TSM7GfYpGUWoGUr7BUr0GSO9

ANAK MUDA CUMA JADI TARGET SUARA? Gen Z 2029 Seharusnya Mulai Menentukan Arah Partai, Bukan Sekadar Jadi Penonton!


PulihSeketika.Com
 - Gen Z jangan hanya menjadi target suara Pemilu 2029. OPINI POLITIK DJ BANGSA EAA membahas kaderisasi anak muda, representasi politik, partai, media sosial, caleg muda dan pentingnya memberi generasi baru ruang nyata dalam pengambilan keputusan.

Setiap Mau Pemilu, Tiba-Tiba Semua Ingat Anak Muda

Ada sesuatu yang selalu menarik menjelang pemilu.

Mendadak semua berbicara tentang anak muda.

Politisi masuk TikTok.

Podcast bermunculan.

Bahasanya dibuat santai.

Datang ke konser.

Ngopi bersama mahasiswa.

Konten dibuat lebih kekinian.

Istilah-istilah anak muda mulai digunakan.

Kemudian kita mendengar kalimat:

“Anak muda adalah masa depan Indonesia.”

Saya setuju.

Tetapi saya punya pertanyaan:

Kalau anak muda memang masa depan Indonesia, mengapa mereka sering baru dicari ketika suaranya dibutuhkan?

Jangan hanya ajak Gen Z berjoget dalam kampanye.

Ajak mereka duduk di meja tempat keputusan dibuat.

Jangan cuma meminta mereka menjadi relawan.

Berikan kesempatan menjadi pemimpin.

Jangan cuma bertanya:

“Kalian mau memilih siapa?”

Mulailah bertanya:

“Indonesia seperti apa yang ingin kalian bangun?”

Karena menuju Pemilu 2029, menurut saya sudah waktunya anak muda berhenti diperlakukan sekadar sebagai pasar suara.


Jumlah Pemilih Muda Memang Sangat Besar

Mari mulai dengan data.

Dalam fact sheet KPU mengenai Pemilu 2024, pemilih Gen Z tercatat sekitar 50,65 juta orang atau 24,94%, sementara generasi milenial sekitar 67,91 juta atau 33,44%.

Jika digabungkan, keduanya mencapai 58,38% dari pemilih.

Itu bukan angka kecil.

Lebih dari separuh.

Maka sangat masuk akal kalau partai politik ingin mendekati anak muda.

Tidak ada yang salah.

Yang saya pertanyakan adalah:

setelah mendapatkan suara mereka, lalu apa?

Apakah anak muda hanya menjadi angka dalam survei?

Atau benar-benar mendapatkan ruang di dalam proses politik?


Jangan Cuma Jadikan Anak Muda Tim Media Sosial

Ini yang menurut saya menarik.

Ketika partai berbicara tentang anak muda, sering kali yang terbayang adalah:

TikTok.

Instagram.

Podcast.

Desain konten.

Videografer.

Influencer.

Tim kreatif.

Padahal anak muda bisa lebih daripada itu.

Mereka bisa menjadi penyusun kebijakan.

Peneliti.

Pengurus partai.

Anggota legislatif.

Kepala daerah.

Menteri.

Bahkan suatu hari menjadi Presiden.

Jangan memberikan anak muda hanya password akun Instagram partai.

Berikan juga kesempatan ikut menentukan keputusan partai.

Itu jauh lebih penting.


Partai Politik Mulai Menyadari Perubahan Ini

Perubahan sebenarnya mulai terlihat.

Pada Agustus 2026, misalnya, pengurus Partai Golkar menyatakan pola kaderisasi perlu beradaptasi dengan perkembangan digital untuk menjangkau Gen Z dan milenial menuju Pemilu 2029.

Pendekatannya disebut perlu lebih fleksibel, komunikatif dan berbasis engagement, sekaligus memperluas ruang ekspresi politik generasi muda.

Saya melihat gagasan seperti ini menarik.

Dan tentu saya berharap bukan hanya Golkar.

Gerindra.

PDI Perjuangan.

Demokrat.

PKB.

PKS.

PAN.

NasDem.

PSI.

Dan seluruh partai lainnya.

Silakan berlomba.

Tetapi jangan berlomba hanya mendapatkan suara anak muda.

Berlombalah menghasilkan pemimpin muda berkualitas.


Anak Muda Jangan Hanya Diberi Kursi Dekorasi

Kadang organisasi mengatakan:

“Ini pengurus muda kami.”

Bagus.

Tetapi pertanyaan berikutnya:

punya kewenangan atau tidak?

Jangan sampai anak muda hanya dipasang di struktur supaya organisasi terlihat regeneratif.

Namanya ada.

Fotonya ada.

Jabatannya ada.

Tetapi ketika keputusan besar dibuat, tidak diajak bicara.

Itu bukan regenerasi.

Itu dekorasi.

Kalau memang percaya kepada anak muda, beri tanggung jawab.

Biarkan mereka membuat kesalahan.

Biarkan belajar.

Biarkan berdebat.

Biarkan membawa gagasan yang mungkin berbeda dengan generasi sebelumnya.


Tetapi Anak Muda Juga Jangan Minta Dipercaya Hanya karena Muda

Nah, sekarang saya balik.

Saya juga tidak setuju dengan anggapan:

“Karena saya muda, berarti saya pasti lebih baik.”

Tidak.

Usia muda bukan prestasi.

Sama seperti usia tua bukan kesalahan.

Indonesia membutuhkan kolaborasi antargenerasi.

Ada pengalaman dari generasi senior.

Ada energi dan perspektif baru dari generasi muda.

Keduanya bisa saling melengkapi.

Kalau anak muda ingin mendapatkan posisi politik, tunjukkan kapasitas.

Belajar.

Baca.

Pahami ekonomi.

Pahami hukum.

Pahami pemerintahan.

Pahami masyarakat.

Jangan cuma pintar membuat konten politik tetapi tidak memahami kebijakan publik.


Jangan Sampai Politik Anak Muda Cuma Politik Viral

Ini tantangan besar.

Karena generasi kita hidup dalam ekonomi perhatian.

Yang lucu viral.

Yang marah viral.

Yang kontroversial viral.

Yang dramatis viral.

Tetapi kebijakan negara sering kali tidak sesederhana video 30 detik.

APBN tidak bisa dijelaskan hanya dengan joget.

Masalah pendidikan tidak selesai dengan satu podcast.

Kemiskinan tidak selesai dengan satu slogan.

Lapangan pekerjaan tidak muncul karena hashtag.

Anak muda harus masuk politik membawa kemampuan berpikir panjang.

Bukan sekadar kemampuan menjadi viral.


Partai Harus Membuka Jalur Kaderisasi yang Nyata

Kalau partai benar-benar serius terhadap Gen Z, buat jalannya jelas.

Misalnya:

Bagaimana anak muda bisa bergabung?

Bagaimana pendidikan politiknya?

Bagaimana proses menjadi kader?

Bagaimana kesempatan mendapatkan tanggung jawab?

Bagaimana seseorang bisa menjadi caleg?

Apakah harus mempunyai uang besar?

Apakah harus mempunyai keluarga politik?

Apakah harus terkenal?

Atau orang biasa yang pintar dan mempunyai rekam jejak sosial juga bisa mendapatkan kesempatan?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting.

Karena kalau politik hanya bisa dimasuki orang yang sudah mempunyai modal, koneksi, atau nama keluarga, banyak anak muda berkualitas akan memilih menjauh.


Jangan Hanya Cari Anak Muda yang Punya Followers

Ini juga penting.

Partai mungkin tergoda mencari figur muda yang sudah mempunyai jutaan followers.

Saya mengerti alasannya.

Popularitas membantu.

Tetapi followers jangan menjadi satu-satunya ukuran.

Cari juga anak muda yang selama bertahun-tahun mendampingi petani.

Yang membangun UMKM.

Yang menjadi guru.

Yang meneliti teknologi.

Yang mengembangkan desa.

Yang membantu penyandang disabilitas.

Yang membangun komunitas.

Yang mungkin followers-nya cuma 2.000 tetapi pekerjaannya nyata.

Politik membutuhkan manusia seperti itu.


Anak Muda Jangan Cuma Mengkritik dari Timeline

Saya juga mau mengkritik generasi muda dengan cara yang positif.

Mudah sekali mengatakan:

“Politik itu kotor.”

Lalu selesai.

Kalau semua orang baik menjauh karena politik dianggap kotor, lalu siapa yang akan memperbaikinya?

Demokrasi membutuhkan orang baik masuk ke dalam sistem.

Tidak semuanya harus menjadi politisi.

Bisa menjadi pengawas pemilu.

Jurnalis.

Peneliti.

Aktivis.

Pegawai publik.

Relawan.

Atau sekadar pemilih yang mau membaca sebelum mencoblos.

Partisipasi politik jauh lebih luas daripada menjadi anggota partai.


Tahun 2029 Jangan Hanya Tanya “Capres Favorit Gen Z Siapa?”

Nanti menjelang Pilpres 2029 saya yakin pertanyaan ini akan muncul lagi:

“Siapa kandidat paling disukai Gen Z?”

Survei keluar.

Grafik dibuat.

Media membahas.

Tidak masalah.

Tetapi saya ingin ada pertanyaan lain:

Berapa banyak anak muda yang menjadi pembuat kebijakan?

Berapa yang menjadi caleg berkualitas?

Berapa yang duduk di struktur strategis partai?

Berapa yang dilibatkan menyusun program?

Berapa yang menjadi kepala daerah?

Berapa yang diberi kesempatan berdasarkan kemampuan, bukan sekadar nama belakang?

Nah.

Itu menurut saya jauh lebih menarik.


Jangan Remehkan Pemilih Muda

Ada anggapan anak muda gampang dipengaruhi konten.

Mungkin sebagian iya.

Tetapi jangan diremehkan.

Generasi muda juga mempunyai kemampuan mencari informasi dengan cepat.

Mereka bisa membandingkan pernyataan lama.

Mencari data.

Menonton ulang debat.

Memeriksa rekam jejak.

Mengkritik politisi secara terbuka.

Politisi yang mencoba berbicara seperti anak muda tetapi terasa dibuat-buat juga bisa langsung menjadi bahan candaan.

Karena itu jangan mencoba menjadi Gen Z untuk mendapatkan suara Gen Z.

Jadilah politisi yang mengerti persoalan mereka.

Pekerjaan.

Rumah.

Pendidikan.

Kesehatan.

Teknologi.

Lingkungan.

Transportasi.

Biaya hidup.

Masa depan.

Itu jauh lebih penting.


Senior Jangan Disingkirkan, Anak Muda Jangan Dipinggirkan

Saya tidak ingin politik berubah menjadi perang generasi.

Bukan begitu.

Kita tetap membutuhkan politisi senior.

Pengalaman mereka penting.

Mereka sudah melewati berbagai krisis.

Sudah memahami pemerintahan.

Sudah mempunyai pengalaman negosiasi.

Tetapi pengalaman itu seharusnya diwariskan.

Bukan dijadikan alasan menutup pintu.

Yang senior membimbing.

Yang muda membawa energi baru.

Kalau dua generasi ini bekerja bersama, politik Indonesia justru bisa semakin kuat.


CLOSING: Jangan Datang kepada Anak Muda Hanya Lima Tahun Sekali

Kepada partai politik Indonesia, saya mempunyai satu harapan sederhana menuju 2029.

Jangan hanya datang kepada anak muda ketika membutuhkan suara.

Datang sekarang.

Bukan membawa baliho.

Bawa ruang dialog.

Dengarkan keresahan mereka.

Ajarkan bagaimana politik bekerja.

Berikan ruang kaderisasi.

Berikan kesempatan.

Kalau mereka mempunyai gagasan bagus, dengarkan.

Kalau mereka mengkritik, jangan langsung dianggap tidak sopan.

Kalau mereka berbeda pendapat, jangan dimatikan.

Karena generasi muda bukan sekadar pemilih masa depan.

Mereka adalah pemimpin masa depan.

Dan kepada Gen Z sendiri, saya juga ingin mengatakan:

Jangan puas hanya menjadi rebutan kandidat.

Jangan bangga hanya karena politisi ingin mendapatkan suara kalian.

Naik kelas.

Pelajari politik.

Pelajari kebijakan.

Awasi pemerintah.

Awasi DPR.

Kritik dengan data.

Kalau tertarik, masuklah ke dalam sistem dan perbaiki dari dalam.

Tidak harus menjadi politisi.

Tetapi jangan menyerahkan seluruh keputusan mengenai masa depan kalian kepada orang lain.

Pada Pemilu 2029 nanti, mungkin akan ada jutaan anak muda datang ke TPS.

Tetapi saya berharap sebelum hari itu tiba, jauh lebih banyak anak muda sudah berada di ruang tempat gagasan Indonesia dibicarakan.

Di kampus.

Di desa.

Di komunitas.

Di ruang redaksi.

Di organisasi.

Di pemerintahan.

Di parlemen.

Dan juga di partai politik.

Karena saya tidak ingin generasi muda hanya mendapat pertanyaan:

“Suaramu untuk siapa?”

Saya ingin Indonesia mulai bertanya kepada mereka:

“Apa gagasanmu untuk negeri ini?”

Itulah perubahan yang menurut saya penting.

Jangan cuma jadikan Gen Z target suara 2029.

Berikan kesempatan kepada mereka menjadi bagian dari orang-orang yang menentukan ke mana Indonesia berjalan setelah 2029.

Salam Demokrasi.

Salam Indonesia.

DJ BANGSA EAA.

Catatan Redaksi

Tulisan ini merupakan OPINI POLITIK DJ BANGSA EAA mengenai partisipasi dan regenerasi politik generasi muda. Penyebutan partai politik tidak dimaksudkan sebagai dukungan atau penolakan terhadap partai tertentu. Data komposisi generasi merujuk pada Pemilu 2024 dan tidak dimaksudkan sebagai angka pasti komposisi Pemilu 2029, yang akan bergantung pada daftar pemilih pada saat itu.

0Komentar

https://www.pulihseketika.com/2026/08/10000-orang-rp10000-daftar-pendukung.html
https://www.pulihseketika.com/2026/08/10000-orang-rp10000-daftar-pendukung.html
© Copyright - PULIHSEKETIKA.COM - FRESH NEWS ENTERTAINMENT FOR YOU #waktunyapulih
Berhasil Ditambahkan

Tulis Apa Yang Ingin Kamu Cari Dan Tekan ENTER Untuk Mencari.