Ada orang yang hampir selalu menjawab:
"Nggak apa-apa."
Padahal sebenarnya ada apa-apa.
Ada orang yang ketika kecewa memilih diam.
Ketika tersinggung memilih memaklumi.
Ketika lelah tetap membantu.
Ketika hatinya sendiri sedang berantakan, dia masih sempat mendengarkan masalah orang lain.
Dan lucunya, orang seperti ini sering dianggap sebagai manusia yang paling kuat.
"Dia mah santai."
"Dia pengertian."
"Dia nggak pernah marah."
"Dia pasti ngerti."
Sampai akhirnya semua orang terbiasa mendapatkan pengertiannya.
Tetapi hampir tidak ada yang berhenti sebentar lalu bertanya:
"Selama ini siapa yang mengerti dia?"
Nah.
Kalau kamu membaca bagian ini dan langsung merasa, "Kok seperti gue?", mungkin tulisan ini memang sedang berbicara denganmu.
Kita akan membicarakan sesuatu yang menurutku sangat dekat dengan kehidupan banyak orang:
kelelahan menjadi orang baik.
Bukan karena menjadi baik itu salah.
Tetapi karena terkadang kita terlalu sibuk menjaga perasaan semua orang sampai lupa bahwa diri sendiri juga mempunyai perasaan yang harus dijaga.
Mari kita ngobrol.
Menjadi Orang Baik Itu Indah, Tetapi Menjadi Orang yang Selalu Mengalah Bisa Melelahkan
Sejak kecil banyak dari kita diajarkan:
Jangan egois.
Harus mengerti orang lain.
Harus membantu.
Jangan membuat orang kecewa.
Kalau bisa mengalah, ya mengalah.
Semua itu terdengar baik.
Dan memang baik.
Masalahnya muncul ketika kita menerjemahkan kebaikan sebagai kewajiban untuk selalu mengorbankan diri.
Teman membutuhkan bantuan, iya.
Keluarga meminta sesuatu, iya.
Pasangan ingin ditemani, iya.
Rekan kerja menitip pekerjaan, iya.
Seseorang ingin curhat sampai tengah malam, iya.
Lalu suatu hari tubuh dan pikiran kita mengatakan:
"Aku capek."
Tetapi mulut masih menjawab:
"Boleh, nggak masalah."
Di situlah konflik kecil dimulai.
Ada jarak antara apa yang sebenarnya kita rasakan dan apa yang kita tampilkan.
Semakin lama jaraknya semakin jauh.
Kenapa Kita Sulit Sekali Mengatakan "Tidak"?
Coba bayangkan seseorang meminta bantuan.
Sebenarnya kamu sedang lelah.
Kamu ingin menolak.
Tetapi sebelum mengatakan tidak, pikiran mulai berbicara.
"Nanti dia kecewa."
"Nanti aku dianggap berubah."
"Nanti dibilang sombong."
"Nanti dia marah."
"Nanti dia nggak suka sama aku."
Akhirnya kamu menjawab:
"Iya, boleh."
Padahal hati kecil berkata:
"Sebenarnya aku nggak sanggup."
Menariknya, terkadang kita lebih takut membuat orang lain kecewa daripada membuat diri sendiri kelelahan.
Kita memilih ketidaknyamanan pribadi supaya orang lain tetap nyaman.
Kalau terjadi sekali dua kali, mungkin tidak masalah.
Tetapi kalau menjadi pola kehidupan, kita bisa kehilangan kemampuan untuk mengenali kebutuhan sendiri.
Kadang Kita Tidak Sedang Menjadi Baik, Kita Sedang Takut Tidak Disukai
Ini bagian yang perlu direnungkan.
Ada perbedaan antara:
"Aku membantumu karena aku ingin."
dan:
"Aku membantumu karena takut kamu tidak menyukaiku kalau aku menolak."
Dari luar kelihatannya sama.
Sama-sama membantu.
Tetapi sumber emosinya berbeda.
Yang pertama datang dari pilihan.
Yang kedua datang dari ketakutan.
Kita mungkin tumbuh menjadi seseorang yang sangat mudah membaca suasana.
Ada orang sedikit berubah ekspresi, kita langsung bertanya:
"Aku salah apa?"
Pesan dibalas pendek:
"Dia marah ya?"
Seseorang tidak mengajak:
"Dia nggak suka aku?"
Akhirnya kehidupan berubah menjadi usaha terus-menerus untuk memastikan semua orang nyaman dengan keberadaan kita.
Capek.
Karena mustahil membuat semua manusia menyukai kita.
People Pleasing Kadang Terlihat Seperti Kebaikan
Ada istilah yang cukup sering kita dengar sekarang: people pleasing.
Sederhananya, ini bisa terlihat sebagai kecenderungan terlalu memprioritaskan penerimaan dan kenyamanan orang lain sampai kebutuhan diri sendiri terus dikesampingkan.
Tetapi jangan buru-buru memberi label kepada diri.
Yang lebih penting adalah melihat polanya.
Apakah kamu sering meminta maaf padahal sebenarnya tidak melakukan kesalahan?
Apakah kamu sulit menolak permintaan?
Apakah kamu merasa bersalah setelah mengatakan "tidak"?
Apakah suasana hatimu sangat dipengaruhi penilaian orang lain?
Apakah kamu sering menyimpan kekecewaan supaya tidak terjadi konflik?
Apakah kamu selalu menjadi pendengar tetapi tidak pernah berani menjadi orang yang didengarkan?
Kalau beberapa terasa dekat, tidak perlu langsung menghakimi diri.
Cukup sadari.
Karena kesadaran selalu menjadi pintu pertama perubahan.
"Aku Nggak Apa-Apa" Bisa Menjadi Kalimat yang Sangat Melelahkan
Ada manusia yang begitu terbiasa mengatakan tidak apa-apa sampai dirinya sendiri tidak lagi tahu kapan sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.
Pasangan mengecewakan.
"Nggak apa-apa."
Teman membatalkan janji berkali-kali.
"Nggak apa-apa."
Kerja tambahan diberikan terus.
"Nggak apa-apa."
Keluarga mengatakan sesuatu yang menyakitkan.
"Nggak apa-apa."
Semuanya ditelan.
Masalahnya, emosi yang tidak diakui tidak selalu otomatis menghilang.
Kadang ia berubah menjadi kelelahan.
Menjadi mudah tersinggung.
Menjadi kehilangan semangat.
Menjadi keinginan menjauh dari semua orang.
Kemudian orang-orang bingung.
"Kok sekarang kamu berubah?"
Padahal mungkin kamu bukan berubah.
Kamu hanya sudah terlalu lama menahan.
Orang Terbiasa dengan Versi Dirimu yang Selalu Tersedia
Ini salah satu bagian paling sulit.
Ketika selama bertahun-tahun kamu selalu mengatakan iya, orang akan terbiasa.
Kamu selalu mengangkat telepon.
Selalu membantu.
Selalu memaklumi.
Selalu hadir.
Kemudian suatu hari kamu berkata:
"Maaf, kali ini aku nggak bisa."
Bisa saja seseorang kecewa.
Bahkan mungkin mengatakan:
"Kamu sekarang beda."
Dan kalimat itu bisa membuatmu merasa bersalah.
Tetapi coba pikirkan.
Apakah kamu benar-benar berubah menjadi buruk?
Atau kamu hanya mulai mempunyai batas?
Tidak semua orang akan nyaman ketika kita mulai menetapkan batas.
Terutama mereka yang selama ini diuntungkan oleh ketidakmampuan kita mengatakan tidak.
Tetapi ketidaknyamanan orang lain tidak otomatis berarti keputusan kita salah.
Batas Bukan Berarti Membangun Tembok
Ada kesalahpahaman bahwa mempunyai boundaries atau batas berarti menjadi dingin.
Tidak peduli.
Individualis.
Padahal tidak begitu.
Batas bukan berarti:
"Aku tidak peduli kepadamu."
Batas bisa berarti:
"Aku peduli kepadamu, tetapi aku juga perlu peduli kepada diriku."
Misalnya teman ingin menelepon tengah malam.
Kamu sedang sangat lelah.
Kamu boleh berkata:
"Aku ingin dengar ceritamu, tapi malam ini aku sudah capek. Besok kita ngobrol ya."
Itu bukan kejahatan.
Atau seseorang meminta bantuan yang tidak mampu kamu lakukan.
Kamu boleh mengatakan:
"Maaf, kali ini aku belum bisa bantu."
Tidak perlu membuat esai tujuh halaman untuk menjelaskan alasanmu.
Hehehe.
Kadang satu kalimat sudah cukup.
Kamu Tidak Bertanggung Jawab atas Semua Perasaan Orang
Ini penting sekali.
Kita tentu perlu menjaga sikap.
Jangan sengaja menyakiti.
Jangan merendahkan.
Jangan semena-mena.
Tetapi setelah kita berkomunikasi dengan baik, kita tidak bisa mengendalikan seluruh reaksi orang.
Kamu menolak dengan sopan, dia kecewa.
Itu mungkin terjadi.
Kamu memilih istirahat, seseorang merasa kamu berubah.
Bisa terjadi.
Kamu berhenti selalu tersedia, seseorang merasa kehilangan kenyamanan.
Juga bisa terjadi.
Tetapi bukan berarti kamu harus kembali mengorbankan diri supaya semua orang senang.
Ada perbedaan antara bertanggung jawab terhadap tindakan kita dan bertanggung jawab terhadap seluruh emosi manusia di sekitar kita.
Yang kedua hampir mustahil.
Kenapa Orang yang Selalu Mendengarkan Sering Merasa Sendirian?
Ada satu tipe orang yang sering menjadi tempat curhat.
Teman putus cinta, datang kepadanya.
Masalah pekerjaan, kepadanya.
Masalah keluarga, kepadanya.
Jam dua pagi galau, telepon dia.
Karena dia pendengar yang baik.
Tidak menghakimi.
Sabar.
Pengertian.
Tetapi suatu malam ketika dirinya sendiri sedang kacau, dia membuka daftar kontak dan tiba-tiba bingung:
"Aku harus cerita kepada siapa?"
Ironis.
Mempunyai banyak orang yang datang kepadamu tidak selalu berarti kamu mempunyai banyak orang yang bisa kamu datangi.
Dan rasa sepi seperti ini kadang tidak terlihat.
Karena dari luar kehidupanmu ramai.
Tetapi di dalam hati ada perasaan:
"Semua orang membutuhkan aku, tetapi apakah ada yang benar-benar mengenal aku?"
Berhenti Berharap Orang Membaca Pikiranmu
Nah, ini juga harus adil.
Kadang kita kecewa karena merasa:
"Aku selalu ada buat mereka, kenapa mereka nggak pernah ada buat aku?"
Pertanyaan itu valid.
Tetapi kita juga perlu bertanya:
Apakah selama ini aku pernah mengatakan bahwa aku membutuhkan mereka?
Karena kalau setiap kali ditanya kamu menjawab:
"Aku baik-baik saja."
Bagaimana orang tahu?
Kalau setiap masalah selalu kamu sembunyikan, bagaimana orang memahami bahwa kamu membutuhkan dukungan?
Kita terkadang ingin orang lain peka.
Dan memang menyenangkan mempunyai seseorang yang peka.
Tetapi manusia tidak selalu mampu membaca apa yang tidak kita katakan.
Belajar meminta bantuan juga bagian dari kedewasaan.
Katakan:
"Aku lagi nggak baik-baik saja. Bisa temani aku ngobrol?"
Kalimat sederhana.
Tetapi bagi seseorang yang terbiasa menjadi kuat, mengucapkannya bisa terasa sangat berat.
Kamu Tidak Harus Selalu Menjadi yang Kuat
Siapa bilang?
Siapa yang memberikan jabatan itu kepadamu?
Hehehe.
Karena kamu paling dewasa?
Karena kamu paling tenang?
Karena semua orang mengenalmu sebagai orang yang tidak pernah mempunyai masalah?
Kamu tetap manusia.
Boleh bingung.
Boleh sedih.
Boleh kecewa.
Boleh meminta bantuan.
Boleh mengatakan:
"Aku sedang tidak sanggup."
Kerentanan bukan otomatis kelemahan.
Terkadang keberanian terbesar justru muncul ketika seseorang berani berhenti berpura-pura kuat.
Mindfulness: Sadari Apa yang Kamu Rasakan Sebelum Mengatakan "Iya"
Ada latihan sederhana yang menurutku bisa membantu.
Sebelum menjawab sebuah permintaan, jangan langsung berkata iya.
Berhenti beberapa detik.
Tanyakan:
Apa yang sedang kurasakan?
Apakah aku benar-benar ingin melakukannya?
Apakah aku mempunyai energi untuk melakukannya?
Kalau aku mengatakan iya, apakah nanti aku akan kesal kepada orang ini?
Ini penting.
Karena terkadang kita mengatakan iya secara verbal tetapi hati sebenarnya mengatakan tidak.
Kemudian kita membantu sambil kesal.
Setelah itu diam-diam berharap orang tersebut sadar sendiri.
Ketika dia tidak sadar, kita semakin kecewa.
Padahal mungkin masalahnya dimulai karena kita tidak jujur terhadap batas diri sendiri.
Kebaikan yang Sehat Tidak Membutuhkan Penghancuran Diri
Kamu boleh baik.
Bahkan menurutku dunia memang membutuhkan lebih banyak orang baik.
Tetapi kebaikan tidak harus selalu berarti pengorbanan.
Kamu bisa membantu orang lain sambil menjaga dirimu.
Kamu bisa mencintai pasangan tanpa kehilangan identitas.
Kamu bisa menyayangi keluarga tanpa harus menyetujui semuanya.
Kamu bisa menjadi teman yang baik tanpa tersedia 24 jam.
Kamu bisa peduli tanpa menjadi penyelamat semua orang.
Karena kamu juga mempunyai kehidupan.
Energi.
Waktu.
Emosi.
Dan semuanya terbatas.
Jangan Menunggu Sampai Marah kepada Semua Orang
Ini yang sering terjadi.
Bertahun-tahun mengalah.
Kemudian suatu hari meledak.
Semua orang dianggap memanfaatkan.
Semua orang dianggap tidak peduli.
Padahal mungkin sebagian dari mereka memang tidak tahu bahwa selama ini kamu keberatan.
Karena itu batas lebih baik dibicarakan sebelum berubah menjadi kemarahan.
Tidak perlu menunggu sampai hubungan rusak.
Mulailah dari hal kecil.
"Maaf, aku belum bisa."
"Aku butuh waktu sendiri."
"Nanti aku balas setelah selesai istirahat."
"Aku kurang nyaman kalau seperti itu."
"Aku ingin didengarkan dulu, bukan langsung diberi solusi."
Kalimat sederhana bisa menyelamatkan banyak energi emosional.
Perhatikan Siapa yang Tetap Menghargaimu Ketika Kamu Mulai Berkata Tidak
Ini menarik.
Ketika kamu mulai mempunyai batas, kamu akan melihat hubungan dengan lebih jelas.
Ada orang yang mengatakan:
"Oh iya, nggak masalah. Istirahat dulu."
Ada yang berkata:
"Kalau butuh apa-apa kabari."
Ada pula yang langsung berubah hanya karena satu kali kamu tidak bisa memenuhi keinginannya.
Dari situ kamu bisa belajar.
Hubungan yang sehat mempunyai ruang untuk dua manusia.
Bukan satu orang terus memberi dan satu orang terus menerima.
Kamu tidak membutuhkan hubungan yang hanya berjalan ketika kamu selalu mengatakan iya.
Jangan Berubah Menjadi Dingin Hanya Karena Pernah Dimanfaatkan
Setelah lelah menjadi orang baik, terkadang muncul keinginan:
"Mulai sekarang bodo amat sama semua orang."
Aku memahami reaksinya.
Tetapi jangan sampai pengalaman buruk mengambil sesuatu yang indah dari dirimu.
Kalau kamu memang penyayang, tetaplah penyayang.
Kalau kamu suka membantu, tetaplah membantu.
Kalau kamu pendengar yang baik, tetaplah menjadi pendengar.
Yang perlu berubah bukan hatimu.
Yang perlu diperbaiki adalah batasnya.
Baik hati dan mempunyai batas bisa berjalan bersama.
Peduli dan tegas bisa hidup dalam satu manusia.
Mulai Belajar Menjadi Orang Baik kepada Diri Sendiri
Kita sering berbicara tentang kebaikan kepada orang lain.
Tetapi bagaimana caramu memperlakukan dirimu?
Ketika lelah, apakah kamu memberikan istirahat?
Ketika salah, apakah kamu memaafkan diri?
Ketika sedih, apakah kamu mendengarkan perasaanmu?
Atau justru berkata:
"Ah lebay."
"Harusnya aku kuat."
"Orang lain lebih susah."
Jangan sampai kamu menjadi tempat aman bagi semua orang tetapi menjadi tempat paling keras bagi dirimu sendiri.
Kamu juga layak mendapatkan kelembutan yang selama ini kamu berikan kepada orang lain.
Closing: Kamu Boleh Menjadi Baik Tanpa Harus Kehilangan Diri Sendiri
Kalau selama ini kamu dikenal sebagai orang baik, jangan berhenti menjadi baik.
Dunia tidak membutuhkan lebih sedikit kebaikan.
Tetapi mungkin kamu perlu mengubah satu hal.
Jangan keluarkan dirimu dari daftar orang yang harus kamu perlakukan dengan baik.
Kalau kamu memberikan waktu kepada semua orang, sisakan waktu untuk dirimu.
Kalau kamu mendengarkan semua orang, dengarkan juga isi kepalamu.
Kalau kamu memaafkan kesalahan orang lain, belajarlah memaafkan kesalahanmu.
Kalau kamu memahami semua orang, cobalah memahami kenapa dirimu sedang lelah.
Kamu tidak egois hanya karena mengatakan tidak.
Kamu tidak jahat karena memilih istirahat.
Kamu tidak berubah menjadi manusia buruk karena tidak lagi tersedia setiap saat.
Dan kamu tidak mempunyai kewajiban untuk terus menjadi versi dirimu yang paling nyaman bagi semua orang.
Kadang kita perlu mengecewakan sedikit harapan orang lain supaya tidak terus-menerus mengecewakan diri sendiri.
Bukan berarti hidup hanya memikirkan diri.
Bukan.
Kita tetap membutuhkan empati.
Tetap membutuhkan kepedulian.
Tetap membutuhkan manusia lain.
Tetapi hubungan yang sehat seharusnya memberikan ruang kepada kedua pihak untuk bernapas.
Jadi mulai hari ini, ketika seseorang meminta sesuatu darimu, jangan langsung menjawab.
Berhenti sebentar.
Rasakan dirimu.
Tanyakan:
"Aku benar-benar mau, atau aku hanya takut membuatnya kecewa?"
Kalau jawabannya memang ingin membantu, bantulah dengan tulus.
Tetapi kalau ternyata kamu sudah terlalu lelah, belajarlah mengatakan:
"Maaf, kali ini aku tidak bisa."
Mungkin awalnya terasa bersalah.
Tidak apa-apa.
Kamu sedang mempelajari sesuatu yang selama ini jarang kamu lakukan:
menghargai batas dirimu sendiri.
Dan percayalah, orang yang benar-benar menyayangimu tidak hanya menyukai dirimu ketika kamu berguna untuk mereka.
Mereka juga bisa menghargaimu ketika kamu lelah.
Ketika kamu diam.
Ketika kamu membutuhkan ruang.
Bahkan ketika sesekali kamu mengatakan tidak.
Karena hubungan yang sehat bukan tentang:
"Apa yang selalu bisa kamu berikan kepadaku?"
Tetapi juga:
"Bagaimana keadaanmu hari ini?"
Dan kalau ternyata selama ini tidak ada yang menanyakan pertanyaan itu kepadamu, izinkan aku menutup tulisan ini dengan satu pertanyaan sederhana:
Bagaimana keadaanmu hari ini?
Jangan buru-buru menjawab:
"Nggak apa-apa."
Berhenti sebentar.
Tarik napas.
Lalu jawab dengan jujur kepada dirimu sendiri.
Sebab mungkin setelah bertahun-tahun berusaha memahami semua orang, sekarang waktunya kamu belajar memahami satu orang yang selama ini sering terlupakan:
dirimu sendiri.
— DJ BANGSA EAA


0Komentar