PulihSeketika.Com - Ada hari ketika kita bangun pagi dengan semangat yang luar biasa.
Rasanya semua bisa dikerjakan. Target terlihat jelas, pekerjaan terasa ringan, dan kita percaya kehidupan sedang bergerak menuju sesuatu yang lebih baik.
Tetapi ada juga pagi ketika membuka mata saja sudah terasa berat.
Belum bekerja, sudah lelah.
Belum membuka pesan, rasanya ingin mematikan ponsel.
Belum melihat tagihan, kepala sudah penuh.
Kemudian kita mulai menyalahkan diri sendiri.
“Kenapa aku jadi lemah begini?”
“Katanya mau berjuang?”
“Katanya punya mimpi besar?”
Padahal mungkin kita bukan kehilangan semangat.
Mungkin kita hanya kelelahan setelah terlalu lama berjuang.
Dan menurutku, ada satu hal yang perlu kita ingat dalam perjalanan hidup:
Capek tidak berarti kalah. Berhenti sebentar juga tidak selalu berarti menyerah.
Kadang justru orang yang ingin berjalan jauh harus belajar kapan waktunya berhenti untuk mengembalikan tenaga.
Mari kita ngobrol.
Kita Terlalu Sering Menganggap Orang Kuat Tidak Boleh Lelah
Entah sejak kapan kita terbiasa dengan kalimat seperti:
“Jangan menyerah!”
“Gas terus!”
“Kerja keras sampai berhasil!”
“Kalau orang lain bisa, kamu juga harus bisa!”
Kalimat-kalimat itu sebenarnya tidak salah. Dalam keadaan tertentu, kita memang membutuhkan dorongan.
Masalahnya muncul ketika semua persoalan kehidupan dijawab dengan satu kata:
semangat.
Sedih? Semangat.
Gagal? Semangat.
Capek? Semangat.
Bingung? Semangat.
Kadang aku membayangkan kalau tubuh bisa bicara, mungkin dia akan berkata:
“Aku bukan kurang semangat. Aku kurang tidur.”
Hehehe.
Manusia mempunyai batas.
Tubuh mempunyai batas. Pikiran mempunyai batas. Perhatian mempunyai batas. Bahkan kemampuan kita menghadapi tekanan juga mempunyai batas.
Mengakui batas bukan berarti lemah.
Justru itu bentuk kesadaran diri.
Ada perbedaan antara orang yang menyerah terhadap kehidupan dengan seseorang yang berkata:
“Aku masih ingin melanjutkan perjalanan ini, tetapi hari ini aku perlu berhenti sebentar.”
Mungkin Kamu Bukan Malas, Kamu Hanya Sudah Terlalu Lama Bertahan
Dari luar, malas dan lelah kadang terlihat sama.
Seseorang berbaring.
Tidak melakukan pekerjaan.
Tidak membalas pesan.
Tidak mempunyai semangat.
Kemudian dengan mudah orang berkata:
“Malas banget.”
Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dia bawa.
Ada orang yang lelah karena bekerja.
Ada yang lelah memikirkan uang.
Ada yang berbulan-bulan mencari pekerjaan dan terus mendapat penolakan.
Ada yang sedang membangun usaha tetapi hasilnya belum kelihatan.
Ada yang harus terlihat kuat karena banyak orang bergantung kepadanya.
Ada pula yang setiap hari tersenyum, bekerja seperti biasa, bercanda dengan teman, tetapi kepalanya tidak pernah benar-benar berhenti memikirkan masa depan.
Kelelahan tidak selalu terlihat seperti orang yang baru mengangkat benda berat.
Ada kelelahan yang tinggal di kepala.
Ada yang tinggal di hati.
Dan kadang kita sendiri baru menyadarinya ketika suatu pagi tubuh seperti berkata:
“Sudah. Aku nggak sanggup dipaksa terus.”
Kalau itu terjadi, jangan langsung membenci dirimu.
Coba tanyakan:
“Apa yang sebenarnya membuatku begitu lelah?”
Pertanyaan ini jauh lebih berguna daripada:
“Kenapa aku tidak sekuat orang lain?”
Istirahat Bukan Lawan dari Perjuangan
Ada orang yang merasa bersalah ketika beristirahat.
Tidur siang merasa bersalah.
Menonton film merasa bersalah.
Pergi bertemu teman merasa bersalah.
Bahkan ketika sedang libur, pikirannya masih berkata:
“Harusnya aku kerja.”
Akhirnya tubuh memang sedang duduk, tetapi pikirannya tetap berlari.
Menurutku itu bukan istirahat.
Itu bekerja sambil rebahan.
Hehehe.
Kalau kamu memutuskan beristirahat, berikan izin kepada dirimu untuk benar-benar beristirahat.
Satu malam tidur lebih cepat tidak akan menghapus seluruh kerja kerasmu.
Satu hari tidak produktif tidak otomatis membuatmu menjadi manusia malas.
Satu akhir pekan tanpa pekerjaan tidak membuat mimpimu hilang.
Kita perlu berhenti melihat istirahat sebagai hadiah yang baru boleh didapat setelah sukses.
Istirahat adalah bagian dari proses menuju ke sana.
Atlet beristirahat.
Musisi mempunyai jeda.
Mesin pun perlu perawatan.
Aneh kalau kita memahami bahwa semua itu membutuhkan pemulihan, tetapi berharap diri sendiri bisa terus berjalan tanpa berhenti.
Tetapi Bedakan Istirahat dengan Menghindar
Nah, ini juga penting.
Tidak semua berhenti adalah istirahat.
Kadang kita berkata:
“Aku butuh healing.”
Tetapi sebenarnya kita sedang menghindari sesuatu yang harus diselesaikan.
Istirahat membuat energi perlahan kembali.
Menghindar biasanya membuat masalah semakin besar.
Misalnya ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan. Kita menundanya satu hari untuk beristirahat karena memang sangat lelah.
Tidak masalah.
Tetapi kalau satu hari berubah menjadi berminggu-minggu karena kita takut membuka pekerjaan tersebut, mungkin persoalannya bukan lagi kebutuhan istirahat.
Ada sesuatu yang perlu dihadapi.
Kita perlu jujur kepada diri sendiri.
Tanyakan:
“Setelah melakukan ini, apakah aku merasa lebih pulih atau justru semakin berat?”
Tidur cukup mungkin membuat badan lebih segar.
Berjalan pagi bisa membuat kepala lebih ringan.
Mengobrol dengan orang yang dipercaya mungkin membantu.
Tetapi scrolling media sosial sampai jam tiga pagi sambil mengatakan sedang istirahat?
Besoknya mungkin tambah capek.
Hehehe.
Tidak semua aktivitas yang membuat kita berhenti bekerja adalah pemulihan.
Jangan Membuat Keputusan Besar Ketika Sedang Sangat Lelah
Ketika tubuh dan pikiran lelah, masa depan sering terlihat lebih buruk daripada sebenarnya.
“Aku tidak akan berhasil.”
“Percuma aku mencoba.”
“Hidupku akan begini terus.”
“Aku mau berhenti semuanya.”
Mungkin keputusan itu benar.
Tetapi jangan buru-buru.
Tidur dulu.
Makan.
Beristirahat.
Berikan waktu kepada pikiran untuk turun dari kondisi yang terlalu penuh.
Setelah lebih tenang, lihat kembali.
Mungkin kamu tetap memutuskan bahwa pekerjaan itu harus ditinggalkan.
Mungkin usaha perlu ditutup.
Mungkin strategi harus berubah.
Mungkin tujuan yang dahulu sangat penting sekarang memang sudah tidak sesuai.
Tidak masalah.
Berhenti setelah berpikir jernih berbeda dengan berhenti karena sedang kehabisan tenaga.
Kalimat:
“Aku tidak sanggup hari ini”
tidak selalu berarti:
“Aku tidak akan pernah sanggup.”
Hari ini dan selamanya adalah dua hal yang berbeda.
Kecilkan Hidup Ketika Semuanya Terasa Terlalu Berat
Salah satu alasan kita cepat lelah adalah karena mencoba memikirkan seluruh kehidupan sekaligus.
Pekerjaan.
Uang.
Keluarga.
Hubungan.
Kesehatan.
Utang.
Mimpi.
Masa depan.
Rumah.
Karier.
Semuanya dimasukkan ke kepala dalam satu malam.
Ya pusing.
Kalau kehidupan terasa terlalu besar, kecilkan dulu.
Jangan bertanya:
“Bagaimana caranya hidupku bisa sukses lima tahun lagi?”
Tanyakan:
“Apa yang bisa kulakukan bulan ini?”
Masih berat?
Kecilkan lagi.
“Apa yang perlu kulakukan minggu ini?”
Masih berat?
“Apa satu hal yang perlu kuselesaikan hari ini?”
Kadang perjuangan hidup bukan tentang melakukan langkah besar.
Kadang hanya tentang melakukan langkah berikutnya.
Hari ini kirim satu lamaran pekerjaan.
Hari ini hubungi satu calon pelanggan.
Hari ini selesaikan satu halaman.
Hari ini sisihkan sedikit uang.
Hari ini rapikan satu masalah.
Besok lanjut lagi.
Kita tidak harus menyelesaikan seluruh kehidupan pada hari Senin.
Kamu Tidak Harus Terlihat Kuat di Depan Semua Orang
Ada orang yang setiap ditanya:
“Gimana kabarnya?”
selalu menjawab:
“Aman.”
Padahal jauh dari aman.
Aku memahami kenapa.
Kadang kita tidak ingin membuat orang lain khawatir. Kadang malas menjelaskan. Kadang takut dianggap mengeluh.
Tetapi kalau memungkinkan, punya setidaknya satu orang yang kepadanya kita bisa berkata:
“Aku lagi capek banget.”
Tidak perlu solusi.
Tidak perlu ceramah.
Kadang cukup didengar.
Meminta ditemani tidak membuat kita kehilangan kemandirian.
Meminta bantuan tidak otomatis membuat kita lemah.
Justru manusia memang tidak dirancang untuk memikul seluruh kehidupan sendirian.
Dan kalau kelelahan sudah terasa berkepanjangan atau sangat mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari bantuan yang sesuai juga bukan sesuatu yang perlu dipermalukan.
Kadang perjuangan membutuhkan keberanian untuk berkata:
“Aku membutuhkan bantuan.”
Kekuatan Bukan Hanya Tentang Seberapa Lama Kamu Bisa Bertahan
Menurutku kita perlu memperluas definisi tentang orang kuat.
Orang kuat bukan hanya orang yang terus bekerja meskipun lelah.
Kekuatan juga bisa berbentuk:
“Aku perlu istirahat.”
“Aku tidak bisa mengambil pekerjaan tambahan.”
“Aku butuh bantuan.”
“Aku salah strategi.”
“Aku perlu mengubah arah.”
“Aku tidak sanggup melakukan semuanya sendirian.”
Itu juga keberanian.
Karena mempertahankan citra sebagai manusia kuat kadang jauh lebih mudah daripada mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja.
Ada orang yang begitu terbiasa menjadi tempat semua orang bersandar sampai lupa dirinya juga membutuhkan tempat bersandar.
Kalau kamu salah satunya, dengarkan ini:
Kamu tidak harus selalu menjadi orang yang paling kuat di ruangan.
Sesekali duduklah.
Jangan Bandingkan Cara Kamu Bertahan dengan Orang Lain
Ketika hidup sedang berat, media sosial bisa menjadi tempat yang kurang menyenangkan.
Kita sedang bingung memikirkan uang.
Orang lain upload rumah baru.
Kita sedang mencari pekerjaan.
Teman mengumumkan promosi.
Kita baru gagal.
Orang lain merayakan keberhasilan.
Kemudian muncul pikiran:
“Kenapa semua orang maju kecuali aku?”
Padahal kita hanya melihat bagian kehidupan yang mereka pilih untuk diperlihatkan.
Kita tidak melihat hari ketika mereka takut.
Tidak melihat penolakan.
Tidak melihat pertengkaran.
Tidak melihat malam tanpa tidur.
Jadi jangan membandingkan hari terberatmu dengan hari yang sengaja dipilih orang lain untuk dipamerkan.
Fokus kepada perjalananmu.
Hari ini mungkin bukan waktunya berlari.
Mungkin waktunya memulihkan tenaga.
Tidak apa-apa.
MINDFULL: Tanyakan Apa yang Sebenarnya Kamu Butuhkan Hari Ini
Sesekali berhenti dari pertanyaan:
“Apa yang harus kulakukan?”
Lalu ganti dengan:
“Apa yang sebenarnya kubutuhkan?”
Mungkin jawabannya sederhana.
Tidur.
Makan dengan benar.
Berjalan sebentar.
Menelepon seseorang.
Menangis.
Mematikan ponsel beberapa jam.
Membatalkan satu agenda.
Atau justru menyelesaikan satu pekerjaan yang terlalu lama ditunda supaya kepala terasa lebih ringan.
Dengarkan.
Tidak semua masalah membutuhkan solusi besar.
Kadang kehidupan menjadi sedikit lebih baik hanya karena kita kembali melakukan hal-hal dasar yang selama ini diabaikan.
Dan satu hal lagi:
Kamu tidak harus menjadi versi terbaik dirimu setiap hari.
Ada hari ketika kita luar biasa.
Ada hari biasa saja.
Ada hari berantakan.
Manusia memang begitu.
Tujuan hidup bukan menjadi manusia dengan performa 100 persen selama 365 hari.
Tujuannya adalah membangun kehidupan yang bisa kita jalani dalam waktu panjang tanpa terus-menerus menghancurkan diri sendiri.
CLOSING: Kalau Hari Ini Kamu Capek, Mungkin Kamu Tidak Membutuhkan Kalimat “Ayo Semangat”
Mungkin kamu sudah terlalu sering mendengarnya.
Semangat.
Jangan menyerah.
Ayo bangkit.
Kamu pasti bisa.
Semua kalimat itu baik.
Tetapi ada hari ketika seseorang tidak membutuhkan dorongan untuk berlari.
Dia membutuhkan izin untuk duduk.
Jadi kalau hari ini kamu benar-benar lelah...
duduklah.
Taruh sebentar beban yang selama ini kamu bawa.
Kalau ingin menangis, menangis.
Kalau ingin tidur lebih cepat, tidur.
Kalau hari ini kamu hanya mampu melakukan sedikit pekerjaan, lakukan sedikit.
Jangan menilai seluruh kekuatanmu dari satu hari ketika energimu sedang habis.
Lihat perjalananmu.
Berapa banyak hal yang sudah kamu lewati?
Berapa kali kamu pernah berpikir tidak sanggup tetapi akhirnya tetap sampai ke hari ini?
Mungkin kondisimu tidak sempurna.
Mungkin masih ada banyak masalah.
Tetapi kamu ada di sini.
Dan menurutku, seorang pejuang bukan manusia yang tidak pernah berhenti.
Seorang pejuang adalah manusia yang perlahan belajar:
kapan berjalan,
kapan berlari,
kapan mengubah arah,
dan kapan berhenti sebentar agar masih mempunyai tenaga untuk melanjutkan perjalanan.
Aku tidak ingin kamu menjadi kuat sampai lupa bagaimana menjadi manusia.
Tidak ada hadiah untuk orang yang paling pandai menyembunyikan kelelahan.
Tidak ada medali karena memaksakan diri sampai hancur.
Kalau kapasitasmu hari ini hanya 30 persen, lalu kamu memberikan 30 persen itu...
kamu sebenarnya sudah memberikan seluruh kemampuan yang kamu punya hari ini.
Besok mungkin energinya kembali.
Kalau belum?
Rawat lagi.
Pelan-pelan.
Kamu tidak sedang berlomba dengan siapa pun.
Dan sebelum tidur malam ini, mungkin kamu bisa mengatakan satu kalimat sederhana kepada dirimu sendiri:
“Aku tidak gagal. Aku hanya sedang lelah.”
Besok, kalau sudah sedikit lebih kuat, kita berdiri lagi.
Tidak perlu langsung berlari.
Jalan dulu.
Kalau belum sanggup berjalan jauh...
satu langkah.
Karena perjuangan hidup bukan tentang siapa yang tidak pernah berhenti.
Perjuangan hidup adalah tentang bagaimana kita tetap menjaga diri agar masih mempunyai kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.
Capek boleh.
Menangis boleh.
Istirahat boleh.
Tidak tahu harus bagaimana juga boleh.
Kamu tidak harus terlihat kuat setiap hari untuk membuktikan bahwa kamu sedang berjuang.
Kadang keberanian terbesar justru muncul ketika kita mampu berkata:
“Hari ini aku lelah. Aku akan merawat diriku dulu. Besok, kita coba lagi.”
Dan menurutku...
itu bukan menyerah.
Itu cara agar kita tidak benar-benar menyerah.
— DJ BANGSA EAA



0Komentar