PulihSeketika.Com - Ada orang yang hari ini terlihat tidak baik-baik saja.
Pekerjaannya hilang.
Usahanya bangkrut.
Hubungannya berakhir.
Keuangannya berantakan.
Kariernya berhenti.
Semangatnya menghilang.
Atau mungkin dia hanya sedang menjalani hari-hari yang sangat berat tanpa pernah menceritakannya kepada siapa pun.
Lalu dari kejauhan, seseorang berkata:
“Dia memang malas.”
Yang lain berkata:
“Makanya, dari dulu tidak pernah mau dengar nasihat.”
Ada juga yang mengatakan:
“Pantas hidupnya seperti itu.”
Kita sering begitu mudah memberikan kesimpulan tentang kehidupan orang lain hanya karena melihat hasil akhirnya.
Kita melihat seseorang sedang jatuh, lalu mengira kita tahu alasan mengapa dia jatuh.
Padahal kita tidak pernah melihat seluruh perjalanan yang membawanya sampai ke sana.
Kita tidak tahu berapa malam yang dia habiskan tanpa tidur.
Tidak tahu berapa kali dia mencoba.
Tidak tahu berapa banyak penolakan yang dia terima.
Tidak tahu siapa yang meninggalkannya ketika keadaan mulai sulit.
Tidak tahu berapa kali dia menangis sendirian sebelum akhirnya keluar rumah dan berpura-pura baik-baik saja.
Dan yang paling penting...
kita tidak tahu seberapa keras sebenarnya dia sedang berusaha untuk bangkit.
Inilah yang ingin kita bicarakan dalam MINDFULL DJ BANGSA EAA kali ini.
Orang yang Sedang Jatuh Tidak Selalu Orang yang Malas
Kita terlalu mudah menyamakan keterpurukan dengan kemalasan.
Seseorang kehilangan pekerjaan?
“Berarti kurang usaha.”
Usahanya tutup?
“Berarti tidak pintar mengelola.”
Belum mendapatkan pekerjaan baru?
“Berarti terlalu pilih-pilih.”
Seseorang menarik diri dari lingkungan?
“Berarti sombong.”
Padahal kehidupan manusia tidak sesederhana itu.
Ada orang yang sudah mengirim puluhan lamaran tetapi belum mendapatkan kesempatan.
Ada pengusaha yang sudah mencoba berbagai strategi tetapi tetap gagal karena keadaan yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan.
Ada seseorang yang sedang kehilangan kepercayaan diri setelah mengalami kegagalan berkali-kali.
Ada orang yang sebenarnya ingin bergerak, tetapi begitu banyak masalah datang bersamaan sampai dirinya tidak tahu harus menyelesaikan yang mana terlebih dahulu.
Kita boleh memberikan kritik.
Kita boleh memberikan saran.
Tetapi sebelum menghakimi, ada satu hal yang seharusnya kita ingat:
kita hanya melihat hasil yang tampak, bukan seluruh perjuangan yang tidak terlihat.
Kita Sering Menilai Orang dari Titik Terendahnya
Bayangkan seseorang yang selama bertahun-tahun bekerja keras.
Kemudian suatu hari bisnisnya gagal.
Orang yang baru mengenalnya setelah kegagalan mungkin hanya melihat:
“Oh, dia pengusaha yang bangkrut.”
Padahal sebelum itu mungkin dia pernah membantu banyak orang.
Pernah menciptakan lapangan pekerjaan.
Pernah bekerja sampai larut malam.
Pernah mempertaruhkan tabungannya.
Pernah membuat keputusan yang berani.
Tetapi satu kegagalan membuat semua cerita sebelumnya seperti hilang.
Begitu juga seseorang yang mengalami kegagalan dalam karier.
Hari ini dia mungkin tidak mempunyai pekerjaan.
Tetapi itu tidak menghapus pengalaman bertahun-tahun yang sudah dimilikinya.
Seseorang bisa sedang kehilangan uang tanpa kehilangan kemampuan.
Bisa sedang kehilangan pekerjaan tanpa kehilangan harga diri.
Bisa sedang kehilangan arah tanpa kehilangan kesempatan untuk menemukan jalan kembali.
Satu fase buruk tidak cukup untuk menggambarkan seluruh kehidupan seseorang.
Jangan Mengira Orang yang Diam Berarti Tidak Berusaha
Ada orang yang ketika menghadapi masalah justru menjadi sangat diam.
Tidak banyak bercerita.
Tidak mengeluh.
Tidak meminta bantuan.
Dari luar mungkin terlihat seperti tidak melakukan apa-apa.
Padahal di dalam kepalanya sedang terjadi perang yang sangat panjang.
Dia sedang menghitung uang.
Memikirkan keluarga.
Memikirkan masa depan.
Memikirkan utang.
Memikirkan pekerjaan.
Memikirkan bagaimana menjelaskan semuanya kepada orang yang dicintai.
Sementara di depan orang lain dia hanya berkata:
“Aku baik-baik saja.”
Kadang diam bukan berarti tidak berjuang.
Diam bisa menjadi cara seseorang bertahan ketika dia belum tahu bagaimana menjelaskan rasa sakitnya.
Kita Tidak Pernah Tahu Apa yang Terjadi di Balik Sebuah Kegagalan
Ada kegagalan yang memang disebabkan oleh keputusan buruk.
Ada.
Manusia bisa salah.
Tetapi bahkan ketika seseorang melakukan kesalahan, apakah kesalahan itu berarti dia pantas dihina selamanya?
Tidak.
Kalau seseorang melakukan kesalahan, tentu ada tanggung jawab yang harus dilakukan.
Tetapi tanggung jawab berbeda dengan penghukuman tanpa akhir.
Orang yang salah masih bisa belajar.
Orang yang gagal masih bisa berubah.
Orang yang pernah mengambil keputusan buruk masih bisa mengambil keputusan yang lebih baik berikutnya.
Kalau kita terus mengingatkan seseorang tentang versi terburuk dirinya, bagaimana dia bisa mempunyai ruang untuk menjadi versi yang lebih baik?
Ada Orang yang Jatuh karena Terlalu Lama Menjadi Kuat
Ini mungkin terdengar aneh.
Tetapi kadang orang yang terlihat paling kuat justru sudah terlalu lama menahan semuanya sendirian.
Dia menjadi tempat orang lain bercerita.
Membantu keluarga.
Menyelesaikan pekerjaan.
Menjadi orang yang selalu berkata:
“Aku bisa.”
Sampai suatu hari tubuh dan pikirannya mengatakan:
“Aku sudah tidak sanggup.”
Kemudian dia mulai berubah.
Tidak seproduktif dulu.
Tidak seceria dulu.
Mulai menjauh.
Mulai kehilangan semangat.
Orang-orang melihat perubahan itu lalu berkata:
“Dia sekarang malas.”
Padahal mungkin dia bukan malas.
Mungkin dia hanya sedang kehabisan tenaga.
Kita tidak selalu tahu kapan seseorang sudah mencapai batas kemampuannya.
Karena itu, sedikit empati tidak akan membuat kita kehilangan apa pun.
Jangan Membandingkan Bab Tengah Hidupmu dengan Bab Akhir Orang Lain
Ini juga berlaku untuk diri sendiri.
Kita melihat orang lain sukses.
Bisnisnya berkembang.
Kariernya bagus.
Rumahnya sudah punya.
Keluarganya terlihat bahagia.
Kemudian kita melihat diri sendiri yang sedang terpuruk.
Akhirnya muncul:
“Kenapa aku begini?”
Padahal kita tidak tahu seluruh cerita orang tersebut.
Kita hanya melihat bagian yang dipublikasikan.
Dan kita membandingkannya dengan seluruh masalah yang sedang kita alami.
Tidak adil.
Setiap manusia mempunyai waktunya sendiri.
Ada orang yang menemukan keberhasilan lebih cepat.
Ada yang harus melewati banyak kegagalan terlebih dahulu.
Ada yang sukses muda.
Ada yang baru menemukan arah ketika usianya sudah jauh lebih matang.
Tidak ada satu jadwal kehidupan yang berlaku untuk semua manusia.
Yang Paling Menyakitkan Adalah Ketika Orang Terdekat Ikut Menghakimi
Pandangan negatif dari orang asing mungkin masih bisa diabaikan.
Tetapi ketika datang dari keluarga, sahabat, atau orang yang kita cintai, rasanya berbeda.
Karena kita berharap mereka memahami.
Seseorang sedang kehilangan pekerjaan, lalu mendengar:
“Kamu memang dari dulu tidak serius.”
Seseorang sedang mengalami kegagalan usaha:
“Makanya jangan sok pintar.”
Seseorang sedang menghadapi masalah pribadi:
“Orang lain hidupnya lebih susah, jangan lebay.”
Mungkin maksudnya ingin membuat kita kuat.
Tetapi kalimat seperti itu kadang justru membuat seseorang semakin merasa sendirian.
Ada perbedaan antara:
“Kamu harus bangkit.”
dengan:
“Aku tahu kamu sedang jatuh. Kalau kamu siap, ayo kita cari cara untuk bangkit.”
Pesannya sama.
Tetapi rasanya sangat berbeda.
Tidak Semua Orang Membutuhkan Nasihat Saat Sedang Terpuruk
Kadang ketika melihat seseorang sedang jatuh, kita langsung ingin memberikan solusi.
“Harusnya begini.”
“Kalau aku jadi kamu...”
“Coba lakukan itu.”
Padahal mungkin orang tersebut sudah mengetahui sebagian besar jawabannya.
Masalahnya bukan dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Masalahnya adalah dia sedang tidak mempunyai tenaga untuk melakukannya.
Dalam situasi seperti itu, kehadiran bisa lebih berarti daripada nasihat.
Duduk.
Dengarkan.
Tanyakan:
“Kamu baik-baik saja?”
Kemudian benar-benar dengarkan jawabannya.
Tidak harus selalu memperbaiki.
Kadang manusia hanya ingin merasa bahwa ketika sedang jatuh, masih ada seseorang yang tidak langsung meninggalkannya.
Jangan Gunakan Keterpurukan Orang Lain untuk Merasa Lebih Tinggi
Ini bagian yang agak pahit.
Kadang kita merasa lebih baik ketika melihat orang lain gagal.
Bukan karena kita membencinya.
Tetapi karena kegagalan orang lain membuat kita merasa kehidupan kita sedikit lebih baik.
“Untung aku tidak seperti dia.”
Hati-hati.
Hari ini kita sedang berdiri.
Besok keadaan bisa berubah.
Kita tidak pernah tahu kapan hidup akan menguji kita dengan masalah yang sebelumnya kita kira hanya dialami orang lain.
Karena itu, ketika melihat seseorang jatuh, jangan buru-buru merasa lebih tinggi.
Mungkin posisi kita memang sedang lebih baik.
Kalau begitu, gunakan posisi itu untuk membantu bila mampu.
Bukan untuk mempermalukan.
MAINDFULL: Sebelum Menilai, Tanyakan Satu Hal
Sebelum mengatakan:
“Dia malas.”
Coba tanyakan:
“Apa yang sebenarnya sedang dia hadapi?”
Sebelum mengatakan:
“Dia gagal.”
Tanyakan:
“Apa yang sudah dia coba sebelum sampai di titik ini?”
Sebelum mengatakan:
“Dia berubah.”
Tanyakan:
“Apa yang mungkin terjadi dalam hidupnya sehingga dia berubah?”
Pertanyaan sederhana bisa mengubah cara kita melihat seseorang.
Karena ketika kita mulai mencari cerita di balik perilaku, kita berhenti melihat manusia hanya sebagai sebuah label.
Dia bukan “orang gagal”.
Dia adalah manusia yang sedang mengalami kegagalan.
Dia bukan “orang malas”.
Mungkin dia adalah manusia yang sedang kehilangan tenaga.
Dia bukan “orang yang tidak punya masa depan”.
Dia adalah manusia yang belum menemukan jalan berikutnya.
Perhatikan perbedaannya.
Label membuat seolah-olah kondisi itu adalah identitas permanen.
Sedangkan kata “sedang” membuka kemungkinan perubahan.
Kita Semua Bisa Berada di Posisi yang Sama
Hari ini mungkin kita sedang membantu orang lain.
Besok mungkin kita yang membutuhkan bantuan.
Hari ini kita mungkin mempunyai pekerjaan.
Besok mungkin perusahaan tempat kita bekerja mengalami masalah.
Hari ini bisnis berjalan.
Besok bisa saja pasar berubah.
Hari ini keluarga baik-baik saja.
Besok mungkin ada ujian yang tidak pernah kita bayangkan.
Hidup tidak memberikan jaminan bahwa kita akan selalu berada di posisi yang sama.
Karena itu, empati sebenarnya bukan hanya tentang menjadi orang baik.
Empati juga merupakan cara kita memahami bahwa kita semua manusia yang bisa mengalami masa sulit.
Jangan Menentukan Masa Depan Seseorang dari Kondisinya Hari Ini
Ini mungkin kesalahan terbesar.
Melihat seseorang sedang miskin lalu menganggap dia akan selamanya miskin.
Melihat seseorang gagal lalu menganggap dia tidak akan pernah berhasil.
Melihat seseorang kehilangan pekerjaan lalu menganggap kariernya selesai.
Melihat seseorang berbuat kesalahan lalu menganggap dia akan selalu menjadi orang buruk.
Kita tidak mempunyai kemampuan untuk mengetahui masa depan seseorang.
Bahkan seseorang yang hari ini terlihat paling tidak berdaya bisa saja beberapa tahun kemudian menemukan kekuatannya.
Bisa saja dia belajar.
Bisa saja dia menemukan kesempatan.
Bisa saja ada seseorang yang memberinya kepercayaan.
Bisa saja dia menemukan jalan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Jangan mengambil hak seseorang untuk berubah hanya karena kita pernah melihatnya jatuh.
CLOSING: Jangan Jadikan Hari Terburuk Seseorang sebagai Alasan untuk Merendahkan Dirinya
Mungkin hari ini ada seseorang di sekitar kita yang sedang terpuruk.
Dia tidak banyak bicara.
Tidak terlihat sukses.
Tidak punya banyak uang.
Kariernya sedang berhenti.
Usahanya gagal.
Hubungannya berantakan.
Atau mungkin dia hanya sedang mencoba bertahan sampai besok.
Kita tidak tahu.
Dan justru karena kita tidak tahu seluruh ceritanya, sebaiknya kita berhati-hati ketika memberikan penilaian.
Kita boleh tidak setuju dengan keputusan seseorang.
Kita boleh memberikan nasihat.
Kita boleh mengingatkan kesalahan.
Tetapi jangan kehilangan rasa kemanusiaan hanya karena seseorang sedang berada di titik terendahnya.
Karena seseorang yang sedang jatuh tidak membutuhkan tambahan beban berupa penghinaan.
Dia sudah cukup sibuk menghadapi pikirannya sendiri.
Kalau bisa membantu, bantu.
Kalau tidak bisa membantu, setidaknya jangan menambah luka.
Kalau tidak tahu ceritanya, jangan terlalu cepat menyimpulkan.
Dan kalau seseorang sedang berusaha bangkit, jangan membuatnya malu karena pernah jatuh.
Sebab kita tidak pernah tahu...
mungkin orang yang hari ini sedang kita pandang rendah adalah orang yang beberapa tahun lagi akan berdiri jauh lebih kuat daripada yang kita bayangkan.
Dan kalau suatu hari nanti justru kita yang berada di bawah?
Semoga masih ada seseorang yang melihat kita bukan sebagai manusia gagal.
Tetapi sebagai manusia yang sedang berjuang menemukan jalan pulang.
Tidak semua orang yang terpuruk membutuhkan orang lain untuk mengangkatnya.
Kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang tidak ikut menginjak ketika mereka sedang berada di bawah.
Maka sebelum menilai seseorang...
berhenti sebentar.
Lihat lebih dalam.
Kita tidak pernah tahu perang apa yang sedang dia lewati.
Dan mungkin...
sedikit empati yang kita berikan hari ini adalah alasan seseorang memilih untuk tidak menyerah besok.
— DJ BANGSA EAA



0Komentar