Celotehan Seorang Milanisti yang Masih Percaya Merah-Hitam Harus Kembali Menakutkan Eropa
Ada satu masalah kalau kita terlalu sering membicarakan AC Milan.
Pembicaraannya gampang sekali berubah menjadi pelajaran sejarah.
“Milan dulu punya Maldini.”
“Milan dulu punya Kaká.”
“Milan dulu punya Shevchenko.”
“Milan dulu punya Nesta.”
“Milan dulu punya Pirlo.”
“Milan dulu punya Gattuso.”
“Milan dulu punya Seedorf.”
“Milan dulu punya Inzaghi.”
Dulu. Dulu. Dulu.
Lama-lama saya ingin bertanya:
“Sekarang bagaimana, Mas?”
Hahaha.
Jangan salah.
Saya termasuk orang yang sangat menikmati sejarah AC Milan. Untuk Serie A, klub yang saya dukung memang Rossoneri.
Saya bisa menonton kembali pertandingan Milan era lama dan tetap merinding.
Tetapi justru karena saya menyukai AC Milan, saya tidak mau klub sebesar ini selamanya menjadi bahan nostalgia.
Museum boleh menyimpan sejarah.
Klub sepak bola harus menciptakan sejarah baru.
Saya ingin generasi anak-anak sekarang suatu hari bercerita:
“Gila, AC Milan zaman itu mengerikan!”
Bukan hanya mendengar bapaknya berkata:
“Nak, kamu terlambat lahir. Dulu Milan hebat.”
Waduh.
Jangan begitu.
Merah-hitam harus kembali.
AC Milan Itu Bukan Klub Kemarin Sore
Kalau bicara kebesaran Eropa, AC Milan bukan klub yang numpang lewat.
Mereka adalah salah satu institusi terbesar dalam sejarah sepak bola.
Tujuh gelar European Cup/Liga Champions.
Hanya Real Madrid yang memiliki lebih banyak.
Sebagai Madridista sekaligus penggemar Milan, saya malah enak.
Kalau bicara Liga Champions, dua klub favorit saya ada di rak paling atas sejarah Eropa.
Hahaha.
Tetapi tujuh Liga Champions juga menciptakan masalah.
Standarnya menjadi tinggi.
Ketika Anda bernama AC Milan, sekadar tampil di Liga Champions tidak terasa cukup.
Milan bukan klub yang seharusnya berkata:
“Syukurlah lolos fase grup.”
Tidak.
Milan adalah klub yang sejarahnya membuat lawan pernah berpikir:
“Aduh, ketemu Milan.”
Nah, aura itu yang saya rindukan.
Dulu Melihat Susunan Pemain Milan Saja Sudah Bikin Pusing
Coba bayangkan Anda menjadi pelatih lawan pada masa keemasan Milan.
Anda melihat daftar pemain.
Di belakang ada:
Paolo Maldini.
Alessandro Nesta.
Cafu.
Jaap Stam.
Di tengah:
Andrea Pirlo.
Clarence Seedorf.
Gennaro Gattuso.
Kaká.
Di depan?
Andriy Shevchenko.
Filippo Inzaghi.
Belum bertanding saja sudah ingin minum obat sakit kepala.
Hahaha.
Yang menarik, mereka bukan sekadar kumpulan nama besar.
Mereka punya keseimbangan.
Ada seniman.
Ada petarung.
Ada pemimpin.
Ada pemain yang mengatur tempo.
Ada pemain yang mencetak gol.
Dan ada Gattuso yang kalau melihat lawan membawa bola seperti melihat orang membawa motornya tanpa izin.
Kejar!
Hahaha.
Itulah tim.
Bukan sebelas selebritas.
Sebelas pemain dengan fungsi yang saling melengkapi.
Paolo Maldini: Kalau Elegan Bisa Menjadi Bek
Saya harus memberikan bagian khusus untuk Paolo Maldini.
Karena menurut saya Maldini adalah salah satu representasi terbaik tentang apa itu AC Milan.
Tenang.
Elegan.
Berwibawa.
Tetapi jangan coba-coba lewat.
Ada bek yang melakukan tekel kemudian kita berteriak:
“Wah!”
Maldini terkadang bahkan tidak perlu melakukan tekel.
Dia sudah berada di tempat yang benar.
Bola datang.
Diambil.
Selesai.
Seolah-olah berkata:
“Kenapa harus berguling-guling kalau bisa membaca permainan?”
Itulah kelas.
Dan Milan membutuhkan figur-figur baru yang bisa membawa kewibawaan serupa.
Bukan harus Maldini kedua.
Tidak ada gunanya mencari kloning legenda.
Tetapi mentalitasnya harus diwariskan.
Kaká: Ketika Pemain Baik-Baik Bisa Membuat Bek Jadi Korban
Lalu ada Ricardo Kaká.
Ini pemain wajahnya kalem.
Senyum.
Rapi.
Tidak terlihat seperti orang yang akan membuat pertahanan lawan berantakan.
Kemudian pertandingan dimulai.
Bola dibawa dari tengah.
Lari.
Satu pemain lewat.
Dua pemain lewat.
Masuk kotak penalti.
Gol.
Bek lawan mungkin bingung:
“Tadi orangnya sopan, kok di lapangan jahat?”
Hahaha.
Kaká adalah simbol Milan yang indah.
Sepak bola yang elegan tetapi efektif.
Dan ketika dia memenangkan Ballon d'Or 2007, Milan juga berada di puncak Eropa.
Itu bukan nostalgia kecil.
Itu adalah era ketika Rossoneri benar-benar menjadi pusat dunia sepak bola.
Final 2005 Mengajarkan Milan Bahwa Sepak Bola Bisa Kejam
Kalau menjadi Milanisti, kita juga harus berani membicarakan luka.
Istanbul.
Final Liga Champions 2005.
AC Milan unggul 3-0 atas Liverpool pada babak pertama.
Tiga nol!
Kalau saya menonton langsung sebagai Milanisti mungkin sudah menyiapkan minuman dingin untuk perayaan.
Lalu Liverpool bangkit.
3-3.
Adu penalti.
Milan kalah.
Itulah salah satu malam paling brutal dalam sejarah Liga Champions.
Tetapi justru di situlah saya melihat karakter klub besar.
Apa yang dilakukan Milan?
Menangis selamanya?
Tidak.
Dua tahun kemudian mereka kembali bertemu Liverpool di final Liga Champions 2007.
Dan kali ini:
Milan menang 2-1.
Itulah mentalitas yang saya suka.
Jatuh.
Sakit.
Kembali.
Balas dengan trofi.
Inzaghi Itu Aneh, Tapi Gol Terus
Saya juga tidak bisa melewatkan Filippo Inzaghi.
Kalau Saudara melihat Inzaghi bermain hanya beberapa menit, mungkin bertanya:
“Ini striker hebatnya di mana?”
Tidak punya dribel seperti Ronaldo.
Tidak sekuat Drogba.
Tidak seartistik Ronaldinho.
Tetapi bola muntah sedikit?
Inzaghi ada.
Bek salah posisi setengah meter?
Inzaghi ada.
Kiper menepis?
Inzaghi ada lagi.
Kadang saya curiga dia bukan membaca permainan.
Dia mendapat bocoran masa depan lima detik lebih cepat.
Hahaha.
Dan dua gol Inzaghi di final 2007 menjadi contoh sempurna.
Sepak bola tidak selalu membutuhkan sesuatu yang indah.
Kadang cuma membutuhkan seseorang yang tahu:
bola akan jatuh di mana.
Setelah Era Keemasan, Milan Sempat Seperti Kehilangan Dirinya
Kemudian zaman berubah.
Bintang-bintang pergi.
Legenda pensiun.
Kekuatan finansial sepak bola Eropa berubah.
Premier League semakin kaya.
PSG tumbuh.
Manchester City berkembang menjadi kekuatan besar.
Real Madrid terus membangun.
Bayern tetap kuat.
Sementara Milan sempat mengalami masa yang membuat Milanisti harus punya kesabaran setebal buku telepon.
Ada musim ketika melihat klasemen saja rasanya ingin cepat-cepat scroll.
Hahaha.
Klub sebesar AC Milan bahkan sempat lama tidak menjadi pesaing serius Scudetto.
Di Eropa?
Nama Milan tetap besar.
Tetapi lawan tidak lagi melihat mereka dengan ketakutan yang sama.
Dan bagi saya itulah bagian paling menyakitkan.
Bukan sekadar kalah.
Tetapi kehilangan aura.
Scudetto 2021/22 Membuktikan Milan Belum Mati
Lalu datanglah momen penting.
Musim 2021/22.
AC Milan akhirnya kembali menjadi juara Serie A.
Scudetto ke-19.
Bagi saya gelar tersebut punya arti lebih besar daripada satu piala.
Itu seperti Milan mengetuk pintu dunia sepak bola sambil berkata:
“Hei, kami masih ada.”
Ada Zlatan Ibrahimović.
Olivier Giroud.
Rafael Leão.
Theo Hernández.
Mike Maignan.
Sandro Tonali.
Dan pemain-pemain lain yang membangun energi baru.
Bukan Milan era Kaká.
Bukan Milan era Maldini.
Tetapi Milan generasi baru.
Itulah yang seharusnya dilakukan klub besar.
Bukan meniru masa lalu.
Menciptakan masa depan.
Saya Mau Milan Punya Identitas yang Jelas
Inilah poin utama saya.
AC Milan tidak harus membeli sebelas superstar.
Tidak realistis.
Sepak bola sekarang berbeda.
Tetapi Milan harus punya identitas.
Ketika orang melihat mereka bermain, harus terasa:
“Ini Milan.”
Berani.
Terorganisasi.
Teknis.
Keras ketika diperlukan.
Elegan ketika punya ruang.
Dan yang paling penting:
tidak minder menghadapi siapa pun.
Kalau bertemu Real Madrid?
Hormati.
Tetapi jangan takut.
Manchester City?
Hormati.
Jangan takut.
PSG?
Bayern?
Liverpool?
Arsenal?
Siapa pun.
AC Milan memiliki tujuh Liga Champions.
Masuk lapangan dengan dada tegak.
San Siro Harus Menjadi Neraka yang Indah
Salah satu hal yang saya cintai dari AC Milan adalah atmosfer San Siro.
Stadion ini punya karakter.
Ketika penuh.
Lampu menyala.
Suporter bernyanyi.
Warna merah-hitam memenuhi tribun.
Itu sepak bola.
Saya ingin klub-klub Eropa datang ke kandang Milan dan merasakan tekanan sejak pemanasan.
San Siro harus kembali menjadi tempat yang tidak menyenangkan bagi lawan.
Untuk Milanisti?
Surga.
Untuk lawan?
Silakan berdoa.
Hahaha.
Kandang kuat sangat penting untuk membangun kembali aura klub.
Tim elite harus membuat lawan kehilangan kepercayaan diri sebelum pertandingan berkembang.
Milan Jangan Terjebak Romantisme Transfer Pemain Tua
Milan punya sejarah unik dengan pemain senior.
Dan banyak yang sukses.
Karena pengalaman memang berharga.
Tetapi jangan sampai setiap ada pemain bintang berumur 34 tahun kita langsung berkata:
“Cocok nih buat Milan.”
Hahaha.
Tidak semua veteran adalah Zlatan.
Milan tetap membutuhkan keseimbangan.
Pemain muda.
Pemain usia matang.
Pemimpin berpengalaman.
Akademi.
Transfer cerdas.
Kalau semua tua, nanti bukan pressing tinggi.
Tekanan darah tinggi.
Hahaha.
Serie A Membutuhkan AC Milan yang Kuat
Ini bukan cuma kepentingan Milanisti.
Menurut saya Serie A membutuhkan Milan yang kuat.
Inter kuat.
Juventus kuat.
Napoli kuat.
Roma kuat.
Milan kuat.
Semakin banyak klub Italia kompetitif, semakin menarik liga tersebut.
Saya rindu masa ketika Serie A menjadi pusat sepak bola dunia.
Pemain terbaik ingin datang ke Italia.
Bek terbaik ada di sana.
Striker terbaik ada di sana.
Pelatih hebat ada di sana.
Sekarang Premier League memang memiliki kekuatan finansial luar biasa.
Tetapi sepak bola Italia tetap punya satu hal yang tidak bisa dibeli:
sejarah dan identitas.
Tinggal bagaimana mengubahnya menjadi kekuatan modern.
Milan Tidak Bisa Hanya Mengandalkan Logo
Sama seperti ketika saya membahas Real Madrid, saya juga mau mengatakan ini kepada Milanisti:
Logo tidak memenangkan pertandingan.
Tujuh Liga Champions tidak bisa turun menjadi gelandang.
Maldini sudah tidak bisa menjaga winger lawan.
Kaká tidak akan tiba-tiba masuk dari bench.
Shevchenko tidak menunggu crossing.
Gattuso juga tidak akan muncul untuk mengejar gelandang lawan.
Yang bermain adalah generasi sekarang.
Jadi berhenti berharap sejarah menyelesaikan masalah hari ini.
Sejarah memberikan standar.
Bukan jaminan.
Manajemen Harus Punya Kesabaran, Tapi Jangan Tanpa Target
Sepak bola modern punya satu penyakit.
Kalah tiga kali:
“PECAT!”
Menang lima kali:
“PERPANJANG KONTRAK 10 TAHUN!”
Santai, Mas.
Hahaha.
Proyek sepak bola membutuhkan waktu.
Tetapi seperti yang saya katakan ketika membahas Manchester United:
Kesabaran harus punya arah.
Milan harus tahu:
Tiga tahun ke depan mau menjadi apa?
Sekadar lolos Liga Champions?
Penantang Scudetto?
Atau kembali menjadi kandidat juara Eropa?
Target harus jelas.
Kemudian rekrut pemain sesuai target.
Jangan setiap musim membangun ulang dari nol.
Saya Ingin Melihat Milan Lawan Real Madrid di Final Liga Champions
Sekarang saya mau mengkhayal sedikit.
Bayangkan final Liga Champions:
REAL MADRID vs AC MILAN.
Waduh.
Saya dukung siapa?
Ini masalah rumah tangga.
Hahaha.
Untuk La Liga saya Real Madrid.
Untuk Serie A saya AC Milan.
Kalau dua-duanya final?
Mungkin saya duduk diam.
Madrid mencetak gol:
“YES!”
Lalu ingat Milan:
“Eh...”
Milan membalas:
“YES!”
Lalu ingat Madrid:
“Lho...”
Hahaha.
Tetapi justru saya ingin mengalami dilema itu.
Karena kalau Real Madrid bertemu AC Milan di final Liga Champions, artinya Milan sudah kembali ke tempat yang menurut sejarah memang pantas mereka datangi.
Panggung terbesar.
Dan Kalau Bicara Liga Champions, Bang Dodo Tetap Ikut Disebut
Saya tahu.
Ini artikel AC Milan.
Tetapi namanya juga DJ BANGSA EAA.
Kalau ngomong Liga Champions terlalu lama tanpa menyebut Cristiano Ronaldo rasanya seperti makan bakso lupa saus.
Hahaha.
Bang Dodo adalah simbol lain dari kegilaan Liga Champions.
Dan sebagai fans militan Cristiano Ronaldo, saya selalu menikmati pemain yang justru semakin hidup ketika tekanan semakin besar.
Itulah mentalitas yang saya ingin lihat lagi dari Milan.
Bukan harus punya Ronaldo.
Bukan.
Tetapi punya pemain-pemain yang ketika malam Liga Champions datang justru berkata:
“Nah, ini pertandingan saya.”
Kaká dulu punya itu.
Maldini punya.
Shevchenko punya.
Inzaghi punya.
Seedorf punya.
Generasi baru harus menemukan figur mereka sendiri.
Jangan Cari Kaká Baru, Maldini Baru atau Shevchenko Baru
Ini juga penting.
Setiap muncul pemain muda bagus, jangan buru-buru:
“The Next Kaká!”
Tidak.
Biarkan dia menjadi dirinya sendiri.
Maldini hanya satu.
Kaká hanya satu.
Shevchenko hanya satu.
Baresi hanya satu.
Van Basten hanya satu.
Gullit hanya satu.
Milan tidak membutuhkan fotokopi masa lalu.
Milan membutuhkan legenda berikutnya.
Dan kita belum tahu siapa.
Itulah indahnya sepak bola.
Mungkin sekarang ada pemain muda yang belum terlalu diperhatikan.
Lima tahun kemudian namanya berada di mural kota Milan.
Siapa tahu?
Apa yang Harus Dilakukan Milan untuk Benar-Benar Kembali?
Kalau saya boleh sok menjadi direktur olahraga selama lima menit, saya punya beberapa permintaan.
Pertama:
Bangun skuad berdasarkan kebutuhan, bukan popularitas.
Kedua:
Pertahankan pemain inti selama mereka memang menjadi fondasi.
Ketiga:
Berikan ruang kepada pemain muda.
Keempat:
Cari pemimpin di ruang ganti.
Kelima:
Bangun kembali mentalitas Eropa.
Dan keenam:
Jangan cepat puas.
Kalau finis empat besar, bagus.
Tahun berikutnya harus mengejar Scudetto.
Kalau juara Serie A, bagus.
Berikutnya coba lebih jauh di Eropa.
Klub besar harus selalu punya tangga berikutnya.
Saya Tidak Mau Anak Muda Mengenal Milan Hanya dari YouTube
Ini mungkin bagian paling sentimental dari tulisan saya.
Saya ingin anak muda sekarang melihat AC Milan hebat secara langsung.
Bukan hanya mengetik:
“AC Milan 2007 highlights.”
Kemudian berkata:
“Wah, dulu hebat ya.”
Saya ingin mereka punya Kaká versi generasinya sendiri.
Maldini versi generasinya sendiri.
Malam Liga Champions versi mereka sendiri.
Final dramatis versi mereka sendiri.
Karena sepak bola hidup melalui generasi.
Kalau sebuah klub hanya hebat di arsip, lama-lama sejarah berubah menjadi dongeng.
Dan AC Milan terlalu besar untuk menjadi dongeng.
Penutup: Merah-Hitam Harus Kembali Membuat Eropa Takut
Saya mencintai sejarah AC Milan.
Saya bangga melihat tujuh gelar Eropa.
Saya senang melihat ulang Maldini mengangkat trofi.
Saya masih kagum melihat Kaká berlari membawa bola.
Saya menikmati kegilaan Inzaghi.
Saya menghormati Gattuso.
Saya bisa menonton Shevchenko mencetak gol berkali-kali.
Tetapi cukup.
Sekarang saya ingin cerita baru.
Saya ingin suatu malam Liga Champions, kamera menyorot lorong pemain.
Sebelas pemain AC Milan berdiri.
Jersey merah-hitam.
Wajah serius.
San Siro bergemuruh.
Lawan melihat ke arah mereka.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama muncul kembali perasaan:
“Waduh... malam ini kita menghadapi AC Milan.”
Nah!
Itu yang saya tunggu.
Bukan Milan yang hidup karena nostalgia.
Bukan Milan yang hanya menjual nama legenda.
Bukan Milan yang puas karena pernah hebat.
Tetapi:
AC MILAN YANG HEBAT SEKARANG.
Karena tujuh Liga Champions seharusnya bukan batu nisan masa kejayaan.
Tujuh Liga Champions harus menjadi pengingat:
“Beginilah standar klub ini.”
Sebagai Milanisti, saya tidak meminta setiap musim harus juara.
Sepak bola tidak bekerja seperti itu.
Saya cuma ingin melihat arah.
Ambisi.
Mentalitas.
Keberanian.
Dan sebuah tim yang memahami beratnya lambang di dada mereka.
Maldini sudah menyelesaikan eranya.
Kaká sudah menyelesaikan eranya.
Shevchenko sudah menyelesaikan eranya.
Inzaghi sudah menyelesaikan eranya.
Gattuso sudah menyelesaikan eranya.
Sekarang giliran generasi baru.
Jangan cuma memakai jersey AC Milan.
Buatlah jersey itu kembali ditakuti.
Karena saya, DJ BANGSA EAA, masih menunggu satu malam ketika Milan kembali berdiri di panggung terbesar Eropa.
Dan kalau akhirnya trofi Liga Champions kedelapan datang?
Saya mungkin akan berteriak:
“NAH! INI BARU MILAN!”
Lalu kalau finalnya kebetulan melawan Real Madrid?
Waduh.
Jangan tanya saya dulu.
Saya butuh waktu seminggu untuk menentukan posisi duduk.
Hahaha.
FORZA MILAN!
Dan karena saya tetap fans militan Bang Dodo...
SIUUUUUUUU!
BOLA DJ BANGSA EAA
Ngomongin sepak bola dengan sejarah, rasa, fanatisme, humor dan celotehan. Karena klub besar boleh mengenang masa lalu, tetapi tugas sebenarnya adalah menciptakan masa depan.


0Komentar