Ada satu keadaan yang menurutku cukup menyiksa dalam urusan perasaan.
Kamu memikirkan seseorang sejak bangun tidur.
Dia?
Belum tentu memikirkanmu.
Kamu melihat ponsel berkali-kali berharap ada pesan darinya.
Dia?
Mungkin sedang menjalani harinya seperti biasa.
Kamu memperhatikan kapan terakhir dia online. Kamu melihat siapa yang memberi komentar. Kamu mencoba menerjemahkan setiap unggahan, setiap lagu yang dia bagikan, bahkan setiap perubahan kecil pada cara dia membalas pesan.
Sementara di sisi lain, mungkin dia bahkan tidak menyadari betapa sibuknya pikiranmu memikirkan dirinya.
Aneh, kan?
Kita bisa memberikan begitu banyak ruang di kepala kepada seseorang yang bahkan belum tentu menyediakan satu kursi untuk kita di pikirannya.
Lalu kita menyebutnya:
cinta.
Tapi tunggu sebentar.
Bagaimana kalau sebenarnya bukan hanya cinta?
Bagaimana kalau yang membuatmu sulit melepaskan seseorang justru adalah ketidakpastian, harapan, kebutuhan untuk dipilih, dan cerita yang belum selesai di dalam pikiranmu sendiri?
Mari kita ngobrol.
Pelan-pelan.
Kenapa Semakin Dia Menjauh, Kita Justru Semakin Memikirkannya?
Seharusnya sederhana.
Kalau seseorang tidak tertarik, ya sudah.
Kalau dia menjauh, kita ikut mundur.
Kalau dia tidak memilih kita, kita mencari seseorang yang mau memilih kita.
Secara logika mudah.
Tetapi manusia tidak hidup hanya menggunakan logika.
Ada perasaan.
Ada keterikatan.
Ada kenangan.
Ada ego.
Ada kebutuhan untuk diterima.
Dan yang paling rumit:
ada harapan.
Kadang justru ketika seseorang menjauh, pikiran kita semakin sibuk mencarinya.
"Kenapa dia berubah?"
"Aku salah apa?"
"Dia sedang dekat dengan siapa?"
"Kenapa kemarin masih perhatian?"
"Apakah dia sebenarnya masih mempunyai perasaan?"
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar.
Masalahnya, semakin sedikit jawaban yang kita dapatkan, semakin banyak kemungkinan yang dibuat oleh pikiran.
Ketidakpastian menjadi makanan overthinking.
Kalau seseorang mengatakan dengan sangat jelas bahwa dia tidak menginginkan hubungan, memang menyakitkan.
Tetapi setidaknya ada jawaban.
Yang sering lebih melelahkan justru keadaan abu-abu.
Hari ini dekat.
Besok menghilang.
Minggu depan muncul lagi.
Setelah itu dingin.
Tiba-tiba perhatian.
Kemudian hilang lagi.
Kamu akhirnya tidak benar-benar mempunyai hubungan dengannya, tetapi juga tidak pernah merasa benar-benar kehilangan dirinya.
Dan hati terjebak di tengah.
Perhatian yang Tidak Konsisten Bisa Membuat Kita Semakin Penasaran
Pernah tidak kamu bertemu seseorang yang kalau setiap hari perhatian justru terasa biasa?
Tetapi ketika orang yang biasanya cuek tiba-tiba memberikan perhatian sedikit saja, rasanya luar biasa.
Dia mengirim:
"Udah makan?"
Selesai.
Satu kalimat.
Tetapi pikiran bisa membuat satu film panjang dari situ.
"Dia perhatian."
"Berarti masih peduli."
"Mungkin dia kangen."
"Mungkin kemarin dia hanya sibuk."
"Mungkin hubungan ini masih bisa diselamatkan."
Padahal bisa saja dia hanya bertanya:
sudah makan atau belum.
Hehehe.
Pikiran manusia memang hebat.
Satu kalimat bisa dikembangkan menjadi delapan episode.
Ketika perhatian diberikan secara tidak menentu, kita bisa menjadi semakin menunggu kapan perhatian berikutnya datang.
Itulah sebabnya hubungan yang tidak jelas kadang justru lebih sulit dilepaskan daripada hubungan yang jelas.
Kita bukan hanya menunggu orangnya.
Kita menunggu kemungkinan mendapatkan perasaan menyenangkan itu lagi.
Coba Jujur: Kamu Merindukan Dia atau Merindukan Perasaan Ketika Dia Memilihmu?
Sekarang aku ingin kamu bertanya kepada diri sendiri.
Tidak perlu menjawab kepada siapa pun.
Apa sebenarnya yang kamu rindukan dari dirinya?
Wajahnya?
Percakapannya?
Atau perasaan ketika kamu merasa penting baginya?
Ada perbedaan besar.
Kadang seseorang datang ke kehidupan kita dan membuat kita merasa:
aku menarik.
aku dicintai.
aku dibutuhkan.
aku spesial.
aku mempunyai seseorang.
Ketika orang itu pergi, semua perasaan tersebut seperti ikut dibawa pergi.
Lalu kita menganggap:
"Aku kehilangan dia."
Padahal mungkin sebagian rasa sakit itu berasal dari sesuatu yang lebih dalam:
"Aku kehilangan versi diriku ketika bersamanya."
Dulu ada seseorang yang membuatmu merasa menarik.
Sekarang tidak ada.
Dulu ada yang menunggu ceritamu.
Sekarang sepi.
Dulu ada notifikasi yang kamu tunggu.
Sekarang ponsel terasa terlalu diam.
Akhirnya kita ingin orang tersebut kembali bukan hanya karena dirinya.
Kita ingin mendapatkan kembali perasaan yang dahulu hadir bersama dirinya.
Kadang yang Terluka Bukan Hanya Hati, Tapi Harga Diri
Ini bagian yang jarang kita akui.
Ketika seseorang tidak memilih kita, terkadang yang terluka bukan hanya perasaan.
Ego juga ikut terluka.
Apalagi kalau sebelumnya dia sangat mengejar.
Dahulu dia yang menghubungi.
Dia yang memberikan perhatian.
Dia yang mengatakan tidak ingin kehilangan.
Lalu tiba-tiba berubah.
Kita mulai bertanya:
"Kok sekarang aku yang mengejar?"
Kemudian muncul keinginan membuat dirinya kembali.
Tetapi coba perhatikan.
Apakah kamu benar-benar menginginkan hubungan tersebut?
Atau sebenarnya kamu hanya ingin membuktikan:
"Aku masih bisa membuat dia memilihku."
Ini dua hal berbeda.
Ada orang yang setelah mantannya kembali justru menyadari:
"Ternyata aku tidak benar-benar ingin bersama dia."
Yang dia inginkan selama ini hanyalah kepastian bahwa dirinya masih diinginkan.
Karena ditolak memang tidak nyaman.
Tidak dipilih bisa melukai harga diri.
Tetapi keputusan seseorang untuk tidak bersamamu bukanlah pengukuran objektif terhadap nilai dirimu sebagai manusia.
Kamu tidak otomatis menjadi kurang menarik.
Tidak otomatis kurang baik.
Tidak otomatis kalah dengan orang lain.
Bisa saja kalian memang tidak lagi berjalan menuju arah yang sama.
Jangan Mengubah Ketidakjelasan Menjadi Bukti Cinta
Ini penting.
Seseorang menghilang tiga hari lalu muncul lagi.
Kita berkata:
"Dia sebenarnya takut dengan perasaannya sendiri."
Dia tidak pernah memberikan kepastian.
Kita berkata:
"Dia sebenarnya sayang, hanya belum siap."
Dia hanya datang ketika kesepian.
Kita berkata:
"Dia pasti nyaman sama aku."
Mungkin.
Tetapi bisa juga tidak.
Masalahnya, ketika sedang berharap, kita mempunyai kecenderungan memilih penjelasan yang paling sesuai dengan keinginan hati.
Padahal mindfulness mengajak kita melihat sesuatu sebagaimana adanya, bukan sebagaimana kita ingin sesuatu itu terjadi.
Apa faktanya?
Apakah dia konsisten?
Apakah dia menunjukkan usaha?
Apakah komunikasinya jelas?
Apakah hubungan ini membuatmu merasa aman?
Apakah kamu benar-benar dihargai?
Atau hampir semua keyakinan tentang hubungan tersebut berasal dari interpretasimu sendiri?
Jangan membangun rumah dari kata "mungkin."
Fondasinya terlalu rapuh.
Kalau Harus Terus Menebak, Mungkin Kamu Tidak Sedang Mendapatkan Kepastian
Hubungan memang tidak harus sempurna.
Manusia bisa sibuk.
Manusia mempunyai masalah.
Manusia terkadang membutuhkan ruang.
Tetapi kalau hampir setiap hari kamu harus menjadi penerjemah perilakunya, ada sesuatu yang patut diperhatikan.
"Kenapa dia tidak membalas?"
"Kenapa jawabannya pendek?"
"Kenapa dia online tetapi tidak membalas?"
"Kenapa dia melihat story tetapi diam?"
"Kenapa kemarin romantis, sekarang dingin?"
Sampai akhirnya energi hidupmu habis hanya untuk menganalisis seseorang.
Padahal hubungan yang sehat seharusnya mempunyai ruang untuk komunikasi.
Bukan permainan tebak-tebakan tanpa akhir.
Kamu berhak bertanya.
Kamu berhak menyampaikan kebutuhan.
Dan orang lain juga berhak mengatakan bahwa dia tidak bisa memenuhi kebutuhan tersebut.
Yang kemudian perlu kita pelajari adalah menerima jawabannya.
Berhenti Mengukur Harga Dirimu dari Seberapa Cepat Dia Membalas Pesan
Ini kelihatannya sederhana.
Tetapi banyak orang melakukannya.
Ketika dia membalas cepat:
senang.
Ketika dia membalas singkat:
cemas.
Ketika tidak membalas:
sedih.
Ketika tiba-tiba perhatian:
bahagia lagi.
Akhirnya suasana hati kita seperti dikendalikan sebuah notifikasi.
Ponsel berbunyi, jantung berdebar.
Bukan dia.
Kecewa.
Beberapa menit kemudian cek lagi.
Belum ada.
Cek lagi.
Tetap belum.
Sampai suatu saat pesan datang.
Dan seluruh kecemasan hilang dalam sekejap.
Cobalah menyadari pola tersebut.
Bukan untuk menyalahkan diri.
Cukup sadari.
"Oh, ternyata suasana hatiku belakangan ini sangat bergantung kepada respons orang ini."
Kesadaran seperti itu kelihatannya kecil.
Tetapi perubahan selalu dimulai dari kemampuan melihat pola kita sendiri.
Kamu Tidak Harus Mengikuti Setiap Pikiran yang Muncul
Misalnya malam ini tiba-tiba terpikir:
"Aku kangen dia."
Biasanya setelah itu muncul dorongan:
buka chat.
lihat profil.
lihat story.
cek terakhir online.
baca percakapan lama.
Lalu satu jam kemudian?
Bukannya tenang.
Malah tambah rindu.
Mindfulness mengajarkan sesuatu yang sederhana:
pikiran bukan perintah.
Ketika muncul pikiran:
"Aku kangen dia."
Kamu tidak harus melakukan apa pun.
Cukup sadari:
"Aku sedang merasakan rindu."
Rasakan tubuhmu.
Tarik napas perlahan.
Perhatikan apa yang terjadi.
Apakah dada terasa berat?
Apakah ada rasa sepi?
Apakah sebenarnya kamu sedang bosan?
Apakah kamu baru mengalami hari yang buruk sehingga ingin kembali mencari tempat nyaman?
Perasaan mempunyai gelombang.
Datang.
Menguat.
Kemudian perlahan turun.
Tetapi kalau setiap gelombang datang langsung kita ikuti, kita tidak pernah belajar bahwa sebenarnya kita mampu melewatinya.
Jangan Memaksa Seseorang Memilihmu
Menurutku salah satu bentuk ketenangan terbesar dalam hubungan adalah memahami:
kita tidak bisa mengendalikan hati manusia lain.
Kamu bisa menjadi baik.
Perhatian.
Setia.
Tulus.
Menarik.
Tetapi tetap saja seseorang mempunyai kebebasan untuk tidak memilihmu.
Sakit?
Tentu.
Tetapi bayangkan kalau cinta harus diperoleh dengan terus membuktikan bahwa kita pantas.
Kita akhirnya kelelahan.
Kita berubah menjadi versi yang menurut kita akan disukai dirinya.
Kita menekan kebutuhan sendiri.
Kita selalu tersedia.
Kita takut mengatakan tidak.
Semua dilakukan karena takut:
"Kalau aku tidak seperti ini, nanti dia pergi."
Padahal hubungan yang membuatmu terus-menerus takut ditinggalkan bisa membuatmu perlahan meninggalkan dirimu sendiri.
Ada Perbedaan antara Memperjuangkan dan Memaksakan
Aku percaya cinta terkadang memang perlu diperjuangkan.
Ada masa sulit.
Ada konflik.
Ada salah paham.
Ada fase ketika dua orang harus sama-sama belajar.
Tetapi kata pentingnya adalah:
sama-sama.
Kalau hanya satu orang yang terus menghubungi, itu bukan perjuangan bersama.
Kalau hanya satu orang yang terus memperbaiki, itu bukan perjuangan bersama.
Kalau hanya kamu yang mencari kepastian sementara dia terus menciptakan ketidakpastian, kamu perlu berhenti sebentar dan melihat hubungan itu dengan lebih jernih.
Memperjuangkan berarti dua orang berjalan mendekat.
Memaksakan adalah satu orang berlari sementara orang lainnya terus mundur.
Dan semakin cepat kamu berlari, semakin lelah dirimu.
Jangan Bersaing dengan Orang Lain untuk Mendapatkan Cinta
Ketika seseorang yang kita sukai ternyata tertarik kepada orang lain, kita mudah masuk ke perang perbandingan.
"Dia lebih cantik?"
"Dia lebih tampan?"
"Lebih kaya?"
"Lebih sukses?"
"Apa yang dia punya dan aku tidak?"
Hati-hati.
Pertanyaan seperti itu bisa membawa kita ke tempat yang sangat melelahkan.
Karena akan selalu ada seseorang yang lebih kaya.
Lebih populer.
Lebih menarik menurut standar tertentu.
Lebih ini.
Lebih itu.
Tetapi hubungan manusia bukan kompetisi ranking.
Seseorang memilih orang lain tidak otomatis berarti orang tersebut lebih baik darimu sebagai manusia.
Cocok bukan berarti unggul.
Dan tidak terpilih bukan berarti kalah.
Kadang dua orang hanya mempunyai kecocokan yang berbeda.
Itu saja.
Kamu Boleh Mencintai Seseorang Tanpa Harus Menunggu Dirinya
Ini mungkin kalimat yang terasa bertentangan.
Tetapi menurutku penting.
Kamu masih boleh mempunyai perasaan.
Kamu masih boleh mengingat.
Kamu bahkan boleh mengakui:
"Aku masih sayang."
Tetapi setelah itu tambahkan:
"Dan aku tetap memilih melanjutkan hidup."
Karena cinta tidak harus selalu berakhir dengan kepemilikan.
Ada seseorang yang pernah berarti tetapi akhirnya hanya menjadi bagian dari perjalanan.
Kita tidak perlu membencinya.
Tidak perlu menghapus semua foto malam ini.
Tidak perlu mengatakan hubungan itu kesalahan.
Cukup memahami:
perasaan bisa tetap ada sementara keputusan kita berubah.
Cobalah Mengembalikan Perhatian kepada Dirimu
Selama ini kamu mungkin terlalu sibuk bertanya:
Dia sedang apa?
Dia dekat dengan siapa?
Dia masih ingat aku?
Dia akan kembali?
Sekarang ubah pertanyaannya.
Aku sedang apa?
Bagaimana kabarku akhir-akhir ini?
Apa yang sebenarnya kubutuhkan?
Kapan terakhir aku melakukan sesuatu hanya karena aku menyukainya?
Kenapa ketenanganku begitu bergantung kepada seseorang?
Ini bukan egois.
Ini pulang.
Kamu sedang memindahkan pusat perhatian dari kehidupan orang lain kembali kepada kehidupanmu sendiri.
Makan dengan baik.
Tidur cukup.
Bergerak.
Bekerja.
Temui orang-orang yang membuatmu nyaman.
Kerjakan sesuatu yang selama ini tertunda.
Kalau perlu menangis, menangislah.
Tetapi jangan menjadikan kesedihan sebagai alamat permanen.
Kalau Suatu Hari Dia Datang Kembali?
Tidak perlu memikirkan itu sekarang.
Kalau memang suatu hari dia datang, kamu bisa melihat situasinya pada hari tersebut.
Kamu tidak harus menutup kemungkinan.
Tetapi juga tidak perlu menghentikan kehidupan demi kemungkinan.
Kalau dia kembali, jangan hanya bertanya:
"Apakah dia masih mencintaiku?"
Tanyakan juga:
"Apakah aku masih menginginkan hubungan seperti ini?"
Lihat konsistensinya.
Lihat komunikasinya.
Lihat bagaimana kalian menyelesaikan masalah.
Lihat apakah kehadirannya membawa ketenangan atau justru menghidupkan kembali pola yang sama.
Karena seseorang kembali bukan otomatis berarti kita harus membuka pintu.
Kita juga mempunyai pilihan.
Closing: Mungkin Orang yang Harus Mulai Memikirkanmu Adalah Dirimu Sendiri
Ada sebuah ironi dalam cinta.
Kita bisa menghabiskan berbulan-bulan memikirkan seseorang yang tidak memikirkan kita.
Memastikan dia baik-baik saja.
Memikirkan perasaannya.
Memikirkan kesibukannya.
Memaklumi sikapnya.
Mencari alasan untuk perilakunya.
Tetapi kita lupa menanyakan satu hal:
"Aku sendiri baik-baik saja tidak?"
Mungkin malam ini kamu masih menunggu pesannya.
Tidak apa-apa.
Tetapi jangan sampai sebuah pesan menjadi ukuran apakah harimu berharga atau tidak.
Mungkin kamu masih berharap dia berubah.
Tidak apa-apa.
Tetapi jangan menunda perubahan hidupmu hanya karena menunggu perubahan dirinya.
Mungkin kamu masih mencintainya.
Tidak apa-apa.
Perasaan tidak harus dipaksa hilang.
Tetapi ingat:
mencintai seseorang dan kehilangan diri sendiri adalah dua hal yang berbeda.
Kamu tidak perlu mengejar seseorang sampai lupa bahwa dirimu juga pantas dikejar.
Kamu tidak perlu terus membuktikan bahwa kamu layak dicintai.
Dan kamu tidak perlu menjadi manusia sempurna hanya supaya seseorang memilih tinggal.
Kalau seseorang memang ingin berjalan bersamamu, biarkan hubungan dibangun oleh dua orang.
Bukan satu orang yang terus mengejar dan satu lagi terus membuatnya menebak.
Suatu hari mungkin kamu akan melihat kembali masa ini dan tersenyum.
Bukan karena perasaanmu dahulu bodoh.
Bukan.
Kamu memang tulus.
Kamu memang mencintai.
Hanya saja saat itu kamu belum memahami bahwa ketulusan pun membutuhkan batas.
Dan mungkin pada akhirnya kamu akan mengerti:
orang yang tidak memilih kita bukan selalu kehilangan terbesar dalam hidup.
Kehilangan terbesar justru terjadi ketika karena terlalu sibuk mengejar seseorang, kita kehilangan hubungan dengan diri sendiri.
Jadi kalau hari ini dia tidak memikirkanmu, kamu tidak perlu membalas dengan membenci dirinya.
Biarkan dia menjalani kehidupannya.
Dan kamu?
Mulailah kembali menjalani kehidupanmu.
Karena mungkin setelah sekian lama berharap seseorang memikirkanmu, ada satu orang yang sebenarnya paling membutuhkan perhatianmu.
Dirimu sendiri.
— DJ BANGSA EAA


0Komentar