PulihSeketika.Com - Ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada kegagalan.
Bukan kehilangan uang.
Bukan kehilangan pekerjaan.
Bukan bisnis yang bangkrut.
Bukan hubungan yang berakhir.
Yang paling berbahaya adalah ketika setelah terlalu sering mendengar orang mengatakan bahwa kita gagal, akhirnya kita mulai mempercayai mereka.
Awalnya hanya satu orang yang berkata:
“Kamu memang tidak bisa.”
Kemudian orang lain ikut mengatakan:
“Sudah, mungkin memang bukan jalanmu.”
Ada yang lebih tajam:
“Lihat saja, dari dulu hidupmu begitu-begitu saja.”
Lalu setiap kali mencoba sesuatu dan kembali gagal, suara-suara itu semakin terdengar.
Sampai suatu hari kita tidak lagi membutuhkan orang lain untuk mengatakan bahwa kita tidak mampu.
Kita sudah mengatakannya sendiri kepada diri kita.
“Aku memang tidak bisa.”
“Aku memang gagal.”
“Mungkin aku tidak punya masa depan.”
Di titik itulah masalah sebenarnya dimulai.
Karena kegagalan yang awalnya hanya terjadi pada sebuah pekerjaan, usaha, hubungan, atau keputusan perlahan berubah menjadi identitas.
Bukan lagi:
“Aku gagal melakukan sesuatu.”
Tetapi berubah menjadi:
“Aku adalah orang gagal.”
Padahal dua kalimat tersebut mempunyai makna yang sangat berbeda.
Dan inilah yang ingin kita bicarakan dalam MAINDFULL DJ BANGSA EAA kali ini.
Satu Kegagalan Tidak Pernah Cukup untuk Mendefinisikan Dirimu
Manusia sering memberikan label berdasarkan kejadian.
Bisnis gagal?
Pengusaha gagal.
Lamaran kerja ditolak?
Tidak kompeten.
Hubungan berakhir?
Tidak bisa mempertahankan pasangan.
Pernah melakukan kesalahan besar?
Memang dari dulu begitu orangnya.
Padahal manusia tidak sesederhana satu kejadian.
Kamu bisa gagal dalam bisnis tanpa menjadi manusia gagal.
Kamu bisa kehilangan pekerjaan tanpa kehilangan kemampuan.
Kamu bisa salah mengambil keputusan tanpa berarti seluruh keputusanmu buruk.
Kamu bisa jatuh tanpa berarti kamu ditakdirkan untuk berada di bawah selamanya.
Sayangnya, masyarakat sering lebih cepat memberikan label daripada memahami proses.
Kita melihat hasil.
Kita tidak melihat perjalanan.
Kita melihat seseorang sedang terpuruk.
Kita tidak melihat berapa lama dia sudah berusaha untuk bertahan.
Yang Paling Berbahaya Adalah Ketika Penilaian Orang Menjadi Suara di Dalam Kepala
Awalnya komentar orang lain berada di luar diri kita.
Mereka berbicara.
Kita mendengar.
Kemudian kita pulang.
Tetapi komentar itu ikut pulang bersama kita.
Malam hari ketika sendirian, kita mengingatnya.
Besok ketika mencoba lagi, kita teringat.
Ketika gagal sedikit, suara itu muncul:
“Tuh kan, benar kata mereka.”
Ini bisa menjadi lingkaran yang sangat melelahkan.
Kita mencoba.
Gagal.
Mengingat perkataan orang.
Kepercayaan diri turun.
Mencoba lagi dengan keyakinan yang lebih kecil.
Kemudian ketika hasilnya tidak maksimal, kita semakin yakin bahwa kita memang tidak mampu.
Padahal mungkin masalahnya bukan kemampuan.
Kita sedang berusaha sambil membawa keyakinan bahwa kita akan gagal.
Dan keyakinan seperti itu bisa memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan, berkomunikasi, mencoba peluang, bahkan berani memulai.
Jangan Menjadikan Pendapat Orang Lain sebagai Fakta tentang Dirimu
Ini penting.
Orang boleh mempunyai pendapat tentang kita.
Tetapi pendapat bukan fakta.
Ketika seseorang berkata:
“Kamu tidak akan berhasil.”
Itu adalah penilaian seseorang.
Bukan ramalan masa depan.
Ketika seseorang berkata:
“Kamu memang tidak pintar.”
Itu adalah opini.
Bukan hasil pemeriksaan seluruh kemampuanmu sebagai manusia.
Ketika seseorang berkata:
“Kamu tidak punya masa depan.”
Tidak ada manusia yang mempunyai kemampuan melihat seluruh masa depan orang lain.
Jadi jangan memberikan kekuatan yang terlalu besar kepada sebuah kalimat.
Seseorang bisa salah menilai kita.
Bahkan orang yang dekat dengan kita pun bisa salah memahami kehidupan kita.
Mereka hanya melihat bagian tertentu.
Kamu adalah orang yang menjalani seluruh ceritanya.
Kadang Orang Menghakimi Karena Mereka Hanya Melihat Hasil
Bayangkan seseorang membangun usaha selama tiga tahun.
Selama itu dia mencoba banyak hal.
Belajar.
Mencari pelanggan.
Mengeluarkan modal.
Mengubah strategi.
Bertahan ketika penjualan turun.
Kemudian usaha tersebut akhirnya tutup.
Orang yang melihat dari luar mungkin berkata:
“Tiga tahun dan akhirnya gagal juga.”
Kalimat itu mudah diucapkan.
Tetapi orang tersebut mungkin membawa pulang pengalaman yang tidak dimiliki oleh orang yang menghakiminya.
Dia belajar menjual.
Belajar mengelola uang.
Belajar menghadapi pelanggan.
Belajar membaca pasar.
Belajar mengambil keputusan.
Belajar menghadapi kehilangan.
Apakah semuanya menjadi sia-sia hanya karena hasil akhirnya belum sesuai harapan?
Tidak.
Sebuah perjalanan tetap mempunyai nilai meskipun tujuan pertamanya tidak tercapai.
Kamu Boleh Mengakui Bahwa Kamu Gagal
Ini bukan artikel yang mengajak kita menyangkal kenyataan.
Kalau memang gagal, katakan:
“Aku gagal.”
Tidak perlu pura-pura sukses.
Tidak perlu mencari alasan untuk semua kesalahan.
Tidak perlu menyalahkan dunia.
Justru kedewasaan dimulai ketika kita mampu melihat kenyataan tanpa menghancurkan diri sendiri.
Bedakan:
“Aku melakukan kesalahan.”
dengan:
“Aku adalah kesalahan.”
Yang pertama bisa diperbaiki.
Yang kedua adalah hukuman terhadap diri sendiri.
Kamu bisa mengevaluasi keputusan.
Meminta maaf jika diperlukan.
Mengganti strategi.
Belajar lagi.
Mengulang dari awal.
Tetapi jangan mengubah sebuah kesalahan menjadi identitas permanen.
Jangan Biarkan Masa Terpuruk Menentukan Nilai Dirimu
Ketika seseorang kehilangan uang, bukan berarti nilai dirinya ikut hilang.
Ketika kehilangan pekerjaan, bukan berarti seluruh kemampuan yang pernah dimiliki ikut hilang.
Ketika hubungan berakhir, bukan berarti dirinya tidak layak dicintai.
Ketika bisnis bangkrut, bukan berarti semua ide yang pernah dimiliki tidak berharga.
Kita terlalu sering mencampuradukkan hasil dengan nilai diri.
Padahal keduanya berbeda.
Hasil bisa naik turun.
Pendapatan bisa naik turun.
Karier bisa naik turun.
Popularitas bisa naik turun.
Bahkan hubungan manusia pun bisa berubah.
Tetapi nilai diri tidak seharusnya mengikuti grafik tersebut setiap hari.
Kalau hari ini penghasilanmu turun, apakah kamu otomatis menjadi manusia yang lebih rendah?
Tidak.
Kalau hari ini seseorang tidak memilihmu, apakah itu berarti tidak ada seorang pun yang akan menghargaimu?
Tidak.
Kalau hari ini sebuah usaha gagal, apakah semua masa depanmu ikut gagal?
Juga tidak.
Ada Saatnya Kamu Harus Berhenti Menjelaskan Dirimu kepada Semua Orang
Ini juga bagian dari kedewasaan.
Kita kadang terlalu sibuk membuktikan bahwa orang lain salah.
Setiap komentar ingin dibalas.
Setiap kritik ingin dijelaskan.
Setiap orang ingin diyakinkan bahwa kita sebenarnya mampu.
Padahal tidak semua orang perlu diyakinkan.
Ada orang yang sudah mempunyai kesimpulan sebelum mendengar penjelasan kita.
Tidak apa-apa.
Biarkan.
Energi kita lebih berharga untuk membangun kehidupan daripada memenangkan semua perdebatan.
Kalau seseorang berkata kamu tidak mampu, tidak selalu harus dijawab:
“Aku bisa!”
Kadang cukup menjawab dalam hati:
“Kita lihat nanti.”
Kemudian kembali bekerja.
Jangan Mengejar Pembuktian Sampai Kehilangan Dirimu Sendiri
Ada orang yang bangkit bukan karena ingin hidup lebih baik.
Dia bangkit karena ingin membuat orang lain menyesal.
“Nanti mereka akan melihat.”
Memang bisa menjadi bahan bakar.
Tetapi bahan bakar seperti itu cepat melelahkan.
Karena kehidupanmu akhirnya dikendalikan oleh orang yang bahkan mungkin tidak memikirkanmu setiap hari.
Kamu bekerja untuk mereka.
Sukses untuk mereka.
Mengejar uang untuk membungkam mereka.
Membeli sesuatu agar mereka iri.
Akhirnya...
mereka menjadi pusat kehidupanmu.
Padahal mereka mungkin sudah lupa dengan perkataan yang pernah mereka lontarkan.
Bangkitlah.
Tetapi bukan demi membungkam semua orang.
Bangkitlah karena kamu ingin menyelamatkan kehidupanmu sendiri.
MAINDFULL: Ganti Kalimat “Aku Tidak Bisa” Menjadi “Aku Belum Bisa”
Satu kata bisa mengubah cara kita memandang masa depan.
“Aku tidak bisa.”
Terdengar seperti keputusan akhir.
Sementara:
“Aku belum bisa.”
membuka ruang untuk belajar.
Belum bisa berarti masih mungkin.
Belum berhasil berarti masih ada kesempatan.
Belum menemukan jalan berarti masih mencari.
Belum mendapatkan kesempatan berarti cerita belum selesai.
Coba perhatikan bagaimana pikiran kita berbicara kepada diri sendiri.
Ketika gagal, jangan langsung berkata:
“Aku memang bodoh.”
Ganti dengan:
“Ada sesuatu yang belum kupahami.”
Jangan:
“Aku memang tidak punya bakat.”
Tetapi:
“Aku perlu belajar lebih banyak.”
Jangan:
“Hidupku sudah selesai.”
Tetapi:
“Aku belum tahu apa yang akan terjadi berikutnya.”
Ini bukan sekadar bermain kata.
Ini tentang memberikan ruang kepada diri sendiri untuk berkembang.
Orang yang Meremehkanmu Tidak Tahu Seberapa Jauh Kamu Bisa Berjalan
Ada orang yang hanya mengenal kita dari versi lama.
Mereka mengenal kita ketika masih belum punya apa-apa.
Ketika masih banyak melakukan kesalahan.
Ketika masih belum menemukan arah.
Kemudian ketika kita berubah, mereka tetap menggunakan versi lama itu untuk menilai kita.
Tidak masalah.
Tidak semua orang harus mengikuti seluruh proses perubahan kita.
Kamu tidak perlu mendapatkan persetujuan semua orang sebelum menjadi lebih baik.
Kalau dahulu kamu tidak disiplin, jadilah lebih disiplin.
Kalau dahulu tidak bisa mengelola uang, belajar.
Kalau dahulu takut memulai, mulai perlahan.
Kalau dahulu sering menyerah, belajar bertahan.
Perubahan tidak membutuhkan izin dari orang yang pernah meremehkanmu.
Tetapi Jangan Sampai Membenci Orang yang Pernah Merendahkanmu
Ini bagian yang juga penting.
Kita boleh kecewa.
Boleh terluka.
Tetapi jangan sampai seluruh hidup kita dibangun dari kebencian.
Karena kalau setiap langkah kita hanya bertujuan membuktikan bahwa mereka salah, berarti mereka masih mempunyai kendali terhadap kita.
Lebih baik suatu hari kamu bisa melihat ke belakang dan berkata:
“Dulu aku sangat terluka oleh perkataan itu. Sekarang aku sudah tidak membutuhkan perkataan siapa pun untuk mengetahui siapa diriku.”
Itu kemenangan yang lebih besar.
CLOSING: Jangan Percaya pada Orang yang Mengatakan Ceritamu Sudah Selesai
Kalau hari ini banyak orang menganggapmu gagal, dengarkan sebentar.
Bukan untuk mempercayainya.
Tetapi untuk mengevaluasi.
Kalau memang ada kritik yang benar, ambil pelajarannya.
Kalau memang ada kesalahan, perbaiki.
Kalau memang ada sesuatu yang harus kamu ubah, ubah.
Tetapi setelah itu...
jangan membawa semua suara mereka ke masa depanmu.
Kamu tidak harus membuktikan bahwa semua orang salah.
Kamu hanya perlu memastikan bahwa kamu tidak berhenti menjadi dirimu sendiri karena penilaian mereka.
Mungkin hari ini kamu sedang berada di bawah.
Tidak apa-apa.
Tanah memang bukan tempat yang buruk untuk memulai sesuatu.
Benih juga harus berada di bawah sebelum tumbuh ke atas.
Mungkin hari ini belum terlihat hasilnya.
Tidak apa-apa.
Ada proses yang memang membutuhkan waktu.
Mungkin hari ini orang lain belum melihat kemampuanmu.
Tidak apa-apa.
Tidak semua sesuatu yang berharga langsung terlihat.
Dan kalau hari ini kamu sendiri mulai meragukan dirimu?
Berhenti sebentar.
Tarik napas.
Ingat kembali berapa banyak hal yang sudah kamu lewati.
Ingat masa ketika kamu pernah berpikir tidak akan mampu melewati sesuatu, tetapi ternyata kamu berhasil melewatinya.
Ingat berapa kali kamu pernah jatuh dan tetap bangun.
Mungkin kamu belum sampai di tempat yang kamu inginkan.
Tetapi kamu juga belum kembali ke titik awal.
Kamu sudah membawa pengalaman.
Kamu sudah membawa pelajaran.
Kamu sudah membawa luka yang membuatmu lebih memahami hidup.
Dan kamu masih mempunyai kesempatan.
Jadi jangan biarkan orang lain memberikan nama untuk kehidupanmu.
Jangan biarkan kegagalan menentukan identitasmu.
Jangan biarkan satu periode buruk membuatmu percaya bahwa seluruh masa depanmu akan buruk.
Kalau ada yang berkata:
“Kamu gagal.”
Kamu tidak perlu marah.
Katakan kepada dirimu sendiri:
“Aku memang pernah gagal. Tapi aku bukan kegagalan itu.”
Kalau ada yang berkata:
“Kamu tidak akan berhasil.”
Tidak perlu berdebat.
Jawab dengan tindakan kecil.
Hari ini belajar.
Besok mencoba.
Lusa memperbaiki.
Minggu depan melangkah lagi.
Sampai suatu hari kamu tidak lagi sibuk membuktikan sesuatu kepada siapa pun.
Kamu hanya sedang menjalani hidupmu.
Dan mungkin pada saat itulah kamu menyadari sesuatu:
orang lain boleh mempunyai pandangan tentang dirimu, tetapi mereka tidak mempunyai hak untuk menentukan siapa dirimu.
Jangan sampai dunia mengatakan kamu gagal...
kemudian kamu ikut mempercayainya.
Karena selama kamu masih mau belajar, masih mau berubah, dan masih mau mencoba, ceritamu belum selesai.
— DJ BANGSA EAA



0Komentar