TSM7GfYpGUWoGUr7BUr0GSO9

Slider

CRISTIANO RONALDO SUDAH TUA KATANYA? Bang Dodo Belum Selesai, Kita Aja yang Keburu Menyuruh Pensiun!


Kali Ini Izinkan Saya Tidak Netral. Namanya Juga Fans Militan Bang Dodo!

Ada satu kebiasaan dunia sepak bola yang menurut saya agak lucu.

Begitu pemain melewati usia 35 tahun, pertanyaannya mulai berubah.

Bukan lagi:

“Musim depan mau mencetak berapa gol?”

Tetapi:

“Kapan pensiun?”

Umur 37?

“Kapan pensiun?”

38?

“Belum pensiun?”

39?

“Masih main?”

40?

“Bang, pulanglah.”

Cristiano Ronaldo?

Sudah melewati kepala empat dan masih saja ada orang yang setiap beberapa bulan seperti petugas administrasi:

“Pak Cristiano, berkas pensiunnya belum dikumpulkan.”

Hahaha.

Santai, Mas.

Kalau orangnya masih mau bermain...

Kalau tubuhnya masih sanggup...

Kalau klubnya masih membutuhkan...

Kalau dia masih mampu mencetak gol...

Kenapa kita yang sibuk menyuruh pulang?

Biarkan Bang Dodo menentukan sendiri kapan ceritanya selesai.

Karena satu hal yang saya pelajari setelah bertahun-tahun menjadi fans Cristiano Ronaldo adalah:

Orang ini memang agak susah disuruh berhenti.


Pengumuman Penting: Artikel Ini Jelas Bias!

Saya kasih peringatan terlebih dahulu.

Jangan membaca tulisan ini kemudian protes:

“Bangsa tidak objektif!”

Ya memang.

Hahaha.

Saya fans militan Cristiano Ronaldo.

Kalau membahas Real Madrid, Ronaldo masuk.

Manchester United, Ronaldo masuk.

Manchester City saja kemarin ujung-ujungnya saya bawa Ronaldo.

AC Milan?

Bisa juga.

Arsenal?

Masuk lagi.

Kalau besok saya membahas Liga Indonesia, mungkin saya masih mencari jalan:

“Ngomong-ngomong Cristiano Ronaldo...”

Hahaha.

Tetapi menjadi fans bukan berarti saya harus mengatakan Ronaldo sempurna.

Tidak.

Dia pernah gagal.

Pernah kalah.

Pernah bermain buruk.

Pernah mengambil keputusan yang bisa diperdebatkan.

Cristiano Ronaldo tetap manusia.

Tetapi justru perjalanan manusianya itulah yang menurut saya luar biasa.


Dari Madeira, Mimpi Itu Dimulai

Sebelum menjadi CR7.

Sebelum Ballon d'Or.

Sebelum Liga Champions.

Sebelum Real Madrid.

Sebelum selebrasi SIUUUU dilakukan anak SD sampai bapak-bapak.

Cristiano Ronaldo hanyalah anak dari Madeira, Portugal.

Kemudian Sporting CP menjadi pintu menuju panggung besar.

Tubuh kurus.

Dribel.

Kecepatan.

Percaya diri.

Step-over seperti tombol stiknya macet.

Kiri.

Kanan.

Kiri lagi.

Bek lawan mungkin berpikir:

“Mas, jadi lewat atau tidak?”

Hahaha.

Tetapi bakat itu terlihat.

Dan kemudian datang pertandingan yang mengubah arah hidupnya.

Sporting menghadapi Manchester United pada 2003.

Pemain-pemain United terkesan.

Sir Alex Ferguson melihat sesuatu.

Tidak lama kemudian...

Cristiano Ronaldo menjadi pemain Manchester United.


Nomor 7 Manchester United Itu Berat

Ronaldo tiba di Old Trafford masih sangat muda.

Lalu mendapatkan nomor:

7.

Nomor yang punya sejarah.

George Best.

Bryan Robson.

Eric Cantona.

David Beckham.

Kemudian seorang anak Portugal datang memakai nomor tersebut.

Tekanannya?

Gila.

Tetapi Cristiano justru tumbuh.

Awalnya dia masih winger yang sangat gemar melakukan trik.

Kadang efektif.

Kadang saya yakin Sir Alex ingin masuk lapangan sendiri dan berkata:

“OPER BOLANYA!”

Hahaha.

Namun tahun demi tahun, permainannya berkembang.

Tubuhnya semakin kuat.

Keputusan semakin matang.

Finishing meningkat.

Heading berkembang.

Tendangan bebas menjadi senjata.

Dan perlahan:

winger atraktif berubah menjadi monster.


Musim 2007/08: Ronaldo Resmi Menjadi Alien

Kalau ada satu musim yang membuat dunia benar-benar sadar Cristiano Ronaldo sudah masuk kelas tertinggi, musim 2007/08 adalah salah satunya.

Manchester United memenangkan Premier League.

Manchester United memenangkan Liga Champions.

Cristiano Ronaldo mencetak gol demi gol.

Dan kemudian dia memenangkan Ballon d'Or 2008.

Pada titik itu, dia bukan lagi:

“Anak muda berbakat.”

Bukan.

Dia sudah menjadi salah satu pemain terbaik dunia.

Tetapi yang membuat perjalanan Ronaldo berbeda adalah:

dia belum puas.


Kemudian Real Madrid Datang

Nah.

Sebagai Madridista, ini bagian favorit saya.

Tahun 2009.

Cristiano Ronaldo pindah ke Real Madrid.

Dan sisanya?

Sejarah.

Kalau ada orang bertanya kenapa saya menjadi fans militan Bang Dodo, era Real Madrid adalah salah satu jawaban terbesarnya.

Bayangkan tekanannya.

Datang dengan nilai transfer luar biasa besar.

Bermain di Santiago Bernabéu.

Masuk ke klub yang punya sejarah Di Stéfano.

Puskás.

Raúl.

Zidane.

Ronaldo Nazário.

Dan sederet legenda.

Kemudian Cristiano berkata secara tidak langsung melalui permainannya:

“Oke. Sekarang saya bikin sejarah saya sendiri.”


450 Gol dalam 438 Pertandingan Real Madrid Itu Apa?

Saya ulang.

450 gol.

Dalam 438 pertandingan kompetitif bersama Real Madrid.

Cristiano Ronaldo masih tercatat sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah klub.

Saya kadang melihat angka itu kemudian berpikir:

Ini striker atau cheat code?

Hahaha.

Lebih banyak gol daripada pertandingan.

Dan yang lebih mengerikan adalah bagaimana gol-gol itu datang.

Kaki kanan.

Kaki kiri.

Heading.

Tendangan bebas.

Penalti.

Counter attack.

Tap-in.

Tendangan jarak jauh.

Kalau bola bisa masuk menggunakan KTP mungkin dia coba juga.

Hahaha.

Itulah Cristiano Ronaldo.


“Tap-In Merchant” Katanya

Ini salah satu ejekan yang paling menghibur saya.

“Ronaldo cuma tap-in.”

Mas...

Kalau tap-in gampang, kenapa semua pemain tidak mencetak 900 lebih gol?

Hahaha.

Menjadi pencetak gol bukan sekadar kemampuan menendang bola.

Yang sering dilupakan adalah:

bagaimana bisa berada di tempat itu?

Gerakan tanpa bola.

Timing.

Membaca bek.

Membaca kiper.

Mengantisipasi pantulan.

Berani masuk ke ruang berbahaya.

Cristiano muda bisa menggiring bola melewati pemain.

Cristiano yang lebih tua belajar sesuatu:

Daripada melewati tiga pemain, kenapa tidak bergerak satu meter lalu mencetak gol?

Itu bukan penurunan.

Itu evolusi.


Ronaldo Tidak Mengalahkan Usia, Dia Beradaptasi Dengannya

Ini menurut saya salah satu bagian paling menarik dari karier Cristiano Ronaldo.

Dia tidak bermain dengan cara yang sama sepanjang hidupnya.

Manchester United muda?

Winger eksplosif.

Real Madrid awal?

Penyerang dari sisi kiri dengan kecepatan luar biasa.

Real Madrid akhir?

Semakin dekat ke kotak penalti.

Juventus?

Lebih selektif dalam pergerakan.

Al Nassr?

Semakin fokus pada positioning dan penyelesaian akhir.

Tubuh berubah.

Permainan ikut berubah.

Itulah kecerdasan.

Kalau Ronaldo memaksa bermain seperti umur 23 pada usia kepala empat, ya mungkin sudah habis.

Tetapi dia menyesuaikan diri.


Lima Ballon d'Or Tidak Datang dari Giveaway

Cristiano Ronaldo memenangkan lima Ballon d'Or.






Lima.

Di era yang sama dengan Lionel Messi.

Itulah bagian yang membuat pencapaian keduanya semakin gila.

Saya fans Ronaldo.

Tetapi saya tidak punya masalah mengatakan:

Lionel Messi luar biasa.

Justru keberadaan Messi membuat cerita Ronaldo semakin menarik.

Bayangkan kalau Ronaldo lahir pada generasi tanpa Messi.

Atau Messi tanpa Ronaldo.

Mungkin salah satu dari mereka akan jauh lebih dominan dalam berbagai penghargaan individual.

Tetapi kita mendapatkan keduanya sekaligus.

Kita sebagai penonton yang untung.


Jangan Suruh Saya Memilih Messi atau Ronaldo

Kalau orang bertanya:

“Siapa yang lebih hebat?”

Saya tahu perang akan dimulai.

Hahaha.

Fans Messi membawa data.

Fans Ronaldo membawa data.

Grafik.

Trofi.

Assist.

Gol.

Piala Dunia.

Liga Champions.

Statistik kaki kiri.

Statistik hari Selasa.

Lama-lama mungkin ada:

“Siapa paling banyak mencetak gol ketika bulan purnama?”

Hahaha.

Saya menghormati Messi.

Tetapi kalau pertanyaannya:

“Siapa favorit DJ BANGSA EAA?”

Tidak perlu seminar.

Cristiano Ronaldo.

Bang Dodo.

Selesai.

Favorit adalah soal rasa.


Liga Champions dan Cristiano Ronaldo Sulit Dipisahkan

Kalau ada kompetisi yang paling identik dengan Cristiano Ronaldo pada level klub, tentu Liga Champions.

Gol.

Comeback.

Hat-trick.

Knockout.

Final.

Malam-malam besar.

Dan sampai sekarang Ronaldo tetap tercatat sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Liga Champions UEFA dengan 141 gol.

Ini angka yang luar biasa.

Makanya saya selalu mengatakan:

Kalau malam Liga Champions dan Ronaldo sedang bermain...

jangan anggap pertandingan selesai terlalu cepat.

Atletico Madrid tahu.

Bayern tahu.

Juventus tahu.

Wolfsburg juga tahu.

Hahaha.


Hat-Trick Melawan Wolfsburg: “Tenang, Bang Dodo Ada”

Salah satu pertandingan favorit saya terjadi pada 2016.

Real Madrid kalah 0-2 dari Wolfsburg pada leg pertama perempat final Liga Champions.

Situasinya berat.

Leg kedua di Bernabéu.

Apa yang terjadi?

Cristiano Ronaldo mencetak hat-trick.

Madrid menang 3-0.

Lolos.

Kalau itu film, mungkin orang berkata:

“Skenarionya terlalu lebay.”

Tetapi itu terjadi.

Dan Madrid kemudian menjadi juara Liga Champions musim tersebut.

Momen seperti inilah yang membangun mitologi seorang pemain.


Juventus Pernah Bertepuk Tangan untuk Ronaldo

Lalu ada bicycle kick melawan Juventus pada 2018.

Saya masih ingat reaksi penonton.

Gol salto.

Di Turin.

Melawan Juventus.

Bahkan sebagian pendukung Juventus berdiri memberikan tepuk tangan.

Menurut saya itu salah satu penghormatan tertinggi dalam sepak bola.

Lawan mencetak gol ke gawang tim Anda.

Tetapi golnya begitu luar biasa sampai Anda berkata:

“Ya sudah. Tepuk tangan saja.”

Hahaha.

Ironisnya, beberapa bulan kemudian Ronaldo justru pindah ke Juventus.

Sepak bola memang suka menulis cerita aneh.


Juventus: Tantangan Baru, Gol Tetap Jalan

Setelah memenangkan begitu banyak bersama Real Madrid, Ronaldo memilih Juventus.

Sebagian orang mungkin berpikir:

“Sudah selesai.”

Ternyata tidak.

Dia tetap mencetak gol.

Tetap memenangkan trofi domestik.

Tetap menjadi pusat perhatian.

Dan ini menunjukkan sesuatu:

Ronaldo menyukai tantangan.

Dia bisa saja bertahan nyaman.

Tetapi pindah liga.

Lingkungan baru.

Bahasa baru.

Sistem baru.

Tekanan baru.

Tetap mencoba.

Saya menghormati itu.


Kembali ke Manchester United: Romantis, Tapi Tidak Semua Cinta Berakhir Indah

Kemudian datang salah satu transfer yang paling emosional.

Cristiano Ronaldo kembali ke Manchester United pada 2021.

Fans menggila.

Old Trafford kembali meneriakkan namanya.

Dan saya?

Tentu senang.

Bang Dodo pulang.

Tetapi seperti banyak cerita cinta lama...

Pertemuan kedua tidak selalu sama dengan yang pertama.

Ronaldo tetap mencetak gol.

Bahkan menjadi pencetak gol terbanyak United pada musim 2021/22.

Tetapi situasi klub tidak stabil.

Pergantian pelatih.

Hasil buruk.

Konflik.

Dan akhirnya hubungan itu berakhir dengan cara yang tidak ideal.

Sedih?

Ya.

Tetapi sepak bola memang tidak selalu memberikan ending romantis.


Kemudian Ronaldo Pergi ke Al Nassr

Ketika Cristiano Ronaldo pindah ke Al Nassr, komentar bermunculan.

“Kariernya selesai.”

“Sudah pensiun.”

“Cuma cari uang.”

Dan sebagainya.

Saya punya pandangan sederhana.

Karier di level tertinggi Eropa memang sudah berakhir.

Itu fakta perjalanan.

Tetapi apakah karier sepak bolanya selesai?

Tidak.

Kalau dia masih bermain secara profesional, ya masih bermain.

Kita boleh menilai kualitas kompetisinya berbeda dengan Premier League atau Liga Champions.

Wajar.

Tetapi jangan kemudian berpura-pura orangnya sudah tidak bermain sepak bola.


Justru Ronaldo Membantu Mengubah Sorotan ke Saudi Pro League

Setelah Cristiano Ronaldo datang, perhatian terhadap Saudi Pro League meningkat luar biasa.

Kemudian banyak pemain internasional ikut datang.

Karim Benzema.

N'Golo Kanté.

Riyad Mahrez.

Sadio Mané.

Dan banyak lainnya.

Apakah semuanya karena Ronaldo?

Tentu tidak sesederhana itu.

Ada investasi besar.

Strategi liga.

Klub.

Gaji.

Proyek sepak bola.

Tetapi tidak bisa dimungkiri Ronaldo menjadi salah satu magnet global terbesar dalam perubahan perhatian tersebut.

Itulah kekuatan nama.


Bang Dodo Akhirnya Juara Liga Bersama Al Nassr

Dan perjalanan panjang itu akhirnya menghasilkan momen besar.

Pada musim 2025/26, Al Nassr menjadi juara Saudi Pro League.

Cristiano Ronaldo akhirnya merasakan gelar liga bersama klub tersebut.

Bagi orang lain mungkin:

“Ya cuma Saudi.”

Bagi saya?

Trofi tetap trofi.

Apalagi ketika seorang pemain sudah berada di penghujung karier dan masih punya motivasi mengejar sesuatu.

Yang menarik bukan sekadar medalinya.

Yang menarik adalah:

rasa laparnya belum hilang.


Agustus 2026: Masih Main, Masih Cetak Gol

Sekarang kita berada pada musim 2026/27.

Cristiano Ronaldo sudah berusia 41 tahun.

Dan apa yang dilakukan Bang Dodo?

Masih bermain untuk Al Nassr.

Bahkan pada Agustus 2026 dia kembali mencetak gol dalam kemenangan Al Nassr atas Al Riyadh di Saudi Pro League.

Umur 41.

Masih main.

Masih mencetak gol.

Masih orang tanya:

“Kapan pensiun?”

Saya justru bertanya:

“Kalau masih begini, kenapa harus buru-buru?”


Tubuh Cristiano Ronaldo Adalah Proyek Seumur Hidup

Salah satu hal yang paling saya kagumi dari Ronaldo adalah bagaimana dia memperlakukan tubuh.

Disiplin.

Latihan.

Makan.

Istirahat.

Recovery.

Konsistensi.

Kita sering melihat hasil akhirnya:

Badan atletis.

Lompatan tinggi.

Stamina.

Tetapi jarang memikirkan harga yang dibayar.

Melakukan sesuatu satu minggu gampang.

Satu bulan masih bisa.

Setahun mulai sulit.

Dua puluh tahun?

Itulah disiplin.

Bakat membawa Ronaldo masuk pintu.

Disiplin membuatnya bertahan di ruangan.


Kita Sering Terlalu Terobsesi dengan Umur

Sepak bola memang olahraga fisik.

Usia penting.

Kecepatan menurun.

Recovery lebih lama.

Risiko cedera meningkat.

Semua benar.

Tetapi umur seharusnya menjadi data.

Bukan vonis otomatis.

Kalau pemain 41 tahun sudah tidak mampu bersaing, tentu harus realistis.

Tetapi kalau masih mampu memberikan kontribusi?

Biarkan.

Jangan karena angka di KTP kemudian kita yang memutuskan karier orang.

Tubuhnya yang tahu.

Pelatihnya tahu.

Klubnya tahu.

Dan Ronaldo sendiri pasti tahu.


Saya Malah Takut Hari Pensiun Itu Benar-Benar Datang

Ini mungkin terdengar sentimental.

Tetapi sebagai orang yang mengikuti karier Ronaldo begitu lama, saya justru tidak terlalu ingin membicarakan pensiun.

Karena saya tahu hari itu pasti datang.

Suatu hari akan ada pengumuman:

Cristiano Ronaldo resmi pensiun dari sepak bola.

Tidak ada lagi pertandingan berikutnya.

Tidak ada lagi menunggu gol.

Tidak ada lagi selebrasi.

Tidak ada lagi:

SIUUUUUU!

sebagai pemain aktif.

Dan saat itu mungkin baru banyak orang sadar:

Satu era benar-benar selesai.


Kita Sudah Kehilangan Banyak Nama dari Generasi Itu

Lihatlah perjalanan waktu.

Banyak pemain yang dulu rutin kita tonton sudah pensiun.

Ada yang menjadi pelatih.

Ada yang menjadi pundit.

Ada yang menjalani kehidupan di luar sepak bola.

Generasi berganti.

Pemain baru muncul.

Itu normal.

Tetapi bagi fans, ada hubungan emosional dengan era tertentu.

Ronaldo adalah salah satu simbol terakhir dari generasi yang menemani begitu banyak orang tumbuh dewasa.

Makanya jangan heran kalau fans sulit melepaskan.


Ronaldo Tidak Harus Membuktikan Apa-Apa Lagi

Kalau Cristiano Ronaldo pensiun besok sekalipun, warisannya sudah aman.

Lima Ballon d'Or.

Lima gelar Liga Champions.

Juara bersama Manchester United.

Real Madrid.

Juventus.

Al Nassr.

Juara bersama Portugal.

Ratusan gol.

Berbagai rekor.

Nama CR7 sudah menjadi bagian permanen dari sejarah sepak bola.

Dia tidak perlu mengejar validasi saya.

Tidak perlu mengejar validasi netizen.

Tidak perlu membuktikan bahwa dia hebat.

Sudah selesai urusan itu.

Sekarang menurut saya dia bermain karena memang masih ingin bermain.


Mau Mengejar 1.000 Gol? Silakan!

Salah satu pembicaraan besar mengenai Ronaldo adalah kemungkinan mencapai angka 1.000 gol resmi dalam karier senior.

Apakah akan tercapai?

Kita lihat.

Saya tidak mau mendahului kenyataan.

Tetapi kalau memang itu salah satu target pribadinya?

Kejar.

Kenapa tidak?

Ada orang usia 41 mengejar diskon kopi.

Bang Dodo mengejar 1.000 gol.

Hahaha.

Masing-masing punya kesibukan.


Kalau Gagal 1.000 Gol Pun Tidak Mengubah Apa-apa

Ini juga penting.

Jangan sampai seolah-olah Ronaldo harus mencapai angka tersebut supaya kariernya dianggap lengkap.

Tidak.

Kalau tercapai, luar biasa.

Kalau tidak?

Tetap luar biasa.

Sembilan ratus sekian gol bukan kegagalan.

Hahaha.

Kadang standar kepada pemain hebat memang menjadi tidak masuk akal.

Karena terlalu sering melakukan hal luar biasa, kita menganggapnya biasa.


Warisan Terbesar Ronaldo Menurut Saya Bukan Gol

Ini mungkin mengejutkan.

Sebagai fans Ronaldo, saya justru tidak menganggap jumlah gol sebagai warisan terbesarnya.

Bagi saya:

mentalitas.

Ada jutaan anak di seluruh dunia yang melihat Ronaldo dan belajar satu gagasan sederhana:

Bakat penting.

Tetapi kerja keras juga penting.

Tentu slogan “kerja keras mengalahkan bakat” terlalu sederhana.

Ronaldo jelas sangat berbakat.

Tetapi bakat tanpa disiplin tidak akan menghasilkan karier sepanjang ini.

Itulah pelajarannya.


Jangan Jadi Ronaldo, Jadilah Diri Sendiri dengan Disiplin Ronaldo

Saya juga tidak suka kalau semua anak sepak bola disuruh menjadi Cristiano Ronaldo.

Tidak mungkin.

Setiap orang punya tubuh berbeda.

Bakat berbeda.

Posisi berbeda.

Jalan hidup berbeda.

Tetapi ada satu hal yang bisa ditiru:

keseriusan terhadap pekerjaan.

Kalau latihan, latihan.

Kalau istirahat, istirahat.

Kalau punya target, kejar.

Kalau gagal, evaluasi.

Tidak perlu menjadi CR7.

Jadilah versi terbaik diri sendiri.


Jadi, Kapan Cristiano Ronaldo Harus Pensiun?

Jawaban saya:

Ketika Cristiano Ronaldo merasa waktunya sudah tiba.

Bukan ketika Twitter bosan.

Bukan ketika TikTok bilang terlalu tua.

Bukan ketika komentator berkata generasinya sudah selesai.

Dan bukan ketika saya berkata.

Tubuhnya.

Keluarganya.

Klubnya.

Keinginannya.

Itulah yang menentukan.

Selama masih sehat dan kompetitif, saya sebagai fans?

Tonton saja.

Karena setelah dia pensiun, kita tidak bisa meminta satu musim tambahan.


Penutup: Bang Dodo, Jangan Dengarkan Saya Juga!

Cristiano Ronaldo sudah memberikan terlalu banyak cerita kepada sepak bola.

Dari Madeira.

Sporting.

Manchester United.

Real Madrid.

Juventus.

Kembali ke Manchester.

Al Nassr.

Portugal.

Gol.

Trofi.

Rekor.

Kemenangan.

Kekalahan.

Kontroversi.

Comeback.

Semua ada.

Kariernya tidak sempurna.

Justru karena itulah terasa manusiawi.

Dan sekarang ketika orang kembali bertanya:

“Ronaldo kapan pensiun?”

Saya cuma tersenyum.

Karena mungkin kita terlalu sibuk menunggu akhir sampai lupa menikmati bagian terakhir perjalanannya.

Suatu hari Bang Dodo memang akan berhenti.

Tidak ada atlet yang bisa melawan waktu selamanya.

Tetapi hari itu belum perlu kita paksa datang lebih cepat.

Kalau masih mau bermain?

Mainlah, Bang.

Kalau masih mau mencetak gol?

Cetak.

Kalau masih mau mengejar angka 1.000?

Kejar.

Kalau gagal?

Tidak masalah.

Karena bagi saya dan jutaan penggemar lainnya, angka tidak akan pernah bisa menceritakan seluruh perjalanan Cristiano Ronaldo.

Dan ketika pertandingan terakhir itu akhirnya datang...

Saya mungkin akan duduk diam.

Melihat televisi.

Mengingat Ronaldo muda dengan step-over di Old Trafford.

Ronaldo nomor 7 di Bernabéu.

Hat-trick Liga Champions.

Bicycle kick.

Portugal.

Juventus.

Al Nassr.

Kemudian saya akan sadar:

Wah, ternyata kita sudah tua bareng.

Hahaha.

Tetapi sebelum hari itu datang, jangan buru-buru bikin pidato perpisahan.

Bang Dodo masih ada.

Masih berlari.

Masih mencari ruang.

Masih menunggu bola.

Dan kalau bola masuk ke gawang?

Saya sudah tahu apa yang harus dilakukan.

Berdiri.

Tarik napas.

Kemudian satu rumah berteriak:

SIUUUUUUUUUUUUUU!

Cristiano Ronaldo sudah tua?

Iya.

Cristiano Ronaldo sudah selesai?

Belum tentu, Mas.

Biarkan orangnya sendiri yang menentukan titik terakhir.

Karena legenda tidak perlu dipaksa pergi.

Kita cukup menikmati sampai peluit terakhir benar-benar berbunyi.


BOLA DJ BANGSA EAA
Ngomongin sepak bola dengan sejarah, rasa, fanatisme, humor dan celotehan. Statistik akan mencatat golnya, tetapi generasi yang menyaksikannya akan mengingat perasaannya.

0Komentar

http://tiktok.com/@djbangsa/
© Copyright - PULIHSEKETIKA.COM - FRESH NEWS ENTERTAINMENT FOR YOU #waktunyapulih
Berhasil Ditambahkan

Tulis Apa Yang Ingin Kamu Cari Dan Tekan ENTER Untuk Mencari.