PulihSeketika.Com - Ada masa ketika membuka media sosial rasanya seperti masuk ke sebuah ruangan tempat semua orang sedang merayakan keberhasilan.
Teman membeli rumah.
Yang lain mendapat pekerjaan baru.
Ada yang menikah.
Ada yang membuka usaha.
Ada yang berangkat ke luar negeri.
Ada yang memamerkan pencapaian baru.
Lalu kita melihat kehidupan sendiri.
Masih menghitung pengeluaran.
Masih mencari pekerjaan.
Masih membangun usaha dari bawah.
Masih mencoba membuat sesuatu berhasil.
Bahkan mungkin sedang memulai semuanya lagi dari nol.
Kemudian muncul sebuah pertanyaan kecil yang perlahan menjadi semakin besar:
“Kok hidup orang lain sudah sampai ke mana-mana, sementara aku masih begini?”
Aku rasa banyak dari kita pernah merasakannya.
Bukan berarti kita iri atau tidak senang melihat orang lain berhasil.
Kita bisa benar-benar bahagia untuk mereka.
Tetapi di saat bersamaan, keberhasilan orang lain kadang membuat kita mempertanyakan kehidupan sendiri.
“Aku salah di mana?”
“Kenapa aku lambat sekali?”
“Apakah aku tertinggal?”
Kalau kamu sedang berada di fase itu, mari ngobrol sebentar.
Mungkin masalahnya bukan kamu terlambat.
Mungkin selama ini kamu hanya terlalu sering mengukur perjalananmu menggunakan jam milik orang lain.
Kita Tidak Pernah Benar-Benar Memulai dari Garis yang Sama
Ini salah satu hal yang sering terlupakan ketika membandingkan kehidupan.
Kita melihat dua orang berumur 30 tahun dan berpikir mereka seharusnya mempunyai pencapaian yang kurang lebih sama.
Padahal kehidupan tidak bekerja seperti lomba lari.
Kita tidak berdiri di garis start yang sama.
Ada orang yang sejak kecil mempunyai lingkungan yang mendukung.
Ada yang harus membangun semuanya sendiri.
Ada yang mempunyai modal.
Ada yang memulai dengan utang.
Ada yang punya jaringan.
Ada yang harus mengenal semuanya dari nol.
Ada yang setelah lulus kuliah bisa langsung fokus membangun karier.
Ada yang harus membantu keluarga.
Ada yang mempunyai banyak kesempatan mencoba dan gagal.
Ada pula yang sekali gagal saja bisa membuat kondisi keuangannya berantakan berbulan-bulan.
Jadi ketika hasilnya berbeda, tidak selalu berarti orang yang berada di belakang kurang bekerja keras.
Konteks kehidupan setiap manusia berbeda.
Itulah mengapa membandingkan hasil tanpa memahami perjalanan sering kali tidak adil.
Terutama kepada diri sendiri.
Media Sosial Membuat Kita Merasa Semua Orang Sedang Berlari
Dahulu kita mungkin hanya mengetahui kehidupan beberapa orang di sekitar.
Sekarang?
Dalam sepuluh menit kita bisa melihat pencapaian puluhan bahkan ratusan manusia.
Ada orang membeli mobil.
Scroll.
Ada yang menikah.
Scroll.
Ada yang mendapatkan promosi.
Scroll.
Ada yang membuka cabang bisnis baru.
Scroll.
Ada yang liburan ke Eropa.
Kemudian kita menutup ponsel dan melihat saldo rekening sendiri.
Waduh.
Hehehe.
Masalahnya bukan pada orang yang membagikan kebahagiaan mereka.
Mereka berhak merayakannya.
Masalah muncul ketika pikiran kita menerjemahkan keberhasilan orang lain sebagai bukti kegagalan kita.
“Dia berhasil, berarti aku tertinggal.”
Padahal keberhasilan seseorang tidak mengambil jatah keberhasilan kita.
Kehidupan bukan permainan dengan satu kursi pemenang.
Jangan Membandingkan Bab Tiga Hidupmu dengan Bab Tujuh Belas Milik Orang Lain
Kita sering melihat hasil tanpa mengetahui proses.
Seseorang terlihat berhasil membangun bisnis.
Kita tidak tahu sudah berapa kali dia gagal sebelumnya.
Seseorang mempunyai karier bagus.
Kita tidak tahu kesempatan apa yang pernah dia dapatkan.
Seseorang terlihat hidup nyaman.
Kita tidak tahu apa yang sedang dia hadapi di balik layar.
Dan sebaliknya.
Orang lain juga tidak mengetahui seluruh perjalanan kita.
Mereka mungkin hanya melihat:
“Kok dia belum berhasil?”
Tetapi mereka tidak melihat berapa banyak masalah yang sudah kita selesaikan hanya untuk tetap berdiri sampai hari ini.
Ada perjuangan yang menghasilkan penghargaan.
Ada perjuangan yang hasilnya sekadar membuat kita berhasil bertahan.
Keduanya tetap perjuangan.
Umur Sering Menjadi Alat untuk Menghukum Diri Sendiri
“Umur 25 harusnya sudah...”
“Umur 30 harusnya punya...”
“Umur 35 kok masih...”
“Umur 40 masa belum...”
Kata “harusnya” kadang kejam sekali.
Seolah kehidupan mempunyai satu jadwal resmi.
Lulus umur sekian.
Menikah umur sekian.
Punya rumah umur sekian.
Karier mapan umur sekian.
Sukses umur sekian.
Pertanyaannya:
jadwal siapa?
Tidak ada satu timeline yang cocok untuk semua manusia.
Ada yang menemukan pekerjaan yang dicintainya pada usia muda.
Ada yang baru memahami arah hidup setelah puluhan tahun mencoba berbagai hal.
Ada yang menikah muda.
Ada yang menemukan pasangan jauh lebih belakangan.
Ada yang membangun bisnis di usia 20-an.
Ada yang baru berani memulai ketika rambut sudah mulai memutih.
Bukan berarti umur tidak penting.
Waktu tetap berharga.
Tetapi menggunakan umur sebagai cambuk setiap hari juga tidak membuat perjalanan menjadi lebih cepat.
Kadang justru membuat kita panik dan mengambil keputusan hanya karena takut tertinggal.
Terlambat dan Berbeda Waktu Bukan Hal yang Sama
Kalau kereta berangkat pukul delapan dan kita datang pukul sembilan, itu terlambat.
Karena memang ada jadwalnya.
Tetapi kehidupan?
Siapa yang menentukan pukul berapa kita harus “sampai”?
Mungkin bukan terlambat.
Mungkin waktunya memang berbeda.
Tentu kita tetap perlu bergerak.
Kalimat “semua orang punya waktunya masing-masing” jangan dijadikan alasan untuk berhenti berusaha.
Tetap belajar.
Tetap bekerja.
Tetap memperbaiki diri.
Tetap mencari kesempatan.
Tetapi lakukan karena kita ingin membangun kehidupan sendiri, bukan karena panik melihat kehidupan orang lain.
Perbandingan Kadang Bisa Menjadi Informasi, Bukan Hukuman
Membandingkan diri sebenarnya tidak selalu buruk.
Kita bisa melihat seseorang yang berhasil kemudian bertanya:
“Apa yang bisa kupelajari darinya?”
Itu sehat.
Yang menyakitkan adalah ketika pertanyaannya berubah menjadi:
“Kenapa aku tidak sehebat dia?”
Lihat perbedaannya.
Yang pertama menghasilkan informasi.
Yang kedua menghasilkan penghukuman.
Kalau teman berhasil membangun usaha, pelajari strateginya.
Kalau seseorang mempunyai karier bagus, lihat keterampilan apa yang dia bangun.
Kalau orang lain mampu mengelola keuangan lebih baik, kita bisa belajar.
Tidak perlu mengecilkan keberhasilan mereka.
Dan tidak perlu mengecilkan diri sendiri.
Keberhasilan orang lain bisa menjadi referensi tanpa harus menjadi standar harga diri kita.
Kamu Mungkin Sedang Memulai Lagi, Bukan Memulai dari Nol
Ada fase ketika hidup membuat kita harus mengulang.
Usaha gagal.
Pekerjaan hilang.
Hubungan selesai.
Rencana berubah.
Tabungan habis untuk kebutuhan tertentu.
Kemudian rasanya:
“Aku kembali ke nol.”
Tetapi sebenarnya tidak sepenuhnya nol.
Kamu membawa pengalaman.
Membawa pelajaran.
Membawa kesalahan yang sekarang sudah kamu kenali.
Membawa keterampilan.
Membawa orang-orang yang pernah kamu temui.
Membawa kemampuan bertahan yang dahulu mungkin belum kamu punya.
Angka di rekening bisa kembali kecil.
Bisnis bisa kembali dimulai dari bawah.
Karier bisa berganti arah.
Tetapi manusia yang memulainya bukan lagi manusia yang sama.
Jadi kalau sekarang kamu sedang membangun ulang kehidupan, jangan terlalu cepat mengatakan:
“Aku kembali ke titik awal.”
Mungkin tempatnya terlihat seperti awal.
Tetapi kamu datang dengan bekal perjalanan sebelumnya.
Ukur Perjalananmu dengan Dirimu yang Dahulu
Sesekali jangan melihat ke samping.
Lihat ke belakang.
Bandingkan dirimu dengan satu atau dua tahun lalu.
Apa yang sekarang kamu tahu?
Apa yang sudah bisa kamu lakukan?
Masalah apa yang dulu terasa sangat besar tetapi sekarang sudah mampu kamu hadapi?
Kesalahan apa yang tidak lagi kamu ulangi?
Apa yang sudah berhasil kamu lewati?
Mungkin hidup belum terlihat spektakuler.
Tetapi bukan berarti tidak ada kemajuan.
Kita sering tidak menyadari perkembangan karena melihat diri sendiri setiap hari.
Seperti rambut yang tumbuh.
Tidak terasa dari pagi ke malam.
Tetapi beberapa bulan kemudian baru kelihatan.
Begitu juga hidup.
Fokus pada Hal yang Masih Bisa Kamu Kendalikan
Kita tidak bisa mengendalikan kapan orang lain berhasil.
Tidak bisa mengatur kesempatan yang mereka dapat.
Tidak bisa mengulang masa lalu.
Tidak bisa membuat diri lahir dengan kondisi berbeda.
Tetapi kita masih mempunyai wilayah yang bisa disentuh.
Apa yang bisa dipelajari hari ini?
Siapa yang bisa dihubungi?
Kebiasaan apa yang perlu diperbaiki?
Berapa yang bisa ditabung?
Pekerjaan apa yang bisa diselesaikan?
Kesempatan apa yang bisa dicoba?
Kecil mungkin.
Tetapi nyata.
Perjalanan besar hampir selalu terdiri dari langkah yang ketika dilakukan terasa sangat biasa.
MAINDFULL: Berhenti Bertanya “Kenapa Aku Belum Seperti Mereka?”
Coba ganti pertanyaannya.
Bukan:
“Kenapa aku belum seperti dia?”
Tetapi:
“Kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin kubangun?”
Ini penting.
Karena kadang kita mengejar sesuatu bukan karena benar-benar menginginkannya.
Kita hanya melihat semua orang memilikinya.
Teman membeli rumah, kita merasa harus punya rumah.
Teman menikah, kita merasa harus menikah.
Teman membuka bisnis, kita merasa harus menjadi pengusaha.
Teman mempunyai banyak followers, kita merasa angka itu juga harus menjadi tujuan.
Padahal belum tentu.
Jangan sampai kita berlari sangat cepat...
menuju tujuan milik orang lain.
Kenali hidupmu sendiri.
Apa yang benar-benar penting?
Apa yang membuatmu merasa hidup?
Apa definisi cukup bagimu?
Apa jenis kehidupan yang ingin kamu bangun?
Tidak harus sama dengan siapa pun.
CLOSING: Kamu Tidak Tertinggal, Kamu Sedang Menjalani Jalanmu Sendiri
Kalau hari ini kamu melihat orang lain sudah sampai jauh sementara kamu masih berjuang dari bawah, aku tidak akan mengatakan:
“Tenang, nanti kamu pasti lebih sukses dari mereka.”
Tidak perlu.
Karena tujuan hidup bukan mengalahkan mereka.
Mungkin mereka memang akan lebih kaya.
Mungkin karier mereka lebih tinggi.
Mungkin perjalanan mereka lebih cepat.
Tidak apa-apa.
Kehidupan mereka bukan lawanmu.
Yang perlu kamu pastikan adalah kamu tidak berhenti membangun kehidupanmu hanya karena terlalu sibuk melihat kehidupan mereka.
Kalau hari ini baru bisa satu langkah, lakukan satu langkah.
Kalau harus memulai kembali, mulai.
Kalau perlu belajar sesuatu dari nol, belajar.
Tidak perlu malu menjadi pemula.
Tidak perlu malu karena belum punya apa yang orang lain punya.
Kita semua membawa cerita berbeda.
Ada manusia yang jalannya lurus.
Ada yang berbelok berkali-kali.
Ada yang harus berhenti.
Ada yang harus kembali.
Ada yang menemukan jalan baru setelah jalan lamanya benar-benar tertutup.
Dan mungkin kamu salah satunya.
Jangan buru-buru menyebut dirimu tertinggal.
Mungkin perjalananmu memang lebih panjang.
Mungkin medanmu berbeda.
Mungkin ada beban yang tidak dibawa orang lain.
Atau mungkin kamu memang pernah salah arah.
Kalau iya, ya sudah.
Kita belajar.
Kemudian jalan lagi.
Tidak perlu menghabiskan sisa kehidupan menghukum diri karena waktu yang sudah lewat.
Gunakan waktu yang masih ada.
Suatu hari nanti, ketika melihat kembali perjalanan ini, mungkin kamu akan menyadari sesuatu:
ternyata kamu tidak terlambat.
Kamu hanya sampai melalui jalan yang berbeda.
Jadi kalau hari ini dunia terasa berlari terlalu cepat, tarik napas sebentar.
Lihat jalanmu.
Kemudian tanyakan:
“Apa satu langkah yang bisa kulakukan hari ini?”
Lakukan itu.
Besok lakukan lagi.
Tidak perlu mengejar semua orang.
Tidak perlu membuktikan apa pun kepada mereka.
Karena pada akhirnya, perjuangan hidup bukan tentang siapa yang sampai paling dulu.
Tetapi tentang apakah ketika perjalanan ini selesai...
kita benar-benar sampai pada kehidupan yang memang ingin kita jalani.
Pelan-pelan.
Jangan panik.
Hidupmu bukan perlombaan dengan mereka.
— DJ BANGSA EAA



0Komentar