TSM7GfYpGUWoGUr7BUr0GSO9

Slider

Semakin Dewasa Kok Teman Semakin Sedikit? Mungkin Kamu Bukan Kesepian, Kamu Sedang Belajar Memilih Siapa yang Layak Tinggal


Ada satu hal yang perlahan berubah ketika kita semakin dewasa.

Dulu, membuka ponsel rasanya selalu ada seseorang yang bisa diajak pergi.

Mau nongkrong?

Ada.

Mau makan?

Ada.

Mau jalan tanpa tujuan?

Tinggal kirim pesan.

Grup percakapan ramai.

Akhir pekan penuh rencana.

Ulang tahun bisa dirayakan bersama banyak orang.

Foto-foto penuh wajah teman.

Kemudian waktu berjalan.

Satu per satu mulai sibuk.

Ada yang menikah.

Ada yang pindah kota.

Ada yang sibuk bekerja.

Ada yang mempunyai anak.

Ada yang mengejar karier.

Ada yang berubah.

Ada pula yang sebenarnya tidak pernah bertengkar dengan kita, tetapi entah bagaimana perlahan menjadi asing.

Sampai suatu malam kita melihat daftar kontak dan bertanya:

"Kok sekarang teman gue tinggal segini?"

Dahulu mungkin ada dua puluh orang yang terasa dekat.

Sekarang lima.

Kemudian tiga.

Dan dari tiga itu, mungkin hanya satu yang benar-benar bisa kita telepon ketika hidup sedang kacau.

Lalu muncul ketakutan:

"Apa aku semakin antisosial?"

"Apa ada yang salah denganku?"

Belum tentu.

Mungkin kamu hanya sedang memasuki fase kehidupan ketika hubungan tidak lagi dinilai dari berapa banyak orang yang berada di sekelilingmu, tetapi dari berapa banyak orang yang membuatmu tetap bisa menjadi dirimu sendiri ketika berada di dekat mereka.

Mari kita ngobrol.


Ketika Kecil Kita Mencari Teman, Ketika Dewasa Kita Mencari Ketenangan

Waktu sekolah, pertemanan bisa terjadi dengan sangat sederhana.

Duduk sebangku.

Jadi teman.

Sama-sama suka sepak bola.

Teman.

Sama-sama suka musik.

Teman.

Rumah berdekatan.

Teman.

Bahkan kadang hanya karena sama-sama dihukum guru, akhirnya bersahabat.

Hehehe.

Ketika dewasa, hubungan menjadi lebih kompleks.

Kita mulai mempunyai pengalaman.

Pernah dikecewakan.

Pernah dipercaya lalu dikhianati.

Pernah membantu tetapi dianggap kewajiban.

Pernah bercerita kemudian cerita kita beredar ke mana-mana.

Pernah mempunyai teman yang hadir ketika kita sedang menyenangkan tetapi menghilang ketika kita sedang berantakan.

Semua pengalaman itu membuat kita lebih selektif.

Bukan berarti menjadi manusia buruk.

Kita hanya mulai memahami bahwa:

tidak semua orang harus mendapatkan akses yang sama terhadap kehidupan kita.


Bertambah Dewasa Berarti Waktu Kita Juga Berubah

Dulu mempunyai waktu empat jam untuk nongkrong terasa biasa.

Sekarang?

Kadang membalas pesan saja baru sempat malam hari.

Bukan karena sombong.

Hidup memang berubah.

Ada pekerjaan.

Keluarga.

Pasangan.

Anak.

Orang tua yang mulai membutuhkan perhatian.

Kebutuhan finansial.

Kesehatan.

Tanggung jawab.

Dan jangan lupa:

kita juga membutuhkan waktu untuk diri sendiri.

Karena itu, berkurangnya frekuensi bertemu tidak otomatis berarti persahabatan sudah hilang.

Ada teman yang mungkin hanya bertemu dua kali setahun.

Tetapi ketika bertemu, rasanya seperti percakapan kemarin baru saja berhenti.

Tidak ada tuntutan:

"Kok nggak pernah hubungi?"

Tidak ada drama:

"Sekarang sibuk banget ya."

Kalian sama-sama memahami bahwa kehidupan sedang berjalan.

Menurutku hubungan seperti ini justru terasa semakin berharga ketika dewasa.


Ada Orang yang Dekat Secara Jarak, Tetapi Jauh Secara Emosional

Kita bisa bertemu seseorang hampir setiap hari tetapi tidak pernah benar-benar merasa dekat.

Sebaliknya, ada seseorang yang tinggal ratusan kilometer jauhnya tetapi menjadi orang pertama yang kita cari ketika sedang tidak baik-baik saja.

Karena kedekatan bukan hanya tentang seberapa sering bertemu.

Ada yang lebih penting:

rasa aman.

Bisakah kamu bercerita tanpa takut dihakimi?

Bisakah kamu mengatakan sedang gagal tanpa takut diremehkan?

Bisakah kamu bahagia tanpa membuatnya merasa tersaingi?

Bisakah kamu diam tanpa harus terus menghiburnya?

Bisakah kamu mengatakan tidak?

Bisakah kamu menjadi dirimu sendiri?

Kalau iya, mungkin itulah kedekatan yang sebenarnya.


Semakin Dewasa Kita Mulai Lelah dengan Hubungan yang Terlalu Banyak Drama

Dulu mungkin kita masih mempunyai energi untuk memperdebatkan:

"Kok kamu nggak ngajak?"

"Kok kamu dekat sama dia?"

"Kok chat aku nggak dibalas?"

"Kok sekarang berubah?"

Semakin dewasa, kadang respons kita menjadi:

"Oh."

Hehehe.

Bukan karena tidak peduli.

Tetapi ada saat ketika energi kita sudah terlalu berharga untuk dihabiskan pada hubungan yang terus-menerus menguras.

Kita mulai mencari orang yang sederhana.

Tidak harus selalu sepakat.

Tidak harus selalu hadir.

Tetapi jelas.

Tidak menusuk dari belakang.

Tidak menjadikan kelemahan kita bahan bercandaan.

Tidak muncul hanya ketika membutuhkan sesuatu.

Tidak mengubah persahabatan menjadi kompetisi.

Dan yang paling penting:

tidak membuat kita merasa harus berpura-pura menjadi orang lain agar tetap diterima.


Tidak Semua Pertemanan Harus Dipertahankan Selamanya

Ini mungkin sedikit menyedihkan.

Tetapi menurutku perlu diterima.

Ada teman yang memang hanya hadir untuk satu fase kehidupan.

Teman sekolah.

Teman kuliah.

Teman pekerjaan pertama.

Teman ketika sedang merantau.

Teman ketika sedang patah hati.

Teman ketika sedang membangun usaha.

Pada masa itu kalian sangat dekat.

Kemudian hidup membawa kalian menuju jalan berbeda.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada pengkhianatan.

Hanya perlahan kehilangan bahan percakapan.

Dan itu tidak selalu berarti hubungan tersebut gagal.

Sesuatu tidak harus berlangsung selamanya untuk mempunyai arti.

Ada orang yang hanya menemani satu bab.

Tetapi bab itu tetap penting.


Kita Tidak Harus Membenci Orang yang Sudah Tidak Dekat

Kadang media sosial membuat kita berpikir setiap hubungan yang berakhir harus mempunyai penjahat.

"Cut off toxic people."

"Buang orang palsu."

"Jauhi semuanya."

Memang ada hubungan yang tidak sehat dan membutuhkan jarak.

Tetapi tidak setiap teman lama adalah orang jahat.

Kadang memang sudah berbeda.

Dahulu satu frekuensi.

Sekarang tidak.

Dahulu mempunyai tujuan sama.

Sekarang kehidupan berubah.

Dan menurutku ada kedewasaan tertentu ketika kita mampu berkata:

"Dia pernah menjadi teman baikku. Sekarang kami tidak lagi dekat. Tetapi aku tetap berharap hidupnya baik."

Tidak semua pintu yang kita tutup harus dibanting.

Ada yang cukup ditutup pelan-pelan.


Tetapi Kesepian Tetap Nyata

Aku juga tidak ingin meromantisasi semuanya dengan mengatakan:

"Teman sedikit berarti semakin dewasa."

Tidak selalu.

Karena manusia tetap membutuhkan koneksi.

Ada perbedaan antara menikmati kesendirian dan merasa terisolasi.

Kesendirian bisa terasa nyaman.

Kamu membaca buku.

Minum kopi.

Mendengarkan musik.

Pergi sendiri.

Dan merasa damai.

Tetapi kesepian berbeda.

Kamu berada di tengah keramaian tetapi merasa tidak mempunyai tempat pulang secara emosional.

Kamu mempunyai banyak kontak tetapi tidak tahu harus menghubungi siapa.

Kamu ingin bercerita tetapi merasa tidak ada yang benar-benar ingin mendengar.

Perasaan itu nyata.

Dan tidak perlu malu mengakuinya.


"Aku Punya Banyak Kenalan, Tapi Nggak Punya Teman"

Kalimat ini mungkin dirasakan lebih banyak orang daripada yang kita kira.

Kita mengenal banyak orang.

Di pekerjaan.

Media sosial.

Komunitas.

Lingkungan.

Tetapi kenalan dan teman dekat mempunyai fungsi emosional berbeda.

Kita bisa mempunyai seribu pengikut tetapi merasa sendirian.

Sebaliknya, kita bisa mempunyai dua sahabat dan merasa sangat cukup.

Karena jumlah koneksi tidak selalu menentukan kedalaman koneksi.

Seratus orang mengetahui namamu belum tentu satu orang memahami ketakutanmu.

Dan satu orang yang benar-benar memahami kita terkadang lebih berarti daripada satu ruangan penuh orang yang hanya mengenal versi luar kita.


Media Sosial Bisa Membuat Kita Merasa Semua Orang Punya Banyak Teman

Buka media sosial.

Ada orang ulang tahun dikelilingi dua puluh teman.

Ada rombongan liburan.

Ada pesta.

Ada reuni.

Ada makan malam bersama.

Kemudian kita melihat kamar sendiri yang sepi.

Lalu berpikir:

"Kenapa hidup mereka ramai sekali sementara hidupku begini?"

Hati-hati.

Kita sedang membandingkan pengalaman internal kita dengan tampilan eksternal kehidupan orang lain.

Foto tidak menunjukkan kualitas hubungan.

Seseorang bisa berada di pesta bersama lima puluh orang tetapi pulang dengan perasaan kosong.

Seseorang bisa makan malam hanya bersama satu sahabat tetapi pulang dengan hati penuh.

Jangan menilai kekayaan hubungan hanya dari jumlah kepala di sebuah foto.


Teman yang Baik Tidak Selalu Mengatakan Apa yang Ingin Kita Dengarkan

Ini juga bagian penting.

Kadang kita mengira teman baik adalah orang yang selalu membela.

Tidak selalu.

Teman yang baik bisa berkata:

"Menurutku kali ini kamu salah."

Dan tetap tinggal.

Dia tidak mempermalukan.

Tidak merendahkan.

Tetapi cukup peduli untuk mengatakan sesuatu yang mungkin tidak menyenangkan.

Karena persahabatan bukan hanya tempat mendapatkan validasi.

Kadang ia adalah tempat mendapatkan cermin.

Orang yang benar-benar menyayangi kita tidak selalu bertepuk tangan.

Sesekali dia menarik kursi dan berkata:

"Duduk dulu. Kayaknya ada yang perlu kita omongin."

Dan menurutku kita membutuhkan orang seperti itu.


Lihat Siapa yang Bisa Ikut Bahagia Ketika Kamu Berhasil

Kesedihan menguji satu sisi persahabatan.

Kesuksesan menguji sisi lainnya.

Ada orang yang sangat nyaman menemanimu ketika kamu sedang gagal.

Tetapi ketika kamu mulai berhasil, sikapnya berubah.

Percakapan menjadi kompetisi.

Pencapaianmu dikecilkan.

Kebahagiaanmu dijadikan perbandingan.

Sebaliknya, ada teman yang ketika kamu berhasil justru berkata:

"Gila, gue bangga sama lo."

Tanpa merasa dirinya menjadi lebih kecil.

Ini berharga.

Karena persahabatan yang sehat memungkinkan dua manusia berkembang tanpa harus saling mengecilkan.


Jangan Hanya Menilai Siapa yang Menghubungimu Duluan

Ada masa ketika kita menghitung:

"Aku terus yang chat duluan."

"Kalau aku nggak menghubungi, dia nggak pernah menghubungi."

Kadang itu memang tanda hubungan tidak seimbang.

Tetapi tidak selalu.

Setiap orang mempunyai cara berbeda menjaga hubungan.

Ada teman yang jarang mengirim pesan tetapi langsung datang ketika kamu membutuhkan.

Ada yang setiap hari chat tetapi menghilang saat keadaan sulit.

Karena itu jangan hanya melihat frekuensi.

Lihat kualitas kehadirannya.

Ketika benar-benar dibutuhkan, siapa yang ada?

Ketika kamu jatuh, siapa yang tidak menjadikan keadaanmu bahan cerita?

Ketika kamu berhasil, siapa yang tulus bahagia?

Di situ kita mulai mengetahui arti hubungan.


Tetapi Jangan Hanya Menunggu Orang Lain

Nah, ini juga harus jujur.

Kadang kita mengeluh:

"Sekarang nggak ada teman."

Tetapi kita sendiri sudah tiga bulan tidak pernah menghubungi siapa pun.

Hehehe.

Persahabatan juga membutuhkan usaha.

Tidak harus setiap hari.

Tetapi sesekali tanyakan:

"Bro, gimana kabarmu?"

"Sudah lama nggak ketemu."

"Ngopi yuk."

Jangan selalu menunggu.

Bisa jadi temanmu sedang berpikir hal yang sama:

"Kok dia nggak pernah menghubungi gue lagi?"

Hubungan adalah jalan dua arah.

Kalau ada orang yang menurutmu berharga, tidak ada salahnya menjadi orang pertama yang mengetuk pintu.


Mindfulness dalam Pertemanan: Hadirlah Ketika Sedang Bersama

Pernah duduk bersama teman tetapi semua orang memegang ponsel?

Secara fisik bersama.

Secara perhatian entah berada di mana.

Mungkin kita perlu kembali belajar hadir.

Ketika teman bercerita, dengarkan.

Tidak perlu sambil mengecek notifikasi setiap sepuluh detik.

Tidak perlu selalu buru-buru memberikan solusi.

Kadang manusia hanya ingin didengar.

Kamu bisa bertanya:

"Kamu ingin aku kasih pendapat atau cukup dengar?"

Sederhana.

Tetapi menurutku itu salah satu bentuk perhatian yang indah.

Kehadiran bukan hanya berada di tempat yang sama.

Kehadiran berarti memberikan perhatian kepada momen yang sedang terjadi.


Mempunyai Sedikit Teman Bukan Berarti Gagal Bersosialisasi

Kalau hari ini lingkaranmu kecil, tidak perlu malu.

Kualitas kehidupan sosial tidak selalu diukur dari jumlah undangan.

Ada manusia yang bahagia mempunyai banyak teman.

Bagus.

Ada yang nyaman dengan tiga orang dekat.

Juga bagus.

Ada yang membutuhkan lebih banyak waktu sendiri.

Tidak masalah.

Yang penting adalah bertanya:

"Apakah hubungan yang kumiliki membuat hidupku lebih sehat secara emosional?"

Kalau iya, mungkin jumlahnya bukan masalah.


Tetapi Jangan Menutup Diri karena Pernah Kecewa

Ini sisi lainnya.

Setelah beberapa kali dikhianati, kita bisa membuat kesimpulan:

"Semua orang sama."

"Aku nggak butuh siapa-siapa."

"Sendiri lebih baik."

Memang, sendiri terkadang terasa lebih aman.

Tidak ada yang bisa mengecewakan kalau tidak ada yang kita izinkan mendekat.

Tetapi keamanan seperti itu mempunyai harga:

kita juga kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hubungan yang baik.

Jadi jangan membuat satu pengalaman buruk menjadi hukuman bagi semua orang baru.

Berhati-hati boleh.

Mempunyai batas perlu.

Tetapi hati tidak harus berubah menjadi benteng.


Tidak Semua Orang Harus Masuk Lingkaran Terdalam

Bayangkan kehidupan sosial seperti beberapa lingkaran.

Ada kenalan.

Ada teman.

Ada teman dekat.

Ada orang yang benar-benar kita percaya.

Tidak semua harus berada di tengah.

Dan itu normal.

Kita bisa bersikap baik kepada seseorang tanpa menceritakan seluruh kehidupan.

Kita bisa berteman tanpa memberikan akses terhadap semua kelemahan.

Kepercayaan dibangun.

Bukan diberikan hanya karena seseorang menyenangkan pada pertemuan pertama.

Semakin dewasa, mungkin kita mulai memahami hal tersebut.


Ada Teman yang Tidak Banyak Bicara Tetapi Membuat Kita Merasa Pulang

Kamu mungkin pernah mempunyai seseorang seperti ini.

Tidak harus bertemu setiap minggu.

Tidak setiap hari berkirim pesan.

Tetapi ketika bertemu, kamu bisa bernapas.

Tidak perlu tampil keren.

Tidak perlu menunjukkan sedang sukses.

Tidak perlu menyembunyikan kegagalan.

Bisa tertawa tentang hal bodoh.

Bisa diam tanpa canggung.

Bisa bercerita tanpa takut.

Kalau kamu mempunyai satu orang seperti itu, jaga.

Karena di dunia yang membuat banyak orang sibuk membangun citra, mempunyai seseorang yang membuat kita nyaman menjadi diri sendiri adalah kemewahan.


Jangan Lupa Mengucapkan Terima Kasih kepada Teman yang Masih Tinggal

Kita sering baru menghargai hubungan setelah kehilangannya.

Padahal mungkin sekarang ada seseorang yang sudah bertahun-tahun berada di sana.

Tidak spektakuler.

Tidak banyak drama.

Tetapi konsisten.

Coba sesekali katakan:

"Makasih ya, selama ini masih ada."

Tidak harus menunggu ulang tahun.

Tidak harus menunggu perpisahan.

Manusia perlu mengetahui bahwa keberadaannya berarti.


Semakin Dewasa, Kita Tidak Membutuhkan Lebih Banyak Orang—Kita Membutuhkan Hubungan yang Lebih Jujur

Mungkin dahulu kita ingin dikenal banyak orang.

Sekarang kita hanya ingin beberapa orang yang mengenal kita dengan benar.

Dahulu ingin selalu diajak.

Sekarang kita belajar bahwa tidak semua tempat harus kita datangi.

Dahulu takut tidak mempunyai kelompok.

Sekarang mulai nyaman duduk sendiri.

Bukan karena membenci manusia.

Tetapi karena akhirnya memahami:

kesendirian yang damai terkadang lebih sehat daripada kebersamaan yang membuat kita merasa sendirian.


Closing: Mungkin Temanmu Tidak Berkurang, Hanya Lingkaranmu yang Sedang Menjadi Lebih Jujur

Kalau hari ini temanmu tidak sebanyak dahulu, jangan langsung menyimpulkan ada sesuatu yang salah denganmu.

Lihat perjalananmu.

Berapa banyak kehidupan yang sudah berubah?

Berapa banyak orang yang datang?

Berapa banyak yang pergi?

Berapa banyak yang pernah begitu dekat tetapi sekarang hanya saling melihat story?

Itulah hidup.

Manusia datang dan pergi.

Ada yang tinggal satu bulan.

Satu tahun.

Sepuluh tahun.

Ada yang mungkin menemani sampai tua.

Kita tidak pernah benar-benar tahu.

Tugas kita bukan memaksa semua orang tetap berada di tempat yang sama.

Tugas kita adalah menghargai mereka ketika masih bersama dan belajar melepaskan ketika perjalanan memang sudah berbeda.

Kalau seseorang menjauh tanpa pertengkaran, tidak harus mengejarnya sambil marah.

Mungkin hidup sedang membawa kalian menuju arah masing-masing.

Kalau suatu hari bertemu lagi, tersenyumlah.

Kenangan baik tidak harus berubah buruk hanya karena kedekatan sudah selesai.

Dan untuk mereka yang masih tinggal?

Jaga.

Tidak harus dengan hadiah mahal.

Tidak harus selalu bertemu.

Kadang hanya sebuah pesan:

"Gimana kabarmu?"

sudah cukup.

Kalau hari ini kamu hanya mempunyai dua teman dekat, jangan minder melihat seseorang yang nongkrong bersama dua puluh orang.

Dua teman yang benar-benar hadir bisa jauh lebih berarti daripada seratus orang yang hanya mengetahui namamu.

Tetapi jangan pula menggunakan kedewasaan sebagai alasan untuk berhenti mengenal manusia baru.

Tetaplah terbuka.

Kita tidak pernah tahu seseorang yang hari ini hanya duduk di sebelah kita mungkin suatu hari menjadi sahabat yang menemani salah satu fase terpenting kehidupan.

Pada akhirnya, mungkin kedewasaan memang mengubah cara kita melihat pertemanan.

Kita tidak lagi terlalu sibuk menghitung:

"Berapa banyak orang yang mengenalku?"

Kita mulai bertanya:

"Di dekat siapa aku bisa menjadi diriku sendiri?"

Kita tidak lagi terlalu takut makan sendirian.

Tidak takut pergi sendiri.

Tidak takut ketika akhir pekan tidak mempunyai rencana.

Karena perlahan kita memahami sesuatu:

sendiri dan kesepian bukan hal yang sama.

Kita bisa sendiri tetapi damai.

Dan kita bisa berada di tengah keramaian tetapi merasa kosong.

Maka jangan mencari keramaian hanya untuk menutupi kesunyian.

Carilah hubungan yang membuat hati terasa aman.

Orang yang bisa tertawa bersamamu.

Diam bersamamu.

Mengoreksi ketika kamu salah.

Berbahagia ketika kamu berhasil.

Dan tetap menghargaimu ketika kehidupan sedang tidak menarik.

Kalau kamu mempunyai satu saja manusia seperti itu dalam hidupmu, mungkin kamu sebenarnya tidak kekurangan teman.

Kamu hanya sudah tidak lagi mengumpulkan orang.

Kamu sedang belajar menghargai hubungan.

Dan kalau beberapa orang akhirnya pergi, biarkan kenangan baik tetap menjadi kenangan baik.

Tidak semua yang pergi harus menjadi musuh.

Tidak semua yang tinggal harus selalu berada di dekat kita.

Karena mungkin semakin dewasa, kita akhirnya memahami:

yang penting bukan siapa yang paling ramai hadir ketika hidup sedang menyenangkan.

Tetapi siapa yang membuat kita tidak takut menjadi diri sendiri ketika hidup sedang berantakan.

Jadi kalau akhir-akhir ini lingkaran pertemananmu semakin kecil, jangan buru-buru merasa kesepian.

Lihat lagi siapa yang masih ada.

Mungkin lingkarannya memang mengecil.

Tetapi bisa jadi, untuk pertama kalinya...

lingkaran itu benar-benar berisi orang-orang yang tepat.

— DJ BANGSA EAA

0Komentar

http://tiktok.com/@djbangsa/
© Copyright - PULIHSEKETIKA.COM - FRESH NEWS ENTERTAINMENT FOR YOU #waktunyapulih
Berhasil Ditambahkan

Tulis Apa Yang Ingin Kamu Cari Dan Tekan ENTER Untuk Mencari.