PulihSeketika.Com - Pernah nggak kamu merasa sudah melakukan semuanya?
Bangun pagi.
Bekerja.
Mencoba.
Belajar.
Menghemat.
Mencari peluang.
Berdoa.
Gagal.
Mencoba lagi.
Gagal lagi.
Bangun lagi.
Tetapi ketika melihat kehidupanmu...
kok rasanya masih di sini-sini saja?
Saldo rekening belum banyak berubah.
Pekerjaan belum seperti yang diharapkan.
Usaha masih sepi.
Karya belum banyak dilihat.
Target belum tercapai.
Rumah yang diimpikan masih menjadi gambar di kepala.
Orang-orang yang dahulu memulai bersamaan denganmu mungkin sudah berjalan jauh.
Sementara kamu melihat dirimu sendiri dan bertanya:
“Kurang keras apa lagi aku berusaha?”
Menurutku ini salah satu fase kehidupan yang paling melelahkan.
Bukan ketika kita tidak berusaha.
Tetapi ketika kita sudah berusaha dan hasilnya belum kelihatan.
Kalau kita malas, mungkin kita masih bisa memarahi diri:
“Ayo bergerak.”
Tetapi bagaimana kalau kamu sudah bergerak?
Bagaimana kalau kakimu sudah lelah?
Bagaimana kalau sudah mencoba berkali-kali?
Bagaimana kalau sudah melakukan banyak hal yang katanya harus dilakukan...
tetapi hidup masih belum banyak berubah?
Di situlah kadang manusia mulai kehilangan sesuatu yang lebih berbahaya daripada uang.
Harapan.
Mari kita ngobrol.
KITA TERLALU SERING MENDENGAR CERITA PERJUANGAN SETELAH ORANGNYA BERHASIL
Ada pola yang menarik.
Ketika seseorang sudah sukses, perjalanan hidupnya menjadi cerita yang indah.
“Dahulu dia hanya mempunyai uang sekian.”
“Dahulu usahanya hampir bangkrut.”
“Dahulu lagunya ditolak.”
“Dahulu hidupnya susah.”
Kemudian...
BUM!
Berhasil.
Orang-orang bertepuk tangan.
Masalahnya, kita sering hanya melihat cerita perjuangan setelah mengetahui ending-nya.
Padahal ketika orang tersebut masih berada di tengah perjalanan...
dia mungkin juga tidak tahu apa yang akan terjadi.
Tidak ada musik latar.
Tidak ada narator yang berkata:
“Tenang, dua tahun lagi hidupmu berubah.”
Hehehe.
Yang ada hanya ketidakpastian.
KETIKA KITA MASIH BERJUANG, KITA TIDAK TAHU BAB BERIKUTNYA
Inilah bagian yang sulit.
Kita tidak tahu apakah usaha yang sedang dilakukan akan berhasil.
Kita tidak tahu kapan.
Kita tidak tahu lewat jalan mana.
Dan kadang...
kita bahkan tidak tahu apakah jalan yang sekarang sedang ditempuh adalah jalan yang tepat.
Makanya perjuangan terasa berat.
Kalau ada kalender yang mengatakan:
“Tanggal 17 Januari 2028 kamu berhasil.”
wah...
mungkin kita bisa santai.
“Ya sudah. Tinggal jalan.”
Tetapi kehidupan tidak memberikan jadwal seperti itu.
KERJA KERAS TIDAK SELALU MEMBERIKAN HASIL SECARA LANGSUNG
Ini mungkin bukan kalimat motivasi yang enak didengar.
Tetapi menurutku kita perlu jujur.
Kerja keras penting.
Sangat penting.
Tetapi kehidupan bukan mesin:
masukkan 10 kilogram usaha,
keluar 10 kilogram keberhasilan.
Tidak begitu.
Ada faktor waktu.
Kesempatan.
Strategi.
Kondisi ekonomi.
Lingkungan.
Koneksi.
Keahlian.
Keputusan.
Momentum.
Dan banyak hal lain yang tidak seluruhnya berada dalam kendali kita.
DUA ORANG BISA BEKERJA SAMA KERASNYA DAN MENDAPATKAN HASIL BERBEDA
Ini kenyataan.
Bukan berarti salah satunya lebih buruk.
Ada orang membuat usaha kemudian langsung ramai.
Ada yang tiga tahun masih berjuang mendapatkan pelanggan.
Ada orang mengunggah satu karya lalu viral.
Ada orang membuat ratusan karya tetapi belum banyak dikenal.
Ada yang melamar lima pekerjaan lalu diterima.
Ada yang mengirim puluhan lamaran dan belum mendapatkan kesempatan.
Kehidupan tidak selalu membagikan hasil dengan kecepatan yang sama.
JADI JANGAN TERLALU CEPAT MENJADIKAN HASIL SEBAGAI UKURAN NILAI DIRIMU
Ini yang berbahaya.
Usaha gagal.
Kemudian:
“Berarti aku bodoh.”
Belum mendapatkan pekerjaan.
“Berarti aku tidak berguna.”
Karya sepi.
“Berarti aku tidak berbakat.”
Pendapatan belum meningkat.
“Berarti aku gagal dalam hidup.”
Tunggu.
Ada perbedaan besar antara:
“Usahaku belum berhasil.”
dan:
“Aku adalah manusia gagal.”
Yang pertama menjelaskan situasi.
Yang kedua menghukum identitas.
HASIL ADALAH INFORMASI, BUKAN VONIS
Kalau sesuatu belum berhasil, kita perlu melihatnya.
Jangan denial.
Kalau bisnis rugi, lihat angka.
Kalau karya tidak berkembang, evaluasi.
Kalau strategi tidak bekerja, ubah.
Kalau keahlian kurang, belajar.
Mindfulness bukan berarti duduk lalu berkata:
“Semua akan indah pada waktunya.”
Kemudian tidak melakukan apa-apa.
Hehehe.
Kesadaran justru berani melihat kenyataan sebagaimana adanya.
KADANG MASALAHNYA BUKAN KURANG KERAS, TETAPI CARANYA PERLU BERUBAH
Ini penting.
Ketika hasil tidak datang, respons pertama kita sering:
“Aku harus bekerja lebih keras.”
Belum tentu.
Mungkin kamu memang perlu bekerja lebih keras.
Tetapi mungkin juga kamu perlu bekerja berbeda.
Bayangkan mendorong pintu yang seharusnya ditarik.
Sudah satu jam mendorong.
Keringatan.
Capek.
Kemudian berkata:
“Aku harus mendorong lebih keras!”
Tidak.
Coba tarik.
Hehehe.
JANGAN ROMANTISASI KERJA KERAS TANPA EVALUASI
Bekerja 16 jam sehari tidak otomatis lebih baik daripada bekerja delapan jam dengan strategi yang tepat.
Mengunggah seratus konten tidak otomatis berhasil kalau kita tidak pernah belajar dari data.
Membuka usaha bertahun-tahun tidak berarti kita tidak boleh mengubah model bisnis.
Perjuangan bukan hanya tentang ketahanan.
Perjuangan juga membutuhkan kemampuan belajar.
TANYAKAN: “APA YANG SEBENARNYA TIDAK BEKERJA?”
Bukan:
“Kenapa hidup membenciku?”
Tetapi:
Apa yang bisa diperbaiki?
Apakah produknya?
Strateginya?
Kemampuanku?
Pasarnya?
Cara komunikasinya?
Kebiasaanku?
Targetnya?
Atau mungkin memang membutuhkan waktu?
Pertanyaan yang tepat sering lebih berguna daripada menyalahkan diri.
ADA PROSES YANG HASILNYA MEMANG TIDAK LANGSUNG TERLIHAT
Bayangkan seseorang belajar keterampilan baru.
Minggu pertama mungkin belum menghasilkan apa-apa.
Bulan pertama juga.
Tetapi pengetahuannya bertambah.
Kemampuannya meningkat.
Jaringannya berkembang.
Kepercayaan dirinya perlahan terbentuk.
Dari luar terlihat:
“Belum ada hasil.”
Padahal di dalam sedang ada pembangunan.
KITA SERING HANYA MENGHITUNG HASIL YANG BISA DILIHAT
Uang.
Jabatan.
Followers.
Rumah.
Mobil.
Omzet.
Sertifikat.
Semua mudah diukur.
Tetapi bagaimana mengukur:
ketahanan?
pengalaman?
keberanian?
kemampuan mengambil keputusan?
kedisiplinan?
kedewasaan?
kemampuan bangkit?
Sulit.
Padahal itu juga hasil.
BUKAN BERARTI HASIL NYATA TIDAK PENTING
Tentu penting.
Kalau bekerja, kita butuh pendapatan.
Kalau bisnis, kita butuh keuntungan.
Kalau membuat proyek, kita ingin proyek selesai.
Jangan menggunakan kalimat motivasi untuk menghindari kenyataan.
Tetapi sambil mengejar hasil nyata, jangan menganggap proses yang belum menghasilkan angka besar sebagai sesuatu yang sama sekali kosong.
ADA HAL YANG SEDANG KAMU BANGUN MESKI BELUM BISA DIPAMERKAN
Mungkin hari ini belum ada rumah.
Tetapi kamu sedang belajar mengatur uang.
Belum ada perusahaan besar.
Tetapi kamu sedang belajar menghadapi pelanggan.
Belum ada jutaan penonton.
Tetapi kemampuanmu membuat karya sudah jauh lebih baik.
Belum mendapatkan pekerjaan impian.
Tetapi pengalamanmu terus bertambah.
Tidak semuanya bisa difoto untuk Instagram.
Tetapi tetap ada.
MASALAHNYA, KITA HIDUP DI ZAMAN YANG SANGAT SUKA HASIL
Buka media sosial.
Orang beli rumah.
Orang menikah.
Orang membuka bisnis.
Orang liburan.
Orang mendapat promosi.
Orang membeli mobil.
Orang mengumumkan pencapaian.
Jarang ada yang upload:
“Hari ini aku mencoba lagi dan masih belum berhasil.”
Hehehe.
Padahal mungkin itulah keseharian jutaan manusia.
KITA MELIHAT PANGGUNG ORANG LAIN, TETAPI MENJALANI DAPUR KITA SENDIRI
Kita melihat hasil mereka.
Tetapi kita merasakan seluruh proses kita.
Tentu terasa tidak adil.
Kita melihat foto mereka ketika berhasil.
Sementara kita melihat diri sendiri ketika bangun tidur, bingung memikirkan tagihan.
Perbandingannya memang tidak seimbang.
JANGAN MEMBANDINGKAN KECEPATAN PERJALANAN
Ada orang menemukan jalannya umur 20.
Ada umur 30.
Ada 40.
Ada 50.
Ada yang harus gagal beberapa kali sebelum memahami apa yang sebenarnya ingin dilakukan.
Tidak ada satu timeline universal.
Kita sering membuat batas sendiri:
“Umur segini harusnya sudah...”
Harus menurut siapa?
TETAPI JANGAN JUGA MENGGUNAKAN “SEMUA ORANG PUNYA WAKTUNYA” UNTUK BERHENTI BERGERAK
Ini juga penting.
Kalimat:
“Semua orang punya waktunya masing-masing.”
bukan izin untuk tidak melakukan apa-apa.
Tetap bergerak.
Tetap belajar.
Tetap mengevaluasi.
Tetap mencari peluang.
Tetapi lakukan tanpa terus menghina dirimu karena belum sampai.
ADA PERBEDAAN ANTARA BELUM SAMPAI DAN TIDAK BERGERAK
Kalau kamu memang tidak melakukan apa-apa...
ya mulai.
Tetapi kalau kamu sedang berjalan dan belum sampai...
jangan setiap lima menit memukul diri sendiri karena tujuan masih jauh.
Perjalanan memang membutuhkan waktu.
KADANG PERJUANGAN PALING BERAT ADALAH TETAP MELAKUKAN HAL KECIL
Tidak selalu perjuangan heroik.
Kadang perjuangan adalah:
bangun.
Mandi.
Berangkat kerja.
Menjawab email.
Membuka toko.
Membuat satu karya.
Mengirim satu lamaran.
Menyisihkan sedikit uang.
Belajar satu jam.
Tidur tepat waktu.
Besok ulangi.
Tidak dramatis.
Tetapi kehidupan sering dibangun dari hal seperti itu.
JANGAN REMEHKAN KONSISTENSI YANG MEMBOSANKAN
Kita suka momen besar.
Padahal banyak perubahan lahir dari rutinitas yang sangat tidak menarik.
Olahraga berkali-kali.
Menabung sedikit demi sedikit.
Belajar setiap hari.
Membuat karya terus-menerus.
Menghubungi pelanggan.
Membangun relasi.
Tidak viral.
Tidak ada tepuk tangan.
Tetapi perlahan sesuatu terbentuk.
KETIKA HASIL BELUM DATANG, JAGA AGAR HIDUP TIDAK HANYA BERISI PERJUANGAN
Ini penting sekali.
Ada orang berkata:
“Aku baru boleh bahagia setelah berhasil.”
Bahaya.
Karena kita tidak tahu berapa lama perjalanan ini.
Setahun?
Lima tahun?
Sepuluh?
Masa selama itu kamu tidak boleh menikmati hidup?
KAMU BOLEH TERTAWA MESKI MASALAH BELUM SELESAI
Boleh makan enak sesekali.
Boleh bertemu teman.
Boleh menikmati kopi.
Boleh nonton film.
Boleh melihat matahari sore.
Boleh tidur.
Boleh jatuh cinta.
Boleh tertawa.
Kebahagiaan kecil tidak berarti kamu tidak serius berjuang.
Kamu manusia.
Bukan mesin proyek.
ISTIRAHAT TIDAK MEMBATALKAN PERJUANGANMU
Kalau lelah...
istirahat.
Tidak harus selalu:
“Gas terus!”
Mesin saja kalau terlalu panas bisa rusak.
Apalagi manusia.
Hehehe.
Istirahat bukan berarti menyerah.
Kadang kita berhenti satu hari supaya tidak berhenti selamanya.
TETAPI BEDAKAN ISTIRAHAT DENGAN MENINGGALKAN DIRI
Istirahat mempunyai niat kembali.
Menyerah karena kelelahan kadang membuat kita tidak ingin melihat masalah sama sekali.
Kalau kamu sudah terlalu lelah, mungkin yang dibutuhkan bukan motivasi.
Mungkin kamu membutuhkan pemulihan.
Setelah energi kembali, baru evaluasi.
KAMU TIDAK HARUS MEMUTUSKAN MASA DEPAN SAAT SEDANG SANGAT LELAH
Ketika lelah, semuanya terlihat buruk.
“Aku nggak akan pernah berhasil.”
“Hidupku begini terus.”
“Percuma.”
Tunggu.
Tidur dulu.
Makan.
Istirahat.
Bicara dengan seseorang.
Besok lihat lagi.
Keputusan besar sebaiknya tidak selalu dibuat ketika tubuh dan pikiran sedang berada di titik paling rendah.
KALAU SATU JALAN TIDAK BERHASIL, KAMU BOLEH MENGUBAH ARAH
Mengubah strategi bukan berarti kalah.
Mengganti pekerjaan bukan berarti gagal.
Menutup bisnis yang tidak sehat bukan otomatis berarti tidak berbakat.
Meninggalkan proyek yang tidak lagi masuk akal bukan berarti lemah.
Kadang ketekunan berarti terus berjalan.
Kadang kebijaksanaan berarti tahu kapan harus berbelok.
JANGAN JATUH CINTA PADA CARA SAMPAI LUPA TUJUAN
Misalnya tujuanmu adalah mempunyai kehidupan finansial lebih baik.
Kamu membuka bisnis.
Bisnis adalah cara.
Kalau ternyata modelnya tidak bekerja, kamu boleh mengubahnya.
Tujuannya tetap.
Jangan merasa harga diri harus dipertaruhkan untuk mempertahankan satu cara.
GAGALNYA RENCANA TIDAK SELALU BERARTI GAGALNYA MASA DEPAN
Rencana A tidak berjalan.
Masih ada kemungkinan lain.
Bukan berarti kita harus memaksakan optimisme.
Tetapi satu pintu tertutup tidak memberikan cukup informasi untuk menyimpulkan bahwa seluruh bangunan terkunci.
Cari.
Lihat.
Belajar.
ADA MASA KETIKA YANG BISA KITA LAKUKAN HANYALAH BERTAHAN
Dan itu juga nyata.
Tidak semua orang sedang berada dalam fase ekspansi.
Ada yang sedang bertahan secara finansial.
Ada yang sedang mencari pekerjaan.
Ada yang sedang merawat keluarga.
Ada yang sedang memulihkan kehidupan setelah kehilangan.
Kalau saat ini targetmu hanya:
melewati bulan ini dengan baik...
tidak apa-apa.
TIDAK SEMUA MUSIM KEHIDUPAN ADALAH MUSIM PANEN
Ada masa menanam.
Ada masa merawat.
Ada masa menunggu.
Ada masa gagal panen.
Ada masa memulai lagi.
Dan ada masa menikmati hasil.
Masalahnya, kita ingin setiap bulan menjadi musim panen.
Tidak mungkin.
JANGAN MENGHUKUM DIRIMU KARENA SEDANG BERADA DI MUSIM YANG SULIT
Kesulitan tidak selalu berarti kamu salah jalan.
Tetapi kesulitan juga tidak otomatis berarti kamu berada di jalan benar.
Makanya evaluasi tetap penting.
Kita tidak perlu memuja penderitaan.
Sulit bukan bukti pasti bahwa sesuatu akan berhasil.
Ini penting.
JANGAN PERCAYA BAHWA SEMAKIN MENDERITA, SEMAKIN DEKAT DENGAN KESUKSESAN
Tidak selalu.
Kadang penderitaan hanya memberi tahu bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Strategi.
Lingkungan.
Batas.
Kebiasaan.
Cara bekerja.
Jangan romantisasi kehancuran.
Kamu tidak harus hancur untuk pantas berhasil.
KALAU SUDAH BERUSAHA LAMA, LAKUKAN AUDIT KECIL TERHADAP HIDUPMU
Tanyakan:
Apa yang sudah kulakukan?
Apa yang benar-benar menghasilkan kemajuan?
Apa yang hanya menghabiskan energi?
Apa yang perlu kupelajari?
Siapa yang bisa kutanya?
Apa yang perlu dihentikan?
Apa yang perlu dilakukan lebih konsisten?
Apakah targetku masih relevan?
Jujur.
Tidak perlu menyenangkan ego.
TERKADANG KITA MEMBUTUHKAN BANTUAN, BUKAN SEMANGAT
Ada masalah yang tidak selesai dengan:
“Ayo, kamu pasti bisa!”
Kadang kita membutuhkan informasi.
Mentor.
Teman diskusi.
Keahlian baru.
Bantuan profesional yang sesuai.
Jaringan.
Modal.
Kesempatan.
Atau sekadar seseorang yang membantu melihat masalah dari sudut berbeda.
Tidak semua perjuangan harus dilakukan sendirian.
MINTA BANTUAN BUKAN BERARTI KAMU TIDAK MANDIRI
Manusia maju karena saling membantu.
Kalau tidak tahu, tanya.
Kalau butuh belajar, belajar.
Kalau membutuhkan dukungan, cari.
Jangan terlalu sibuk terlihat kuat sampai menolak tangan yang sebenarnya bisa membantu.
JANGAN MENUNGGU MOTIVASI DATANG SETIAP HARI
Motivasi itu tamu.
Kadang datang.
Kadang tidak.
Kalau hidup hanya bergerak ketika semangat, banyak hal tidak selesai.
Buat sistem sederhana.
Jam kerja.
Target kecil.
Rutinitas.
Daftar prioritas.
Sesuatu yang tetap berjalan meskipun hari itu kamu tidak merasa seperti tokoh utama film motivasi.
Hehehe.
KECILKAN TARGET KETIKA HIDUP TERLALU BERAT
Kalau biasanya bisa melakukan sepuluh, mungkin hari ini lakukan tiga.
Kalau tidak bisa tiga, lakukan satu.
Yang penting jangan selalu menganggap:
sedikit = tidak berarti.
Satu halaman tetap halaman.
Sepuluh ribu rupiah yang ditabung tetap tabungan.
Satu lamaran tetap peluang.
Satu pelanggan tetap pelanggan.
Satu langkah tetap gerakan.
MINDFULNESS: JANGAN HIDUP TERUS-MENERUS DI MASA DEPAN
Orang yang sedang berjuang sering hidup dalam kalimat:
“Nanti kalau...”
Nanti kalau sukses.
Nanti kalau punya uang.
Nanti kalau usaha besar.
Nanti kalau punya rumah.
Nanti kalau semuanya selesai.
Baru hidup.
Padahal...
hari ini juga kehidupan.
KAMU SEDANG MENJALANI HIDUP, BUKAN HANYA MENUNGGU HIDUP DIMULAI
Ini yang sering aku pikirkan.
Kita menganggap perjuangan hanya sebagai lorong menuju kehidupan sebenarnya.
Padahal mungkin lorong itu berlangsung bertahun-tahun.
Jangan kehilangan semuanya hanya karena terlalu fokus pada ujung lorong.
Lihat sekeliling.
Ada orang yang mencintaimu.
Ada makanan yang masih bisa dinikmati.
Ada lagu.
Ada udara pagi.
Ada percakapan.
Ada kehidupan kecil yang sedang berlangsung.
SYUKUR BUKAN BERARTI BERHENTI MENGINGINKAN KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK
Kamu bisa bersyukur dan tetap ambisius.
Bisa berkata:
“Aku menghargai apa yang kupunya.”
dan:
“Aku masih ingin berkembang.”
Tidak bertentangan.
Kita tidak harus membenci kehidupan sekarang untuk mempunyai alasan memperbaikinya.
JANGAN MENUNGGU MENJADI “SUKSES” UNTUK MENGHARGAI DIRIMU
Karena definisi sukses bisa terus bergerak.
Dulu ingin gaji lima juta.
Sudah dapat, ingin sepuluh.
Dapat sepuluh, ingin dua puluh.
Dulu ingin seribu followers.
Dapat, ingin sepuluh ribu.
Kemudian seratus ribu.
Tidak pernah selesai.
Kalau penghargaan terhadap diri selalu menunggu target berikutnya, kapan kamu akan merasa cukup?
HARGAI USAHA, TETAPI TETAP EVALUASI HASIL
Keduanya harus bersama.
“Aku bangga karena aku sudah berusaha.”
Bagus.
Kemudian:
“Sekarang mari kita lihat apakah cara ini bekerja.”
Lebih bagus.
Kasih sayang kepada diri sendiri tidak menghilangkan tanggung jawab.
Justru membuat evaluasi bisa dilakukan tanpa menghancurkan diri.
MUNGKIN KAMU TIDAK STAGNASI. MUNGKIN KEMAJUANNYA BELUM TERLIHAT BESAR
Lihat satu tahun lalu.
Apa yang sekarang kamu tahu tetapi dahulu tidak?
Apa yang sekarang bisa kamu lakukan?
Apa yang sudah kamu lewati?
Siapa yang sudah kamu kenal?
Kesalahan apa yang tidak lagi kamu ulangi?
Kadang jarak baru terlihat ketika kita menoleh cukup jauh ke belakang.
TETAPI KALAU MEMANG TIDAK ADA KEMAJUAN, JANGAN TAKUT MENGAKUINYA
Ini juga bagian dari kesadaran.
Tidak perlu menghibur diri terus.
Kalau dua tahun melakukan sesuatu dan benar-benar tidak ada perkembangan, mungkin waktunya bertanya serius:
“Apa yang harus berubah?”
Bukan:
“Aku payah.”
Tetapi:
“Strategi apa yang perlu diubah?”
Sangat berbeda.
HIDUP TIDAK SELALU MEMBUTUHKAN KITA MENJADI LEBIH KUAT
Kadang yang dibutuhkan adalah menjadi lebih fleksibel.
Air tidak menang melawan batu karena lebih keras.
Ia menemukan jalan.
Begitu juga kita.
Tidak selalu tabrak tembok.
Kadang belok.
PERJUANGAN TIDAK HARUS TERLIHAT HEROIK
Mungkin hari ini kamu hanya pergi bekerja seperti biasa.
Tidak ada yang bertepuk tangan.
Tidak ada kamera.
Tidak ada kutipan motivasi.
Tetapi dari pekerjaan itu kamu membeli makanan.
Membayar listrik.
Membantu keluarga.
Menyimpan sedikit uang.
Itu perjuangan.
Dan menurutku itu layak dihormati.
CLOSING: KALAU HASILNYA BELUM TERLIHAT, JANGAN BURU-BURU MENGANGGAP SEMUA PERJUANGANMU SIA-SIA
Aku tidak tahu kapan hidupmu akan berubah.
Dan aku tidak ingin berbohong dengan mengatakan:
“Tenang, sebentar lagi pasti berhasil.”
Aku tidak tahu.
Kamu juga mungkin tidak tahu.
Tidak ada manusia yang benar-benar tahu.
Tetapi justru di situlah perjuangan menjadi sesuatu yang sangat manusiawi.
Kita berjalan tanpa mengetahui seluruh peta.
Kita mencoba.
Kadang benar.
Kadang salah.
Kadang maju.
Kadang mundur.
Kadang sangat percaya diri.
Besoknya bingung lagi.
Hehehe.
Begitulah.
Kalau hari ini kamu sudah berusaha keras tetapi hasilnya belum seperti yang diharapkan, jangan langsung membuat kesimpulan bahwa kamu gagal.
Berhenti sebentar.
Lihat perjalananmu.
Mungkin kamu memang perlu lebih sabar.
Mungkin perlu belajar sesuatu.
Mungkin strateginya perlu berubah.
Mungkin targetnya perlu disesuaikan.
Mungkin kamu membutuhkan bantuan.
Mungkin kamu membutuhkan istirahat.
Atau mungkin...
kamu sebenarnya sudah bergerak jauh, hanya saja terlalu sering melihat orang di depan sampai lupa menoleh ke belakang.
Apa pun itu, lihat dengan jujur.
Jangan membohongi diri dengan optimisme kosong.
Tetapi jangan juga menghancurkan diri dengan pesimisme.
Katakan:
“Ini kenyataanku hari ini.”
Belum sampai.
Belum berhasil seperti yang kuinginkan.
Masih ada masalah.
Masih ada tagihan.
Masih ada ketidakpastian.
Baik.
Sekarang:
apa satu langkah yang masih bisa kulakukan?
Bukan seratus langkah.
Satu dulu.
Kirim lamaran.
Buka laptop.
Hubungi pelanggan.
Belajar.
Menabung.
Membuat karya.
Istirahat.
Minta bantuan.
Mengubah strategi.
Satu langkah.
Besok satu lagi.
Karena kehidupan jarang berubah dalam satu adegan besar.
Sering kali kehidupan berubah melalui ribuan keputusan kecil yang ketika dijalani terasa biasa saja.
Dan mungkin suatu hari kamu akan menoleh ke belakang.
Lalu sadar:
“Oh... ternyata waktu itu aku tidak diam di tempat.”
“Aku sedang membangun.”
Mungkin lambat.
Mungkin berantakan.
Mungkin jalannya berputar-putar.
Tetapi kamu sedang membangun sesuatu.
Dan kalau ternyata jalan yang sedang kamu bangun memang salah?
Tidak apa-apa.
Belok.
Kamu tidak kehilangan seluruh perjalanan.
Pengalaman itu ikut bersamamu.
Aku ingin kamu mengingat satu hal:
hasil yang terlambat bukan otomatis berarti perjuanganmu sia-sia.
Tetapi perjuangan juga bukan alasan untuk terus menggunakan cara yang jelas-jelas tidak bekerja.
Tetap berharap.
Sekaligus tetap berpikir.
Tetap berjuang.
Sekaligus tetap mengevaluasi.
Tetap punya mimpi.
Sekaligus tetap hidup hari ini.
Dan kalau hari ini kamu lelah...
istirahatlah.
Kamu tidak harus menyelesaikan seluruh kehidupan malam ini.
Besok pagi, kalau masih diberi kesempatan...
kita coba lagi.
Bukan karena ada jaminan semuanya akan berhasil.
Tetapi karena selama masih ada sesuatu yang bisa dipelajari, diperbaiki, dicoba, atau diarahkan ulang...
ceritamu belum selesai.
Jadi jangan menulis kata GAGAL terlalu cepat pada sebuah kehidupan yang bahkan masih terus berjalan.
Mungkin hari ini kamu belum melihat hasilnya.
Tetapi setidaknya sebelum tidur nanti, kamu bisa bertanya kepada dirimu:
“Apakah hari ini aku sudah melakukan satu hal yang membuat kehidupanku sedikit lebih dekat dengan arah yang kuinginkan?”
Kalau jawabannya iya...
cukup.
Besok kita lanjutkan lagi.
Pelan-pelan.
— DJ BANGSA EAA



0Komentar