Dari Wali Kota, Wakil Presiden, Lalu ke Mana?
Pak Gibran menuju Pilpres 2029, tetap menjadi wakil Pak Prabowo atau bersiap menjadi calon presiden? OPINI POLITIK DJ BANGSA EAA membahas peluang, tantangan, kinerja dan masa depan politik Pak Gibran secara positif dan berimbang.
Perjalanan politik Pak Gibran Rakabuming Raka termasuk salah satu perjalanan yang paling menarik dalam politik Indonesia modern.
Dalam waktu yang relatif singkat, Pak Gibran bergerak dari panggung politik daerah menuju pusat kekuasaan nasional.
Beliau pernah memimpin Kota Surakarta.
Kemudian masuk ke dalam kontestasi Pilpres 2024 sebagai calon wakil presiden mendampingi Pak Prabowo Subianto.
Pasangan Pak Prabowo dan Pak Gibran memenangkan Pilpres.
Kini Pak Gibran berada di posisi Wakil Presiden Republik Indonesia.
Lalu pertanyaan berikutnya mulai muncul:
Apa yang akan terjadi pada 2029?
Apakah Pak Gibran kembali mendampingi Pak Prabowo jika Pak Prabowo mencalonkan diri untuk periode kedua?
Apakah konstelasi politik justru membuka peluang Pak Gibran untuk mengambil langkah yang lebih besar?
Atau Pak Gibran memilih jalan politik berbeda yang hari ini belum kita perkirakan?
Jawaban paling aman sekaligus paling jujur adalah:
kita belum tahu.
Pilpres 2029 masih sekitar tiga tahun lagi. Politik Indonesia bisa berubah sangat cepat.
Yang menarik justru bukan menebak-nebak keputusan Pak Gibran.
Menurut saya, ada pertanyaan yang jauh lebih penting:
Apa yang harus Pak Gibran buktikan kepada rakyat sebelum membicarakan 2029?
Karena jabatan Wakil Presiden bukan sekadar batu loncatan politik.
Ini adalah amanah.
Dan dari amanah inilah masyarakat kelak memiliki dasar untuk menilai apakah Pak Gibran memang pantas mendapatkan kepercayaan politik yang lebih besar.
Pak Gibran Sekarang Bukan Lagi Sekadar “Putra Pak Jokowi”
Sulit membicarakan perjalanan Pak Gibran tanpa menyebut Pak Joko Widodo.
Pak Jokowi adalah ayah beliau.
Pak Jokowi juga merupakan Presiden Republik Indonesia ketujuh yang memimpin Indonesia selama dua periode.
Hubungan tersebut tentu tidak mungkin dihapus.
Tetapi semakin lama Pak Gibran berada dalam pemerintahan, semakin tidak tepat pula jika seluruh perjalanan politiknya hanya dibaca melalui sosok Pak Jokowi.
Pak Gibran sekarang memegang jabatan konstitusional sendiri.
Beliau adalah Wakil Presiden.
Dengan jabatan tersebut datang tanggung jawab.
Datang ekspektasi.
Datang kritik.
Dan datang pula kesempatan untuk menunjukkan kemampuan.
Maka menurut saya, cara paling adil menilai Pak Gibran menuju 2029 bukan dengan pertanyaan:
“Siapa ayahnya?”
Melainkan:
“Apa yang sudah dikerjakannya?”
Pak Gibran Memiliki Keuntungan yang Tidak Dimiliki Banyak Politisi Muda
Ada satu hal yang sulit dibantah.
Pak Gibran mendapatkan pengalaman pemerintahan nasional pada usia yang relatif muda.
Bayangkan nilai pengalaman tersebut.
Beliau dapat mengikuti dinamika pemerintahan dari jarak yang sangat dekat.
Beliau dapat melihat bagaimana keputusan tingkat nasional dibuat.
Bagaimana koordinasi kementerian berlangsung.
Bagaimana pemerintah pusat berhubungan dengan pemerintah daerah.
Bagaimana persoalan ekonomi nasional ditangani.
Bagaimana diplomasi dilakukan.
Bagaimana kebijakan sosial dirancang.
Bagaimana sebuah pemerintahan menghadapi kritik.
Pengalaman seperti ini tidak bisa diperoleh hanya dengan membaca buku politik.
Pak Gibran mendapat kesempatan untuk belajar langsung.
Pertanyaannya sekarang adalah:
seberapa jauh pengalaman tersebut akan digunakan untuk meningkatkan kualitas kepemimpinannya?
Jangan Buru-Buru Membicarakan Presiden Sebelum Melihat Kinerja Wakil Presiden
Menurut saya, ini prinsip yang penting.
Ketika seorang politisi sedang memegang jabatan, kita sebaiknya menilai pekerjaan yang sedang dilakukan sebelum membicarakan jabatan berikutnya.
Pak Gibran baru menjalani periode sebagai Wakil Presiden bersama Pak Prabowo.
Masih ada banyak waktu untuk bekerja.
Karena itu, pembicaraan mengenai Pilpres 2029 jangan sampai membuat tugas pemerintahan hari ini menjadi nomor dua.
Masyarakat tidak memilih pemimpin hanya agar mereka segera mempersiapkan pemilu berikutnya.
Rakyat memberikan mandat agar mereka bekerja.
Maka sebelum bertanya:
“Pak Gibran Capres 2029?”
Saya lebih tertarik bertanya:
“Apa kontribusi Pak Gibran sampai 2029?”
Pak Prabowo Masih Menjadi Faktor Terbesar dalam Masa Depan Politik Pak Gibran
Kita juga tidak bisa membicarakan Pak Gibran tanpa membicarakan Pak Prabowo Subianto.
Mengapa?
Karena Pak Prabowo masih mempunyai kesempatan konstitusional untuk maju kembali pada Pilpres 2029.
Partai Gerindra bahkan sudah meminta Pak Prabowo bersedia kembali menjadi calon presiden.
Artinya, skenario Pak Prabowo kembali bertarung pada 2029 sangat layak diperhitungkan.
Kalau itu terjadi, muncul pertanyaan:
Apakah Pak Gibran kembali menjadi pasangan Pak Prabowo?
Secara politik, skenario tersebut tentu mungkin.
Mereka sudah memenangkan Pilpres bersama.
Mereka sedang menjalankan pemerintahan bersama.
Jika hubungan politik keduanya tetap baik dan masyarakat menilai pemerintahan mereka positif, mempertahankan pasangan bisa menjadi salah satu pilihan.
Tetapi politik tidak pernah hanya memiliki satu jalan.
Bisa Saja Pak Prabowo Memilih Pasangan Lain
Ini juga harus kita buka sebagai kemungkinan.
Pada 2029, kebutuhan politik bisa berbeda.
Koalisi bisa berubah.
Konfigurasi partai berubah.
Kebutuhan elektoral berubah.
Muncul figur baru.
Maka sekalipun Pak Prabowo maju kembali, belum ada jaminan hari ini bahwa pasangan politiknya akan tetap sama.
Bukan berarti hubungan Pak Prabowo dan Pak Gibran bermasalah.
Ini hanya realitas politik.
Setiap pemilu mempunyai perhitungan sendiri.
Karena itulah Pak Gibran membutuhkan kekuatan politik yang tidak hanya bergantung pada posisinya sebagai pasangan Pak Prabowo.
Beliau harus mempunyai nilai politiknya sendiri.
Apakah Pak Gibran Bisa Menjadi Calon Presiden pada 2029?
Secara politik, pertanyaan tersebut tentu mulai dibicarakan.
Pak Gibran sudah menjadi Wakil Presiden.
Secara usia pada 2029, beliau masih termasuk generasi muda.
Beliau juga memiliki tingkat pengenalan publik yang tinggi.
Tetapi apakah itu berarti Pak Gibran otomatis akan menjadi calon presiden?
Tidak.
Untuk menjadi kandidat kuat, banyak hal harus terjadi terlebih dahulu.
Harus ada dukungan politik.
Harus ada kendaraan partai atau koalisi.
Harus ada penerimaan masyarakat.
Harus ada rekam jejak.
Dan tentu harus ada keputusan dari Pak Gibran sendiri.
Karena itu, menyebut Pak Gibran sebagai salah satu figur yang mungkin diperhitungkan pada 2029 masih masuk akal.
Tetapi menyebut beliau pasti menjadi capres jelas terlalu dini.
Pak Gibran Harus Membuktikan Bahwa Dirinya Bukan Sekadar Produk Momentum Politik
Ini mungkin menjadi tantangan terbesar Pak Gibran.
Kemenangan 2024 membawa beliau langsung menuju jabatan Wakil Presiden.
Namun dalam perjalanan menuju 2029, momentum masa lalu tidak cukup.
Masyarakat akan mempunyai waktu hampir lima tahun untuk melihat.
Apakah Pak Gibran berkembang?
Apakah pengalaman membuat beliau semakin matang?
Apakah beliau mampu menyelesaikan pekerjaan?
Apakah beliau mampu menghadapi persoalan?
Apakah beliau mampu mendengarkan kritik?
Inilah ujian sesungguhnya.
Politik bisa membawa seseorang mendapatkan jabatan.
Tetapi hanya kinerja yang dapat mempertahankan kepercayaan.
Tantangan Pertama: Membuktikan Kontribusi Nyata
Sebagian masyarakat mungkin bertanya:
Apa sebenarnya pekerjaan seorang Wakil Presiden?
Secara konstitusional, Wakil Presiden membantu Presiden dalam menjalankan pemerintahan dan menggantikan Presiden apabila Presiden berhalangan sesuai ketentuan.
Dalam praktiknya, Wakil Presiden juga dapat mendapatkan berbagai tugas dan bidang koordinasi.
Pak Gibran memiliki kesempatan untuk menjadikan posisi tersebut sangat produktif.
Beliau bisa membangun identitas kerja.
Misalnya fokus terhadap ekonomi digital.
Anak muda.
UMKM.
Pendidikan vokasi.
Pemerataan pembangunan.
Pelayanan publik.
Atau sektor lain yang menjadi tugas beliau.
Yang penting masyarakat dapat melihat:
“Oh, ini kontribusi Pak Gibran.”
Tantangan Kedua: Menjawab Harapan Generasi Muda
Pak Gibran sering ditempatkan sebagai representasi generasi politik yang lebih muda.
Tetapi menjadi muda tidak otomatis berarti mewakili anak muda.
Ini dua hal berbeda.
Anak muda Indonesia menghadapi persoalan nyata.
Sulit mendapatkan pekerjaan.
Harga rumah semakin tinggi.
Persaingan kerja semakin ketat.
Perubahan teknologi semakin cepat.
AI mulai mengubah pekerjaan.
Biaya pendidikan menjadi perhatian.
Kesehatan mental menjadi pembicaraan.
Gig economy berkembang.
Banyak anak muda ingin menjadi pengusaha tetapi terkendala modal.
Kalau Pak Gibran ingin benar-benar menjadi figur generasi muda, maka beliau harus membantu menjawab masalah-masalah tersebut.
Bukan sekadar tampil muda.
Generasi Muda Tidak Membutuhkan Simbol, Mereka Membutuhkan Kesempatan
Saya kira ini perlu digarisbawahi.
Anak muda tidak hanya membutuhkan pejabat muda.
Mereka membutuhkan kesempatan.
Kesempatan bekerja.
Kesempatan berusaha.
Kesempatan mendapatkan pendidikan.
Kesempatan memiliki rumah.
Kesempatan mengembangkan kreativitas.
Kesempatan mendapatkan akses teknologi.
Kesempatan memperbaiki kehidupan.
Kalau Pak Gibran mampu mendorong kebijakan yang membuka kesempatan tersebut, maka label “pemimpin muda” akan mempunyai makna.
Kalau tidak, usia hanya menjadi angka.
Tantangan Ketiga: Keluar dari Bayang-Bayang Pak Jokowi
Ini mungkin tidak mudah.
Setiap kali nama Pak Gibran disebut, nama Pak Jokowi sering ikut disebut.
Wajar.
Hubungan keluarga mereka sangat jelas.
Tetapi suatu hari Pak Gibran harus mempunyai cerita politiknya sendiri.
Pak Jokowi mempunyai cerita:
dari Solo menuju Jakarta lalu Istana.
Pak Gibran harus membangun cerita berbeda.
Tidak perlu meniru ayahnya.
Tidak perlu pula sengaja membuat diri berlawanan dengan ayahnya.
Cukup menjadi dirinya sendiri.
Karena jika Pak Gibran suatu hari ingin mendapatkan kepercayaan lebih besar, masyarakat harus bisa mengatakan:
“Saya memilih Pak Gibran karena Pak Gibran.”
Bukan hanya:
“Karena beliau putra Pak Jokowi.”
Pak Jokowi Bisa Membantu, tetapi Tidak Bisa Menggantikan Kinerja Pak Gibran
Pak Jokowi masih mempunyai jaringan relawan dan pengaruh politik yang cukup menarik untuk diamati menuju 2029.
Sebagian relawan bahkan sudah mulai membawa narasi mengenai Pak Gibran sebagai penerus.
Namun dukungan seorang ayah, sekalipun ayah tersebut mantan Presiden Republik Indonesia, tidak dapat menggantikan pekerjaan Pak Gibran sendiri.
Pak Jokowi bisa memberikan nasihat.
Pak Jokowi bisa memberikan dukungan.
Relawan Pak Jokowi bisa membantu.
Tetapi ketika masyarakat menilai seorang pejabat, masyarakat akhirnya akan bertanya:
“Apa hasil kerjanya?”
Tidak ada jalan pintas untuk pertanyaan tersebut.
Tantangan Keempat: Membangun Komunikasi yang Lebih Dalam
Pak Gibran dikenal memiliki gaya komunikasi yang relatif singkat.
Dalam beberapa situasi, gaya seperti itu bisa menjadi kelebihan.
Tidak bertele-tele.
Langsung.
Sederhana.
Namun jika suatu hari ingin menjadi pemimpin nasional di tingkat tertinggi, kemampuan menjelaskan gagasan besar akan menjadi sangat penting.
Presiden harus mampu menjelaskan ekonomi.
Menjelaskan kebijakan luar negeri.
Menjelaskan pertahanan.
Menjelaskan pendidikan.
Menjelaskan kebijakan fiskal.
Menjelaskan teknologi.
Menjelaskan keputusan sulit kepada masyarakat.
Karena itu, menurut saya perjalanan menuju 2029 juga merupakan kesempatan bagi Pak Gibran untuk menunjukkan kedalaman gagasannya.
Indonesia 2029 Akan Berbeda dengan Indonesia 2024
Ini juga harus diperhitungkan.
Isu yang memenangkan pemilu hari ini belum tentu memenangkan pemilu berikutnya.
Pada 2029, AI mungkin sudah jauh lebih besar dampaknya.
Kendaraan listrik semakin banyak.
Industri digital semakin maju.
Ketegangan geopolitik dunia bisa berubah.
Harga energi dapat berubah.
Pekerjaan tradisional bisa semakin terdampak otomatisasi.
Generasi pemilih baru masuk ke TPS.
Artinya calon pemimpin 2029 harus menawarkan jawaban untuk dunia 2029.
Bukan mengulang slogan 2024.
Pak Gibran, maupun kandidat lainnya, akan menghadapi tantangan yang sama.
Pak Gibran dan Keuntungan Berada di Pemerintahan
Menjadi Wakil Presiden memberikan satu keuntungan besar:
kesempatan membuktikan kemampuan melalui pekerjaan nyata.
Kandidat lain mungkin harus menjelaskan apa yang akan mereka lakukan.
Pak Gibran mempunyai kesempatan menunjukkan apa yang sudah dilakukan.
Jika pemerintahan Pak Prabowo-Pak Gibran berhasil meningkatkan ekonomi, membuka pekerjaan, menjaga stabilitas dan menjalankan program yang dirasakan masyarakat, Pak Gibran tentu bisa mendapatkan keuntungan politik.
Tetapi berlaku pula sebaliknya.
Karena berada dalam pemerintahan berarti ikut mendapatkan penilaian terhadap pemerintahan.
Keuntungan dan tanggung jawab berjalan bersama.
Jangan Semua Keberhasilan Diklaim, Jangan Semua Kekurangan Dilemparkan
Menurut saya, budaya politik kita harus semakin dewasa.
Jika sebuah pemerintahan berhasil, itu biasanya bukan pekerjaan satu orang.
Ada Presiden.
Wakil Presiden.
Menteri.
Pemerintah daerah.
ASN.
TNI.
Polri.
Dunia usaha.
Masyarakat.
Begitu juga ketika ada masalah.
Tidak selalu adil menyalahkan satu figur.
Maka penilaian terhadap Pak Gibran harus proporsional.
Lihat tugasnya.
Lihat kewenangannya.
Lihat kontribusinya.
Barulah kita menilai.
Bagaimana Jika Pak Gibran Tetap Menjadi Cawapres Pak Prabowo?
Ini bisa menjadi salah satu skenario paling realistis apabila Pak Prabowo maju kembali dan koalisi pemerintahan tetap solid.
Keuntungannya jelas.
Mereka sudah mempunyai pengalaman bekerja bersama.
Masyarakat sudah mengenal pasangan tersebut.
Tidak membutuhkan pengenalan ulang dari nol.
Tetapi mereka juga akan membawa seluruh rekam jejak pemerintahan 2024–2029.
Pemilu kemudian menjadi semacam evaluasi.
Apakah masyarakat ingin melanjutkan?
Itulah pertanyaannya.
Bagaimana Jika Pak Gibran Justru Maju sebagai Capres?
Skenario ini tentu akan jauh lebih menarik.
Pak Gibran harus menunjukkan bahwa dirinya siap berada di kursi nomor satu.
Standarnya otomatis menjadi jauh lebih tinggi.
Menjadi Wakil Presiden berbeda dengan menjadi Presiden.
Presiden mengambil keputusan akhir.
Presiden menjadi kepala pemerintahan.
Presiden menghadapi tekanan internasional.
Presiden memimpin kabinet.
Presiden bertanggung jawab atas arah negara.
Maka apabila suatu hari Pak Gibran benar-benar ingin maju sebagai capres, masyarakat akan berhak menguji kesiapan tersebut secara serius.
Siapa yang Bisa Mendampingi Pak Gibran?
Kalau skenario Pak Gibran menjadi capres terjadi, pertanyaan berikutnya tentu:
siapa calon wakil presidennya?
Di sinilah politik menjadi semakin menarik.
Bisa tokoh senior.
Bisa kepala daerah.
Bisa pemimpin partai.
Bisa figur profesional.
Bisa tokoh dengan basis masyarakat besar.
Tetapi membicarakan nama sekarang terlalu dini.
Karena konfigurasi 2029 belum terbentuk.
Lebih menarik melihat kualitas apa yang dibutuhkan.
Pak Gibran relatif muda.
Mungkin pasangan dengan pengalaman panjang dapat memberikan keseimbangan.
Atau justru pasangan dari generasi muda menciptakan simbol regenerasi total.
Semua tergantung situasi.
Partai Politik Akan Menjadi Faktor Penentu
Pak Gibran tidak bisa berjalan sendirian.
Pilpres membutuhkan dukungan politik.
Karena itu, hubungan Pak Gibran dengan partai-partai akan menjadi sangat penting.
Apakah koalisi Pak Prabowo tetap solid?
Bagaimana posisi Partai Gerindra?
Bagaimana Golkar?
PAN?
Demokrat?
PSI?
Dan partai-partai lain?
Bagaimana hubungan dengan PDI Perjuangan?
Bagaimana dengan partai yang hari ini berada di luar poros utama?
Tiga tahun bisa mengubah banyak hal.
PSI Bisa Menjadi Bagian Menarik dari Cerita Pak Gibran
Perkembangan PSI juga patut diamati.
Terlebih Pak Jokowi mempunyai hubungan politik yang semakin dekat dengan partai tersebut.
Namun apakah PSI nantinya akan menjadi kendaraan utama Pak Gibran?
Belum tentu.
Apakah hanya menjadi salah satu pendukung?
Mungkin.
Apakah konstelasinya berubah?
Sangat mungkin.
Yang jelas, apabila sebuah partai ingin mempunyai peran besar pada 2029, partai tersebut harus mendapatkan suara masyarakat.
Tidak cukup hanya mengandalkan figur.
Pak Gibran Juga Harus Mampu Diterima di Luar Basis Politik Keluarganya
Ini tantangan besar.
Seorang calon presiden harus mampu diterima oleh masyarakat yang sangat beragam.
Jawa.
Sumatera.
Kalimantan.
Sulawesi.
Bali.
Nusa Tenggara.
Maluku.
Papua.
Kota.
Desa.
Muslim.
Kristen.
Katolik.
Hindu.
Buddha.
Konghucu.
Berbagai suku.
Berbagai profesi.
Berbagai kelompok usia.
Presiden bukan pemimpin satu kelompok.
Pak Gibran harus menunjukkan kemampuan merangkul keberagaman tersebut apabila ingin mengambil peran nasional lebih besar.
Pilpres 2029 Tidak Akan Hanya Berisi Pak Gibran
Ini juga penting agar pembahasan tetap berimbang.
Ada banyak figur lain yang mungkin muncul.
Pak Prabowo masih bisa maju.
Pak Dedi Mulyadi mulai mendapatkan perhatian dalam sejumlah survei.
Pak Anies Baswedan masih memiliki basis politik.
Pak Ganjar Pranowo memiliki pengalaman Pilpres.
Pak Agus Harimurti Yudhoyono memiliki perjalanan politik yang panjang.
Ibu Puan Maharani mempunyai posisi penting dalam politik nasional.
Pak Mahfud MD masih dikenal masyarakat.
Dan mungkin muncul nama yang sekarang belum kita perhitungkan.
Jadi Pak Gibran bukan satu-satunya cerita 2029.
Beliau adalah salah satu cerita.
Jangan Menganggap Popularitas Media Sosial Sama dengan Elektabilitas
Pak Gibran sangat dikenal di media sosial.
Tetapi popularitas digital dan pilihan di TPS tidak selalu sama.
Orang bisa menonton konten seorang tokoh tanpa memilihnya.
Orang bisa mengkritik seorang tokoh tetapi kemudian memilihnya.
Orang bisa menyukai kontennya tetapi memilih kandidat lain.
Karena itu politik digital harus dibaca hati-hati.
Likes bukan suara.
Views bukan suara.
Followers bukan suara.
Yang menentukan tetap surat suara.
Namun Media Sosial Akan Menjadi Senjata Penting
Walaupun bukan jaminan kemenangan, kemampuan memahami media sosial adalah modal.
Dan di sinilah generasi Pak Gibran memiliki keuntungan.
Komunikasi politik sekarang berubah.
Dulu kampanye membutuhkan panggung besar.
Sekarang satu video dari pasar bisa ditonton jutaan orang.
Satu komentar bisa menjadi berita.
Satu potongan video bisa membentuk persepsi.
Tetapi ada tanggung jawab.
Pemimpin tidak boleh hanya pandai membuat konten.
Harus ada substansi di balik konten.
Pak Gibran Harus Siap Dikritik Lebih Keras Jika Ingin Naik Kelas
Semakin tinggi jabatan yang diinginkan, semakin besar pemeriksaan publik.
Ini normal.
Jika seseorang ingin menjadi presiden, masyarakat berhak mengetahui sebanyak mungkin tentang dirinya.
Rekam jejak.
Gagasan.
Kebijakan.
Kemampuan.
Sikap.
Integritas.
Kritik bukan selalu kebencian.
Kadang kritik justru diperlukan agar pemimpin menjadi lebih baik.
Maka Pak Gibran, seperti tokoh lainnya, perlu melihat kritik sebagai bagian dari demokrasi.
Pendukung Pak Gibran Juga Memiliki Tanggung Jawab
Ini sering dilupakan.
Pendukung yang baik bukan pendukung yang mengatakan pemimpinnya selalu benar.
Pendukung yang baik berani mengingatkan.
Kalau Pak Gibran melakukan sesuatu yang bagus, dukung.
Kalau ada yang perlu diperbaiki, sampaikan.
Begitu juga pendukung Pak Prabowo.
Pak Anies.
Pak Ganjar.
Pak Dedi.
Ibu Puan.
Pak AHY.
Dan semua tokoh politik.
Kita jangan menjadi penggemar politik.
Kita adalah warga negara.
Lawan Politik Bukan Musuh
Jika Pak Gibran suatu hari bertarung dalam Pilpres, siapapun lawannya bukan musuh.
Pak Anies bukan musuh.
Pak Ganjar bukan musuh.
Pak Dedi bukan musuh.
Ibu Puan bukan musuh.
Pak AHY bukan musuh.
Mereka adalah kompetitor dalam demokrasi.
Setelah pemilu, mereka tetap warga Indonesia.
Saya berharap budaya seperti ini semakin kuat pada 2029.
Pak Gibran Memiliki Waktu yang Sangat Berharga
Tiga tahun menuju 2029 bukan waktu yang singkat.
Tetapi juga tidak terlalu panjang.
Setiap tahun dapat digunakan untuk membangun rekam jejak.
Setiap kebijakan dapat menjadi catatan.
Setiap kunjungan kerja dapat menghasilkan manfaat.
Setiap tugas dapat menjadi pembuktian.
Pak Gibran sebenarnya tidak perlu terlalu sibuk membicarakan Pilpres.
Kerja saja.
Kalau hasilnya baik, masyarakat akan melihat.
Kalau masyarakat merasakan manfaatnya, popularitas akan datang dengan sendirinya.
Menurut saya, itulah kampanye terbaik.
Jangan Mengejar 2029 sampai Melupakan 2026
Ini pesan yang berlaku untuk semua politisi.
Kita sekarang masih berada pada 2026.
Masih banyak pekerjaan.
Ekonomi.
Lapangan kerja.
Pangan.
Pendidikan.
Kesehatan.
Perumahan.
Infrastruktur.
Lingkungan.
Korupsi.
Transformasi digital.
Ketahanan energi.
Masyarakat membutuhkan solusi sekarang.
Bukan hanya janji untuk 2029.
Jika Pak Gibran Berhasil, Biarkan Rakyat Memberikan Penghargaan
Demokrasi mempunyai mekanisme sederhana.
Kerjakan tugas.
Biarkan rakyat menilai.
Kalau Pak Gibran bekerja baik, masyarakat dapat memberikan kepercayaan.
Kalau masyarakat menilai masih perlu belajar, masyarakat juga mempunyai hak memilih orang lain.
Tidak perlu dipaksakan.
Tidak perlu dibuat seolah-olah satu tokoh adalah satu-satunya pilihan.
Indonesia memiliki banyak putra-putri terbaik.
Kalau Pak Gibran Belum Siap Menjadi Presiden, Tidak Ada yang Salah dengan Menunggu
Ini juga perlu dikatakan.
Politik bukan perlombaan siapa paling cepat menjadi presiden.
Pak Gibran masih relatif muda.
Kalau 2029 belum menjadi waktunya, masih ada masa depan.
Tidak ada kewajiban seorang Wakil Presiden otomatis menjadi calon Presiden pada pemilu berikutnya.
Kadang menunggu justru membuat seseorang semakin matang.
Pengalaman bertambah.
Pengetahuan bertambah.
Jaringan bertambah.
Kemampuan bertambah.
Jadi jangan membuat politik menjadi perlombaan terburu-buru.
Tetapi Kalau Memang Siap, Biarkan Demokrasi Mengujinya
Sebaliknya, kalau pada 2029 Pak Gibran merasa siap, mendapatkan dukungan politik dan memenuhi seluruh ketentuan, demokrasi menyediakan ruang.
Silakan maju.
Sampaikan gagasan.
Berkompetisi.
Berdebat.
Tawarkan program.
Kemudian biarkan rakyat menentukan.
Tidak perlu takut dengan kompetisi.
Demokrasi justru menjadi sehat ketika masyarakat mempunyai pilihan.
Pertanyaan Besarnya Bukan “Pak Gibran Capres atau Cawapres?”
Menurut saya, kita terlalu cepat membicarakan posisi.
Capres?
Cawapres?
Padahal pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
Pak Gibran akan menjadi pemimpin seperti apa?
Apakah mampu mendengar?
Apakah mampu bekerja dengan orang yang berbeda?
Apakah mampu menerima kritik?
Apakah memahami ekonomi?
Apakah memahami dunia internasional?
Apakah mempunyai keberanian mengambil keputusan?
Apakah mempunyai empati terhadap masyarakat kecil?
Apakah mampu membangun tim?
Ini jauh lebih penting daripada nomor kursi.
Politik Tidak Boleh Menjadi Urusan Dinasti Saja
Kita juga perlu membicarakan isu yang sering muncul secara terbuka.
Sebagian masyarakat melihat perjalanan Pak Gibran melalui perspektif politik keluarga atau dinasti.
Sebagian lainnya melihatnya sebagai hak setiap warga negara untuk mengikuti proses demokrasi.
Menurut saya, kita tidak perlu saling bermusuhan karena dua pandangan tersebut.
Biarkan masyarakat menilai.
Yang paling sehat adalah memperkuat sistem.
Pemilu harus kompetitif.
Aturan harus berlaku.
Masyarakat bebas memilih.
Kandidat harus diuji.
Kalau sistemnya sehat, siapapun nama keluarganya tetap harus mendapatkan mandat rakyat.
Nama Besar Bisa Membuka Pintu, tetapi Tidak Menjamin Orang Bertahan di Dalam
Pak Jokowi tentu memberikan modal pengenalan kepada Pak Gibran.
Itu realitas.
Tetapi nama besar hanya bisa membuka pintu.
Setelah masuk, seseorang harus menunjukkan kemampuannya sendiri.
Pada akhirnya Pak Gibran harus membangun warisannya sendiri.
Suatu hari masyarakat mungkin tidak lagi bertanya:
“Pak Gibran anak siapa?”
Tetapi:
“Apa yang pernah Pak Gibran lakukan untuk Indonesia?”
Jika pertanyaan itu dapat dijawab dengan prestasi, maka Pak Gibran sudah berhasil membangun identitas politiknya sendiri.
Closing: Jangan Tanya Pak Gibran Akan Jadi Apa pada 2029, Lihat Dulu Apa yang Ia Kerjakan Sampai 2029
Jadi apakah Pak Gibran akan menjadi calon presiden pada Pilpres 2029?
Belum ada kepastian.
Apakah beliau akan kembali menjadi calon wakil presiden mendampingi Pak Prabowo?
Belum ada kepastian.
Apakah Pak Gibran akan memilih jalan politik lainnya?
Masih mungkin.
Dan menurut saya, kita tidak perlu memaksakan jawaban hari ini.
Pak Gibran sedang mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada deklarasi Pilpres:
kesempatan membuktikan diri.
Beliau mempunyai waktu sebagai Wakil Presiden.
Gunakan waktu itu.
Bantu Pak Prabowo menjalankan pemerintahan.
Datangi masyarakat.
Dengarkan anak muda.
Dengarkan petani.
Dengarkan pekerja.
Dengarkan pengusaha.
Dengarkan guru.
Dengarkan mereka yang mengkritik.
Pelajari persoalan Indonesia sampai ke akar.
Bangun pengalaman.
Bangun kompetensi.
Bangun rekam jejak.
Karena kalau suatu hari Pak Gibran benar-benar berdiri sebagai calon Presiden Republik Indonesia, modal terbesarnya seharusnya bukan:
“Saya anak Pak Jokowi.”
Bukan pula:
“Saya pernah menjadi Wakil Presiden.”
Modal terbesarnya seharusnya adalah:
“Inilah yang sudah saya kerjakan untuk rakyat Indonesia.”
Kalimat seperti itu jauh lebih kuat.
Begitu pula kepada Pak Dedi, Pak Anies, Pak Ganjar, Pak AHY, Ibu Puan dan siapa pun yang mungkin mempunyai cita-cita memimpin Indonesia.
Jangan hanya tunjukkan baliho.
Tunjukkan pekerjaan.
Jangan hanya bangun popularitas.
Bangun kepercayaan.
Jangan hanya cari pendukung.
Cari solusi.
Karena Presiden Indonesia setelah 2029 akan menghadapi dunia yang semakin rumit.
AI.
Ekonomi global.
Persaingan industri.
Perubahan iklim.
Ketahanan pangan.
Energi.
Lapangan pekerjaan.
Pendidikan.
Dan mimpi Indonesia Emas 2045.
Kita membutuhkan pemimpin yang benar-benar siap.
Kalau orang itu kelak Pak Gibran, biarkan Pak Gibran membuktikannya.
Kalau orang itu ternyata tokoh lain, kita juga harus siap menerimanya.
Karena demokrasi bukan tentang memastikan orang yang kita sukai menjadi pemimpin.
Demokrasi adalah memberikan kesempatan kepada rakyat untuk memilih siapa yang paling mereka percaya.
Jadi Pak Gibran menuju 2029:
tetap menjadi wakil atau bersiap naik kelas?
Waktu akan menjawab.
Namun sebelum waktunya tiba, menurut saya ada satu jawaban yang jauh lebih penting:
bekerjalah sebaik mungkin hari ini.
Sebab 2029 mungkin ditentukan di TPS.
Tetapi kepercayaan rakyat menuju TPS dibangun sejak sekarang.
Salam Demokrasi.
Salam Indonesia.
DJ BANGSA EAA
Catatan Redaksi
Tulisan ini merupakan OPINI POLITIK DJ BANGSA EAA dan bukan bentuk dukungan ataupun penolakan terhadap Pak Gibran Rakabuming Raka, Pak Prabowo Subianto, Pak Joko Widodo maupun tokoh dan partai politik tertentu.
Pembahasan mengenai kemungkinan konfigurasi Pilpres 2029 bersifat analisis dan opini. Sampai saat ini belum ada dasar untuk menyatakan Pak Gibran pasti menjadi calon presiden ataupun calon wakil presiden pada Pilpres 2029.


0Komentar