PulihSeketika.Com - Aku ingin mencintai seseorang sepenuh hati.
Bukan setengah-setengah.
Bukan sambil menghitung:
“Aku sudah memberikan berapa?”
“Dia membalas berapa?”
“Siapa yang lebih banyak berkorban?”
Capek sekali kalau cinta harus seperti laporan keuangan.
Hehehe.
Kalau memang mencintai seseorang, aku ingin mengatakan sayang ketika memang sayang.
Mengatakan rindu ketika rindu.
Menemaninya ketika membutuhkan.
Merayakan keberhasilannya.
Memegang tangannya ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.
Mendukung mimpinya.
Mengenal kekurangannya.
Belajar menerima perbedaan.
Dan kalau memungkinkan...
menua bersamanya.
Menurutku tidak ada yang salah dengan mencintai sedalam itu.
Tetapi semakin aku belajar tentang kehidupan, aku juga memahami satu hal:
Mencintai seseorang sepenuh hati tidak berarti memberikan seluruh dirimu sampai tidak ada lagi dirimu yang tersisa.
Karena ada bentuk cinta yang kelihatannya sangat besar...
tetapi perlahan membuat seseorang menghilang.
Mimpinya hilang.
Temannya hilang.
Suaranya hilang.
Pendapatnya hilang.
Keberaniannya hilang.
Batasnya hilang.
Kehidupannya mengecil.
Kemudian suatu hari dia melihat dirinya sendiri dan bertanya:
“Aku yang dulu ke mana?”
Itulah mengapa pada bagian terakhir seri ini aku ingin mengatakan sesuatu yang mungkin sederhana:
Cintailah dia sepenuh hati.
Tetapi sisakan dirimu...
untuk dirimu sendiri.
KITA SERING DIAJARKAN BAHWA CINTA TERBESAR ADALAH MEMBERIKAN SEGALANYA
“Aku akan memberikan semuanya untukmu.”
Romantis.
“Aku akan meninggalkan semuanya demi kamu.”
Lebih romantis lagi.
“Aku tidak membutuhkan siapa pun selain kamu.”
Wah.
Kalau di film biasanya langsung masuk musik.
Hehehe.
Tetapi kehidupan bukan film dua jam.
Kehidupan bisa berlangsung puluhan tahun.
Dan setelah adegan romantis selesai, besok pagi kita tetap harus bangun.
Bekerja.
Makan.
Membayar tagihan.
Menemui keluarga.
Mengurus kesehatan.
Menghadapi masalah.
Menjalani kehidupan.
Cinta harus mampu hidup di dalam kenyataan itu.
“SEPENUH HATI” TIDAK SAMA DENGAN “SELURUH HIDUP”
Ini mungkin inti artikel ini.
Aku bisa mencintaimu sepenuh hati...
tanpa menjadikanmu seluruh hidupku.
Aku bisa sangat memprioritaskanmu...
tanpa membuang semua orang lain.
Aku bisa membangun masa depan bersamamu...
tanpa membunuh seluruh mimpi pribadiku.
Aku bisa mendengarkan pendapatmu...
tanpa kehilangan pendapatku.
Aku bisa berkompromi...
tanpa kehilangan prinsip.
Aku bisa menjadi “kita”...
tanpa berhenti menjadi “aku.”
SEBELUM MENJADI PASANGAN SESEORANG, KAMU SUDAH MENJADI MANUSIA
Ini sering kita lupakan.
Sebelum mengenalnya, kamu sudah hidup.
Punya cerita.
Punya teman.
Punya makanan kesukaan.
Punya lagu yang membuatmu bahagia.
Punya tempat yang ingin dikunjungi.
Punya mimpi.
Punya ketakutan.
Punya cara melihat dunia.
Kemudian seseorang datang.
Indah.
Tetapi kedatangannya seharusnya menambahkan bab baru.
Bukan membakar seluruh bab sebelumnya.
CINTA BUKAN PROSES MENGGANTI IDENTITAS
Kamu tidak berubah dari:
“Aku”
menjadi:
“Pasangannya si anu.”
Kamu tetap kamu.
Hubungan adalah bagian dari identitas.
Bukan keseluruhan identitas.
Karena kalau seluruh identitas bergantung pada hubungan, ketika hubungan mengalami masalah kita bisa merasa seluruh diri ikut runtuh.
JANGAN BERHENTI MENGENALI DIRIMU SENDIRI
Sesekali tanyakan:
Apa yang kusukai sekarang?
Apa yang membuatku bahagia?
Apa yang ingin kupelajari?
Apa yang sedang kuimpikan?
Apa prinsip yang penting bagiku?
Apa yang membuatku merasa hidup?
Pertanyaan itu tidak hanya untuk orang single.
Orang yang sudah menikah bertahun-tahun pun tetap perlu bertanya.
Karena manusia berubah.
KAMU BOLEH BERUBAH DI DALAM HUBUNGAN
Tentu.
Hubungan memang mengubah kita.
Kita belajar sabar.
Belajar berbagi.
Belajar mendengar.
Belajar kompromi.
Belajar melihat perspektif orang lain.
Bagus.
Tetapi perubahan yang sehat berbeda dari penghapusan diri.
Perubahan berkata:
“Aku berkembang.”
Penghapusan diri berkata:
“Aku tidak lagi tahu siapa aku.”
KOMPROMI ITU PENTING, TETAPI JANGAN KOMPROMIKAN SEMUANYA
Ada hal kecil yang bisa dinegosiasikan.
Mau makan di mana.
Mau liburan ke mana.
Mau menonton film apa.
Mau warna sofa apa.
Silakan.
Bertengkar tiga hari hanya karena warna sofa rasanya terlalu melelahkan.
Hehehe.
Tetapi ada hal yang lebih mendasar.
Nilai hidup.
Harga diri.
Keselamatan.
Batas pribadi.
Mimpi penting.
Cara ingin diperlakukan.
Tidak semuanya harus dikorbankan hanya supaya hubungan tidak mengalami konflik.
CINTA TIDAK MEMBUTUHKANMU SELALU MENGATAKAN “IYA”
Kadang bentuk cinta justru:
“Tidak.”
“Aku tidak nyaman.”
“Aku tidak setuju.”
“Aku tidak bisa.”
“Aku butuh waktu.”
“Aku ingin membicarakannya lagi.”
Kalau sebuah hubungan hanya damai ketika satu orang selalu mengalah, itu bukan kedamaian.
Itu mungkin hanya konflik yang ditunda.
SUARAMU TETAP PENTING
Jangan berhenti berbicara hanya karena takut pasangan kecewa.
Kamu boleh mempunyai pendapat.
Pasangan juga boleh tidak setuju.
Dua manusia berbeda memang akan berbeda.
Tujuan hubungan bukan membuat dua kepala mempunyai satu pikiran.
Tujuannya belajar hidup bersama meski mempunyai dua pikiran.
JANGAN MENGECILKAN DIRI AGAR SESEORANG MERASA BESAR
Ini penting.
Jangan pura-pura tidak pintar.
Jangan menahan prestasi.
Jangan berhenti berkembang.
Jangan membuang kesempatan hanya supaya pasangan tidak merasa tertinggal.
Kalau pertumbuhanmu membuat pasangan tidak nyaman, bicarakan.
Tetapi jangan otomatis menyelesaikannya dengan mengecilkan dirimu.
PASANGAN YANG BERTUMBUH BUKAN ANCAMAN
Bayangkan hubungan ketika dua orang saling berkata:
“Aku ingin melihatmu menjadi versi dirimu yang semakin baik.”
Indah.
Keberhasilan pasangan tidak membuat kita lebih kecil.
Justru bisa menjadi sesuatu yang dirayakan bersama.
Hari ini kamu berkembang.
Besok aku.
Kita saling mengejar kehidupan yang lebih baik.
JANGAN MENINGGALKAN MIMPIMU DI DEPAN PINTU HUBUNGAN
Mungkin sebelum bertemu dia kamu ingin:
membangun usaha.
Menulis buku.
Kuliah lagi.
Membuat karya.
Bepergian.
Mempunyai rumah.
Belajar sesuatu.
Jangan otomatis menguburnya.
Mungkin bentuknya berubah.
Waktunya berubah.
Prioritas berubah.
Tetapi mimpi itu tetap layak diajak bicara.
MIMPI PRIBADI DAN MIMPI BERSAMA BISA HIDUP BERSAMA
Ada:
mimpiku.
Ada:
mimpimu.
Ada:
mimpi kita.
Ketiganya tidak harus saling membunuh.
Kita bisa mempunyai tujuan bersama sambil tetap mempunyai sesuatu yang ingin dicapai secara pribadi.
TETAP PUNYA TEMAN
Aku sudah mengatakan ini beberapa kali dalam seri ini karena menurutku penting.
Jangan menghilang setelah jatuh cinta.
Teman memberikan ruang yang berbeda.
Kita bisa tertawa tentang hal-hal yang mungkin pasangan tidak mengerti.
Mengingat masa lalu.
Berbicara tentang pekerjaan.
Hobi.
Kehidupan.
Pasangan tidak harus menjadi semua orang sekaligus.
TETAP PUNYA HUBUNGAN DENGAN KELUARGA YANG SEHAT
Tidak semua keluarga sempurna.
Tidak semua hubungan keluarga mudah.
Tetapi kalau hubungan keluargamu baik, rawat.
Jangan membuat cinta romantis menghapus bentuk cinta lain.
Hati manusia cukup luas.
TETAP PUNYA WAKTU SENDIRI
Ini salah satu hal favoritku dalam pembicaraan tentang hubungan.
Kamu boleh duduk sendiri.
Minum kopi sendiri.
Berjalan sendiri.
Mendengarkan musik sendiri.
Membaca sendiri.
Tidak harus karena sedang bertengkar.
Kadang hanya karena...
kamu menikmati menjadi teman bagi dirimu sendiri.
KEMAMPUAN MENIKMATI KESENDIRIAN MEMBUAT KEBERSAMAAN LEBIH BEBAS
Kalau kita tidak takut sendiri, kita tidak harus memegang pasangan terlalu erat.
Kita bisa mengatakan:
“Pergilah menikmati harimu.”
Tanpa panik.
Karena kita juga mempunyai hari.
Kemudian ketika bertemu lagi, ada cerita.
JANGAN TAKUT PASANGAN BAHAGIA TANPA KAMU
Ini terdengar aneh.
Tetapi penting.
Kalau dia tertawa bersama teman, bagus.
Kalau dia menikmati hobinya, bagus.
Kalau dia berhasil di pekerjaan, bagus.
Kalau dia menikmati satu hari sendirian, juga bagus.
Kebahagiaan pasangan tidak harus selalu mempunyai kita di tengahnya.
KAMU JUGA BOLEH BAHAGIA TANPA DIA
Pergi dengan teman.
Nonton.
Olahraga.
Makan.
Berkarya.
Tertawa.
Tidak perlu merasa bersalah.
Bahagia tanpa pasangan tidak berarti lebih bahagia tanpa pasangan.
Itu dua hal berbeda.
CINTA BUKAN TENTANG MEMILIKI SELURUH WAKTU SESEORANG
Kalau seseorang mencintai kita, bukan berarti semua waktunya menjadi milik kita.
Dia tetap mempunyai hidup.
Begitu pula kita.
Yang kita butuhkan bukan seluruh waktunya.
Kita membutuhkan waktu yang cukup, berkualitas, dan dijaga bersama.
JANGAN SERAHKAN SELURUH KETENANGANMU KEPADA PASANGAN
Kalau mood pasangan menentukan seluruh harimu, berhenti sebentar.
Dia ceria:
kamu tenang.
Dia diam:
kamu panik.
Dia sibuk:
kamu merasa ditinggalkan.
Dia tidak membalas:
dunia berhenti.
Coba ambil kembali sebagian kendali emosimu.
Pasangan penting.
Tetapi dia bukan remote control hidupmu.
KAMU BOLEH MEMBUTUHKANNYA
Sekali lagi:
mandiri bukan berarti dingin.
Kamu boleh berkata:
“Aku butuh kamu.”
Menurutku itu justru manusiawi.
Tetapi ada perbedaan antara:
“Aku butuh dukunganmu.”
dan:
“Aku tidak bisa menjadi manusia tanpa kamu.”
CINTA YANG DIPILIH LEBIH INDAH DARIPADA CINTA YANG DIPEGANG KETAKUTAN
Aku ingin seseorang bersamaku bukan karena dia takut sendirian.
Bukan karena merasa tidak mempunyai siapa-siapa.
Bukan karena hidupnya akan runtuh kalau pergi.
Aku ingin dia sebenarnya mampu berjalan sendiri...
tetapi melihatku dan berkata:
“Aku tetap ingin berjalan bersamamu.”
Menurutku itu romantis.
“AKU MEMILIHMU” MEMPUNYAI MAKNA YANG BESAR
Karena pilihan membutuhkan kebebasan.
Kalau seseorang tidak punya pilihan lain, kita tidak pernah tahu apakah dia benar-benar memilih.
Tetapi kalau dia mempunyai kehidupan.
Mempunyai kemampuan berdiri sendiri.
Mempunyai dunia.
Dan tetap pulang kepada kita...
ada sesuatu yang indah di sana.
JANGAN MENJADIKAN CINTA SEBAGAI PENJARA YANG INDAH
Penjara tetap penjara meski dihias bunga.
Hehehe.
Kalau hubungan penuh:
larangan,
pengawasan,
ketakutan,
kontrol,
dan kehilangan kebebasan menjadi diri sendiri...
jangan otomatis menyebut semuanya romantis.
Cinta membutuhkan batas.
Tetapi batas berbeda dari penjara.
KEPERCAYAAN MEMBERIKAN RUANG
Kita tidak akan pernah bisa mengawasi seseorang 24 jam.
Kalaupun bisa...
mau hidup begitu?
Capek.
Kepercayaan berarti memahami bahwa kita tidak mempunyai kontrol penuh atas manusia lain.
Dia tetap mempunyai pilihan.
Dan setiap hari kita berharap pilihan itu tetap menjaga hubungan.
KAMU TIDAK MEMILIKI PASANGANMU
Ini mungkin terdengar keras.
Tetapi menurutku justru indah.
Dia bukan barang.
Bukan properti.
Bukan kepemilikan.
Dia manusia bebas yang memilih mencintaimu.
Dan kamu juga manusia bebas yang memilih mencintainya.
Itulah yang membuat cinta mempunyai nilai.
JANGAN HILANGKAN BATAS HANYA KARENA SUDAH SANGAT DEKAT
Kedekatan tidak berarti semua batas menghilang.
Tetap ada privasi.
Waktu sendiri.
Pendapat.
Tubuh.
Pertemanan.
Ruang.
Batas bukan dinding untuk menjauhkan cinta.
Kadang batas justru pagar yang menjaga hubungan tetap sehat.
JANGAN MENGORBANKAN HARGA DIRI DEMI MEMPERTAHANKAN STATUS
Kadang yang kita pertahankan bukan lagi hubungan.
Tetapi status:
“Aku masih punya dia.”
Padahal di dalam hubungan kita tidak lagi merasa dihargai.
Jangan takut melihat kenyataan.
Mencintai seseorang tidak mewajibkan kita menerima semua perlakuan.
CINTA DAN HARGA DIRI BISA BERADA DI TEMPAT YANG SAMA
Kamu bisa berkata:
“Aku mencintaimu.”
dan sekaligus:
“Aku tidak bisa menerima perlakuan ini.”
Dua kalimat itu tidak bertentangan.
Kadang justru itulah bentuk cinta kepada diri sendiri.
KAMU TIDAK HARUS MENJADI ORANG LAIN AGAR TETAP DICINTAI
Tentu kita perlu memperbaiki kekurangan.
Kalau ada perilaku buruk, berubah.
Kalau komunikasi jelek, belajar.
Kalau ego terlalu tinggi, refleksi.
Tetapi berbeda dengan terus memainkan karakter yang bukan diri sendiri.
Kalau setiap hari kamu berpikir:
“Aku harus jadi siapa supaya dia tetap sayang?”
lama-lama melelahkan.
CINTA YANG BAIK MEMBERIKAN RUANG UNTUK MENJADI MANUSIA
Tidak sempurna.
Kadang menyebalkan.
Kadang salah.
Kadang lelah.
Kadang butuh sendiri.
Kadang tidak romantis.
Kadang rambut berantakan.
Hehehe.
Dan tetap bisa dicintai.
Bukan berarti semua perilaku boleh.
Tetapi kita tidak harus tampil sempurna setiap saat untuk merasa aman.
JANGAN MENCINTAI SAMPAI KAMU TIDAK PUNYA TEMPAT PULANG KEPADA DIRI SENDIRI
Ini kalimat yang ingin aku simpan.
Jangan mencintai sampai kamu tidak punya tempat pulang kepada diri sendiri.
Karena hubungan bisa berubah.
Kehidupan bisa berubah.
Orang bisa datang dan pergi.
Tetapi selama hidup, ada satu manusia yang akan terus berjalan bersamamu:
dirimu.
Rawat hubungan itu juga.
BELAJAR MENJADI TEMPAT AMAN UNTUK DIRIMU
Ketika gagal, jangan langsung menghina diri.
Ketika sedih, dengarkan.
Ketika lelah, istirahat.
Ketika salah, perbaiki.
Ketika takut, tenangkan.
Ketika berhasil, rayakan.
Jangan menunggu pasangan melakukan semuanya.
Kamu juga bisa menjadi seseorang yang baik bagi dirimu sendiri.
MINDFULNESS: SESekali TANYAKAN “AKU MASIH ADA NGGAK DI HUBUNGAN INI?”
Bukan secara fisik.
Tetapi:
Apakah pendapatku masih ada?
Apakah mimpiku masih ada?
Apakah temanku masih ada?
Apakah hobiku masih ada?
Apakah batas pribadiku masih ada?
Apakah aku masih berani mengatakan tidak?
Apakah aku masih mempunyai kehidupan yang terasa menjadi milikku?
Kalau jawabannya banyak yang hilang...
jangan langsung menyalahkan siapa pun.
Perhatikan dulu.
LALU TANYAKAN JUGA HAL YANG SAMA UNTUK PASANGANMU
Apakah dia masih boleh menjadi dirinya?
Apakah dia masih punya teman?
Hobi?
Mimpi?
Waktu sendiri?
Atau tanpa sadar kita menuntut seluruh dunianya?
Kesadaran harus dua arah.
Jangan hanya meminta kebebasan.
Berikan juga.
HUBUNGAN BUKAN TEMPAT DUA MANUSIA SALING MENELAN
Aku suka membayangkan hubungan sebagai dua pohon.
Bukan satu pohon memakan pohon lain.
Dua pohon mempunyai akar masing-masing.
Batang masing-masing.
Cabang masing-masing.
Tetapi tumbuh berdekatan.
Memberi teduh.
Kadang cabangnya bertemu.
Indah.
AKAR ITULAH DIRIMU
Nilai hidup.
Identitas.
Mimpi.
Hubungan sosial.
Kemampuan berdiri.
Kesadaran diri.
Semakin kuat akar, semakin kita tidak mudah tumbang hanya karena angin hubungan sedang kencang.
DAN “KITA” ADALAH SESUATU YANG DIBANGUN BERSAMA
Bukan aku menghilang ke dalam kamu.
Bukan kamu menghilang ke dalam aku.
Tetapi:
aku membawa diriku.
Kamu membawa dirimu.
Kemudian kita membangun sesuatu.
Ada kehidupan bersama tanpa menghapus kehidupan pribadi.
JANGAN MENUNGGU HUBUNGAN BERAKHIR UNTUK MENEMUKAN DIRIMU LAGI
Ini sering terjadi.
Setelah putus:
mulai olahraga.
Ketemu teman.
Kembali berkarya.
Traveling.
Belajar.
Mengejar mimpi.
Lalu berkata:
“Aku menemukan diriku lagi.”
Bagus.
Tetapi bukankah akan lebih indah kalau kita tidak perlu kehilangan diri sejak awal?
KAMU BOLEH MENEMUKAN DIRIMU SAAT MASIH MENCINTAI SESEORANG
Mulai sekarang.
Ambil kembali satu hal kecil.
Baca.
Menulis.
Musik.
Olahraga.
Temui teman.
Belajar.
Bekerja pada mimpi.
Bukan untuk menjauh dari pasangan.
Justru supaya kamu kembali menjadi manusia yang utuh di dalam hubungan.
PASANGANMU JUGA BERHAK MENDAPATKAN VERSI DIRIMU YANG HIDUP
Bukan seseorang yang seluruh hidupnya hanya menunggu.
“Kamu kapan pulang?”
“Kamu kapan balas?”
“Kapan kita ketemu?”
Punya kehidupan.
Punya cerita.
Ketika bertemu, kamu bisa berkata:
“Eh, hari ini aku mengalami sesuatu.”
Ada energi baru.
Ada kehidupan yang dibawa pulang ke hubungan.
DUA MANUSIA YANG UTUH BISA SALING BERBAGI, BUKAN SALING MENGISI KEKOSONGAN TANPA AKHIR
Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna dan “utuh” setiap saat.
Kita semua punya kekurangan.
Tetapi maksudku:
kita tetap mempunyai tanggung jawab atas kehidupan sendiri.
Pasangan membantu.
Bukan mengambil alih.
CINTA TIDAK HARUS MENJADI TEMPAT PELARIAN DARI DIRI SENDIRI
Kadang kita terlalu fokus pada hubungan karena tidak ingin menghadapi kehidupan pribadi.
Takut sepi.
Takut berpikir.
Takut melihat masalah sendiri.
Akhirnya pasangan menjadi distraksi.
Coba sesekali duduk dengan dirimu.
Kenali.
Mungkin ada sesuatu yang ingin didengar.
JANGAN TAKUT KALAU HUBUNGAN MENJADI LEBIH TENANG
Setelah bertahun-tahun, mungkin tidak selalu ada kupu-kupu.
Tidak selalu deg-degan.
Tidak selalu ingin menelepon enam jam.
Bagus.
Kamu punya pekerjaan.
Hehehe.
Cinta bisa berubah bentuk.
Dari ledakan menjadi kehangatan.
Dari mengejar menjadi berjalan bersama.
Dari selalu ingin dekat menjadi tahu bahwa jarak sebentar tidak mengancam apa pun.
CINTA DEWASA BUKAN CINTA YANG KEHILANGAN ROMANTISME
Tetap berkencan.
Tetap bercanda.
Tetap memuji.
Tetap menyentuh.
Tetap memberikan kejutan.
Tetap bilang rindu.
Tetapi semuanya tidak lagi lahir dari kepanikan.
Melainkan pilihan.
AKU TIDAK MENCINTAIMU KARENA HIDUPKU KOSONG
Ini mungkin kalimat yang paling ingin aku tinggalkan dari seluruh seri ini:
“Aku tidak mencintaimu karena hidupku kosong. Aku mencintaimu karena hidupku sudah menjadi milikku, dan aku memilih membaginya denganmu.”
Bagiku itu indah.
Aku punya kehidupan.
Kamu punya kehidupan.
Dan kita memilih berbagi.
Bukan saling mengambil.
CLOSING: CINTAILAH DIA SEPENUH HATI, TETAPI JANGAN HILANG DARI HIDUPMU SENDIRI
Kalau ada satu hal yang ingin kusampaikan dari sepuluh pembicaraan tentang CINTA YANG TIDAK MERUSAK HIDUP ini, mungkin hanya ini:
Jangan takut mencintai.
Aku tidak ingin setelah membaca semua ini kamu malah berpikir:
“Waduh, cinta berbahaya.”
Hehehe.
Tidak.
Jatuh cintalah.
Kalau memang ada manusia yang membuatmu bahagia, nikmati.
Tatap matanya.
Pegang tangannya.
Katakan rindu.
Katakan sayang.
Buat kenangan.
Pergi bersama.
Makan makanan sederhana.
Tertawa sampai lupa waktu.
Bertengkar kalau memang ada perbedaan.
Lalu belajar berdamai.
Bangun mimpi.
Buat rencana.
Kalau kehidupan mengizinkan, tumbuh tua bersama.
Cintailah.
Serius.
Tetapi ketika sedang mencintai seseorang...
sesekali lihat dirimu sendiri.
Pastikan kamu masih ada.
Jangan sampai suatu hari seseorang bertanya:
“Kamu suka apa?”
dan kamu hanya tahu apa yang pasanganmu suka.
Jangan sampai ditanya:
“Apa mimpimu?”
dan kamu hanya tahu mimpi hubungan.
Jangan sampai ditanya:
“Apa yang membuatmu bahagia?”
dan jawabannya hanya satu nama.
Bukan karena nama itu tidak penting.
Tetapi karena kehidupanmu terlalu luas untuk hanya mempunyai satu sumber cahaya.
Punya teman.
Punya keluarga.
Punya pekerjaan.
Punya mimpi.
Punya hobi.
Punya ruang sendiri.
Punya hubungan dengan dirimu.
Kemudian cintai seseorang dari tempat yang lebih utuh.
Bukan:
“Aku membutuhkanmu supaya hidupku mempunyai arti.”
Tetapi:
“Hidupku mempunyai arti, dan kehadiranmu membuat perjalanan ini semakin indah.”
Ada perbedaan besar.
Cinta tidak perlu mengambil seluruh kehidupan untuk membuktikan dirinya besar.
Bahkan mungkin cinta yang paling besar justru cinta yang berkata:
“Jadilah dirimu.”
“Pergilah mengejar mimpimu.”
“Temui temanmu.”
“Rawat keluargamu.”
“Istirahatlah.”
“Berkaryalah.”
“Bertumbuhlah.”
“Aku tidak ingin cintaku membuat duniamu semakin kecil.”
Bayangkan mempunyai seseorang yang berkata seperti itu.
Dan bayangkan kita juga mampu mengatakan hal yang sama kepadanya.
Bukankah indah?
Tidak ada yang dipenjara.
Tidak ada yang harus menghilang.
Tidak ada yang harus mengecil.
Dua manusia bebas.
Dua kehidupan.
Dua cerita.
Kemudian ada satu keputusan yang terus diperbarui:
“Aku masih memilih kamu.”
Hari ini.
Besok.
Dan semoga berkali-kali setelahnya.
Bukan karena tidak bisa hidup tanpa satu sama lain.
Tetapi karena kehidupan terasa lebih bermakna ketika dijalani bersama.
Aku bisa berjalan sendiri.
Kamu juga bisa.
Tetapi kalau boleh...
mari berjalan berdampingan.
Tidak perlu saling menarik.
Tidak perlu saling menggendong sepanjang perjalanan.
Tidak perlu membuat salah satu berhenti agar yang lain merasa aman.
Kalau aku berjalan terlalu cepat, panggil aku.
Kalau kamu lelah, kita istirahat.
Kalau jalan kita sesekali berbeda, kita bicarakan.
Tetapi selama kita masih mempunyai arah yang ingin dibangun bersama...
mari lanjutkan.
Dan kalau suatu hari kamu melihatku mulai kehilangan diriku karena terlalu sibuk mencintaimu...
ingatkan aku.
“Jangan hilang. Aku jatuh cinta kepadamu, bukan kepada seseorang yang menghapus dirinya demi aku.”
Menurutku...
itu salah satu kalimat cinta paling indah yang bisa diberikan seseorang.
Karena akhirnya kita memahami:
cinta bukan tentang dua manusia menjadi satu sampai salah satunya tidak lagi terlihat.
Cinta adalah dua manusia yang tetap terlihat jelas...
namun memilih berdiri berdampingan.
Jadi cintailah dia sepenuh hati.
Berikan kasih sayang.
Kesetiaan.
Waktu.
Perhatian.
Komitmen.
Tetapi sisakan sesuatu untuk dirimu.
Bukan sisa cinta.
Bukan setengah hati.
Melainkan ruang.
Ruang untuk bernapas.
Ruang untuk bertumbuh.
Ruang untuk bermimpi.
Ruang untuk menjadi manusia.
Ruang untuk tetap menjadi dirimu.
Karena orang yang benar-benar mencintaimu tidak membutuhkanmu menghilang agar cintanya terasa besar.
Dan kamu juga tidak perlu meminta seseorang menghilang untuk membuktikan bahwa dia mencintaimu.
Pada akhirnya, mungkin kalimat cinta yang paling sehat bukan:
“Aku tidak bisa hidup tanpamu.”
Tetapi:
“Aku bisa menjalani hidupku. Kamu bisa menjalani hidupmu. Dan dari begitu banyak kemungkinan jalan yang bisa kita pilih, aku tetap ingin menjalani sebagian besar perjalanan ini bersamamu.”
Dan kalau aku harus merangkum seluruh seri ini dalam satu kalimat...
mungkin inilah kalimatnya:
Cinta yang baik tidak mengambil hidupmu. Cinta yang baik membuatmu semakin berani menjalani hidup—dan memberikan seseorang yang dengan bahagia berjalan di sampingmu.
— DJ BANGSA EAA



0Komentar