PulihSeketika.Com - Pagi bangun.
Mandi.
Bekerja.
Membalas pesan.
Makan.
Bercanda.
Pulang.
Main ponsel.
Tidur.
Besok?
Ulangi.
Tidak ada tragedi besar.
Tidak sedang kehilangan seseorang.
Tidak sedang bangkrut.
Tidak sedang bertengkar dengan siapa-siapa.
Bahkan kalau orang melihat kehidupanmu dari luar, mungkin mereka berkata:
“Enak banget hidupmu.”
Kamu punya pekerjaan.
Punya tempat pulang.
Ada teman.
Ada keluarga.
Mungkin punya pasangan.
Masih bisa makan makanan yang disukai.
Sesekali nongkrong.
Sesekali tertawa.
Sesekali upload foto.
Semuanya terlihat...
baik-baik saja.
Tetapi suatu malam kamu berbaring.
Lampu kamar mati.
Ponsel diletakkan.
Suasana menjadi sunyi.
Dan tiba-tiba ada pertanyaan yang sulit dijelaskan:
“Kenapa aku merasa kosong, ya?”
Tidak sedih sekali.
Tetapi juga tidak benar-benar bahagia.
Tidak ingin menangis.
Tetapi rasanya seperti ada sesuatu yang hilang.
Masalahnya...
kamu sendiri tidak tahu apa.
Kalau pernah berada di titik seperti ini, mungkin kita perlu ngobrol.
Bukan tentang bagaimana menjadi bahagia setiap saat.
Tetapi tentang sesuatu yang sering kita abaikan karena terlalu sibuk menjalani kehidupan:
Apakah kita masih merasa hidup di dalam hidup yang sedang kita jalani?
KOSONG TIDAK SELALU BERARTI HIDUPMU BURUK
Ini yang pertama perlu kita pahami.
Kadang kita merasa bersalah karena merasa kosong.
“Aku kurang bersyukur apa, ya?”
Lalu melihat orang yang kehidupannya lebih sulit.
Akhirnya kita memarahi diri.
“Orang lain lebih susah.”
Benar.
Tetapi penderitaan orang lain tidak otomatis membuat perasaanmu menjadi tidak sah.
Kamu bisa bersyukur dan tetap merasa kehilangan arah.
Bisa mempunyai banyak hal dan tetap merasa ada sesuatu yang kurang.
Bisa mencintai keluarga tetapi tetap membutuhkan ruang memahami diri.
Dua hal bisa benar bersamaan.
Jadi jangan langsung menyimpulkan:
“Aku manusia nggak tahu bersyukur.”
Mungkin bukan itu.
Mungkin ada bagian dirimu yang sedang mencoba mengatakan sesuatu.
MUNGKIN KAMU SUDAH TERLALU LAMA HIDUP DENGAN MODE AUTOPILOT
Autopilot itu menarik.
Kita melakukan sesuatu tanpa benar-benar hadir.
Bangun karena alarm.
Bekerja karena jadwal.
Makan karena jam makan.
Pulang karena jam kerja selesai.
Tidur karena besok harus bangun.
Semua berjalan.
Efisien.
Tetapi kapan terakhir kali kamu bertanya:
“Aku sebenarnya sedang menuju ke mana?”
Banyak dari kita sangat sibuk menyelesaikan hari sampai lupa memeriksa kehidupan.
Kita tahu agenda besok.
Tetapi tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dicari.
KAMU BISA SANGAT SIBUK TANPA MERASA BENAR-BENAR HIDUP
Kesibukan memberikan sensasi bahwa sesuatu sedang terjadi.
Meeting.
Deadline.
Notifikasi.
Pesan.
Telepon.
Konten.
Pekerjaan.
Semua membuat kepala penuh.
Lalu ketika tiba-tiba tidak ada kegiatan...
kosong muncul.
Karena selama ini mungkin kesibukan bukan hanya aktivitas.
Ia juga menjadi cara supaya kita tidak perlu bertemu dengan diri sendiri.
Itulah mengapa sebagian orang merasa sangat tidak nyaman ketika tidak melakukan apa-apa.
Begitu sunyi datang, pikiran mulai bertanya:
“Sebenarnya aku bahagia nggak?”
Waduh.
Ambil ponsel lagi.
Hehehe.
KITA TERLALU MUDAH MENGISI KEHENINGAN
Coba perhatikan.
Antre lima menit.
Ponsel.
Makan sendirian.
Ponsel.
Naik kendaraan.
Earphone.
Sebelum tidur.
Ponsel.
Bangun tidur.
Ponsel lagi.
Bukan berarti teknologi buruk.
Aku juga menggunakan.
Tetapi kapan terakhir kali kita duduk sepuluh menit tanpa berusaha mengisi ruang?
Kadang kekosongan bukan datang karena kehidupan tidak mempunyai isi.
Kita hanya sudah terlalu lama tidak mendengarkan isi kepala sendiri.
MUNGKIN SELAMA INI KAMU MENJALANI KEHIDUPAN YANG “SEHARUSNYA”
Sekolah.
Kuliah.
Kerja.
Cari uang.
Menikah.
Punya rumah.
Punya kendaraan.
Punya anak.
Naik jabatan.
Semuanya bisa menjadi kehidupan yang sangat baik.
Kalau memang itu yang kamu inginkan.
Masalah muncul ketika kita tidak pernah bertanya apakah keinginan tersebut benar-benar milik kita.
Kita hanya mengikuti jalur.
Karena:
“Ya memang begitu hidup.”
Kata siapa?
ADA MIMPI YANG KITA KEJAR HANYA KARENA TERLIHAT BAGUS DI MATA ORANG
Pernah nggak mendapatkan sesuatu yang sangat diinginkan...
tetapi setelah mendapatkannya malah:
“Oh... cuma begini?”
Kita mengira setelah jabatan naik akan bahagia.
Naik.
Senang beberapa hari.
Normal lagi.
Beli barang yang lama diinginkan.
Senang.
Seminggu kemudian biasa.
Followers naik.
Senang.
Kemudian melihat orang yang followers-nya sepuluh kali lebih banyak.
Kejar lagi.
Tidak ada yang salah dengan pencapaian.
Tetapi pencapaian mempunyai keterbatasan.
Ia bisa memberi kepuasan.
Tidak selalu memberi makna.
“KALAU AKU SUDAH PUNYA INI, AKU AKAN BAHAGIA”
Kalimat yang berbahaya bukan karena selalu salah.
Tetapi karena kita sering memindahkan kehidupan ke masa depan.
“Nanti kalau sudah punya uang...”
“Nanti kalau sudah menikah...”
“Nanti kalau rumah sudah jadi...”
“Nanti kalau pekerjaan sudah bagus...”
Lalu tahun demi tahun berlalu dalam mode menunggu.
Kita tidak hidup.
Kita mempersiapkan hidup.
Sampai suatu hari sadar:
Lho, ini sebenarnya sudah hidup.
Tidak ada rehearsal.
MUNGKIN YANG HILANG BUKAN KEBAHAGIAAN, TETAPI MAKNA
Bahagia dan bermakna tidak selalu sama.
Makan enak bisa membuat bahagia.
Liburan menyenangkan.
Menonton film bisa menyenangkan.
Tetapi manusia juga membutuhkan sesuatu yang membuatnya merasa:
“Ada alasan kenapa aku melakukan semua ini.”
Makna bisa datang dari banyak tempat.
Keluarga.
Karya.
Persahabatan.
Spiritualitas.
Membesarkan anak.
Membantu orang.
Belajar.
Membangun sesuatu.
Merawat seseorang.
Mengejar pengetahuan.
Tidak harus besar.
Makna tidak selalu berarti:
“Aku harus mengubah dunia.”
Kadang merawat ibu yang mulai tua sudah sangat bermakna.
KAMU TIDAK HARUS MENEMUKAN “TUJUAN HIDUP” DALAM SATU MALAM
Tenang.
Jangan setelah membaca ini langsung duduk:
“TUJUAN HIDUPKU APA?!”
Hehehe.
Tidak harus begitu.
Kita terlalu sering menganggap tujuan hidup harus seperti satu kalimat besar.
Padahal makna bisa berubah.
Pada usia tertentu, makna mungkin belajar.
Kemudian bekerja.
Kemudian keluarga.
Kemudian karya.
Kemudian membantu orang.
Manusia berubah.
Jadi mungkin pertanyaannya bukan:
“Apa tujuan hidupku selamanya?”
Tetapi:
“Apa yang terasa penting bagiku pada fase hidup ini?”
KADANG KITA KEHILANGAN DIRI KARENA TERLALU LAMA MENJADI APA YANG DIBUTUHKAN ORANG LAIN
Menjadi anak yang baik.
Pasangan yang baik.
Orang tua yang baik.
Karyawan yang baik.
Teman yang baik.
Semua peran itu penting.
Tetapi di balik semua peran...
ada kamu.
Siapa kamu ketika tidak sedang menjadi apa-apa untuk siapa pun?
Pertanyaan ini mungkin sulit.
Karena sebagian orang sudah terlalu lama hidup melalui fungsi.
“Aku berguna kalau dibutuhkan.”
Lalu ketika tidak ada yang membutuhkan, muncul kekosongan.
KAPAN TERAKHIR KALI KAMU MELAKUKAN SESUATU HANYA KARENA KAMU MENYUKAINYA?
Bukan karena menghasilkan uang.
Bukan supaya produktif.
Bukan supaya bisa diunggah.
Bukan supaya orang kagum.
Hanya karena suka.
Menggambar.
Menyanyi.
Berkebun.
Memasak.
Jalan kaki.
Membaca.
Memancing.
Memotret.
Main gitar.
Duduk minum kopi sambil melihat orang lewat.
Kapan?
Kita tumbuh dewasa lalu mengubah hampir semua kegiatan menjadi proyek.
Hobi harus menghasilkan.
Konten harus perform.
Olahraga harus ada target.
Buku harus menambah skill.
Istirahat pun harus produktif.
Ya ampun.
Boleh nggak sesekali melakukan sesuatu cuma karena menyenangkan?
Boleh.
KOSONG BISA MUNCUL KETIKA KITA TERPUTUS DARI HUBUNGAN YANG NYATA
Kita mungkin berbicara dengan puluhan orang setiap hari.
Tetapi apakah ada seseorang yang benar-benar tahu keadaan kita?
Ada perbedaan antara:
terhubung
dan
terlihat terhubung.
Seratus chat belum tentu membuat seseorang merasa ditemani.
Ribuan followers belum tentu membuat seseorang merasa dikenal.
Kadang yang dibutuhkan hanya satu percakapan jujur:
“Sebenarnya akhir-akhir ini aku merasa aneh. Aku nggak tahu kenapa.”
Tidak harus ada solusi.
Kadang didengarkan sudah cukup.
JANGAN TERTIPU OLEH KERAMAIAN
Seseorang bisa berada di pesta dan kesepian.
Bisa punya pasangan tetapi merasa tidak dikenal.
Bisa mempunyai keluarga besar tetapi tidak punya tempat aman untuk bercerita.
Bisa terkenal tetapi merasa tidak ada yang mengenal manusia di balik citranya.
Keramaian bukan ukuran kedekatan.
Jumlah orang bukan ukuran koneksi.
DALAM PERCINTAAN, PASANGAN TIDAK BISA MENJADI SELURUH MAKNA HIDUPMU
Ini penting.
Cinta memang indah.
Tetapi kalau seluruh makna kehidupan ditempatkan pada satu manusia, hubungan mendapatkan beban yang terlalu besar.
Pasangan menjadi:
teman,
motivasi,
hiburan,
tujuan,
sumber harga diri,
sumber kebahagiaan,
seluruh dunia.
Lalu ketika dia sibuk...
dunia kosong.
Ketika hubungan bermasalah...
seluruh identitas runtuh.
Cintai seseorang.
Tetapi tetap miliki kehidupan.
KAMU BOLEH MENCINTAI ORANG LAIN TANPA MENINGGALKAN HUBUNGAN DENGAN DIRIMU
Tetap punya teman.
Mimpi.
Hobi.
Waktu sendiri.
Rasa ingin tahu.
Tujuan.
Karena pasangan seharusnya menjadi bagian dari kehidupan.
Bukan menggantikan seluruh kehidupan.
KADANG KITA TIDAK BUTUH LIBURAN, KITA BUTUH KEHIDUPAN YANG TIDAK TERUS-MENERUS INGIN KITA LIBURI
Ini kalimat yang perlu direnungkan.
Liburan bagus.
Healing boleh.
Pergi ke pantai.
Gunung.
Hotel.
Mana saja.
Tetapi kalau setiap Senin kamu merasa hidup kembali menjadi hukuman, mungkin yang perlu dilihat bukan hanya destinasi liburan berikutnya.
Mungkin struktur kehidupan sehari-hari perlu diperiksa.
Apa yang paling menguras?
Pekerjaan?
Hubungan?
Kurang tidur?
Tidak mempunyai ruang sendiri?
Terlalu banyak tuntutan?
Tidak ada aktivitas yang memberi energi?
Kadang kita tidak membutuhkan pelarian yang lebih jauh.
Kita membutuhkan perubahan yang lebih dekat.
MINDFULNESS: JANGAN LANGSUNG MENGUSIR RASA KOSONG
Ketika kosong datang, biasanya kita ingin cepat menghilangkannya.
Scroll.
Belanja.
Makan.
Pergi.
Cari teman.
Tidur.
Tidak selalu salah.
Tetapi sesekali coba duduk.
Tidak perlu melawan.
Tanyakan:
“Kalau rasa kosong ini bisa bicara, sebenarnya dia sedang meminta apa?”
Istirahat?
Koneksi?
Perubahan?
Kreativitas?
Kejujuran?
Kesendirian?
Petualangan?
Tujuan?
Tidak harus langsung tahu.
Cukup dengarkan.
COBA BUAT DAFTAR: APA YANG MEMBUATKU MERASA LEBIH HIDUP?
Bukan bahagia.
Lebih hidup.
Ada perbedaan.
Kapan waktu terasa cepat karena kamu benar-benar menikmati sesuatu?
Dengan siapa kamu bisa menjadi diri sendiri?
Aktivitas apa yang membuatmu lupa memeriksa ponsel?
Topik apa yang membuat matamu berbinar ketika dibicarakan?
Kapan terakhir kali kamu merasa bangga bukan karena dipuji, tetapi karena merasa melakukan sesuatu yang penting?
Jawaban kecil bisa menjadi petunjuk.
JANGAN MEREMEHKAN KESENANGAN KECIL
Makna tidak selalu ditemukan dalam keputusan besar.
Kadang kehidupan kembali terasa hidup melalui:
kopi pagi,
matahari,
jalan kaki,
lagu lama,
memasak bersama keluarga,
mengobrol dengan teman,
memberi makan kucing,
menyiram tanaman,
menulis sesuatu,
menolong seseorang.
Kita sering mencari pengalaman luar biasa sampai lupa bahwa kehidupan sebagian besar terdiri dari hal biasa.
Kalau tidak belajar hadir di hal biasa, kita akan menghabiskan hidup menunggu sesuatu yang luar biasa terjadi.
KURANGI PERTANYAAN “APA YANG HARUS KUCAPAI?” DAN TAMBAHKAN “APA YANG INGIN KUALAMI?”
Kita sangat terbiasa dengan target.
Umur 25 harus ini.
30 harus itu.
35 sudah punya ini.
Bagaimana kalau sesekali pertanyaannya berubah?
Aku ingin mengalami apa?
Aku ingin melihat tempat apa?
Ingin belajar apa?
Ingin mempunyai percakapan seperti apa?
Ingin menjadi teman seperti apa?
Ingin dikenang keluarga sebagai manusia seperti apa?
Hidup bukan hanya CV.
ADA HAL YANG TIDAK BISA DIUKUR TETAPI SANGAT BERHARGA
Ketenangan.
Kedekatan.
Kepercayaan.
Rasa aman.
Rasa ingin tahu.
Keberanian.
Kebaikan.
Kebebasan menjadi diri sendiri.
Tidak semuanya bisa dimasukkan spreadsheet.
Tetapi justru hal-hal seperti itu sering menentukan apakah kehidupan terasa penuh atau kosong.
BERHENTI MENJADIKAN PRODUKTIVITAS SEBAGAI UKURAN NILAI DIRI
Kamu bukan mesin.
Ada hari produktif.
Ada hari lambat.
Ada hari berhasil.
Ada hari hanya bisa bertahan.
Nilaimu tidak turun hanya karena hari ini tidak menghasilkan banyak.
Istirahat bukan kegagalan.
Diam bukan kemunduran.
Tidak semua menit harus menghasilkan sesuatu.
KAMU MUNGKIN BUTUH PERUBAHAN, TETAPI JANGAN LANGSUNG MENGHANCURKAN SEMUA
Ketika merasa kosong, kadang muncul dorongan:
“Aku mau resign.”
“Aku mau pindah kota.”
“Aku mau putus.”
“Aku mau mulai hidup baru.”
Mungkin memang ada perubahan yang dibutuhkan.
Tetapi jangan selalu mengambil keputusan besar dari emosi yang belum dipahami.
Mulai dengan observasi.
Apa yang sebenarnya tidak bekerja?
Apa yang masih baik?
Apa yang bisa diubah sedikit?
Kadang perubahan kecil yang konsisten jauh lebih berguna daripada ledakan keputusan besar.
BUAT RUANG KECIL UNTUK DIRIMU KEMBALI
Tidak perlu sebulan di gunung.
Mulai satu jam.
Tanpa pekerjaan.
Tanpa tuntutan.
Tanpa harus membuat sesuatu.
Jalan.
Duduk.
Menulis.
Mendengarkan musik.
Berpikir.
Biarkan dirimu kembali mempunyai suara.
Karena kalau setiap menit diisi suara dunia, bagaimana kita bisa mendengar diri?
DAN KALAU RASA KOSONG TERUS BERAT, JANGAN HARUS MENGHADAPINYA SENDIRIAN
Ada kalanya perasaan kosong berlangsung lama, sangat berat, atau mulai mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan, dan kemampuan menjalani keseharian.
Tidak perlu memaksakan semuanya diselesaikan sendiri.
Berbicara dengan orang yang dipercaya atau mencari bantuan profesional adalah pilihan yang wajar.
Mindfulness bukan berarti semua persoalan harus selesai hanya dengan duduk diam dan bernapas.
Kadang bentuk kesadaran yang paling penting justru:
“Aku sedang membutuhkan bantuan.”
CLOSING: KAMU BENAR-BENAR MENJALANI HIDUP, ATAU CUMA MENYELESAIKAN HARI?
Mungkin kehidupanmu memang baik-baik saja.
Dan semoga memang demikian.
Tetapi baik-baik saja belum tentu sama dengan merasa hidup.
Kita bisa mempunyai pekerjaan tetapi kehilangan rasa ingin tahu.
Punya pasangan tetapi kehilangan diri.
Punya banyak teman tetapi kehilangan percakapan yang jujur.
Punya uang tetapi kehilangan waktu.
Punya jadwal penuh tetapi kehilangan makna.
Punya semuanya yang katanya harus dimiliki...
tetapi suatu malam masih bertanya:
“Terus sebenarnya aku hidup untuk apa?”
Tidak perlu takut dengan pertanyaan itu.
Mungkin justru pertanyaan tersebut adalah undangan.
Undangan untuk kembali.
Bukan kembali ke masa lalu.
Tetapi kembali kepada diri sendiri.
Kepada manusia yang dahulu punya hal-hal kecil yang membuat matanya berbinar.
Kepada rasa penasaran.
Kepada mimpi yang mungkin lama ditaruh.
Kepada hubungan yang benar-benar berarti.
Kepada kehidupan yang tidak hanya terlihat bagus, tetapi terasa benar ketika dijalani.
Besok pagi mungkin kamu tetap harus bekerja.
Tetap ada tagihan.
Tetap ada tanggung jawab.
Tulisan ini tidak akan membuat semua masalah menghilang.
Tetapi mungkin besok ada satu perubahan kecil.
Kamu minum kopi tanpa ponsel selama sepuluh menit.
Menghubungi teman lama bukan karena membutuhkan sesuatu.
Pulang lewat jalan berbeda.
Membuka gitar yang sudah berdebu.
Membaca buku.
Memasak makanan kesukaan.
Berjalan sore.
Mengatakan tidak pada sesuatu yang tidak lagi penting.
Mengatakan iya pada sesuatu yang selama ini diam-diam kamu rindukan.
Hal kecil.
Tetapi kehidupan memang sebagian besar dibangun dari hal kecil.
Jangan menunggu hidup berubah secara dramatis untuk mulai merasa hidup.
Mungkin yang dibutuhkan bukan kehidupan baru.
Mungkin kamu hanya perlu hadir kembali di kehidupan yang sudah ada, lalu dengan jujur memperbaiki bagian-bagian yang memang sudah tidak cocok dengan dirimu.
Dan ada satu pertanyaan yang menurutku menarik untuk kita bawa pulang.
Bayangkan besok pagi kamu bangun.
Tidak ada tuntutan untuk membuat siapa pun bangga.
Tidak perlu membuktikan apa-apa.
Tidak perlu terlihat sukses.
Tidak perlu memenuhi standar siapa pun.
Tidak perlu membuat konten tentangnya.
Tidak ada yang memberikan tepuk tangan.
Hanya kamu dan kehidupanmu.
Kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin kamu jalani?
Jangan buru-buru menjawab.
Mungkin jawabannya sudah lama ada.
Hanya selama ini terlalu banyak suara lain sehingga kamu tidak bisa mendengarnya.
Karena terkadang yang membuat manusia merasa kosong bukan karena dia tidak mempunyai apa-apa.
Tetapi karena dia mempunyai begitu banyak hal...
kecuali hubungan yang jujur dengan dirinya sendiri.
Jadi kalau malam ini terasa kosong, jangan langsung menganggapnya musuh.
Duduk sebentar.
Dengarkan.
Siapa tahu kekosongan itu bukan sedang mengatakan:
“Hidupmu tidak berarti.”
Mungkin dia justru sedang berbisik:
“Ada bagian dari dirimu yang sudah terlalu lama tidak kamu kunjungi.”
Pulanglah ke sana.
Pelan-pelan.
— DJ BANGSA EAA



0Komentar