TSM7GfYpGUWoGUr7BUr0GSO9

Slider

MBAH PIN TAK PERNAH MAU MAKAN GRATIS: KENANGAN TENTANG JANDA TUA YANG MERAWAT ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DAN MENGAJARI SAYA ARTI HARGA DIRI HINGGA AKHIR HAYATNYA


Ada orang yang kita kenal karena sengaja mencarinya.

Ada pula orang yang masuk ke kehidupan kita karena sebuah tugas sederhana.

Datang.

Mengetuk pintu.

Menyerahkan makanan.

Kemudian pulang.

Besok melakukan hal yang sama.

Begitu terus sampai tanpa disadari, orang yang awalnya hanya kita datangi karena sebuah rutinitas berubah menjadi seseorang yang kita tunggu senyumnya.

Seseorang yang perkataannya kita hafal.

Seseorang yang tingkah sederhananya membuat kita tersenyum.

Dan ketika orang itu akhirnya pergi, kita baru memahami bahwa selama ini bukan hanya kita yang datang membawa sesuatu untuknya.

Diam-diam, ia juga memberikan sesuatu kepada kita.

Sebuah pelajaran.

Sebuah kenangan.

Dan sebuah cara baru memandang manusia.

Bagi saya, orang itu adalah seorang nenek yang biasa kami panggil Mbah Pin.

Saya mengenalnya pada sekitar tahun 2017.

Waktu itu saya mendapat bagian untuk mengantarkan makanan dalam sebuah kegiatan komunitas SHS, komunitas yang pernah saya buat bersama teman-teman dan kemudian sudah bubar sekitar tahun 2020.

Tetapi saya ingin mengatakan sejak awal:

cerita ini bukan tentang SHS.

Bukan pula cerita mengenai betapa baiknya saya.

Sama sekali bukan.

Kalau tulisan ini akhirnya menjadi cerita tentang seseorang yang luar biasa, orang itu bukan saya.

Orang itu adalah Mbah Pin.

Sebab ketika saya datang membawa sebungkus makanan, saya justru pulang membawa pelajaran yang nilainya jauh lebih besar daripada apa yang saya antarkan.

Mbah Pin adalah seorang janda.

Ia memiliki seorang anak.

Anaknya memiliki kebutuhan khusus. Penglihatannya tidak berfungsi sejak usia remaja.

Dalam perjalanan hidupnya, Mbah Pin harus menjadi seorang ibu sekaligus pencari nafkah.

Ia menjalani kehidupannya sendiri sambil tetap memikirkan anaknya.

Bahkan ketika usianya sudah lanjut, ia masih berusaha mencari penghasilan.

Saya mengenalnya ketika kondisinya sudah tidak seperti dahulu.

Usianya sudah sangat tua.

Tubuhnya mulai lemah.

Ingatan pun perlahan tidak lagi setajam sebelumnya.

Namun ada satu hal yang bagi saya seperti tidak pernah ikut menua:

harga dirinya.

Setiap kali kami datang membawa makanan, Mbah Pin seperti selalu merasa harus memberikan sesuatu sebagai gantinya.

Apa saja.

Barang sederhana.

Sesuatu yang ada di rumah.

Seolah-olah ia ingin mengatakan:

"Saya menerima makanan ini, tetapi saya juga ingin memberikan sesuatu kepada kalian."

Awalnya kami mencoba menjelaskan.

"Mbah, tidak usah."

Tetapi kemudian kami memahami bahwa mungkin bagi Mbah Pin persoalannya bukan mengenai nilai barang.

Ini mengenai perasaan.

Ia tidak ingin sekadar menerima.

Ia ingin tetap menjadi seseorang yang bisa memberi.

Sampai akhirnya kami memiliki semacam kesepakatan tidak tertulis.

Karena usia dan kondisi ingatannya yang mulai menurun, siapa pun yang mendapatkan giliran datang ke rumah Mbah Pin cukup mengikuti pembicaraannya.

Kalau Mbah Pin mengatakan sesuatu, kami iyakan.

Kalau menawarkan sesuatu, kami tidak perlu berdebat panjang.

Yang penting Mbah Pin tenang.

Yang penting beliau merasa dihargai.

Rutinitas itu berlangsung kurang lebih satu tahun.

Pagi makanan datang.

Siang ada yang datang lagi.

Hari berikutnya diulang.

Sampai kemudian suatu hari—

Mbah Pin pergi.

Begitu saja.

Bagi saya rasanya begitu cepat.

Tidak ada tanda-tanda dramatis yang membuat saya merasa sedang bersiap kehilangan seseorang.

Dan mungkin justru karena itulah kepergiannya meninggalkan kesan yang begitu dalam.

Inilah CERITA RAKYAT DJ BANGSA EAA.

Bukan cerita tentang orang yang memberikan bantuan.

Melainkan tentang seorang perempuan tua yang bahkan ketika menerima bantuan masih berusaha mempertahankan satu hal yang telah dijaganya sepanjang hidup:

martabatnya sebagai manusia.


SEBELUM MENJADI "MBAH PIN YANG KAMI ANTARKAN MAKANAN", IA ADALAH SEORANG IBU

Mudah bagi kita mengenal seseorang hanya berdasarkan keadaan terakhir ketika kita bertemu dengannya.

Ketika saya mengenal Mbah Pin, beliau sudah tua.

Tubuhnya tidak lagi kuat seperti dahulu.

Ingatan mulai mengalami penurunan.

Aktivitasnya terbatas.

Namun Mbah Pin tentu tidak selalu menjadi nenek tua seperti yang saya kenal.

Ia pernah muda.

Pernah memiliki tenaga.

Pernah memiliki kehidupan rumah tangga.

Pernah memiliki rencana.

Pernah memiliki harapan seperti manusia lainnya.

Kemudian kehidupan membawanya menjadi seorang janda.

Ia memiliki seorang anak.

Dan anak tersebut kemudian harus menjalani kehidupan dengan keterbatasan penglihatan sejak usia remaja.

Saya sering mencoba membayangkan perjalanan Mbah Pin sebelum saya mengenalnya.

Bagaimana perasaan seorang ibu ketika mengetahui anaknya tidak lagi bisa melihat?

Berapa malam yang pernah ia habiskan untuk memikirkan masa depan anaknya?

Berapa kali ia takut?

Berapa kali ia menangis tanpa diketahui orang?

Saya tidak tahu.

Dan saya tidak ingin mengarang kesedihan yang tidak pernah beliau ceritakan.

Yang saya tahu adalah satu hal:

Mbah Pin tetap berjalan.

Ia tetap mencari nafkah.

Ia tetap menjadi seorang ibu.

Ia tetap menjalani kehidupan.

Bahkan ketika usianya sudah berada di angka yang bagi banyak orang merupakan masa untuk sepenuhnya beristirahat, Mbah Pin masih berusaha memenuhi kehidupan dengan kemampuannya.

Kalau benar ada gelar yang pantas diberikan kepadanya, bagi saya mungkin bukan "perempuan malang".

Saya justru lebih suka menyebutnya:

perempuan tangguh.

Bukan karena ia tidak pernah lelah.

Tetapi karena meskipun lelah, kehidupan tetap dijalaninya.


PERTEMUAN SAYA DENGAN MBAH PIN

Pertemuan kami sebenarnya sangat sederhana.

Saya mendapatkan giliran mengantarkan makanan.

Tidak ada rencana membuat dokumentasi.

Tidak ada niat menulis cerita.

Tidak ada pikiran bahwa hampir satu dekade kemudian saya akan duduk mengingatnya kembali.

Tugas saya waktu itu sederhana:

makanan harus sampai.

Saya datang.

Bertemu Mbah Pin.

Menyerahkan makanan.

Selesai.

Seharusnya memang sesederhana itu.

Tetapi manusia memiliki cara aneh untuk membuat rutinitas berubah menjadi hubungan emosional.

Ketika kita bertemu seseorang berkali-kali, kita mulai mengenali kebiasaannya.

Kita tahu bagaimana ia menyambut.

Kita tahu kalimat yang sering diucapkan.

Kita mulai memahami sifatnya.

Dan salah satu hal pertama yang saya pahami tentang Mbah Pin adalah:

nenek ini tidak suka merasa menerima sesuatu secara cuma-cuma.


"IKI DIJUPUK, NGGO GANTINE..."

Kurang lebih begitulah suasananya.

Saya datang membawa makanan.

DJ BANGSA EAA: "Mbah, niki wonten panganan."

Mbah Pin melihat makanan tersebut.

Kemudian bukannya langsung menerima dan selesai, beliau justru melihat-lihat barang di sekitarnya.

MBAH PIN: "Iki dijupuk."

Saya bingung.

DJ BANGSA EAA: "Mboten usah, Mbah."

Mbah Pin tetap menawarkan.

Barangnya bisa apa saja yang saat itu menurut beliau bisa diberikan.

Nilainya bukan persoalan.

Justru itulah yang membuat saya mulai memahami karakter beliau.

DJ BANGSA EAA: "Mbah, niki memang kangge Mbah. Mboten usah diganti."

Tetapi Mbah Pin tidak selalu menerima penjelasan tersebut begitu saja.

MBAH PIN: "Ora, iki gawa."

Saya tersenyum.

"Mbah, mboten usah."

Namun beliau tetap merasa perlu memberikan sesuatu.

Pada awalnya mungkin saya melihatnya sebagai hal lucu.

Tetapi setelah berkali-kali mengalami kejadian serupa, saya mulai melihatnya dengan cara berbeda.

Mungkin Mbah Pin tidak sedang membicarakan pertukaran barang.

Mungkin yang sedang dipertahankannya adalah perasaan bahwa dirinya masih mampu memberikan sesuatu.

Dan itu berbeda.


KAMI AKHIRNYA BELAJAR UNTUK TIDAK SELALU MEMBANTAH MBAH PIN

Semakin lama, kondisi usia Mbah Pin semakin terlihat.

Ingatan beliau mulai tidak selalu sama.

Ada percakapan yang berulang.

Ada sesuatu yang mungkin sudah dijelaskan tetapi beberapa waktu kemudian ditanyakan kembali.

Kami memahami bahwa usia telah mengambil sebagian kemampuan ingatannya.

Sampai akhirnya muncul semacam kesepakatan sederhana di antara kami yang kebagian jadwal berkunjung.

Tidak perlu berdebat.

Tidak perlu terus mengatakan bahwa Mbah Pin salah mengingat sesuatu.

Kalau beliau mengatakan sesuatu yang tidak membahayakan siapa pun—

iya-kan saja.

Tujuannya sederhana.

Supaya beliau tenang.

Supaya beliau senang.

Supaya pertemuan tidak berubah menjadi perdebatan mengenai sesuatu yang sebenarnya tidak penting.

Dari situ saya mendapatkan pelajaran lain.

Kadang menyayangi seseorang bukan berarti selalu membuktikan bahwa kita benar.

Ada saat ketika ketenangan jauh lebih penting daripada memenangkan percakapan.


DIALOG-DIALOG KECIL YANG SEKARANG TERASA MAHAL

Saya mencoba mengingat kembali suasana pertemuan dengan Mbah Pin.

Tentu setelah bertahun-tahun, saya tidak bisa menjamin setiap kalimat berikut sama persis kata demi kata. Saya menuliskannya berdasarkan inti percakapan, kebiasaan beliau, dan kenangan yang masih tersisa.

Tentang makanan

DJ BANGSA EAA: "Mbah, sampun dhahar?"

MBAH PIN: "Durung."

DJ BANGSA EAA: "Niki dipundhahar nggih."

MBAH PIN: "Kowe wis mangan?"

Pertanyaan itu selalu terasa aneh bagi saya.

Orang yang kami datangi untuk diberikan makanan malah bertanya apakah saya sudah makan.

DJ BANGSA EAA: "Sampun, Mbah."

Entah saya benar-benar sudah makan atau belum waktu itu, terkadang jawaban paling mudah memang "sudah".

Karena kalau saya mengatakan belum, saya khawatir justru makanannya akan diberikan kembali.

MBAH PIN: "Tenan?"

DJ BANGSA EAA: "Tenan."

Mbah Pin kemudian tersenyum.

Hari ini saya mengingat percakapan seperti itu dan baru menyadari:

Naluri seorang ibu rupanya tidak mudah hilang karena usia.

Bahkan ketika seseorang datang membawa makanan untuk dirinya, ia masih sempat bertanya,

"Kamu sudah makan?"


Tentang barang yang selalu ingin diberikan

Pada kesempatan lain, setelah menerima makanan, Mbah Pin kembali menunjuk sesuatu.

MBAH PIN: "Iki gawa."

DJ BANGSA EAA: "Kangge napa, Mbah?"

MBAH PIN: "Gawa wae."

DJ BANGSA EAA: "Mboten usah."

Mbah Pin mulai bersikeras.

Saya kemudian teringat kesepakatan kami.

Jangan berdebat.

DJ BANGSA EAA: "Nggih, Mbah."

Mbah Pin terlihat lebih tenang.

Mungkin beberapa menit kemudian beliau sudah berbicara mengenai hal lain.

Dan saya akhirnya memahami bahwa terkadang kata "iya" adalah hadiah kecil.

Bukan karena kita sedang membohongi seseorang.

Tetapi karena kita sedang menjaga perasaannya.


MBAH PIN DAN SEBUAH HARGA DIRI YANG TIDAK MAU MENUA

Mengapa Mbah Pin selalu menawarkan sesuatu?

Saya tidak pernah melakukan wawancara resmi untuk mendapatkan jawabannya.

Jadi saya tidak akan mengklaim tahu isi pikirannya.

Tetapi dari pengalaman bertemu dengannya, saya merasakan satu kemungkinan kuat:

Mbah Pin terbiasa hidup mandiri.

Ia terbiasa berusaha.

Ia terbiasa mencari nafkah.

Ia terbiasa menjadi seseorang yang bertanggung jawab terhadap kehidupan dirinya dan anaknya.

Kemudian ketika tubuh mulai melemah, keadaan berubah.

Orang lain datang membawakan makanan.

Bagi sebagian orang mungkin sederhana.

Tinggal menerima.

Mengucapkan terima kasih.

Selesai.

Tetapi mungkin bagi orang yang sepanjang hidupnya terbiasa berusaha sendiri, menerima tanpa memberikan apa pun terasa asing.

Karena itulah barang-barang sederhana di rumahnya menjadi seperti alat untuk mengatakan:

"Saya masih punya sesuatu."

"Saya masih bisa memberi."

"Saya bukan hanya orang yang menerima."

Kalau memang itu yang ada dalam hatinya, saya sangat menghormatinya.


INI BUKAN CERITA TENTANG KAMI YANG MEMBERI

Saya ingin menegaskan bagian ini.

Karena cerita seperti ini sangat mudah salah arah.

Kita bisa tanpa sadar membuat orang yang mengantarkan makanan terlihat sebagai pahlawan.

Padahal tidak.

Saya tidak ingin cerita ini menjadi:

"Lihat, dulu saya membantu orang."

Bukan.

Saya hanya menjalankan bagian kecil dari sebuah kegiatan bersama.

Ada banyak orang lain yang terlibat.

Ada yang mempersiapkan.

Ada yang mengantar pagi.

Ada yang datang siang.

Ada yang mengatur berbagai kebutuhan.

Komunitas itu sendiri sekarang sudah menjadi bagian dari masa lalu.

SHS telah bubar sekitar tahun 2020.

Dan tidak masalah.

Organisasi bisa lahir.

Organisasi bisa berhenti.

Nama komunitas bisa hilang.

Tetapi kebaikan yang pernah terjadi di antara manusia tidak harus ikut hilang.

Karena itu, hampir sepuluh tahun kemudian, yang paling saya ingat bukan nama komunitasnya.

Yang saya ingat justru Mbah Pin.

Senyumnya.

Penawarannya.

Barang-barang yang ingin diberikan.

Pertanyaan apakah saya sudah makan.

Dan caranya menerima makanan seperti seseorang yang masih merasa harus membayar kebaikan dengan sesuatu.


SATU TAHUN YANG TANPA SADAR MENJADI KENANGAN

Rutinitas mengantarkan makanan berjalan cukup lama.

Kurang lebih satu tahun.

Kalau dipikir sekarang, satu tahun adalah waktu yang panjang.

Tetapi ketika sesuatu sudah menjadi rutinitas, kita jarang menghitungnya.

Pagi datang.

Makanan diantar.

Siang ada yang datang.

Besok diulangi.

Minggu berikutnya demikian.

Bulan berganti.

Kita mulai merasa semuanya akan terus seperti itu.

Dan mungkin inilah salah satu sifat manusia.

Kita sering menganggap sesuatu yang rutin akan selalu tersedia.

Orang yang hari ini kita temui seolah besok pasti masih ada.

Suara yang setiap hari kita dengar terasa seperti akan terus terdengar.

Sampai suatu hari—

tidak ada lagi.


KEPERGIAN YANG TERASA BEGITU MUDAH

Kemudian kabar itu datang.

Mbah Pin meninggal dunia.

Saya masih mengingat perasaan aneh ketika mengetahuinya.

Karena bagi saya kepergiannya terasa begitu cepat.

Begitu mudah.

Tidak ada rangkaian panjang yang membuat saya benar-benar bersiap.

Tidak ada perasaan bahwa beberapa pertemuan sebelumnya adalah sebuah salam perpisahan.

Hari-hari sebelumnya Mbah Pin masih menjadi Mbah Pin yang kami kenal.

Kemudian tiba-tiba perjalanan beliau selesai.

Ada rasa kehilangan.

Tetapi juga ada rasa damai yang sulit dijelaskan.

Mungkin karena selama sekitar satu tahun terakhir kehidupannya, ada orang-orang yang datang.

Ada yang mengetuk pintunya.

Ada makanan yang sampai.

Ada percakapan.

Ada tawa.

Ada orang yang mengiyakan cerita-ceritanya.

Dan ada Mbah Pin yang masih sibuk menawarkan sesuatu sebagai balasan.

Saya tidak tahu apa yang dipikirkan beliau pada hari-hari terakhir.

Namun saya berharap satu hal:

semoga Mbah Pin tahu bahwa keberadaannya berarti.


LALU BAGAIMANA DENGAN ANAKNYA?

Ada bagian lain yang membuat kisah Mbah Pin terasa begitu manusiawi.

Ia bukan hanya seorang nenek tua yang hidup sendiri.

Ia adalah ibu dari seorang anak yang memiliki kebutuhan khusus dalam penglihatan.

Bertahun-tahun sebelumnya, ketika anak tersebut kehilangan kemampuan melihat sejak usia remaja, Mbah Pin tentu menghadapi kehidupan yang berubah.

Tetapi ia tetap menjadi ibu.

Saya membayangkan betapa panjang perjalanan itu.

Seorang janda.

Membesarkan seorang anak.

Anaknya membutuhkan dukungan khusus.

Sementara dirinya sendiri harus mencari nafkah.

Sampai usia tua.

Kalau perjuangan memiliki suara, mungkin suara Mbah Pin bukan teriakan.

Mungkin hanya suara langkah kaki seseorang yang tetap bangun dan bekerja karena tahu ada manusia lain yang bergantung kepadanya.

Dan di situlah saya melihat bentuk cinta yang jarang dibicarakan.

Cinta yang bekerja.

Bukan hanya cinta yang berkata.


JIKA SAYA BISA DUDUK SEKALI LAGI DENGAN MBAH PIN

Seandainya waktu bisa diputar dan saya mendapatkan kesempatan duduk sekali lagi di depan Mbah Pin, mungkin percakapannya akan seperti ini.

DJ BANGSA EAA: "Mbah."

MBAH PIN: "Apa?"

DJ BANGSA EAA: "Mbah sampun dhahar?"

Mungkin beliau malah kembali bertanya.

MBAH PIN: "Kowe wis mangan?"

Saya akan tertawa.

DJ BANGSA EAA: "Sampun, Mbah."

Lalu saya ingin mengatakan sesuatu yang dahulu tidak terpikir untuk saya katakan.

DJ BANGSA EAA: "Mbah, kula matur nuwun."

Mungkin beliau akan bingung.

MBAH PIN: "Matur nuwun apa?"

Saya akan menjawab:

DJ BANGSA EAA: "Sampun ngajari kula."

Terima kasih sudah mengajari saya.

Mungkin Mbah Pin akan tertawa karena merasa tidak pernah mengajari apa pun.

Padahal justru itulah pelajaran terbaik.

Pelajaran yang tidak merasa sedang mengajar.


CLOSING: MBAH PIN, TERNYATA BUKAN KAMI YANG MEMBERI

Waktu telah berlalu.

Komunitas yang dahulu membawa saya mengenal Mbah Pin sudah tidak ada.

Rutinitas mengantar makanan sudah lama berhenti.

Orang-orang yang dahulu berkegiatan bersama mungkin sudah memiliki kesibukan masing-masing.

Kehidupan bergerak.

Tetapi sebuah rumah sederhana dan seorang nenek yang selalu menawarkan barang sebagai ganti makanan masih sesekali muncul dalam ingatan saya.

Dan sekarang saya memahami sesuatu.

Dulu saya berpikir saya datang membawa makanan untuk Mbah Pin.

Hari ini saya justru merasa:

Mbah Pin yang memberikan sesuatu kepada saya.

Beliau memberikan pelajaran mengenai harga diri.

Bahwa seseorang boleh membutuhkan bantuan tanpa kehilangan martabat.

Bahwa orang yang menerima tetap bisa menjadi pemberi.

Bahwa nilai sebuah pemberian tidak selalu ditentukan oleh harga barangnya.

Mbah Pin juga mengajarkan tentang seorang ibu.

Tentang perempuan yang menjadi janda tetapi tetap menjalani kehidupan.

Tentang ibu yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus tetapi tidak menjadikan keadaan tersebut sebagai alasan untuk berhenti.

Tentang manusia yang tetap mencari nafkah ketika usia sudah lanjut.

Dan ketika tubuh akhirnya tidak lagi mampu seperti dahulu, karakter yang terbentuk selama puluhan tahun ternyata masih tinggal:

"Kalau kamu memberikan sesuatu kepada saya, saya ingin memberikan sesuatu juga."

Mungkin itulah mengapa setiap barang yang pernah ditawarkan Mbah Pin terasa mahal dalam ingatan saya.

Bukan karena barangnya.

Tetapi karena niat di belakangnya.

Saya juga belajar sesuatu mengenai orang tua yang mulai pikun.

Terkadang mereka mengulang cerita.

Terkadang ingatannya bercampur.

Terkadang sesuatu yang menurut kita tidak masuk akal terasa sangat nyata bagi mereka.

Dan kita memiliki pilihan.

Kita bisa terus membantah.

Atau pada hal-hal kecil yang tidak membahayakan siapa pun, kita bisa tersenyum dan mengatakan:

"Nggih, Mbah."

Tidak semua kebenaran harus dimenangkan.

Kadang ketenangan seseorang jauh lebih berharga.

Ada satu hal lain yang sekarang terasa semakin kuat.

Jangan menunggu seseorang pergi untuk menyadari bahwa pertemuan sederhana dengannya ternyata berharga.

Karena saya tidak pernah tahu pertemuan mana yang menjadi pertemuan terakhir dengan Mbah Pin.

Tidak ada tanda.

Tidak ada adegan perpisahan.

Tidak ada musik yang tiba-tiba berubah sedih seperti dalam film.

Kehidupan nyata tidak selalu memberikan tanda.

Hari ini kita bertemu seseorang.

Besok mungkin bertemu lagi.

Lalu suatu hari tidak lagi.

Begitu sederhana.

Itulah mengapa kalau hari ini masih ada orang tua yang bisa kita kunjungi—

kunjungilah ketika ada kesempatan.

Kalau masih ada ibu yang bisa kita telepon—

teleponlah.

Kalau masih ada ayah yang bisa kita ajak berbicara—

dengarkan ceritanya.

Kalau ada kakek atau nenek yang mengulang cerita untuk kesekian kalinya—

mungkin sesekali kita tidak perlu mengatakan,

"Sudah pernah cerita."

Dengarkan saja sekali lagi.

Sebab bagi kita mungkin itu cerita kesepuluh.

Tetapi suatu hari kita mungkin rela memberikan apa pun hanya untuk mendengar suara itu sekali lagi.

Saya tidak tahu apakah selama hidupnya Mbah Pin pernah merasa dirinya hebat.

Kemungkinan besar tidak.

Ia hanya seorang ibu.

Seorang janda.

Seorang perempuan yang bekerja.

Seorang nenek yang menua.

Seorang manusia yang perlahan mulai lupa beberapa hal.

Kemudian seorang manusia yang akhirnya pulang.

Namun justru orang-orang seperti itulah yang sering meninggalkan pelajaran paling jujur.

Mereka tidak pernah berdiri di podium.

Tidak menulis buku tentang perjuangan.

Tidak menyebut dirinya inspiratif.

Mereka hanya menjalani kehidupan.

Dan kita yang pernah melihatnya kemudian belajar.

Mbah Pin mengajarkan saya bahwa menerima bantuan tidak menjadikan manusia lebih rendah.

Memberikan bantuan juga tidak otomatis membuat kita lebih tinggi.

Hari ini kita memberi.

Besok mungkin kita yang membutuhkan.

Begitulah manusia.

Kita saling menjaga.

Dan mungkin kebaikan paling indah terjadi ketika tidak ada satu pihak pun merasa lebih tinggi daripada pihak lainnya.

Karena itulah saya tidak ingin cerita ini dikenang sebagai cerita:

"Saya pernah mengantarkan makanan kepada Mbah Pin."

Saya lebih ingin mengingatnya sebagai:

"Saya pernah diberi kesempatan mengenal Mbah Pin."

Itu jauh berbeda.

Yang pertama membuat saya terlihat sebagai pemberi.

Yang kedua membuat saya sadar bahwa sebenarnya saya adalah penerima.

Saya menerima cerita.

Saya menerima pengalaman.

Saya menerima pelajaran tentang harga diri.

Saya menerima pelajaran tentang seorang ibu.

Saya menerima pelajaran tentang usia tua.

Saya menerima pelajaran tentang kehilangan.

Dan semuanya diberikan oleh seorang nenek yang bahkan setiap kali menerima sebungkus makanan masih sibuk mencari barang di rumahnya untuk diberikan kembali.

Hari ini saya hanya bisa tersenyum ketika mengingatnya.

Dan dalam hati saya ingin berkata:

"Mbah, mboten usah diganti."

Tidak perlu diganti, Mbah.

Makanan itu memang untuk Mbah.

Tetapi rupanya Mbah tetap membalasnya.

Bukan dengan barang yang dulu Mbah tawarkan.

Mbah membalasnya dengan sebuah kenangan yang masih saya bawa bertahun-tahun setelah Mbah tidak ada.

Dan ternyata nilainya jauh lebih besar.

Semoga perjalanan Mbah Pin telah selesai dengan tenang.

Semoga semua lelahnya sebagai seorang ibu, sebagai seorang janda, sebagai pencari nafkah, dan sebagai manusia telah menemukan tempat untuk beristirahat.

Dan semoga anak yang dahulu begitu Mbah perjuangkan selalu mendapatkan orang-orang baik dalam perjalanan kehidupannya.

Terima kasih, Mbah Pin.

Dulu saya datang membawa makanan.

Sekarang saya baru mengerti—

ternyata saya pulang membawa pelajaran kehidupan.

Inilah CERITA RAKYAT DJ BANGSA EAA.

Cerita tentang orang biasa yang meninggalkan sesuatu yang tidak biasa.

Tentang seorang ibu.

Tentang harga diri.

Tentang memberi dan menerima.

Tentang kehilangan.

Dan tentang sebuah kalimat yang hari ini rasanya ingin saya ucapkan sekali lagi jika Mbah Pin masih berada di depan saya:

"Nggih, Mbah. Kula tampi."

Iya, Mbah.

Saya terima.

Bukan barang yang Mbah tawarkan.

Tetapi pelajaran yang Mbah tinggalkan.

Dan yang satu itu—

akan saya simpan.

0Komentar

http://tiktok.com/@djbangsa/
© Copyright - PULIHSEKETIKA.COM - FRESH NEWS ENTERTAINMENT FOR YOU #waktunyapulih
Berhasil Ditambahkan

Tulis Apa Yang Ingin Kamu Cari Dan Tekan ENTER Untuk Mencari.