PulihSeketika.Com - Ada satu pemikiran tentang cinta yang menurutku perlu kita pertanyakan:
Semakin sakit sebuah hubungan, semakin besar cintanya.
Entah sejak kapan kita mulai mempercayai itu.
Cinta yang penuh tangisan dianggap dalam.
Cemburu berlebihan dianggap tanda sayang.
Bertengkar hebat kemudian berpelukan dianggap romantis.
Putus.
Balikan.
Putus lagi.
Balikan lagi.
Kemudian orang berkata:
“Mereka sebenarnya saling cinta banget.”
Mungkin.
Tetapi...
kenapa ukuran cinta harus selalu penderitaan?
Kenapa kalau hubungan tenang kita justru bertanya:
“Kok rasanya biasa saja, ya?”
Kenapa ketika tidak ada drama, kita takut cinta sudah hilang?
Kenapa seseorang yang konsisten malah terkadang dianggap membosankan, sementara seseorang yang hari ini sangat perhatian dan besok menghilang justru membuat hati terus berdebar?
Aku ingin mengajak kita melihat cinta dari sudut berbeda.
Kamu tidak harus menderita untuk membuktikan bahwa cintamu nyata.
Dan hubungan yang tenang bukan berarti tidak mempunyai rasa.
Kadang justru ketenangan adalah sesuatu yang baru terasa asing karena kita terlalu lama mengenal cinta melalui kegelisahan.
Mari kita ngobrol.
KITA TERLALU SERING MELIHAT CINTA SEBAGAI DRAMA
Coba lihat banyak cerita cinta.
Film.
Novel.
Lagu.
Drama televisi.
Cinta sering digambarkan melalui konflik.
Ada orang ketiga.
Ada pengkhianatan.
Ada pengejaran.
Ada perpisahan.
Ada hujan.
Ada seseorang menangis.
Kemudian musik masuk.
Hehehe.
Tidak salah.
Cerita memang membutuhkan konflik agar menarik.
Bayangkan film dua jam tentang pasangan yang komunikasinya sehat.
“Sayang, aku kurang nyaman dengan itu.”
“Oh, maaf. Mari kita bicarakan.”
Selesai.
Filmnya mungkin hanya tujuh menit.
Hehehe.
Masalahnya muncul ketika cara bercerita itu ikut membentuk cara kita memahami hubungan nyata.
Kita mulai mengira cinta harus terasa dramatis agar bernilai.
Padahal kehidupan bukan film.
Kita tidak membutuhkan konflik setiap tiga puluh menit supaya hubungan mempunyai cerita.
CINTA YANG TENANG BUKAN CINTA YANG HAMBAR
Tenang dan hambar berbeda.
Hubungan hambar mungkin kehilangan keterlibatan.
Tidak ada komunikasi.
Tidak ada perhatian.
Tidak ada keinginan mengenal satu sama lain.
Sedangkan hubungan tenang bisa tetap mempunyai:
kehangatan,
ketertarikan,
humor,
sentuhan,
kerinduan,
seksualitas,
petualangan,
dan kasih sayang.
Hanya saja semuanya tidak selalu ditemani ketakutan.
Kamu tidak perlu setiap malam bertanya:
“Besok dia masih ada nggak?”
Ada rasa aman.
Dan rasa aman kadang tidak berbunyi keras.
KETENANGAN MEMANG TIDAK SELALU MEMBUAT JANTUNG BERDEBAR
Bayangkan seseorang yang konsisten.
Kalau bilang akan menelepon, dia menelepon.
Kalau sibuk, dia bilang sibuk.
Kalau ada masalah, dia membicarakan.
Kalau marah, tidak menghilang berhari-hari untuk menghukum.
Kalau sayang, tidak membuatmu menebak-nebak.
Awalnya mungkin terasa:
“Kok biasa saja?”
Tidak ada permainan.
Tidak ada kejar-kejaran.
Tidak ada teka-teki.
Tetapi mungkin bukan cintanya yang kurang.
Mungkin tubuh dan pikiran kita sedang bertemu sesuatu yang tidak terlalu sering kita kenal:
kepastian.
KADANG YANG KITA SEBUT “CHEMISTRY” SEBENARNYA CAMPURAN ANTARA KETERTARIKAN DAN KETIDAKPASTIAN
Aku tidak mengatakan semua chemistry adalah masalah.
Tentu tidak.
Ketertarikan itu nyata.
Tetapi coba perhatikan.
Ada seseorang yang sangat sulit ditebak.
Hari ini romantis.
Besok dingin.
Hari ini:
“Aku kangen kamu.”
Besok pesan kita seperti dikirim ke kantor kecamatan.
Tidak ada jawaban.
Hehehe.
Ketidakpastian membuat pikiran terus bekerja.
“Dia kenapa?”
“Aku salah apa?”
“Dia masih suka?”
Ketika akhirnya dia kembali memberikan perhatian, rasanya luar biasa.
Ada kelegaan.
Dan kelegaan itu kadang kita baca sebagai:
“Wah, cintaku besar sekali.”
Padahal mungkin sebagian rasa intens itu berasal dari ketidakpastian.
JANGAN SALAH MENGARTIKAN KECEMASAN SEBAGAI KEDALAMAN CINTA
Kalau seseorang membuatmu terus memikirkan dirinya, belum tentu itu berarti dia adalah cinta terbesar dalam hidupmu.
Bisa jadi ada banyak hal yang belum jelas.
Pikiran manusia tidak suka ketidakpastian.
Sesuatu yang belum selesai sering terus berputar di kepala.
Itulah mengapa kita perlu berhati-hati ketika mengatakan:
“Aku nggak bisa berhenti mikirin dia, berarti aku cinta banget.”
Mungkin iya.
Tetapi tanyakan juga:
“Apakah aku memikirkannya karena mencintainya, atau karena terus mencoba memahami posisi diriku dalam kehidupannya?”
Pertanyaan kecil.
Jawabannya bisa besar.
CEMBURU BUKAN MEDALI CINTA
Ada anggapan:
“Kalau nggak cemburu berarti nggak sayang.”
Cemburu bisa muncul dalam hubungan.
Wajar.
Tetapi intensitas cemburu bukan ukuran kualitas cinta.
Seseorang bisa sangat mencintaimu dan tetap mempercayaimu.
Bahkan menurutku indah ketika pasangan bisa berkata:
“Aku tahu kamu punya dunia sendiri dan aku percaya kepadamu.”
Bukan berarti tidak peduli.
Justru ada keyakinan bahwa hubungan tidak harus dijaga dengan pengawasan setiap menit.
POSESIF BUKAN SINONIM DARI PEDULI
“Jangan pergi.”
“Jangan berteman sama dia.”
“Jangan pakai itu.”
“Jangan pulang malam.”
“Jangan melakukan ini.”
Kadang semuanya dibungkus:
“Aku kan sayang.”
Peduli memang bisa berbentuk kekhawatiran.
Tetapi perhatian yang sehat masih menghormati pilihan manusia lain.
Ada dialog.
Bukan perintah sepihak.
Ada pertimbangan.
Bukan pengendalian.
Cinta tidak perlu menghilangkan kebebasan supaya terasa aman.
BERTENGKAR BUKAN BUKTI HUBUNGAN GAGAL
Sekarang jangan salah arah juga.
Hubungan tenang bukan berarti tidak pernah bertengkar.
Dua manusia berbeda pasti mempunyai perbedaan.
Cara berpikir berbeda.
Kebiasaan berbeda.
Cara mengelola uang mungkin berbeda.
Cara menunjukkan cinta berbeda.
Cara menaruh handuk juga bisa berbeda.
Dan ternyata handuk bisa menjadi persoalan rumah tangga yang cukup filosofis.
Hehehe.
Konflik normal.
Yang lebih penting adalah bagaimana konflik dijalani.
ADA PERBEDAAN ANTARA BERKONFLIK DAN SALING MENGHANCURKAN
Kita bisa marah tanpa menghina.
Bisa kecewa tanpa merendahkan.
Bisa meminta ruang tanpa menghilang sebagai hukuman.
Bisa berbeda pendapat tanpa menyerang karakter.
Bisa mengatakan:
“Aku tidak suka apa yang kamu lakukan.”
Tanpa mengatakan:
“Kamu memang manusia nggak berguna.”
Masalah bisa dibahas.
Manusianya tidak harus dihancurkan.
KAMU TIDAK HARUS MENANG DALAM SETIAP PERTENGKARAN
Hubungan bukan ruang sidang.
Tidak selalu membutuhkan pemenang.
Kadang kalau kamu menang argumentasi tetapi pasangan merasa dihina...
apa yang sebenarnya dimenangkan?
Tujuan percakapan bukan selalu membuktikan siapa benar.
Kadang tujuannya memahami:
“Bagaimana kita bisa menyelesaikan ini tanpa membuat satu sama lain menjadi musuh?”
MINTA MAAF TIDAK MEMBUATMU KALAH
“Aku salah.”
Kalimat sederhana.
Tetapi kadang sangat sulit.
Ego berkata:
“Kalau aku minta maaf duluan, nanti dia merasa menang.”
Padahal hubungan bukan pertandingan.
Permintaan maaf yang tulus justru menunjukkan keberanian melihat diri sendiri.
Dan setelah meminta maaf, ada satu hal penting:
perbaikan.
Karena maaf tanpa perubahan lama-lama hanya menjadi ritual.
HUBUNGAN YANG TENANG MEMBERIMU RUANG UNTUK BERISTIRAHAT
Bayangkan pulang setelah hari berat.
Pekerjaan berantakan.
Macet.
Masalah keluarga.
Tubuh lelah.
Kemudian pasangan bukan tambahan masalah.
Dia menjadi tempat di mana kamu bisa mengatakan:
“Hari ini berat.”
Dan dia menjawab:
“Istirahat dulu.”
Tidak harus memberikan solusi.
Tidak harus menjadi pahlawan.
Kadang hanya duduk.
Makan.
Ngobrol.
Itu mungkin tidak dramatis.
Tidak akan menjadi adegan film viral.
Tetapi dalam kehidupan nyata...
itu berharga sekali.
CINTA YANG BAIK TIDAK HARUS MEMBUATMU TERUS-MENERUS SIAGA
Kamu tidak harus bangun pagi lalu memeriksa apakah hubungan masih aman.
Tidak harus menafsirkan setiap perubahan nada.
Tidak harus membaca pesan sepuluh kali.
Tidak harus mencari makna tersembunyi dari:
“Oke.”
Walaupun memang kata “oke” kadang mempunyai sekitar 37 arti tergantung konteks.
Hehehe.
Tetapi hubungan seharusnya tidak menjadi pekerjaan investigasi.
Kalau ada sesuatu, bicarakan.
JANGAN MENCIPTAKAN DRAMA HANYA UNTUK MEMASTIKAN DIA MASIH PEDULI
Ini bisa terjadi tanpa sadar.
Sengaja diam.
Sengaja membuat cemburu.
Sengaja terlambat membalas.
Sengaja mengunggah sesuatu.
Kemudian menunggu:
“Dia bereaksi nggak?”
Kalau bereaksi:
“Berarti masih sayang.”
Padahal kita bisa langsung bertanya atau menyampaikan kebutuhan.
“Aku akhir-akhir ini merasa kurang diperhatikan.”
Jauh lebih sederhana.
Memang tidak sedramatis Instagram Story dengan lagu galau.
Tapi lebih jelas.
Hehehe.
JANGAN MENGUJI CINTA TERUS-MENERUS
“Kalau aku nggak chat duluan, dia nyari nggak?”
“Kalau aku menghilang, dia panik nggak?”
“Kalau aku dekat dengan orang lain, dia cemburu nggak?”
Hubungan yang terus diuji lama-lama menjadi ujian yang tidak pernah selesai.
Pasangan bukan peserta tes.
Kalau membutuhkan kepastian, komunikasikan.
CINTA BUKAN TENTANG SIAPA YANG PALING MENDERITA
Ada orang bangga berkata:
“Aku sudah banyak berkorban.”
Pengorbanan memang bagian dari hubungan.
Tetapi jangan menjadikan penderitaan sebagai skor cinta.
“Aku lebih sakit, berarti aku lebih cinta.”
“Aku lebih banyak mengalah, berarti aku lebih tulus.”
Tidak.
Hubungan bukan kompetisi penderitaan.
Cinta seharusnya mencari cara agar dua manusia sama-sama bisa hidup dengan baik.
KAMU BOLEH MEMILIH CINTA YANG TIDAK MELELAHKAN
Mungkin selama ini kamu terbiasa dengan hubungan penuh ketidakpastian.
Kemudian datang seseorang yang sederhana.
Konsisten.
Tidak banyak permainan.
Dia bertanya apakah kamu sudah makan.
Mengingat jadwalmu.
Datang ketika berjanji.
Tidak membuatmu menebak-nebak.
Dan pikiranmu berkata:
“Kok kurang greget?”
Berhenti sebentar.
Mungkin bukan kurang greget.
Mungkin kamu sedang belajar bahwa cinta juga bisa terasa seperti:
tenang.
TENANG TIDAK BERARTI TIDAK BERGAIRAH
Hubungan sehat tetap perlu dirawat.
Buat kejutan.
Pergi ke tempat baru.
Flirting dengan pasangan sendiri.
Kirim pesan nakal sedikit.
Eh.
Hehehe.
Maksudku, tetap jaga romantisme.
Pegang tangan.
Kencan.
Buat pengalaman baru.
Cinta yang aman tidak harus menjadi monoton.
Kita bisa mempunyai keamanan sekaligus kegembiraan.
JANGAN BERHENTI MENGENAL PASANGAN HANYA KARENA SUDAH LAMA BERSAMA
Manusia berubah.
Orang yang kamu kenal lima tahun lalu mungkin mempunyai mimpi baru hari ini.
Tanyakan.
“Sekarang kamu lagi pengin apa?”
“Ada sesuatu yang lagi kamu takutkan?”
“Ada mimpi baru?”
Hubungan tetap hidup ketika rasa ingin tahu terhadap satu sama lain masih ada.
ROMANTIS TIDAK HARUS MAHAL ATAU DRAMATIS
Kadang romantis adalah:
membawakan makanan.
Mengisi bensin.
Mengantar.
Mengingat obat.
Mendengarkan cerita yang sebenarnya sudah pernah diceritakan.
Menutupi tubuh pasangan dengan selimut ketika tertidur.
Membuat kopi.
Mengirim:
“Hati-hati di jalan.”
Hal kecil.
Tetapi kehidupan sebagian besar memang terdiri dari hal kecil.
CINTA YANG DEWASA SERING TERLIHAT MEMBOSANKAN DARI LUAR
Tidak banyak drama.
Tidak ada posting sindiran.
Tidak ada putus-balikan.
Tidak ada perang story.
Mereka hanya hidup.
Kerja.
Makan.
Tertawa.
Bertengkar sedikit.
Berdamai.
Membayar tagihan.
Membuat rencana.
Pergi bersama.
Menjalani hari.
Dari luar:
“Biasa banget.”
Tetapi mungkin justru itu keberhasilannya.
Tidak semua kebahagiaan membutuhkan penonton.
MINDFULNESS DALAM CINTA: TANYAKAN APA YANG SEBENARNYA KAMU RASAKAN
Ketika hubungan terasa tenang dan kamu mulai berpikir:
“Apakah aku masih cinta?”
Jangan langsung panik.
Duduk sebentar.
Tanyakan:
Apakah aku merasa aman?
Apakah aku masih tertarik kepadanya?
Apakah aku menghargainya?
Apakah aku menikmati kebersamaan?
Apakah aku bisa menjadi diri sendiri?
Apakah kami masih mempunyai kehangatan?
Apakah aku merasa didengar?
Apakah kami masih ingin bertumbuh bersama?
Kalau banyak jawabannya iya...
mungkin yang hilang bukan cinta.
Mungkin yang hilang hanya dramanya.
Dan itu belum tentu kehilangan.
Bisa jadi justru kemajuan.
BELAJAR MEMBEDAKAN DAMAI DAN MATI RASA
Ini juga penting.
Ketenangan bukan berarti menerima hubungan yang benar-benar tidak lagi mempunyai keterlibatan emosional.
Kalau tidak ada komunikasi.
Tidak ada perhatian.
Tidak ada ketertarikan.
Tidak ada keinginan memperbaiki.
Tidak ada kedekatan.
Itu perlu dibicarakan.
Jangan menggunakan kalimat “hubungan dewasa memang tenang” untuk menghindari persoalan nyata.
Kesadaran bukan membenarkan semuanya.
Kesadaran adalah melihat dengan jernih.
HUBUNGAN YANG TENANG TETAP MEMBUTUHKAN USAHA
Tanaman yang sehat tetap perlu disiram.
Begitu juga cinta.
Jangan karena pasangan sudah aman lalu berhenti memperhatikan.
Jangan karena yakin dia tidak pergi lalu memperlakukannya sembarangan.
Keamanan bukan izin untuk menjadi malas mencintai.
Justru ketika seseorang memberikan ketenangan, hargai.
JANGAN BARU MERINDUKAN KETENANGAN SETELAH KEHILANGANNYA
Kadang manusia aneh.
Ketika mendapatkan orang yang konsisten:
“Biasa.”
Setelah kehilangan:
“Ternyata dia baik banget.”
Ketika ada yang selalu bertanya sudah makan:
biasa.
Setelah tidak ada:
rindu.
Ketika ada yang selalu mendengarkan:
biasa.
Setelah pergi:
baru sadar.
Jangan menunggu kehilangan untuk memahami nilai sebuah ketenangan.
CLOSING: CINTA TIDAK HARUS MENYAKITI AGAR TERASA NYATA
Mungkin selama ini kita terlalu sering diajarkan cinta melalui rasa sakit.
Lagu mengatakan cinta itu luka.
Film mengatakan cinta membutuhkan perjuangan luar biasa.
Cerita mengatakan kalau tidak menangis berarti tidak sungguh-sungguh.
Kemudian tanpa sadar kita mencari cinta yang terasa seperti roller coaster.
Naik.
Turun.
Teriak.
Takut.
Senang.
Mual.
Hehehe.
Dan ketika menemukan seseorang yang membuat hati tenang, kita bingung.
“Ini cinta bukan, ya?”
Mungkin iya.
Mungkin justru untuk pertama kalinya kamu bertemu cinta yang tidak membuatmu terus-menerus berlari mengejar kepastian.
Cinta tidak harus membuatmu kehilangan tidur.
Tidak harus membuatmu menangis setiap minggu.
Tidak harus membuatmu mengecek ponsel dengan jantung berdebar.
Tidak harus membuatmu cemburu setiap hari.
Tidak harus membuatmu takut ditinggalkan setiap malam.
Kamu tidak perlu terluka untuk membuktikan bahwa perasaanmu dalam.
Dan pasangan tidak perlu menyakitimu supaya kemudian bisa membuktikan cintanya dengan meminta maaf.
Ada bentuk cinta yang jauh lebih sederhana.
Dia hadir.
Konsisten.
Mendengarkan.
Berkomunikasi.
Menghormati.
Meminta maaf ketika salah.
Berusaha memperbaiki.
Memberimu ruang.
Dan tetap memilihmu.
Mungkin tidak ada ledakan kembang api setiap hari.
Tetapi ada sesuatu yang menurutku jauh lebih penting:
kamu bisa bernapas.
Kamu bisa tidur tanpa terus menebak.
Kamu bisa bekerja tanpa harus memeriksa ponsel setiap lima menit.
Kamu bisa bersama teman tanpa takut pasangan marah.
Kamu bisa mengatakan pendapat.
Kamu bisa menjadi dirimu.
Dan ketika dunia sedang berat, hubungan tidak ikut menjadi tempat perang berikutnya.
Hubungan menjadi tempat pulang.
Bukankah itu juga cinta?
Bahkan mungkin...
itulah salah satu bentuk cinta yang selama ini sebenarnya kita cari.
Jadi kalau hari ini kamu mempunyai seseorang yang tidak membuat hidupmu seperti film drama 200 episode...
jangan buru-buru mengatakan hubungan kalian membosankan.
Lihat lebih dekat.
Mungkin yang kamu sebut “biasa” adalah konsistensi.
Yang kamu sebut “tidak greget” adalah rasa aman.
Yang kamu sebut “terlalu tenang” adalah hubungan yang tidak membuat sistem hidupmu terus berada dalam keadaan siaga.
Dan kalau kamu terbiasa dengan cinta yang penuh drama, mungkin ketenangan memang membutuhkan waktu untuk terasa nyaman.
Tidak apa-apa.
Belajar.
Pelan-pelan.
Karena cinta tidak datang untuk merusak hidup.
Cinta tidak harus membuat kehidupan semakin kacau supaya dianggap besar.
Kadang cinta terbaik justru datang dan berkata:
“Dunia di luar sana sudah cukup melelahkan. Kalau kamu pulang kepadaku, kamu tidak perlu berperang lagi.”
Dan mungkin pertanyaan untuk kita hari ini bukan:
“Seberapa besar aku rela menderita demi cinta?”
Tetapi:
“Apakah aku sudah percaya bahwa diriku layak mendapatkan cinta yang tidak membutuhkan penderitaan untuk terasa nyata?”
Karena kamu boleh mencintai seseorang dengan sangat dalam...
dan tetap merasa tenang.
Kamu boleh mempunyai hubungan yang penuh rasa...
tanpa harus penuh luka.
Hubungan yang tenang bukan berarti tidak ada cinta.
Kadang justru karena cintanya ada...
kalian tidak lagi membutuhkan drama untuk membuktikannya.
— DJ BANGSA EAA



0Komentar