TSM7GfYpGUWoGUr7BUr0GSO9

Slider

ARSENAL SUDAH CANTIK, TAPI KAPAN ANGKAT TROFI BESAR? Sepak Bola Bukan Lomba Estetika!


Celotehan Seorang Penikmat Arsenal yang Suka Permainannya, Tapi Mulai Bertanya: Trofinya Kapan, Mas?

Saya punya hubungan yang agak aneh dengan Arsenal.

Saya suka melihat mereka bermain.

Saya suka keberanian mereka memainkan bola.

Saya suka bagaimana mereka membangun serangan.

Saya suka pemain-pemain mudanya.

Saya juga suka ketika Emirates Stadium bergemuruh dan Arsenal mulai mengepung lawan.

Tetapi setelah menikmati semuanya, kadang muncul satu pertanyaan yang mungkin terdengar sedikit menyebalkan:

“Bagus sih, Mas... tapi trofi besarnya kapan?”

Hahaha.

Tenang dulu, Gooners.

Jangan lempar meriam ke rumah saya.

Saya bukan sedang mengejek Arsenal.

Justru saya membahas Arsenal karena saya menganggap klub ini punya kualitas untuk berada di level tertinggi.

Masalahnya, sepak bola punya satu sifat yang kejam.

Seindah apa pun permainan Anda, sejarah pada akhirnya tetap mencatat:

Siapa yang menjadi juara?

Bukan siapa yang paling sering mendapat pujian.

Bukan siapa yang paling enak ditonton.

Bukan siapa yang hampir juara.

Tetapi siapa yang benar-benar mengangkat piala.

Dan menurut saya, Arsenal sudah memasuki fase ketika kata “hampir” harus perlahan-lahan dihapus dari kamus.


Saya Suka Arsenal, Jadi Jangan Anggap Ini Serangan

Untuk Premier League, saya memang punya kebiasaan yang mungkin membuat sebagian orang bingung.

Saya menyukai Manchester United.

Saya menikmati Manchester City.

Dan saya juga menyukai Arsenal.

“Lho, Bangsa, kok semuanya?”

Ya suka-suka saya.

Hahaha.

Saya menikmati sepak bola bukan seperti memilih calon pasangan hidup yang cuma boleh satu.

Kalau permainan sebuah klub menarik, saya nikmati.

Tetapi tentu setiap klub memberikan rasa yang berbeda.

Manchester United punya romantisme sejarah dan era Sir Alex Ferguson.

Manchester City punya struktur dan dominasi sepak bola modern.

Sedangkan Arsenal?

Menurut saya Arsenal punya sesuatu yang sangat khas:

romantisme sepak bola indah.

Dari era Arsène Wenger sampai sekarang, selalu ada harapan bahwa Arsenal bukan hanya menang.

Mereka ingin menang dengan cara yang enak dilihat.

Dan itu bagus.

Tetapi terkadang saya ingin berkata:

“Sesekali jelek sedikit tidak apa-apa, yang penting tiga poin.”


Karena Sepak Bola Bukan Kontes Kecantikan

Ini mungkin terdengar kasar, tetapi begitulah sepak bola.

Anda bisa menguasai bola 70 persen.

Umpan 800 kali.

Build-up indah.

Kombinasi satu-dua.

Overlap.

Underlap.

Positional play.

Heat map-nya seperti lukisan abstrak.

Kemudian lawan melakukan satu serangan balik.

Gol.

Skor akhir 0-1.

Besok pagi tabel klasemen tidak menulis:

Arsenal kalah, tetapi permainannya cantik.

Tetap saja:

0 poin.

Hahaha.

Itulah alasan saya mengatakan Arsenal sekarang harus mulai menemukan sisi “jahat”-nya.

Tim juara tidak selalu menang dengan indah.

Kadang menang 4-0.

Kadang 3-2.

Kadang 1-0 dari bola muntah.

Kadang bermain buruk selama 89 menit lalu mencetak gol dari sepak pojok.

Apakah jelek?

Mungkin.

Tetapi trofi tidak bertanya golnya artistik atau tidak.


Arsenal Sudah Bukan Tim Bocah Lagi

Beberapa tahun lalu, kita masih bisa berkata:

“Arsenal sedang membangun.”

“Pemainnya masih muda.”

“Kasih waktu.”

“Proyeknya belum selesai.”

Masuk akal.

Tetapi ada titik ketika proyek harus berubah menjadi hasil.

Kalau rumah dibangun terus selama 15 tahun tetapi gentengnya belum dipasang, kita mulai bertanya:

“Ini proyek rumah atau situs arkeologi?”

Hahaha.

Arsenal sekarang sudah menjadi tim matang.

Mereka punya pengalaman bersaing di papan atas.

Pemain-pemainnya sudah merasakan pertandingan besar.

Mereka sudah mengenal tekanan perburuan gelar.

Mereka sudah tahu rasanya kemenangan penting.

Mereka juga sudah tahu betapa menyakitkannya kehilangan momentum.

Jadi sekarang bukan lagi sekadar:

“Bisakah Arsenal bersaing?”

Menurut saya mereka sudah membuktikan bisa.

Pertanyaannya berubah menjadi:

“Bisakah Arsenal menyelesaikannya?”


Saya Rindu Arsenal yang Benar-Benar Menjadi Juara Inggris

Kalau membicarakan Arsenal, tentu kita tidak mungkin melewatkan era The Invincibles.

Musim 2003/04.

Arsenal menjadi juara Premier League tanpa sekalipun kalah dalam 38 pertandingan liga.

Itu gila.

Thierry Henry.

Dennis Bergkamp.

Patrick Vieira.

Robert Pirès.

Freddie Ljungberg.

Sol Campbell.

Ashley Cole.

Jens Lehmann.

Tim itu bukan cuma indah.

Mereka juga ganas.

Inilah perbedaannya.

Kadang ketika orang membicarakan Arsenal era Wenger, yang diingat hanya permainan cantik.

Padahal tim terbaik Wenger juga punya fisik.

Punya karakter.

Punya pemain yang kalau pertandingan berubah menjadi perang, mereka tidak kabur.

Patrick Vieira tidak akan berkata:

“Waduh, pertandingan hari ini terlalu keras.”

Justru mungkin dia yang membuat pertandingan menjadi keras.

Hahaha.


Thierry Henry Itu Definisi Elegan Sekaligus Mematikan

Kalau bicara Arsenal, saya juga harus menyebut Thierry Henry.

Saya suka striker seperti ini.

Gerakannya terlihat santai.

Berlari seperti tidak mengeluarkan tenaga.

Kemudian tiba-tiba sudah berada di depan gawang.

Gol.

Selebrasi.

Pulang.

Henry membuat sepak bola terlihat gampang.

Padahal jelas tidak gampang.

Dan menurut saya Arsenal modern membutuhkan lebih banyak karakter seperti itu.

Bukan berarti harus mencari “Henry baru.”

Saya tidak suka kebiasaan memberi label legenda kepada pemain muda.

Baru mencetak lima gol:

“The Next Henry!”

Santai.

Biarkan anaknya hidup dulu.

Hahaha.

Yang saya maksud adalah mentalitas penentu pertandingan.

Tim juara membutuhkan pemain yang ketika situasi sulit bisa berkata:

“Kasih bolanya ke saya.”


Mikel Arteta Sudah Mengubah Arsenal

Saya rasa kita juga harus memberikan kredit besar kepada Mikel Arteta.

Ketika dia datang, Arsenal bukan tim yang sedang berada dalam kondisi ideal.

Perlu pembangunan.

Perlu perubahan budaya.

Perlu regenerasi.

Perlu identitas.

Dan perlahan-lahan Arsenal kembali menjadi tim yang dihormati.

Bukan lagi Arsenal yang datang ke pertandingan besar lalu kita langsung berpikir:

“Wah, bakal susah ini.”

Sekarang lawan juga harus mempersiapkan diri serius menghadapi Arsenal.

Itu kemajuan.

Arteta berhasil membangun sebuah tim dengan struktur jelas.

Pressing.

Penguasaan ruang.

Build-up.

Organisasi pertahanan.

Set-piece.

Semua semakin matang.

Tetapi justru karena pekerjaannya sudah sejauh ini, tuntutannya ikut naik.

Dulu targetnya:

Kembali kompetitif.

Sekarang?

Menang.


Manchester City Membuat Standar Premier League Menjadi Tidak Manusiawi

Kita juga harus adil kepada Arsenal.

Salah satu alasan perjalanan menuju gelar begitu sulit adalah karena mereka hidup pada era Manchester City yang luar biasa konsisten.

City membuat standar juara Premier League menjadi kejam.

Dulu mungkin kehilangan beberapa poin masih bisa ditoleransi.

Sekarang?

Dua kali terpeleset saja fans sudah buka kalkulator.

“Kalau City menang semua...”

“Kalau Arsenal seri satu kali...”

“Kalau Liverpool kalah...”

Lama-lama nonton bola seperti ujian matematika.

Hahaha.

Dan saya mengakui kualitas Manchester City.

Saya juga menyukai City.

Tetapi justru karena itu, kalau Arsenal suatu hari berhasil mengalahkan dominasi tim sekuat City dalam perburuan gelar, nilai pencapaiannya akan menjadi luar biasa.


Tapi Jangan Terlalu Sering Menjadikan City Alasan

Di sisi lain, Arsenal juga tidak bisa selamanya mengatakan:

“Ya bagaimana, lawannya Manchester City.”

Mas...

Kalau ingin menjadi juara, memang tugasnya mengalahkan yang terbaik.

Real Madrid tidak bisa berkata:

“Ya bagaimana, Barcelona kuat.”

AC Milan tidak bisa berkata:

“Ya bagaimana, Inter kuat.”

Manchester United era dulu juga tidak diberi trofi karena lawannya susah.

Begitulah kompetisi.

Juara bukan diberikan kepada tim yang paling kasihan.

Juara diberikan kepada tim yang paling mampu mengumpulkan hasil.

Jadi City boleh hebat.

Liverpool boleh hebat.

United boleh bangkit.

Chelsea boleh membangun.

Newcastle boleh berkembang.

Tetapi Arsenal harus berkata:

“Silakan. Kami tetap mengejar nomor satu.”


Arsenal Membutuhkan Mental Pembunuh

Ini istilah yang sering digunakan dalam sepak bola:

killer instinct.

Saya tidak sedang bicara kasar atau kekerasan.

Maksudnya adalah kemampuan menyelesaikan pertandingan ketika kesempatan datang.

Unggul 1-0?

Cari gol kedua.

Lawan sedang goyah?

Tekan.

Peluang juara terbuka?

Ambil.

Jangan menunggu lawan memberikan hadiah.

Tim juara harus punya keberanian untuk mengambil pertandingan.

Dan menurut saya inilah tahap berikutnya dalam evolusi Arsenal.

Mereka sudah pintar.

Sudah terorganisasi.

Sudah indah.

Sekarang:

jadilah kejam.


Kadang Arsenal Terlalu Ingin Sempurna

Ada pertandingan ketika saya melihat Arsenal dan merasa mereka seperti ingin mencetak gol paling sempurna sedunia.

Umpan.

Umpan lagi.

Putar.

Masuk tengah.

Balik.

Umpan lagi.

Mas...

TENDANG!

Hahaha.

Sepak bola terkadang sederhana.

Kalau ada ruang, tembak.

Kalau ada crossing, masuk kotak.

Kalau bola muntah, sikat.

Tidak semua gol harus masuk nominasi Puskás.

Cristiano Ronaldo pun mencetak banyak gol yang secara visual sederhana.

Tap-in.

Heading.

Penalti.

Bola muntah.

Tetapi tahu apa yang muncul di papan skor?

Gol.

Tidak ada tambahan:

“Gol ini kurang artistik, nilainya 0,7.”

Tetap satu gol.


Nah, Kalau Sudah Cristiano Ronaldo, Saya Ikut Nimbrung

Hahaha.

Saya tahu.

Ini artikel Arsenal.

Tetapi kalau bicara mentalitas mencetak gol, saya pasti ingat Bang Dodo.

Cristiano Ronaldo punya sesuatu yang menurut saya sangat penting untuk dipelajari pemain mana pun:

lapar.

Sudah mencetak satu?

Cari dua.

Sudah dua?

Cari tiga.

Menang 3-0?

Masih marah kalau gagal mencetak gol.

Kadang kita bisa menganggapnya berlebihan.

Tetapi mentalitas seperti itu yang menghasilkan karier luar biasa.

Saya tidak mengatakan Arsenal membutuhkan Ronaldo.

Saya mengatakan Arsenal membutuhkan rasa lapar seperti itu secara kolektif.

Ketika hampir juara jangan merasa:

“Wah, pencapaian luar biasa.”

Tidak.

Kecewa.

Kemudian kembali.


Declan Rice dan Pentingnya Pemain yang Punya Karakter

Arsenal beberapa tahun terakhir juga menunjukkan keseriusan lewat perekrutan pemain-pemain dengan karakter kuat.

Declan Rice adalah contoh bagus.

Bukan cuma kemampuan teknis.

Ada energi.

Ada kepemimpinan.

Ada keberanian.

Tim juara membutuhkan pemain seperti itu.

Karena musim panjang tidak selalu menyenangkan.

Ada cedera.

Ada kekalahan.

Ada keputusan wasit yang bikin emosi.

Ada pertandingan ketika kaki terasa berat.

Ada malam Eropa.

Ada tekanan media.

Pada saat seperti itulah karakter ruang ganti diuji.


Bukayo Saka Tidak Bisa Memikul Arsenal Sendirian

Saya juga sangat menghargai Bukayo Saka.

Pemain akademi.

Berkembang.

Menjadi salah satu wajah Arsenal modern.

Tetapi klub harus hati-hati.

Jangan sampai semua tanggung jawab kreatif dan gol dibebankan kepadanya.

Saka bukan mesin yang tinggal dinyalakan setiap tiga hari.

Pemain bisa lelah.

Bisa cedera.

Bisa kehilangan performa.

Tim juara harus punya banyak jalan menuju kemenangan.

Kalau Saka dikunci?

Ada pemain lain.

Kalau sisi kanan mati?

Serang kiri.

Kalau open play buntu?

Set-piece.

Kalau striker tidak mencetak?

Gelandang masuk.

Itulah kedalaman.


Premier League Itu Maraton, Bukan Konten Highlight

Satu hal yang membuat Premier League sangat berat adalah panjangnya musim.

38 pertandingan.

Dan hampir setiap pekan bisa menjadi jebakan.

Hari ini melawan Manchester City.

Semua pemain fokus.

Minggu depan melawan tim papan bawah.

Nah.

Justru pertandingan seperti itu kadang menentukan juara.

Juara liga bukan hanya tim yang bisa mengalahkan rival besar.

Juara liga adalah tim yang setelah bermain Liga Champions tengah pekan masih bisa datang ke kandang tim papan bawah dan menang 1-0 dalam hujan.

Tidak cantik.

Tidak viral.

Tetapi tiga poin.

Itulah juara.


Arsenal Juga Harus Belajar Menang Jelek

Saya serius dengan bagian ini.

Menang jelek adalah kemampuan.

Bukan dosa.

Ada hari ketika sistem tidak berjalan.

Passing berantakan.

Striker dijaga.

Winger mati.

Lawan parkir bus.

Wasit bikin kita geleng-geleng.

Apa yang dilakukan tim juara?

Mereka menemukan jalan.

Corner menit 87.

Heading.

1-0.

Selesai.

Besok latihan lagi.

Tidak perlu setiap kemenangan dibuat film dokumenter.

Hahaha.

Kalau Arsenal bisa menggabungkan permainan cantiknya dengan kemampuan menang jelek, menurut saya mereka akan semakin berbahaya.


Emirates Harus Punya Aura “Kalian Tidak Pulang Bawa Poin”

Stadion kandang juga penting.

Emirates Stadium sekarang sudah memiliki atmosfer yang jauh lebih hidup dibanding beberapa periode sebelumnya.

Tetapi saya ingin auranya semakin kuat.

Tim lawan datang dan berpikir:

“Kalau mau membawa satu poin saja dari sini, kita harus berdarah-darah.”

Itulah kandang klub juara.

Fans punya peran.

Pemain punya peran.

Ketika Arsenal tertinggal, stadion jangan langsung sunyi.

Justru naikkan tekanan.

Karena comeback sering dimulai bukan hanya dari pemain.

Tetapi energi satu stadion.


Jangan Sampai Generasi Ini Dikenang Sebagai “Tim Bagus yang Hampir Juara”

Ini kekhawatiran terbesar saya.

Sepak bola penuh dengan tim bagus yang akhirnya dikenang sebagai:

“Sayang sekali...”

Permainannya bagus.

Pemainnya hebat.

Pelatihnya pintar.

Tetapi trofinya tidak sebanding dengan kualitasnya.

Saya tidak mau Arsenal generasi sekarang masuk kategori itu.

Mereka terlalu bagus.

Dan karena terlalu bagus, mereka harus menuntut sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.

Trofi.


Arteta Tidak Lagi Hanya Dinilai dari Proses

Ini mungkin bagian yang sedikit keras.

Tetapi menurut saya adil.

Mikel Arteta sudah mendapatkan waktu untuk membangun.

Dan hasil pembangunan itu terlihat.

Sekarang penilaiannya perlahan berubah.

Bukan lagi:

“Apakah Arsenal berkembang?”

Jelas berkembang.

Pertanyaannya:

“Apa yang dimenangkan Arsenal?”

Begitulah hidup sebagai pelatih klub elite.

Pep Guardiola dinilai dari trofi.

Carlo Ancelotti dinilai dari trofi.

Pelatih Manchester United dinilai dari trofi.

Pelatih Real Madrid bahkan bisa juara tetapi tetap ditanya:

“Liga Champions bagaimana?”

Hahaha.

Tekanan adalah harga masuk klub besar.


Saya Ingin Arsenal Juara Premier League Lagi

Saya ingin melihatnya.

Serius.

Bukan karena saya meninggalkan Manchester United atau Manchester City.

Saya hanya ingin Premier League semakin menarik.

Bayangkan persaingan:

Arsenal kuat.

City kuat.

United kembali.

Liverpool kuat.

Chelsea kembali kompetitif.

Newcastle mengganggu.

Wah.

Setiap pekan bisa bikin orang batal tidur.

Dan kalau Arsenal akhirnya kembali menjadi juara Premier League setelah penantian panjang?

Itu akan menjadi cerita sepak bola yang indah.

Tetapi keindahan ceritanya baru lengkap kalau mereka benar-benar menyelesaikannya.


Kalau Arsenal Mau Jadi Juara, Berhenti Takut dengan Kata “Favorit”

Ada fase ketika tim berkembang lebih nyaman menjadi underdog.

Tidak terlalu banyak tekanan.

Kalau menang:

“Hebat!”

Kalau kalah:

“Ya, masih proses.”

Tetapi ketika sudah menjadi kandidat juara, tekanannya berbeda.

Orang berharap Anda menang.

Nah, Arsenal harus nyaman dengan tekanan itu.

Jangan menghindari label favorit.

Terima.

Kalau memang kuat, katakan:

“Ya, kami ingin juara.”

Tidak perlu sombong.

Tetapi juga tidak perlu pura-pura kecil.

Arsenal adalah klub besar.

Berperilakulah seperti klub besar.


Penutup: Pacaran Cantik Terus, Kapan Dilamar?

Saya tutup dengan perumpamaan sederhana.

Arsenal sekarang seperti hubungan yang menyenangkan.

Cantik.

Nyaman.

Penuh harapan.

Setiap tahun keluarga bertanya:

“Kapan serius?”

Jawabannya:

“Sedang proses.”

Tahun berikutnya:

“Kapan?”

“Sedikit lagi.”

Tahun berikutnya lagi:

“Mas?”

Hahaha.

Pada akhirnya harus ada cincin.

Dan dalam sepak bola, cincin itu bernama:

TROFI.

Saya tidak mengatakan permainan indah tidak penting.

Justru saya ingin Arsenal mempertahankannya.

Saya tidak ingin Arsenal berubah menjadi tim yang cuma bertahan lalu menendang bola ke depan.

Tidak.

Tetap main cantik.

Tetap menyerang.

Tetap berani.

Tetapi tambahkan satu bahan:

kekejaman seorang juara.

Ketika lawan lemah, habisi pertandingan.

Ketika unggul, kontrol.

Ketika bermain buruk, cari cara menang.

Ketika peluang juara terbuka, jangan gemetar.

Ambil.

Karena sejarah tidak memberikan piala kepada:

Tim Paling Enak Ditonton.

Tidak ada trofi:

“Juara Estetika Premier League.”

Hahaha.

Yang ada adalah:

PREMIER LEAGUE CHAMPIONS.

Dan saya ingin suatu hari melihat Arsenal kembali menuliskan kalimat itu.

Bukan karena nostalgia Invincibles.

Bukan karena Thierry Henry.

Bukan karena Arsène Wenger.

Tetapi karena generasi sekarang menciptakan sejarahnya sendiri.

Saka.

Rice.

Ødegaard.

Dan siapa pun yang menjadi bagian dari perjalanan Arsenal berikutnya.

Buat anak-anak sekarang punya cerita sendiri.

Biar 20 tahun lagi mereka yang berkata:

“Kamu harus lihat Arsenal zaman itu. Gila!”

Jangan hanya cantik.

Jadilah juara.

Karena sepak bola bukan lomba estetika.

Dan kalau Arsenal akhirnya mengangkat Premier League lagi, saya akan ikut tepuk tangan sambil berkata:

“NAH! AKHIRNYA DILAMAR JUGA!”

Hahaha.

COME ON YOU GUNNERS!

Tapi kalau ditanya siapa pemain favorit saya sepanjang masa?

Ya jangan jebak saya.

Bang Dodo tetap Bang Dodo.

SIUUUUUUUU!


BOLA DJ BANGSA EAA
Ngomongin sepak bola dengan sejarah, rasa, humor, fanatisme dan celotehan. Permainan indah membuat kita jatuh cinta, tetapi trofi membuat sebuah generasi dikenang.

0Komentar

http://tiktok.com/@djbangsa/
© Copyright - PULIHSEKETIKA.COM - FRESH NEWS ENTERTAINMENT FOR YOU #waktunyapulih
Berhasil Ditambahkan

Tulis Apa Yang Ingin Kamu Cari Dan Tekan ENTER Untuk Mencari.