Celotehan Seorang Penikmat Manchester City yang Juga Suka Manchester United dan Arsenal. Iya, Saya Tahu Ini Membingungkan!
Ada satu percakapan yang hampir selalu muncul ketika Manchester City menang.
“Ya iyalah menang, duitnya banyak.”
City juara?
“Duit.”
City beli pemain bagus?
“Duit.”
City memainkan sepak bola indah?
“Duit.”
City mencetak lima gol?
“Duit.”
Kalau besok rumput Etihad Stadium tumbuh lebih hijau, jangan-jangan jawabannya juga:
“Duit!”
Hahaha.
Tenang.
Saya tidak mengatakan uang tidak penting.
Sangat penting.
Sepak bola modern adalah industri bernilai luar biasa besar. Klub membutuhkan uang untuk membeli pemain, membayar staf, membangun fasilitas, mempertahankan talenta dan bersaing pada level tertinggi.
Tetapi pertanyaan saya sederhana:
Kalau uang otomatis menghasilkan kesuksesan, kenapa semua klub kaya tidak bergantian menjadi juara setiap tahun?
Nah.
Di sinilah Manchester City menjadi menarik untuk dibahas.
Karena menurut saya kekuatan City bukan sekadar kemampuan membeli pemain mahal.
Yang lebih mengerikan justru:
mereka tahu apa yang ingin mereka bangun.
Sebelum Ada yang Marah: Iya, Saya Suka Manchester City
Saya kasih pengakuan dulu.
Untuk Premier League, saya menikmati beberapa klub.
Manchester United saya suka.
Arsenal saya suka.
Manchester City juga saya suka.
“Bangsa, itu kan rival!”
Ya.
Saya bukan pemain mereka.
Hahaha.
Saya penikmat sepak bola.
Saya bisa menikmati sejarah Manchester United.
Saya bisa menikmati permainan Arsenal.
Dan saya juga bisa menikmati struktur sepak bola Manchester City.
Kalau mereka saling bertanding?
Saya tinggal menikmati dramanya.
Yang penting jangan meminta saya pindah dari Real Madrid kalau urusan La Liga.
Kalau itu lain cerita.
Hala Madrid.
Hahaha.
Tetapi khusus City, ada satu hal yang menurut saya layak dipelajari oleh klub lain:
kesinambungan.
Manchester City Tidak Dibangun dalam Semalam
Kadang orang melihat City hari ini lalu berpikir semuanya terjadi tiba-tiba.
Datang uang.
Beli pemain.
Juara.
Selesai.
Padahal membangun dominasi tidak sesederhana itu.
Manchester City memang mengalami transformasi besar setelah perubahan kepemilikan pada 2008.
Kemampuan finansial mereka meningkat drastis.
Pemain besar datang.
Carlos Tévez.
Yaya Touré.
David Silva.
Sergio Agüero.
Vincent Kompany.
Dan generasi demi generasi berikutnya.
Tetapi uang hanyalah bahan bakar.
Anda tetap membutuhkan kendaraan.
Supir.
Peta.
Dan tahu mau pergi ke mana.
Kalau punya bensin satu tanker tetapi mobilnya tidak punya setir?
Ya muter-muter di parkiran.
Hahaha.
Sergio Agüero dan Satu Gol yang Mengubah Sejarah
Kalau bicara kebangkitan Manchester City, kita tidak mungkin melewatkan satu momen.
Musim 2011/12.
Pertandingan terakhir Premier League.
Manchester City melawan Queens Park Rangers.
City membutuhkan kemenangan untuk menjadi juara.
Masuk injury time mereka masih tertinggal 1-2.
Edin Džeko menyamakan kedudukan.
Kemudian...
AGÜEROOOOOOOO!
Gol pada menit 93:20.
3-2.
Manchester City menjadi juara Premier League.
Kalau saya menjadi fans City saat itu, mungkin kopi saya terbang ke televisi.
Hahaha.
Itu bukan sekadar gol.
Itu seperti sebuah tombol:
“Mulai era baru.”
Setelah momen tersebut, Manchester City perlahan berubah dari penantang menjadi kekuatan dominan sepak bola Inggris.
Kemudian Datang Pep Guardiola
Nah.
Di sinilah ceritanya berubah lagi.
Pep Guardiola tiba pada 2016.
Dan menurut saya, inilah keputusan yang menunjukkan bahwa City tidak cuma ingin memenangkan pertandingan.
Mereka ingin membangun cara bermain.
Pep bukan pelatih yang datang lalu berkata:
“Kasih saya sebelas pemain mahal.”
Tidak sesederhana itu.
Dia membutuhkan profil tertentu.
Bek harus bisa menguasai bola.
Kiper harus ikut membangun serangan.
Gelandang harus memahami ruang.
Winger harus tahu kapan melebar.
Striker harus tahu kapan turun.
Semua pemain harus memahami pressing.
Kalau saya jadi pemain mungkin rapat taktiknya bikin kepala berasap.
Hahaha.
Tetapi ketika semuanya berjalan?
City terlihat seperti mesin.
Kadang City Bermain Seperti Sudah Tahu Bola Akan Pergi ke Mana
Inilah yang paling saya nikmati dari Manchester City era modern.
Ketika mereka berada dalam performa terbaik, pergerakan bolanya terasa terencana.
Umpan ke sini.
Pemain bergerak ke sana.
Bek lawan maju.
Ruang terbuka.
Bola pindah.
Tiba-tiba pemain City sudah masuk kotak penalti.
Kita yang menonton berkata:
“Lho, kok bisa kosong?”
Padahal ruang itu bukan muncul secara kebetulan.
Diciptakan.
Itulah sepak bola posisi.
Dan ketika dilakukan pemain dengan kemampuan teknis tinggi, hasilnya bisa sangat menyebalkan bagi lawan.
Lari mengejar bola lima menit tanpa menyentuhnya saja sudah capek.
Apalagi 90 menit.
Pep Guardiola Mengubah Cara Banyak Orang Melihat Bek
Dulu definisi bek sederhana.
Lawan datang.
Rebut bola.
Buang jauh.
Selesai.
Kalau kiper memberikan bola kepada bek di depan gawang?
Fans zaman dulu mungkin berteriak:
“BUANG!”
Hahaha.
Sekarang Manchester City justru sering memulai serangan dari area paling belakang.
Bek bukan sekadar penghancur serangan.
Mereka bagian dari pembangunan serangan.
Full-back bisa masuk ke tengah.
Gelandang turun.
Bek tengah maju.
Formasi yang kita lihat di layar sebelum pertandingan kadang lima menit kemudian sudah tidak jelas bentuknya.
Saya yang menonton sampai berpikir:
“Ini bek kanan sebenarnya kerja di mana?”
Tetapi itulah evolusi taktik.
Lalu Datang Erling Haaland: Mesin Dikasih Rudal
Manchester City sebelumnya sudah mengerikan dalam penguasaan bola.
Kemudian mereka mendapatkan Erling Haaland.
Saya membayangkannya seperti ini.
Anda sudah punya mobil balap.
Mesinnya bagus.
Aerodinamik.
Cepat.
Lalu seseorang berkata:
“Bagaimana kalau kita pasang roket?”
Hahaha.
Haaland memberikan sesuatu yang berbeda.
Kekuatan.
Kecepatan.
Gerakan tanpa bola.
Finishing.
Dan yang paling penting:
insting gol.
Kadang sepanjang pertandingan dia terlihat tidak banyak menyentuh bola.
Lalu crossing datang.
Gol.
Lima menit kemudian.
Gol lagi.
Bek lawan mungkin berkata:
“Tadi dia ke mana saja?”
Jawabannya:
Menunggu Anda lengah.
City Akhirnya Mendapatkan Liga Champions
Selama bertahun-tahun ada satu ejekan yang selalu diarahkan kepada Manchester City.
“Premier League boleh.”
“Tapi Liga Champions mana?”
Kemudian musim 2022/23 datang.
Manchester City memenangkan treble:
Premier League.
FA Cup.
Liga Champions.
Di final Liga Champions, City mengalahkan Inter Milan 1-0 melalui gol Rodri.
Selesai.
Salah satu pertanyaan terbesar terhadap proyek City akhirnya mendapatkan jawaban.
Mereka bukan lagi sekadar penguasa domestik.
Mereka menjadi juara Eropa.
Tapi Jangan Bilang Semua Itu Cuma Karena Duit
Sekali lagi:
Uang jelas berperan besar.
Saya tidak menutup mata.
Tetapi kalau mau objektif, Manchester City juga menunjukkan pengelolaan sepak bola yang sangat terstruktur.
Rekrutmen pemain.
Akademi.
Fasilitas.
Data.
Staf kepelatihan.
Identitas permainan.
Perencanaan skuad.
Semua bekerja bersama.
Kalau hanya uang, seharusnya setiap pemain mahal otomatis sukses.
Nyatanya?
Tidak.
Ada transfer mahal di berbagai klub yang akhirnya tidak sesuai harapan.
Karena sepak bola bukan toko online.
Harga mahal tidak menjamin cocok.
City Punya Kemampuan Mengganti Pemain Tanpa Mengganti Identitas
Ini menurut saya salah satu kekuatan terbesar mereka.
Pemain datang.
Pemain pergi.
Tetapi struktur tetap hidup.
Sergio Agüero pergi.
David Silva pergi.
Vincent Kompany pergi.
Fernandinho pergi.
İlkay Gündoğan melewati fase berbeda dalam kariernya.
Kevin De Bruyne akhirnya meninggalkan klub setelah satu dekade yang luar biasa.
Tetapi City tidak berhenti menjadi City.
Inilah ciri organisasi sepak bola sehat.
Klub tidak boleh bergantung kepada satu pemain selamanya.
Legenda harus dihormati.
Tetapi sistem harus bisa bertahan setelah legenda pergi.
Manchester United Harus Belajar dari Tetangganya
Nah.
Fans Manchester United mungkin mulai memandang saya.
Hahaha.
Santai.
Saya juga suka United.
Justru karena itu saya berkata:
United harus belajar.
Bukan meniru Manchester City mentah-mentah.
Manchester United punya sejarah sendiri.
Budaya sendiri.
Identitas sendiri.
Tetapi soal struktur?
Perencanaan?
Konsistensi?
Perekrutan?
Itu boleh dipelajari.
Tidak ada aturan bahwa rival tidak boleh menjadi bahan pelajaran.
Kalau tetangga rumahnya rapi, masa kita berkata:
“Saya tidak mau bersih-bersih karena dia rival saya.”
Ya rugi sendiri.
Hahaha.
Arsenal Sudah Melakukan Sesuatu yang Benar: Berani Mengejar
Kalau ada klub yang dalam beberapa tahun terakhir membuat City harus terus waspada, Arsenal jelas termasuk di dalamnya.
Dan saya menyukai itu.
Premier League membutuhkan persaingan.
Saya tidak ingin City juara dengan jarak 30 poin setiap musim.
Membosankan.
Saya ingin Arsenal mengejar.
Liverpool menekan.
Manchester United kembali.
Chelsea bangkit.
Newcastle mengganggu.
Semakin banyak yang kuat, semakin menarik.
Kalau City tetap juara setelah dihajar persaingan dari lima arah?
Baru hebat.
Dominasi Itu Membuat Orang Bosan, Tapi Itu Bukan Salah City
Ada fenomena menarik.
Ketika sebuah klub terlalu sering menang, orang mulai bosan.
“City lagi.”
Dulu ada yang mengatakan:
“United lagi.”
Di liga lain:
“Bayern lagi.”
“PSG lagi.”
“Madrid lagi.”
Tetapi apakah klub yang dominan harus sengaja kalah supaya penonton senang?
Tidak juga.
Hahaha.
Tugas Manchester City adalah menang.
Tugas klub lain adalah:
menghentikan mereka.
Kalau tidak suka melihat City juara?
Ya kalahkan.
Sederhana secara kalimat.
Sangat tidak sederhana di lapangan.
Pertanyaannya Bukan “Kenapa City Kuat?”, Tapi “Bagaimana Kita Mengejarnya?”
Menurut saya mindset ini jauh lebih produktif.
Daripada klub lain terus berkata:
“City punya ini.”
“City punya itu.”
Lebih baik bertanya:
Apa yang bisa kita lakukan lebih baik?
Scouting?
Akademi?
Pelatih?
Sports science?
Analisis data?
Struktur manajemen?
Transfer?
Pengembangan pemain?
Karena kompetisi berkembang ketika standar tertinggi memaksa semua orang naik.
Real Madrid Sudah Memberikan Contoh: City Bisa Dikalahkan
Sebagai Madridista, tentu saya tidak mungkin membahas Manchester City tanpa mengingat duel mereka dengan Real Madrid di Liga Champions.
Hahaha.
City sehebat apa pun tetap bisa kalah.
Real Madrid beberapa kali memberikan pertandingan dramatis melawan mereka.
Dan inilah indahnya sepak bola.
Tim yang secara taktik mengontrol pertandingan belum tentu menang.
Kadang Madrid seperti tinggal punya napas terakhir.
Kemudian...
Gol.
Bernabéu hidup.
Gol lagi.
Tiba-tiba situasi berubah.
Sebagai fans Madrid saya tentu berkata:
“Nah! Sepak bola bukan spreadsheet!”
Hahaha.
Tetapi saya tetap menghormati City.
Karena justru lawan hebat membuat kemenangan terasa lebih berharga.
Pep vs Carlo: Dua Jalan Menuju Kemenangan
Saya suka membandingkan Pep Guardiola dan Carlo Ancelotti.
Bukan menentukan siapa paling hebat.
Tetapi karena pendekatan mereka terasa berbeda.
Pep terlihat seperti profesor.
Semua detail.
Semua ruang.
Semua pergerakan.
Carlo?
Kadang ekspresinya seperti bapak sedang menunggu kopi.
Alis naik sedikit.
Hahaha.
Tetapi keduanya sukses.
Inilah bukti tidak ada satu resep mutlak dalam sepak bola.
Manchester City punya caranya.
Real Madrid punya caranya.
Yang penting:
cara itu menghasilkan kemenangan.
Saya Tetap Pilih Cristiano Ronaldo Kalau Bicara Pemain Favorit
Sekarang waktunya tradisi wajib.
Hahaha.
Kalau membahas Manchester City, pasti ada nama-nama luar biasa.
Agüero.
David Silva.
De Bruyne.
Haaland.
Rodri.
Foden.
Dan banyak lainnya.
Saya menghormati semuanya.
Tetapi kalau pertanyaannya:
“Bangsa, pemain favorit tetap siapa?”
Ya ampun.
Masih ditanya?
Cristiano Ronaldo.
Bang Dodo.
Saya fans militan CR7.
Mau artikel Real Madrid.
Manchester United.
City.
Arsenal.
AC Milan.
Ujung-ujungnya Ronaldo ikut masuk.
Hahaha.
Tetapi justru Ronaldo memberikan contoh yang cocok dengan tema ini:
Dominasi lahir dari standar yang tinggi.
Cristiano tidak puas hanya karena sudah hebat.
Manchester City juga membangun budaya yang tampaknya selalu mencari peningkatan berikutnya.
Itulah mentalitas yang saya hormati.
Tantangan Terbesar City Justru Mempertahankan Rasa Lapar
Menjadi juara pertama kali sulit.
Tetapi menurut saya mempertahankan rasa lapar setelah berkali-kali menang bisa lebih sulit.
Bayangkan pemain sudah punya:
Premier League.
FA Cup.
Liga Champions.
Gaji besar.
Popularitas.
Apa yang membuat dia tetap berlari mengejar pemain lawan pada menit 87 ketika unggul 3-0?
Budaya.
Itulah tantangan klub dominan.
Bukan hanya menemukan pemain berbakat.
Tetapi menemukan pemain yang masih lapar.
Regenerasi Akan Menentukan Apakah Era City Bertahan
Tidak ada dinasti sepak bola yang abadi.
Pemain menua.
Pelatih pergi.
Direktur berubah.
Rival berkembang.
Dan suatu hari Pep Guardiola juga tidak akan berada di Manchester City.
Pertanyaan besarnya:
Apa yang terjadi setelah itu?
Nah.
Bagi saya inilah ujian terbesar proyek City.
Kalau identitas klub tetap kuat setelah era Pep, berarti fondasinya memang dalam.
Kalau semuanya runtuh?
Berarti Pep terlalu dominan terhadap sistem.
Kita akan melihat.
Dan justru itu menarik.
Premier League Harus Berterima Kasih Sedikit kepada City
Saya tahu kalimat ini kontroversial.
Hahaha.
Tetapi dengarkan dulu.
Dominasi Manchester City memaksa rival meningkatkan standar.
Arsenal harus lebih konsisten.
Liverpool harus hampir sempurna.
United harus memperbaiki struktur.
Klub lain harus lebih pintar dalam transfer.
Kompetisi memang kejam.
Tetapi tekanan membuat kualitas meningkat.
Sama seperti Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.
Menurut saya keberadaan satu sama lain membuat standar keduanya semakin gila.
Ronaldo cetak hat-trick.
Messi menjawab.
Messi pecahkan rekor.
Ronaldo mengejar.
Kita yang menonton?
Enak.
Hahaha.
Tapi City Juga Tidak Boleh Merasa Tidak Tersentuh
Sebaliknya, Manchester City harus hati-hati.
Dominasi bisa melahirkan rasa nyaman.
Dan sepak bola paling suka menghukum orang yang terlalu nyaman.
Lawan mempelajari taktik.
Pelatih baru datang.
Pemain muda muncul.
Tren sepak bola berubah.
Apa yang hari ini dianggap revolusioner, lima tahun kemudian sudah dipelajari semua orang.
Jadi City harus terus berevolusi.
Kalau berhenti?
Dikejar.
Jangan Jadikan Manchester City Musuh, Jadikan Mereka Standar yang Harus Dilewati
Kalau saya menjadi pelatih rival, saya tidak akan setiap hari mengeluh City terlalu kuat.
Saya akan tempel klasemen di ruang ganti.
Kemudian berkata:
“Mereka standar kita.”
Mau juara?
Lewati.
Mau menjadi klub terbaik Inggris?
Kalahkan.
Mau juara Eropa?
Hadapi siapa pun.
Itulah olahraga.
Anda tidak mendapatkan medali emas karena pesaing terlalu kuat.
Penutup: Kalau Bosan City Menang, Ya Kalahkan Mereka!
Jadi kembali ke pertanyaan awal:
Manchester City terlalu kuat atau Premier League yang harus belajar mengejarnya?
Jawaban saya:
Keduanya.
Manchester City memang sangat kuat.
Mereka punya sumber daya.
Pemain berkualitas.
Struktur.
Identitas.
Pengalaman juara.
Dan sebuah era luar biasa bersama Pep Guardiola.
Tetapi klub lain juga tidak boleh terus-menerus menjadikan kekuatan City sebagai alasan.
Manchester United?
Bangun lagi.
Arsenal?
Selesaikan perjuangan.
Liverpool?
Terus tekan.
Chelsea?
Temukan kestabilan.
Klub-klub lainnya?
Naikkan standar.
Karena saya ingin Premier League menjadi liga yang pada bulan April masih punya empat klub yang bisa juara.
Bayangkan serunya.
City kehilangan poin.
Arsenal naik.
United menang derby.
Liverpool menyalip.
Semua fans buka kalkulator.
Itu baru hiburan!
Hahaha.
Saya menikmati Manchester City.
Tetapi saya juga ingin mereka dibuat menderita.
Bukan karena benci.
Justru karena sepak bola terbaik muncul ketika tim hebat bertemu lawan yang memaksanya bermain lebih hebat lagi.
Dan kepada orang yang setiap City menang hanya berkata:
“Ah, duit.”
Saya cuma ingin bertanya:
Kalau uang saja cukup...
kenapa trofi tidak dijual langsung di marketplace?
Hahaha.
Sepak bola jauh lebih rumit daripada saldo rekening.
Uang membuka pintu.
Tetapi struktur menentukan arah.
Pelatih menentukan permainan.
Pemain menentukan pertandingan.
Dan mentalitas menentukan apakah sebuah generasi akan dikenang.
Manchester City sudah menetapkan standar tinggi.
Sekarang tugas Premier League sederhana:
KEJAR.
Kalau berhasil melewati mereka?
Hebat.
Kalau belum?
Belajar lagi.
Karena satu-satunya cara menghentikan dominasi bukan dengan terus membicarakan betapa kuatnya sang juara.
Kalahkan mereka di lapangan.
Dan kalau nanti Manchester United, Arsenal atau siapa pun akhirnya menjatuhkan City dalam perburuan gelar yang dramatis?
Saya sebagai penikmat semuanya tinggal bikin kopi dan berkata:
“Nah! Begini dong Premier League!”
Hahaha.
Oh iya.
Sebelum pulang...
Siapa pemain favorit saya?
Tidak berubah.
BANG DODO.
CRISTIANO RONALDO.
SIUUUUUUUU!
BOLA DJ BANGSA EAA
Ngomongin sepak bola dengan sejarah, taktik, fanatisme, humor dan celotehan. Tim hebat bukan alasan untuk menyerah—tim hebat adalah standar yang harus dilewati.


0Komentar