PulihSeketika.Com - Ada satu pertanyaan yang mungkin tidak nyaman untuk dijawab:
Kalau kamu mengatakan hubunganmu membuatmu bahagia, kenapa hampir setiap hari kamu juga merasa takut?
Takut dia berubah.
Takut dia pergi.
Takut pesan tidak dibalas.
Takut melihatnya online tetapi tidak menghubungimu.
Takut dia menemukan orang lain.
Takut mengatakan sesuatu yang salah.
Takut membuatnya bosan.
Takut terlalu membutuhkan.
Takut terlihat tidak membutuhkan.
Takut bertanya.
Takut tidak bertanya.
Takut ketika dia terlalu dekat.
Takut ketika dia sedikit menjauh.
Capek juga, ya?
Hehehe.
Aku tidak mengatakan hubungan yang sehat membuat manusia tidak pernah takut.
Tidak mungkin.
Ketika kita mencintai seseorang, otomatis ada kemungkinan kehilangan.
Dan sesuatu yang berarti memang bisa membuat kita takut.
Tetapi menurutku ada perbedaan besar antara:
sesekali takut kehilangan seseorang yang kita cintai
dan
menjalani hubungan dalam keadaan terus-menerus takut kehilangan.
Yang satu manusiawi.
Yang satunya lagi perlu diperhatikan.
Karena cinta memang bisa membuat jantung berdebar.
Tetapi kalau setiap hari jantung berdebar karena cemas...
mungkin kita perlu bertanya:
Apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam hubungan ini?
Mari kita ngobrol.
CINTA TIDAK SELALU TENANG, TETAPI SEHARUSNYA ADA TEMPAT UNTUK MERASA AMAN
Hubungan pasti punya masalah.
Ada salah paham.
Ada konflik.
Ada masa sibuk.
Ada hari ketika pasangan sedang tidak menyenangkan.
Ada perubahan.
Ada ketidakpastian tentang masa depan.
Normal.
Tetapi di balik semua itu seharusnya tetap ada sebuah fondasi:
Aku tahu posisiku.
Aku tahu kita sedang menjalani hubungan ini bersama.
Aku tahu ketika ada masalah, kita bisa membicarakannya.
Aku tahu aku tidak harus terus-menerus menebak apakah besok dia masih menginginkanku.
Rasa aman bukan berarti hubungan sempurna.
Rasa aman berarti kita tidak hidup dalam ancaman emosional setiap hari.
KADANG KITA MENGIRA DEG-DEGAN ADALAH TANDA CINTA BESAR
Ada seseorang yang sulit ditebak.
Hari ini sangat perhatian.
Besok dingin.
Hari ini menelepon tiga jam.
Besok menghilang.
Hari ini berkata:
“Aku kangen.”
Besok seperti tidak kenal.
Aneh sekali.
Tetapi justru karena sulit ditebak, kita terus memikirkannya.
Ketika dia kembali memberikan perhatian, hati terasa sangat bahagia.
Kemudian kita berpikir:
“Wah, aku benar-benar cinta dia.”
Mungkin iya.
Tetapi coba lihat lagi.
Apakah sebagian intensitas perasaan itu berasal dari cinta...
atau dari kelegaan karena ketidakpastian sementara berhenti?
JANGAN SALAH MENGARTIKAN KELEGAAN SEBAGAI KEBAHAGIAAN
Ini menarik.
Bayangkan selama dua hari pasangan dingin.
Kita cemas.
Sulit tidur.
Terus melihat ponsel.
Kemudian tiba-tiba dia mengirim:
“Sayang, aku kangen.”
Lega.
Bahagia luar biasa.
Masalahnya, kebahagiaan itu muncul setelah sebelumnya kita dibuat sangat takut.
Kalau pola ini berulang terus, emosi kita seperti roller coaster.
Naik.
Turun.
Naik.
Turun.
Kemudian kita terbiasa dengan intensitas tersebut.
Hubungan tenang malah terasa aneh.
COBA TANYAKAN: “AKU BAHAGIA BERSAMANYA, ATAU HANYA BAHAGIA SETIAP KALI KETAKUTANKU SEMENTARA BERHASIL DITENANGKAN?”
Pertanyaan ini mungkin agak menusuk.
Tetapi penting.
Ada perbedaan antara kebahagiaan yang tumbuh dari:
kehangatan,
kepercayaan,
kebersamaan,
humor,
rasa dihargai,
dan hubungan yang jelas...
dengan kebahagiaan yang muncul karena:
“Syukurlah, ternyata dia belum pergi.”
Kalau sebagian besar rasa bahagia kita adalah rasa lega setelah panik, mungkin ada pola yang perlu dilihat.
OVERTHINKING TIDAK SELALU BERASAL DARI DIRIMU
Kadang ketika seseorang banyak berpikir dalam hubungan, orang berkata:
“Kamu terlalu overthinking.”
Mungkin benar.
Ada kecemasan yang memang berasal dari pengalaman atau pola pikir kita sendiri.
Tetapi jangan otomatis menyalahkan diri.
Kadang lingkungan hubungan memang tidak jelas.
Pasangan sering menghilang.
Komunikasi berubah-ubah.
Janji tidak konsisten.
Status hubungan tidak pernah jelas.
Kata-kata dan tindakan berbeda.
Kalau demikian, pikiran kita memang menerima banyak sinyal yang membingungkan.
TETAPI OVERTHINKING JUGA TIDAK SELALU BERARTI PASANGAN BERSALAH
Ini perlu seimbang.
Ada juga keadaan ketika pasangan sebenarnya konsisten.
Tetapi pengalaman masa lalu membuat kita tetap takut.
Dia sudah memberi kabar.
Tetap curiga.
Dia sudah menjelaskan.
Tetap membayangkan yang buruk.
Dia tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan.
Tetapi kita terus mencari sesuatu.
Kalau begitu, mungkin ada bagian dalam diri yang membutuhkan perhatian.
Jangan menyalahkan pasangan atas luka yang bahkan tidak dia buat.
MINDFULNESS MEMINTA KITA MEMISAHKAN DUA HAL: APA YANG TERJADI DAN APA YANG KITA TAKUTKAN
Misalnya:
Pasangan belum membalas dua jam.
Yang terjadi:
Pesan belum dibalas.
Yang ditakutkan:
Dia bosan denganku.
Yang dibayangkan:
Dia sedang bersama orang lain.
Kesimpulan:
Hubungan akan berakhir.
Lihat betapa jauh pikiran bisa berjalan hanya dari satu pesan yang belum dibalas.
Hehehe.
Berhenti sebentar.
Kembali kepada fakta.
TANYAKAN: “APA YANG BENAR-BENAR AKU KETAHUI?”
Ini latihan sederhana.
Ketika pikiran mulai berlari, tanyakan:
Apa faktanya?
Apa asumsi saya?
Apa ketakutan saya?
Apakah ada bukti?
Apakah ada penjelasan lain yang masuk akal?
Bukan untuk menolak intuisi.
Tetapi agar kita tidak memperlakukan setiap ketakutan sebagai kenyataan.
HUBUNGAN YANG SEHAT MEMBUAT KITA BISA BERTANYA
Kalau ada sesuatu yang mengganggu, kamu boleh bertanya.
“Aku merasa komunikasi kita berubah. Ada sesuatu?”
Bukan interogasi.
Bukan tuduhan.
Percakapan.
Hubungan yang sehat mempunyai ruang untuk pertanyaan sulit.
Kamu tidak harus takut bahwa setiap pertanyaan akan membuat pasangan pergi.
KALAU KAMU TERUS TAKUT MENGATAKAN APA YANG KAMU RASAKAN, PERHATIKAN ITU
Ada orang bertahun-tahun menahan sesuatu.
Takut pasangan marah.
Takut dianggap lebay.
Takut ditinggalkan.
Akhirnya semua disimpan.
Dari luar hubungan terlihat baik.
Di dalam, seseorang berjalan seperti menginjak kulit telur.
Setiap kata diperhitungkan.
Setiap ekspresi dijaga.
Itu melelahkan.
CINTA TIDAK HARUS MEMBUATMU BERJALAN DI ATAS KULIT TELUR
Kamu boleh salah bicara sesekali.
Boleh berbeda pendapat.
Boleh berkata tidak.
Boleh meminta sesuatu.
Boleh mengatakan:
“Aku tidak nyaman.”
Hubungan yang sehat tidak berarti semua permintaan akan disetujui.
Tetapi kamu tetap boleh menyampaikannya tanpa merasa seluruh hubungan terancam.
KETIKA KONFLIK TERJADI, APA YANG PALING KAMU TAKUTKAN?
Ini pertanyaan penting.
Apakah kamu takut masalah tidak selesai?
Atau takut pasangan langsung pergi?
Kalau setiap perbedaan kecil terasa seperti ancaman perpisahan, tubuh dan pikiran akan terus berada dalam keadaan siaga.
Hubungan menjadi sangat melelahkan.
Karena bahkan persoalan kecil terasa seperti:
“Apakah ini akhir dari semuanya?”
JANGAN MENGGUNAKAN ANCAMAN PUTUS SEBAGAI SENJATA SETIAP BERTENGKAR
“Ya sudah, putus saja.”
Kalau kalimat ini muncul setiap konflik, rasa aman sulit terbentuk.
Sekali dua kali mungkin keluar karena emosi.
Tetapi kalau menjadi pola, pasangan bisa hidup dalam ketakutan.
Setiap perbedaan terasa seperti hubungan berada di ujung jurang.
Konflik seharusnya membahas masalah.
Bukan selalu mengancam keberadaan hubungan.
ADA PERBEDAAN ANTARA MEMBUTUHKAN BATAS DAN MENGANCAM
Batas:
“Kalau perilaku ini terus berulang, aku perlu mempertimbangkan apakah hubungan ini masih sehat untukku.”
Ancaman:
“Kalau kamu nggak nurut, aku pergi.”
Yang satu menjelaskan batas pribadi.
Yang lain bisa menjadi alat untuk mengendalikan.
Kita perlu belajar membedakannya.
RASA AMAN TUMBUH DARI KONSISTENSI
Tidak hanya kata-kata.
Tindakan.
Kalau bilang akan datang, berusaha datang.
Kalau tidak bisa, memberi kabar.
Kalau membuat kesalahan, bertanggung jawab.
Kalau ada masalah, membicarakan.
Kalau mencintai, tidak hanya mengatakan ketika sedang takut kehilangan.
Konsistensi mungkin tidak dramatis.
Tetapi dia membangun kepercayaan sedikit demi sedikit.
KEPERCAYAAN TIDAK DIBANGUN DALAM SATU MALAM
Dan ketika rusak, tidak kembali hanya karena:
“Percaya sama aku dong.”
Kepercayaan membutuhkan pengalaman berulang.
Hari ini jujur.
Besok jujur.
Minggu depan jujur.
Bulan depan tetap.
Lama-lama tubuh dan pikiran belajar:
“Aku aman di sini.”
KALAU KEPERCAYAAN PERNAH RUSAK, WAJAR KALAU KETENANGAN TIDAK LANGSUNG KEMBALI
Misalnya pernah ada kebohongan.
Kemudian pasangan meminta maaf.
Hubungan dilanjutkan.
Bukan berarti besok semuanya normal.
Ada proses.
Orang yang melakukan kesalahan perlu memahami bahwa kepercayaan membutuhkan waktu.
Orang yang terluka juga perlu melihat apakah dirinya benar-benar ingin dan mampu membangun kembali.
Tidak mudah.
Tetapi bisa dibicarakan.
JANGAN MEMAKSA DIRI TERLIHAT “SANTAI” KALAU SEBENARNYA ADA MASALAH
Kadang kita takut disebut posesif.
Jadi diam.
Padahal ada perilaku nyata yang membuat tidak nyaman.
Kesadaran diri bukan berarti mengabaikan intuisi.
Kalau ada masalah, bicarakan.
Yang perlu dihindari adalah langsung mengubah rasa tidak nyaman menjadi tuduhan tanpa dasar.
“AKU MERASA...” SERING LEBIH MEMBUKA PERCAKAPAN DARIPADA “KAMU SELALU...”
Bandingkan:
“Kamu selalu bikin aku nggak tenang!”
dengan:
“Aku akhir-akhir ini merasa tidak aman karena komunikasi kita berubah. Bisa kita bicarakan?”
Masalah sama.
Cara masuk berbeda.
Satu membuat orang langsung bertahan.
Satu membuka peluang percakapan.
KETENANGAN TIDAK BISA DIBANGUN OLEH SATU ORANG SAJA
Kita bisa belajar mengelola kecemasan.
Pasangan bisa belajar menjadi lebih konsisten.
Dua-duanya bekerja.
Tidak adil kalau seluruh tanggung jawab diberikan kepada satu pihak.
Kita tidak bisa berkata:
“Kamu harus menyembuhkan semua rasa takutku.”
Tetapi pasangan juga tidak bisa selalu berkata:
“Itu cuma overthinking kamu,”
kalau perilakunya memang terus menciptakan ketidakpastian.
LIHAT POLA, BUKAN SATU HARI
Semua orang bisa terlambat membalas.
Semua orang bisa sibuk.
Semua orang bisa mempunyai hari ketika energinya rendah.
Jangan menilai hubungan dari satu kejadian.
Lihat pola.
Apakah secara umum dia konsisten?
Apakah secara umum kamu merasa dihargai?
Apakah komunikasi secara umum sehat?
Apakah ketakutan muncul sesekali atau hampir setiap hari?
Pola memberi informasi lebih banyak daripada satu peristiwa.
JANGAN MEMBANDINGKAN HUBUNGAN DENGAN POTONGAN KEHIDUPAN ORANG LAIN
Media sosial bisa membuat hubungan sendiri terasa kurang.
Pasangan orang lain memberikan bunga.
Liburan.
Dinner.
Anniversary.
Kemudian kita melihat pasangan sendiri sedang tidur mendengkur.
Hehehe.
Tenang.
Kita tidak tahu kehidupan lengkap mereka.
Jangan menilai rasa aman hubungan dari estetika hubungan orang lain.
HUBUNGAN YANG TENANG TIDAK SELALU INSTAGRAMABLE
Kadang cinta sehat adalah:
memberi kabar.
Membayar tagihan bersama.
Mengantar ke dokter.
Mendengarkan.
Membuat teh.
Membiarkan pasangan tidur.
Menghormati waktu kerja.
Mengatakan:
“Hati-hati.”
Tidak viral.
Tetapi nyata.
JANGAN MEMBUAT CEMBURU SEBAGAI TES CINTA
Ada orang sengaja membuat pasangan cemburu.
Mengunggah sesuatu.
Dekat dengan seseorang.
Menghilang.
Kemudian melihat reaksi.
Kalau pasangan panik:
“Berarti sayang.”
Tidak perlu.
Cinta tidak harus diuji dengan menciptakan ketakutan.
Kalau ingin tahu apakah dia peduli, bicarakan.
KETAKUTAN KEHILANGAN BISA MEMBUAT KITA MELAKUKAN HAL YANG JUSTRU MERUSAK HUBUNGAN
Terlalu sering mengecek.
Menuduh.
Mengontrol.
Meminta pembuktian.
Membuat tes.
Menuntut tersedia terus.
Ironis.
Karena semua dilakukan supaya hubungan tidak hilang.
Tetapi kalau berlebihan, justru bisa membuat hubungan semakin berat.
BELAJAR MEMBERI RUANG PADA KETIDAKPASTIAN
Tidak ada hubungan yang mempunyai jaminan seratus persen.
Tidak ada.
Kita tidak bisa memastikan seseorang akan bersama kita selamanya.
Menakutkan.
Tetapi cinta memang membutuhkan keberanian menerima bahwa kita tidak mengendalikan seluruh masa depan.
Yang bisa dilakukan:
hadir dengan baik hari ini.
Berkomunikasi.
Menjaga kepercayaan.
Membuat keputusan bersama.
Sisanya berjalan.
KETENANGAN BUKAN BERARTI KAMU YAKIN DIA TIDAK AKAN PERNAH PERGI
Menurutku ketenangan yang lebih dalam justru seperti:
“Aku berharap kita tetap bersama. Tetapi kalau suatu hari kehidupan berubah, aku percaya aku tetap bisa menghadapi hidup.”
Nah.
Di situ cinta tidak lagi dipegang oleh ketakutan.
Kita mencintai karena memilih.
Bukan karena merasa tidak bisa hidup kalau kehilangan.
KAMU PERLU PUNYA KEHIDUPAN YANG TETAP BERDIRI MESKI PASANGAN SEDANG SIBUK
Teman.
Pekerjaan.
Mimpi.
Keluarga.
Hobi.
Dirimu.
Semakin kokoh kehidupanmu, semakin kecil kebutuhan menjadikan pasangan sebagai satu-satunya sumber ketenangan.
Bukan berarti cintanya berkurang.
Justru hubungan menjadi lebih ringan.
JANGAN MENJADIKAN RESPONS PASANGAN SEBAGAI REMOTE CONTROL EMOSIMU
Dia membalas cepat:
bahagia.
Lambat:
sedih.
Memberi emoji hati:
tenang.
Jawab singkat:
panik.
Online:
curiga.
Offline:
lebih curiga.
Hehehe.
Kalau mood seluruh hari selalu dikendalikan satu notifikasi, kita perlu mengambil kembali sedikit kendali.
TUNGGU SEBELUM BEREAKSI
Ketika muncul rasa takut:
jangan langsung kirim sepuluh pesan.
Jangan langsung menuduh.
Jangan langsung membuat kesimpulan.
Berhenti.
Tarik napas.
Kerjakan sesuatu.
Lihat kembali setelah emosi sedikit turun.
Kadang persoalannya masih ada.
Kalau begitu, bicarakan.
Kadang ternyata hanya pikiran yang sedang berlari.
KETENANGAN JUGA BERASAL DARI KEMAMPUAN MEMPERCAYAI DIRI SENDIRI
Bukan hanya:
“Aku percaya dia tidak akan menyakitiku.”
Tetapi juga:
“Kalaupun sesuatu terjadi, aku percaya aku bisa mengambil keputusan yang baik untuk diriku.”
Ini berbeda.
Kita tidak menggantungkan keamanan sepenuhnya kepada perilaku orang lain.
Kita mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri.
AKU TIDAK BISA MENGONTROL APAKAH SESEORANG AKAN SELALU MENCINTAIKU
Tetapi aku bisa mengontrol:
bagaimana aku mencintai.
Bagaimana aku berkomunikasi.
Batas yang kupunya.
Apa yang akan kuterima.
Apa yang tidak.
Bagaimana aku merawat diriku.
Dan keputusan apa yang kuambil ketika kenyataan berubah.
Itu wilayahku.
KALAU HUBUNGAN MEMBUATMU TERUS TAKUT, JANGAN LANGSUNG MENYALAHKAN CINTA
Lihat sumbernya.
Apakah ada ketidakjelasan nyata?
Apakah pasangan tidak konsisten?
Apakah kepercayaan pernah rusak?
Apakah ada luka lama yang terbawa?
Apakah kamu kehilangan kehidupan di luar hubungan?
Apakah kalian tidak pernah membicarakan kebutuhan masing-masing?
Cari sumber.
Karena sumber berbeda membutuhkan jalan yang berbeda.
JANGAN JUGA LANGSUNG MENYALAHKAN DIRIMU
Kamu tidak selalu “terlalu sensitif.”
Kadang perasaan sedang memberi informasi.
Tetapi informasi perlu diperiksa.
Bukan langsung dipercaya seratus persen.
Bukan juga langsung dibuang.
Dengarkan.
Periksa.
Bicarakan.
Itulah kesadaran.
MINDFULNESS: PERHATIKAN BAGAIMANA TUBUHMU MERASAKAN HUBUNGAN INI
Ketika bersamanya...
apakah kamu sering merasa harus waspada?
Apakah bahumu tegang?
Apakah tidur terganggu karena menunggu pesan?
Apakah setiap perubahan kecil membuatmu panik?
Atau secara umum kamu bisa bernapas?
Bisa bekerja.
Bisa tidur.
Bisa bertemu teman.
Bisa menjalani kehidupan.
Tubuh terkadang memberi petunjuk bahwa kita terlalu lama berada dalam tekanan.
Bukan sebagai vonis terhadap hubungan.
Tetapi sebagai sesuatu yang layak diperhatikan.
CINTA SEHARUSNYA MENAMBAHKAN TEMPAT UNTUK TENANG
Dunia sudah mempunyai banyak hal untuk dicemaskan.
Pekerjaan.
Uang.
Masa depan.
Keluarga.
Kesehatan.
Tagihan.
Belum lagi membuka media sosial lima menit dan tiba-tiba merasa semua manusia lebih sukses.
Hehehe.
Hubungan tidak harus menjadi sumber perang tambahan setiap hari.
Kadang kita membutuhkan seseorang yang membuat hidup terasa sedikit lebih ringan.
CLOSING: CINTA YANG BAIK TIDAK MENGHAPUS SEMUA KETAKUTAN, TETAPI TIDAK MEMBUATMU HIDUP DI DALAM KETAKUTAN
Aku tidak ingin menjual gambaran cinta yang terlalu sempurna.
Tidak ada hubungan tanpa takut.
Tidak ada hubungan tanpa cemburu sama sekali.
Tidak ada hubungan tanpa salah paham.
Tidak ada manusia yang bisa memberikan kepastian tentang masa depan.
Orang berubah.
Kehidupan berubah.
Perasaan juga bisa berubah.
Itulah mengapa mencintai membutuhkan keberanian.
Tetapi ada perbedaan antara keberanian menghadapi ketidakpastian kehidupan...
dan setiap hari hidup dalam ketidakpastian yang sengaja dibiarkan di dalam hubungan.
Kamu boleh sesekali bertanya:
“Kamu masih sayang aku?”
Manusiawi.
Tetapi semoga kamu tidak harus menanyakan itu setiap malam hanya supaya bisa tidur.
Kamu boleh rindu ketika pesan belum datang.
Tetapi semoga hidupmu tidak berhenti hanya karena seseorang belum membalas.
Kamu boleh cemburu.
Tetapi semoga kamu tidak harus mengawasi setiap manusia yang mendekati pasanganmu.
Kamu boleh takut kehilangan.
Tetapi semoga ketakutan itu tidak membuatmu kehilangan dirimu lebih dahulu.
Karena pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan hubungan yang memberikan jaminan:
“Aku tidak akan pernah pergi.”
Tidak ada manusia yang benar-benar bisa menjamin seluruh masa depan.
Yang bisa diberikan adalah sesuatu yang lebih nyata:
konsistensi hari ini.
kejujuran hari ini.
rasa hormat hari ini.
komunikasi hari ini.
pilihan untuk tetap hadir hari ini.
Besok?
Kita lakukan lagi.
Dan lagi.
Sampai kepercayaan terbentuk bukan dari janji besar, tetapi dari ribuan tindakan kecil.
Mungkin suatu hari kamu akan menyadari sesuatu.
Cinta yang paling menenangkan bukan cinta yang membuatmu yakin:
“Aku tidak mungkin kehilangan dia.”
Tetapi cinta yang membuatmu mampu berkata:
“Aku sangat ingin dia tetap ada. Tetapi aku tidak harus menghancurkan diriku sendiri karena takut dia pergi.”
Itulah kebebasan.
Aku mencintaimu.
Tetapi aku masih bisa bernapas ketika kamu sedang sibuk.
Aku merindukanmu.
Tetapi aku masih bisa menjalani hariku.
Aku ingin masa depan bersamamu.
Tetapi aku tidak kehilangan seluruh hidupku hanya untuk memastikan masa depan itu terjadi.
Aku percaya kepadamu.
Dan aku juga percaya kepada diriku.
Kalau ada masalah, kita bicarakan.
Kalau ada ketakutan, kita dengarkan.
Kalau ada luka, kita rawat.
Kalau ada sesuatu yang tidak sehat, kita berani melihatnya.
Bukan menutup mata hanya karena takut kehilangan.
Jadi mungkin malam ini pertanyaannya bukan sekadar:
“Apakah dia mencintaiku?”
Coba tambahkan satu pertanyaan lagi:
“Bagaimana aku merasakan diriku ketika dicintai olehnya?”
Apakah aku lebih sering merasa aman?
Atau selalu menunggu sesuatu yang buruk terjadi?
Apakah aku bisa menjadi diri sendiri?
Apakah aku bebas berbicara?
Apakah aku masih mempunyai kehidupan?
Apakah aku merasa dihargai?
Dan pertanyaan yang menurutku paling penting:
“Aku bahagia bersamanya, atau aku hanya bahagia setiap kali ketakutanku sementara berhasil ditenangkan?”
Tidak perlu menjawab terburu-buru.
Duduklah bersama pertanyaan itu.
Lihat hubunganmu dengan jernih.
Bukan untuk mencari siapa yang salah.
Tetapi untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Karena cinta memang tidak menjanjikan kehidupan tanpa rasa takut.
Tetapi cinta yang baik seharusnya perlahan mengajarkan sesuatu:
bahwa kita tidak harus terus-menerus takut untuk merasa dicintai.
Ada cinta yang tidak membuatmu mengejar.
Tidak membuatmu terus menebak.
Tidak membuatmu setiap malam bertanya apakah besok masih dipilih.
Ada cinta yang sederhana.
Hadir.
Jelas.
Konsisten.
Tidak sempurna.
Tetapi membuatmu bisa bernapas.
Dan mungkin pada akhirnya kita tidak membutuhkan cinta yang membuat jantung berdebar setiap menit.
Kadang kita hanya membutuhkan seseorang yang ketika berada di sampingnya...
jantung akhirnya tidak perlu terus berlari.
— DJ BANGSA EAA



0Komentar