PulihSeketika.Com - Ada fase kehidupan ketika yang paling berat bukan memulai.
Tetapi memulai lagi.
Karena kalau benar-benar baru pertama kali, kita belum mempunyai banyak hal untuk dibandingkan.
Tetapi memulai lagi berarti kita pernah mempunyai sesuatu.
Pernah mempunyai pekerjaan yang stabil.
Pernah mempunyai usaha.
Pernah mempunyai tabungan.
Pernah mempunyai rencana yang kelihatannya matang.
Pernah mempunyai kehidupan yang kita kira akan berjalan seperti itu selamanya.
Kemudian sesuatu terjadi.
Pekerjaan hilang.
Usaha gagal.
Hubungan selesai.
Proyek berhenti.
Keuangan berantakan.
Rencana hidup berubah.
Dan tiba-tiba kita berdiri di tempat yang rasanya sangat jauh dari kehidupan yang dahulu pernah kita miliki.
Saat itulah kadang muncul rasa malu.
“Masa harus mulai dari nol lagi?”
Apalagi ketika melihat orang-orang seusia kita sedang naik.
Karier mereka berkembang.
Bisnis semakin besar.
Kehidupan terlihat semakin mapan.
Sementara kita justru sedang mengumpulkan kepingan hidup yang berserakan.
Kalau kamu sedang berada di fase itu, aku ingin mengajakmu melihat satu hal:
Memulai kembali bukan sesuatu yang memalukan.
Memang berat.
Memang bisa menyakitkan.
Tetapi ada masa ketika kehidupan tidak memberikan pilihan selain membangun ulang.
Dan mungkin yang perlu kita lakukan bukan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Melainkan berani berkata:
“Ya, hidupku berubah. Sekarang aku akan membangunnya lagi.”
Mari kita ngobrol.
Memulai Lagi Terasa Berat karena Kita Tahu Rasanya Pernah Berada di Atas
Bayangkan seseorang yang pernah mempunyai penghasilan bagus kemudian kehilangan pekerjaan.
Mendapatkan pekerjaan baru dengan penghasilan lebih kecil mungkin terasa jauh lebih berat dibanding seseorang yang baru pertama kali bekerja.
Kenapa?
Karena ada pembanding.
Dahulu bisa begini.
Sekarang tidak.
Dahulu punya ini.
Sekarang belum.
Dahulu orang mengenal kita sebagai seseorang dengan posisi tertentu.
Sekarang kita harus memperkenalkan diri lagi.
Yang membuat sakit kadang bukan hanya kehilangan sesuatu.
Tetapi kehilangan versi diri yang pernah melekat pada sesuatu itu.
“Aku pengusaha.”
“Aku manajer.”
“Aku punya bisnis.”
“Aku punya pasangan.”
“Aku orang yang mapan.”
Ketika hal tersebut hilang, kita bertanya:
“Kalau semua itu sudah tidak ada, sekarang aku siapa?”
Pertanyaan seperti itu tidak mudah.
Tetapi mungkin jawabannya justru membuka kehidupan baru.
Kamu masih kamu.
Pekerjaan bisa berubah.
Bisnis bisa tutup.
Hubungan bisa selesai.
Status bisa hilang.
Tetapi manusia di balik semuanya masih mempunyai kesempatan untuk menentukan langkah berikutnya.
Kamu Tidak Benar-Benar Kembali ke Nol
Kalimat yang sering kita ucapkan adalah:
“Aku mulai dari nol lagi.”
Tetapi apakah benar-benar nol?
Kalau dahulu pernah membangun usaha lalu gagal, kamu sekarang mempunyai pengalaman yang sebelumnya tidak ada.
Kamu tahu beberapa kesalahan.
Tahu rasanya mengelola uang.
Tahu menghadapi pelanggan.
Tahu keputusan apa yang ternyata buruk.
Kalau pernah bekerja bertahun-tahun lalu harus berganti bidang, keterampilan lama tidak seluruhnya hilang.
Cara berkomunikasi.
Disiplin.
Jaringan.
Kemampuan menyelesaikan masalah.
Semua ikut terbawa.
Bahkan kegagalan membawa sesuatu.
Mungkin bukan sesuatu yang kita inginkan.
Tetapi pengalaman tetap pengalaman.
Jadi mungkin kamu bukan sedang memulai dari nol.
Kamu sedang memulai dari pengalaman.
Angkanya mungkin kembali kecil.
Tetapi orang yang memulainya sudah berbeda.
Rasa Malu Sering Datang karena Kita Terlalu Memikirkan Penilaian Orang
“Orang nanti bilang apa?”
Ini salah satu kalimat yang membuat hidup semakin berat.
Dahulu punya bisnis, sekarang bekerja untuk orang.
Dahulu punya jabatan, sekarang mulai dari posisi bawah.
Dahulu terlihat sukses, sekarang harus berhemat.
Dahulu sering mentraktir, sekarang harus menolak ajakan nongkrong.
Kita malu.
Padahal orang yang komentarnya kita takutkan belum tentu ikut membayar tagihan kita.
Hehehe.
Ada waktunya kita perlu memilih:
menjaga citra atau menyelamatkan kehidupan.
Kalau harus mengambil pekerjaan yang lebih sederhana untuk bangkit, ambil.
Kalau harus menjual sesuatu yang tidak lagi mampu dipertahankan, pertimbangkan.
Kalau harus mengurangi gaya hidup, kurangi.
Kalau harus kembali belajar dari dasar, belajar.
Tidak ada kehormatan dalam mempertahankan penampilan sambil kehidupan nyata perlahan runtuh.
Menjadi Pemula Lagi Memang Tidak Nyaman
Setelah lama merasa menguasai sesuatu, kembali tidak tahu apa-apa bisa mengganggu ego.
Kita harus bertanya.
Harus belajar.
Harus menerima koreksi.
Kadang bahkan belajar dari orang yang jauh lebih muda.
Tidak nyaman.
Tetapi menjadi pemula bukan penghinaan.
Semua orang yang ahli pernah berada di sana.
Masalahnya, semakin dewasa kita semakin takut terlihat tidak tahu.
Padahal kalimat:
“Aku belum tahu, ajari aku.”
bisa membuka banyak pintu.
Kalau hidup sedang memintamu memasuki bidang baru, jangan menuntut dirimu langsung mahir.
Berikan ruang untuk jelek.
Untuk salah.
Untuk bingung.
Untuk perlahan menjadi lebih baik.
Jangan Terburu-buru Mengembalikan Kehidupan ke Bentuk Lama
Ketika kehilangan sesuatu, naluri kita sering ingin secepat mungkin mengembalikannya.
Penghasilan harus kembali seperti dulu.
Bisnis harus sebesar dulu.
Kehidupan harus terlihat seperti dulu.
Tetapi bagaimana kalau kesempatan memulai lagi justru bisa digunakan untuk bertanya:
“Apakah aku benar-benar ingin kembali ke kehidupan yang sama?”
Mungkin dahulu memang menghasilkan banyak uang tetapi hampir tidak punya waktu untuk hidup.
Mungkin pekerjaan lama memberikan status tetapi membuatmu tidak bahagia.
Mungkin bisnis lama tumbuh tetapi sistemnya berantakan.
Mungkin kehilangan memang menyakitkan, tetapi ada beberapa hal dari kehidupan lama yang sebenarnya tidak perlu dibangun kembali.
Jangan hanya melakukan rekonstruksi.
Lakukan evaluasi.
Bangun ulang dengan lebih sadar.
Mulailah dari Apa yang Masih Ada
Ketika kehilangan sesuatu, perhatian kita otomatis tertuju pada yang hilang.
Uang yang habis.
Pekerjaan yang tidak ada.
Hubungan yang selesai.
Kesempatan yang lewat.
Coba sesekali lihat apa yang masih ada.
Kesehatan?
Keterampilan?
Teman?
Keluarga?
Laptop?
Ponsel?
Kendaraan?
Jaringan?
Pengalaman?
Waktu?
Kemampuan belajar?
Tidak semua orang mempunyai semuanya.
Tetapi hampir selalu ada sesuatu yang bisa menjadi titik awal.
Jangan hanya menghitung puing.
Cari bahan yang masih bisa digunakan untuk membangun.
Tidak Perlu Langsung Membuat Lompatan Besar
Setelah jatuh, kita sering ingin cepat membuktikan bahwa kita bisa kembali.
Akhirnya mengambil keputusan terlalu besar.
Mengeluarkan modal besar.
Memasang target ekstrem.
Bekerja tanpa istirahat.
Semua karena ingin segera menghapus rasa malu.
Pelan-pelan.
Tidak perlu membalas kegagalan dengan kesuksesan spektakuler dalam tiga bulan.
Bangun fondasi.
Kalau kondisi finansial sedang rusak, rapikan sedikit demi sedikit.
Kalau sedang mencari pekerjaan, kirim lamaran satu demi satu.
Kalau membangun usaha baru, cari pelanggan pertama.
Kalau belajar kemampuan baru, mulai dari dasar.
Yang kamu butuhkan bukan cerita comeback yang dramatis.
Kamu membutuhkan kehidupan yang benar-benar bisa berdiri lagi.
Jangan Membandingkan Proses Membangun Ulang dengan Orang yang Tidak Sedang Mengalami Keruntuhan
Ini juga penting.
Temanmu mungkin sedang menambah lantai kedua rumahnya.
Kamu sedang memperbaiki fondasi.
Tentu kelihatannya dia lebih cepat.
Tetapi pekerjaannya berbeda.
Kalau kamu baru kehilangan pekerjaan, jangan membandingkan kecepatan finansialmu dengan orang yang sudah bekerja stabil selama sepuluh tahun.
Kalau bisnis baru saja gagal, jangan membandingkan dirimu dengan perusahaan yang sudah berjalan lama.
Konteks.
Selalu lihat konteks.
Kadang keberhasilan hari ini bukan menambah sesuatu.
Kadang keberhasilan adalah menghentikan kerusakan supaya tidak semakin besar.
Dan itu tetap kemajuan.
MAINDFULL: Jangan Bertanya “Bagaimana Aku Bisa Kembali Seperti Dulu?”
Coba ubah pertanyaannya menjadi:
“Dengan semua yang sekarang sudah kuketahui, kehidupan seperti apa yang ingin kubangun berikutnya?”
Pertanyaan ini mengubah arah.
Kita tidak lagi mengejar masa lalu.
Kita membangun masa depan.
Ambil kertas kalau perlu.
Tuliskan:
Apa yang masih kupunya?
Apa yang kupelajari dari kegagalan sebelumnya?
Kesalahan apa yang tidak ingin kuulangi?
Apa prioritas hidupku sekarang?
Apa satu langkah realistis yang bisa kulakukan minggu ini?
Tidak perlu mempunyai seluruh jawabannya.
Satu saja.
Kemudian jalankan.
Kehidupan yang besar tetap dibangun melalui keputusan kecil.
Kamu Tidak Perlu Menjelaskan Perjalananmu kepada Semua Orang
Ada orang yang akan memahami.
Ada yang tidak.
Ada yang mendukung.
Ada yang mungkin berkomentar.
Biarkan.
Kamu tidak perlu membuat konferensi pers setiap kali hidup berubah.
Hehehe.
Fokus pada pembangunan.
Kadang energi kita habis bukan karena masalahnya terlalu besar, tetapi karena terlalu sibuk menjelaskan diri kepada orang yang sebenarnya tidak terlibat.
Biarkan hasil nanti berbicara.
Atau bahkan kalau hasilnya tidak pernah terlihat spektakuler, tidak apa-apa.
Yang penting kehidupanmu kembali mempunyai arah.
CLOSING: Tidak Ada yang Memalukan dari Membangun Hidup Sekali Lagi
Kalau sekarang kamu sedang memulai kembali, aku tahu rasanya mungkin tidak menyenangkan.
Ada bagian dirimu yang masih melihat ke belakang.
“Dulu aku punya...”
“Dulu hidupku...”
“Seandainya waktu itu...”
Sesekali tidak apa-apa mengingat.
Kita manusia.
Kehilangan memang membutuhkan waktu untuk diterima.
Tetapi jangan terlalu lama berdiri menghadap masa lalu sampai lupa bahwa masih ada jalan di depan.
Apa yang hilang memang pernah menjadi bagian hidupmu.
Tetapi ia tidak harus menjadi satu-satunya bentuk kehidupan yang bisa kamu miliki.
Mungkin sekarang kamu harus mulai kecil.
Tidak apa-apa.
Mungkin pekerjaan berikutnya tidak seprestisius dahulu.
Tidak apa-apa.
Mungkin usaha berikutnya dimulai dari satu meja kecil.
Tidak apa-apa.
Mungkin tabungan harus dikumpulkan lagi dari angka yang terasa menyedihkan.
Tidak apa-apa.
Mungkin kamu harus belajar dari orang yang usianya lebih muda.
Belajarlah.
Mungkin orang bertanya:
“Kok sekarang begini?”
Tersenyum saja kalau mau.
Kamu tahu apa yang sedang dilakukan.
Kamu sedang membangun kembali kehidupanmu.
Dan menurutku itu bukan sesuatu yang memalukan.
Justru dibutuhkan keberanian untuk melihat reruntuhan lalu berkata:
“Baik. Kita mulai lagi.”
Tidak perlu berpura-pura bahwa kehilangan tidak sakit.
Tidak perlu menyebut kegagalan sebagai berkah kalau memang belum bisa melihatnya seperti itu.
Cukup terima kenyataannya.
Ini yang terjadi.
Ini yang masih tersisa.
Ini yang sudah kupelajari.
Sekarang...
apa yang bisa kubangun dari sini?
Mungkin perjalanan kedua tidak akan sama dengan perjalanan pertama.
Bagus.
Karena kamu juga bukan manusia yang sama.
Kamu datang membawa pengalaman.
Luka.
Pelajaran.
Kesalahan.
Keterampilan.
Dan mungkin sedikit kebijaksanaan yang dahulu belum kamu punya.
Jadi kalau hari ini rasanya seperti kembali ke titik nol, ingat satu hal:
kamu mungkin memulai dari bawah lagi, tetapi kamu tidak memulai sebagai orang yang sama.
Ada banyak hal yang sekarang sudah kamu tahu.
Gunakan.
Bangun perlahan.
Tidak perlu buru-buru terlihat sukses lagi.
Yang penting benar-benar berdiri.
Satu pekerjaan.
Satu pelanggan.
Satu tabungan kecil.
Satu keterampilan.
Satu keputusan yang lebih baik.
Satu hari.
Kemudian satu hari lagi.
Sampai suatu saat kamu menoleh ke belakang dan menyadari:
ternyata kehidupan yang sempat kamu kira selesai...
hanya sedang meminta dibangun dalam bentuk yang berbeda.
Kalau harus memulai lagi, mulailah.
Tidak usah malu.
Menjadi pemula sekali lagi jauh lebih berani daripada mempertahankan kehidupan yang sudah jelas tidak bisa lagi ditinggali.
Pelan-pelan.
Kita bangun lagi.
— DJ BANGSA EAA



0Komentar