerita.
Cerita tentang seseorang yang tidak menunggu keadaan menjadi mudah untuk mulai bergerak.
Cerita tentang seorang anak yang memahami bahwa pendidikan begitu berharga sampai ia rela bernyanyi di jalan agar tetap bisa sekolah.
Cerita tentang seorang anak perempuan yang tidak ingin membiarkan ibunya memikul seluruh beban sendirian.
Dan cerita tentang seseorang yang tetap bisa tersenyum di tengah keadaan yang jauh dari sempurna.
Kalau hari ini ada teman yang membaca tulisan ini dan sedang lelah, saya tidak akan meminta Anda berpura-pura kuat.
Istirahatlah kalau memang perlu.
Menangislah kalau memang sesak.
Akui bahwa hidup kadang memang berat.
Tetapi setelah itu, ingatlah Sari.
Bukan untuk membandingkan penderitaan.
Melainkan untuk mengingat bahwa manusia sering memiliki kekuatan yang baru muncul ketika ia memutuskan untuk mengambil satu langkah lagi.
Tidak perlu langsung berlari.
Sari pun mungkin tidak pernah berpikir terlalu jauh ketika mulai mengamen.
Mungkin pikirannya sederhana:
Hari ini harus mendapatkan uang.
Besok harus sekolah lagi.
Kemudian mengamen lagi.
Satu hari.
Satu lagu.
Satu langkah.
Sedikit demi sedikit.
Bukankah sebagian besar keberhasilan memang dibangun seperti itu?
Kita terlalu sering memandang puncak sehingga takut memulai perjalanan.
Padahal kehidupan jarang meminta kita menyelesaikan semuanya hari ini.
Kehidupan biasanya hanya meminta:
"Hari ini, kamu masih mau melangkah atau tidak?"
Dan Sari, 17 tahun yang lalu, memilih melangkah.
Maka hari ini ketika saya mengingatnya, semangat itu seperti datang kembali.
Saya juga ingin melangkah.
Saya ingin kembali mengerjakan apa yang harus dikerjakan.
Saya ingin berhenti terlalu lama mengeluhkan sesuatu yang belum berhasil.
Bukan karena saya tidak boleh kecewa.
Tetapi karena saya tahu bahwa menyerah tidak akan membawa saya lebih dekat kepada tujuan.
Dan mungkin itulah hadiah terbesar dari sebuah pertemuan singkat.
Kita tidak pernah tahu siapa yang akan mengubah cara kita memandang kehidupan.
Bisa jadi bukan orang terkenal.
Bukan orang kaya.
Bukan orang dengan jabatan tinggi.
Bukan seseorang yang berdiri di atas panggung memberikan seminar motivasi.
Bisa jadi ia adalah seseorang yang kita temui di terminal.
Menyanyikan lagu sederhana.
Membawa beberapa uang receh.
Masih memakai usia sekolah.
Kemudian duduk bersama kita di warung kopi dan menceritakan kehidupannya.
Sari mungkin tidak pernah berniat menginspirasi saya.
Ia hanya sedang menjalani hidupnya.
Tetapi mungkin justru inspirasi yang paling jujur memang lahir seperti itu.
Tidak dibuat untuk menginspirasi.
Tidak disusun agar terdengar hebat.
Tidak membutuhkan tepuk tangan.
Seseorang hanya menjalani hidup dengan sungguh-sungguh—
dan orang lain yang melihatnya belajar sesuatu.
Untuk Sari, di mana pun kamu berada sekarang:
Semoga sekolah yang dulu kamu perjuangkan telah membuka jalan yang kamu impikan.
Semoga tangan yang dahulu mengumpulkan uang dari mengamen sekarang memegang hasil dari perjuanganmu sendiri.
Semoga ibumu diberikan kebahagiaan.
Semoga rumah yang dahulu harus kamu bantu dengan hasil bernyanyi kini dipenuhi lebih banyak ketenangan.
Semoga kamu telah menemukan pekerjaan yang dulu kamu impikan.
Dan jika kehidupan ternyata masih memberikan perjalanan yang tidak mudah, semoga keberanian yang kamu miliki sejak remaja tidak pernah benar-benar hilang.
Saya tidak tahu apakah kita akan bertemu lagi.
Mungkin tidak.
Tetapi tidak semua pertemuan harus terulang agar menjadi berarti.
Ada orang yang cukup hadir satu kali—
kemudian pelajarannya tinggal seumur hidup.
Terima kasih, Sari.
Tujuh belas tahun yang lalu kamu mungkin hanyalah seorang pengamen pelajar yang saya temui di Terminal Jombor.
Hari ini, dalam ingatan saya, kamu adalah pengingat bahwa keadaan boleh membatasi banyak hal—
tetapi selama manusia masih memiliki kemauan untuk bergerak, harapan belum benar-benar selesai.
Inilah CERITA RAKYAT DJ BANGSA EAA.
Cerita tentang orang-orang biasa dengan perjuangan yang luar biasa.
Cerita yang tidak selalu berakhir dengan kita mengetahui bagaimana kehidupan mereka hari ini.
Namun mungkin memang tidak perlu.
Sebab terkadang yang paling penting bukan mengetahui bagaimana cerita seseorang berakhir.
Melainkan menyadari bahwa pada suatu masa—
keberaniannya pernah membantu kita untuk tidak menyerah.


0Komentar