PulihSeketika.Com - Ada satu jenis masalah yang bisa membuat manusia tiba-tiba menjadi sangat pendiam.
Masalah uang.
Ketika kondisi finansial sedang baik, banyak hal terasa lebih sederhana.
Tetapi ketika uang mulai sulit, pikiran bisa berubah.
Bangun tidur memikirkan tagihan.
Makan memikirkan pengeluaran.
Membuka ponsel takut ada pesan penagihan.
Diajak pergi teman mulai mencari alasan.
Melihat orang lain membeli sesuatu, kita tersenyum...
tetapi diam-diam bertanya:
“Kapan ya aku bisa seperti itu?”
Yang lebih berat, masalah finansial kadang tidak berhenti sebagai persoalan angka.
Ia masuk ke harga diri.
Dari:
“Keuanganku sedang sulit.”
perlahan berubah menjadi:
“Aku tidak berhasil.”
Kemudian:
“Aku tidak berguna.”
Kalau kamu sedang berada dalam fase seperti ini, aku ingin mengatakan sesuatu sejak awal.
Uang memang penting.
Kita tidak perlu berpura-pura bahwa uang bukan masalah.
Tetapi jumlah uang yang sedang kamu miliki tidak pernah cukup untuk menjelaskan nilai seluruh dirimu sebagai manusia.
Mari kita ngobrol.
Uang Memang Penting, Jadi Kita Tidak Perlu Berpura-pura
Kadang ketika seseorang sedang mengalami kesulitan finansial, orang lain berkata:
“Uang bukan segalanya.”
Benar.
Tetapi kalau tagihan jatuh tempo besok, kalimat itu tidak langsung menyelesaikan masalah.
Hehehe.
Kita membutuhkan uang untuk makan.
Tempat tinggal.
Transportasi.
Pendidikan.
Kesehatan.
Membantu keluarga.
Menjalankan usaha.
Mengejar banyak mimpi.
Jadi ketika kondisi finansial sedang buruk, wajar kalau kita stres.
Tidak perlu merasa bersalah karena memikirkan uang.
Yang perlu dijaga adalah jangan sampai masalah uang berubah menjadi penghukuman terhadap seluruh diri.
Ada perbedaan antara:
“Aku sedang mengalami masalah finansial.”
dan:
“Aku adalah manusia yang gagal.”
Yang pertama adalah kondisi.
Yang kedua adalah identitas.
Kondisi bisa berubah.
Identitas yang terus kita hina justru bisa membuat kita kehilangan tenaga untuk memperbaiki kondisi.
Isi Rekening Bisa Menurun Tanpa Membuat Nilai Dirimu Ikut Turun
Bayangkan saldo rekening.
Hari ini ada angka tertentu.
Besok berkurang karena membayar kebutuhan.
Apakah pada saat angka itu turun, kecerdasanmu ikut turun?
Apakah pengalaman hidupmu hilang?
Apakah kemampuanmu mencintai keluarga berkurang?
Apakah semua keterampilan yang pernah kamu pelajari tiba-tiba lenyap?
Tidak.
Tetapi anehnya, ketika uang berkurang kita sering merasa seluruh nilai diri ikut berkurang.
Kita malu.
Tidak percaya diri.
Merasa lebih kecil ketika bertemu orang yang kondisi ekonominya lebih baik.
Padahal rekening adalah informasi mengenai kondisi finansial.
Bukan rapor nilai kemanusiaan.
Kamu bisa mempunyai banyak uang dan tetap menjadi manusia yang perlu belajar banyak hal.
Kamu juga bisa sedang tidak mempunyai banyak uang tetapi tetap menjadi seseorang yang baik, bertanggung jawab, penuh kemampuan, dan sedang berusaha memperbaiki kehidupan.
Kesulitan Finansial Sering Membuat Kita Menghindari Orang Lain
Pernah?
Teman mengajak makan.
Kita sebenarnya ingin datang.
Tetapi mulai menghitung.
Transportasi.
Makanan.
Pengeluaran lain.
Akhirnya berkata:
“Maaf ya, lagi ada acara.”
Padahal tidak ada acara.
Kita hanya sedang tidak punya cukup uang.
Dan entah kenapa mengatakannya terasa memalukan.
Aku memahami itu.
Tidak semua kondisi harus kita ceritakan kepada semua orang.
Tetapi kepada orang yang dipercaya, sesekali tidak masalah berkata:
“Aku lagi hemat banget bulan ini.”
Selesai.
Tidak perlu membuat sepuluh alasan.
Kondisi finansial bukan aib.
Kita sedang melewati fase.
Itu saja.
Jangan Memaksakan Gaya Hidup untuk Menutupi Kondisi Keuangan
Ini salah satu jebakan yang berbahaya.
Karena takut terlihat sedang kesulitan, kita justru mengeluarkan uang untuk terlihat baik-baik saja.
Tetap nongkrong.
Tetap belanja.
Tetap mengikuti gaya hidup lingkungan.
Tetap membeli sesuatu karena takut dianggap tidak mampu.
Akhirnya masalah semakin berat.
Kita membeli citra dengan uang yang sebenarnya sedang kita butuhkan untuk hidup.
Kalau memang sedang harus berhemat, berhematlah.
Tidak perlu malu.
Ada keberanian dalam mengatakan:
“Sekarang belum.”
Belum bisa membeli.
Belum bisa ikut.
Belum waktunya.
Daripada memaksakan diri hanya untuk mendapatkan pengakuan beberapa jam kemudian memikirkan cicilannya berbulan-bulan.
Media Sosial Bisa Membuat Kondisi Finansial Terasa Lebih Buruk
Kita membuka media sosial ketika sedang pusing memikirkan uang.
Lalu melihat:
liburan.
mobil baru.
rumah.
restoran.
gadget.
belanja.
Bisnis sukses.
Kemudian tanpa sadar muncul perasaan:
“Semua orang hidupnya enak kecuali aku.”
Padahal kita tidak melihat seluruh kondisi finansial mereka.
Kita melihat barang.
Tidak melihat laporan keuangan.
Kita melihat perjalanan.
Tidak tahu bagaimana cara mereka membayarnya.
Dan yang paling penting, kehidupan orang lain tidak akan memperbaiki keadaan kita hanya karena terus kita bandingkan.
Kalau media sosial sedang membuatmu semakin buruk menilai diri sendiri, mungkin kurangi sebentar.
Kembali kepada angka nyata dalam kehidupanmu.
Bukan angka kehidupan orang lain.
Ketika Uang Sulit, Hadapi Angkanya Meski Tidak Menyenangkan
Kadang kita begitu takut melihat kondisi keuangan sampai memilih tidak melihat sama sekali.
Saldo tidak dibuka.
Tagihan dihindari.
Pengeluaran tidak dicatat.
Karena melihat angka terasa menakutkan.
Tetapi masalah finansial biasanya tidak menjadi lebih kecil hanya karena tidak kita lihat.
Ambil napas.
Kemudian lihat.
Berapa pemasukan?
Berapa pengeluaran wajib?
Apa yang bisa dikurangi?
Apa yang harus segera dibayar?
Apa yang bisa dinegosiasikan?
Apa yang bisa ditunda?
Apakah ada penghasilan tambahan yang realistis?
Kita tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini.
Tetapi setidaknya kita mengetahui posisi.
Kejelasan memang kadang menyakitkan, tetapi ketidakjelasan membuat ketakutan berkembang tanpa batas.
Jangan Menghukum Diri Terus-Menerus karena Kesalahan Finansial Masa Lalu
Mungkin memang ada kesalahan.
Belanja berlebihan.
Salah investasi.
Utang.
Bisnis gagal.
Keputusan yang terlalu impulsif.
Akui.
Belajar.
Bertanggung jawab.
Tetapi setelah itu, fokuslah kepada apa yang bisa dilakukan sekarang.
Mengulang kalimat:
“Aku bodoh sekali dulu.”
setiap malam tidak akan mengembalikan uang.
Kalau memang melakukan kesalahan, pelajarannya harus menjadi sesuatu yang berguna.
Bukan cambuk yang digunakan setiap hari.
Tanyakan:
“Apa yang sekarang sudah kupahami yang dahulu belum kupahami?”
Kemudian gunakan pengetahuan itu.
Penghasilanmu Tidak Menentukan Seberapa Pantas Kamu Dicintai
Ini juga penting.
Kadang ketika kondisi finansial buruk, kita merasa tidak pantas mempunyai hubungan.
Tidak pantas bertemu seseorang.
Tidak pantas dicintai.
Kita merasa harus sukses dulu baru boleh hadir dalam kehidupan orang lain.
Tentu dalam hubungan dewasa, kondisi finansial perlu dibicarakan dengan jujur.
Tanggung jawab tetap penting.
Tetapi manusia bukan produk yang baru layak dicintai setelah mencapai pendapatan tertentu.
Kita bisa sedang membangun kehidupan sambil tetap menjadi manusia yang mempunyai kasih sayang, kejujuran, kesetiaan, humor, perhatian, dan karakter.
Uang adalah bagian penting kehidupan.
Tetapi pasangan hidup tidak sedang menikahi laporan bank saja.
Hehehe.
Harga Diri dan Tanggung Jawab Finansial Harus Berjalan Bersama
Jangan salah memahami tulisan ini.
Mengatakan “nilai manusia bukan ditentukan uang” bukan berarti kita boleh tidak bertanggung jawab.
Kalau punya utang, usahakan membayar.
Kalau pengeluaran berlebihan, perbaiki.
Kalau pendapatan kurang, cari kemungkinan untuk meningkatkannya.
Kalau perlu belajar keterampilan baru, belajar.
Kasih sayang kepada diri sendiri bukan berarti membiarkan semuanya.
Justru kita bisa mengatakan:
“Aku tetap berharga sebagai manusia, dan karena aku menghargai hidupku, aku akan berusaha memperbaiki kondisi finansialku.”
Menurutku itu jauh lebih sehat.
Kita memperbaiki hidup bukan karena membenci diri.
Kita memperbaikinya karena merasa kehidupan ini layak diperjuangkan.
MAINDFULL: Pisahkan Kondisi Keuangan dari Harga Dirimu
Coba perhatikan bahasa yang muncul di kepala ketika uang sedang sulit.
Apakah:
“Aku miskin, aku gagal, aku nggak berguna.”
Atau:
“Keuanganku sedang dalam kondisi sulit dan aku perlu membuat beberapa perubahan.”
Masalahnya sama.
Tetapi posisi mentalnya berbeda.
Kalimat kedua memberikan ruang untuk bertindak.
Sekarang tanyakan tiga hal:
Apa yang bisa kukendalikan hari ini?
Apa satu pengeluaran yang bisa kuperbaiki?
Apa satu langkah realistis untuk meningkatkan atau menjaga pemasukan?
Tidak perlu menyelesaikan lima tahun kehidupan finansial dalam satu malam.
Mulai dari sesuatu yang bisa dilakukan.
Seratus ribu yang berhasil dihemat tetap seratus ribu.
Satu utang yang lunas tetap satu beban yang selesai.
Satu keterampilan baru tetap menambah kemungkinan.
Satu pelanggan baru tetap kemajuan.
Jangan meremehkan angka kecil.
CLOSING: Kamu Sedang Kekurangan Uang, Bukan Kekurangan Nilai Sebagai Manusia
Kalau saat ini kondisi finansialmu sedang sulit, aku tidak akan berkata:
“Tenang, uang bukan segalanya.”
Karena mungkin yang kamu butuhkan sekarang memang uang.
Dan itu nyata.
Aku berharap keadaanmu membaik.
Tetapi selama sedang berusaha menuju ke sana, jangan tambahkan satu masalah baru yang sebenarnya tidak perlu:
membenci dirimu sendiri.
Kamu sudah mempunyai persoalan finansial.
Jangan sekaligus membuat persoalan harga diri.
Pisahkan keduanya.
Katakan:
“Keuanganku sedang tidak baik.”
Bukan:
“Aku manusia yang tidak baik.”
Lihat angka.
Hadapi kenyataan.
Kurangi yang bisa dikurangi.
Cari jalan meningkatkan penghasilan.
Belajar.
Minta saran kalau perlu.
Perbaiki kesalahan.
Bayar kewajiban perlahan.
Dan kalau prosesnya membutuhkan waktu, jalani.
Tidak perlu terlihat kaya ketika sedang membangun kestabilan.
Tidak perlu membuat orang lain terkesan.
Tidak perlu malu memakai sesuatu yang masih layak digunakan.
Tidak perlu mengikuti semua ajakan.
Tidak perlu membuktikan kehidupanmu baik-baik saja melalui barang.
Karena yang sedang kamu bangun bukan penampilan.
Kamu sedang membangun kehidupan.
Mungkin hari ini rekening belum seperti yang kamu inginkan.
Tidak apa-apa.
Itu data hari ini.
Bukan ramalan untuk seluruh masa depan.
Keadaan bisa berubah.
Kemampuan bisa bertambah.
Pendapatan bisa meningkat.
Kesalahan bisa diperbaiki.
Jalan baru bisa ditemukan.
Tidak ada jaminan semuanya mudah.
Tetapi selama masih mempunyai kemampuan untuk belajar dan membuat keputusan baru, masih ada sesuatu yang bisa dikerjakan.
Jadi besok pagi...
bangun.
Kerjakan yang bisa dikerjakan.
Tidak perlu malu sedang memulai kembali.
Dan kalau melihat orang lain sudah mempunyai banyak hal yang belum kamu punya, tarik napas.
Katakan:
“Bagus untuk mereka. Sekarang aku kembali mengurus hidupku.”
Pelan-pelan.
Satu angka.
Satu keputusan.
Satu langkah.
Karena kondisi finansial yang sehat memang layak diperjuangkan.
Tetapi selama memperjuangkannya, jangan lupa menjaga sesuatu yang jauh lebih sulit dikembalikan ketika sudah hancur:
cara kamu memandang dirimu sendiri.
Uangmu bisa sedang sedikit.
Peluangmu mungkin sedang sempit.
Hidupmu mungkin sedang sulit.
Tetapi jangan salah membaca keadaan.
Kamu sedang mengalami kesulitan finansial. Kamu bukan manusia yang kehilangan nilai.
Dompet bisa kosong.
Rekening bisa turun.
Rencana bisa tertunda.
Tetapi harga dirimu tidak harus ikut bangkrut.
Besok kita cari jalan lagi.
— DJ BANGSA EAA



0Komentar