PULIHSEKETIKA.COM - Namaku Marfuah.
Selama bertahun-tahun membantu orang yang mengalami gangguan gaib, aku telah mendengar banyak cerita yang sulit dipercaya.
Tentang santet.
Tentang guna-guna.
Tentang kiriman makhluk halus.
Tentang ilmu hitam yang mampu membuat seseorang sakit tanpa sebab.
Namun ada satu ilmu yang namanya jarang disebut.
Bahkan para pelaku ilmu gaib sendiri enggan membicarakannya.
Karena menurut mereka...
Ilmu itu terlalu berbahaya.
Terlalu mengerikan.
Dan terlalu dekat dengan kematian.
Nama ilmu itu adalah...
SINGKIR GENI.
Konon, ilmu ini mampu membuat tubuh seseorang terbakar dari dalam tanpa api yang terlihat.
Tidak ada bensin.
Tidak ada korek.
Tidak ada percikan.
Tetapi korbannya bisa menjerit seperti sedang dibakar hidup-hidup.
Dulu aku menganggap cerita itu hanya legenda kampung.
Sampai suatu malam...
Aku melihat sendiri akibatnya.
Kejadian ini terjadi sekitar enam tahun lalu.
Saat itu aku didatangi seorang lelaki tua bernama Pak Wiryo.
Usianya sekitar enam puluh tahun.
Namun wajahnya terlihat jauh lebih tua.
Matanya cekung.
Tubuhnya kurus.
Seperti orang yang sudah lama tidak tidur.
Begitu duduk di ruang tamu rumahku, ia langsung berkata,
"Bu Marfuah... tolong selamatkan anak saya."
Aku bertanya apa yang terjadi.
Jawaban yang diberikan membuatku terdiam.
"Anak saya terbakar."
Aku mengangguk.
Kupikir itu kecelakaan biasa.
Namun Pak Wiryo melanjutkan.
"Masalahnya... tidak ada api."
Aku mulai memperhatikan.
Pak Wiryo kemudian menceritakan semuanya.
Anaknya bernama Seno.
Pemuda berusia dua puluh lima tahun.
Sehat.
Rajin bekerja.
Tidak pernah terlibat masalah.
Namun sekitar dua minggu sebelumnya...
Tubuhnya tiba-tiba mengalami luka seperti bekas terbakar.
Awalnya hanya sebesar uang logam.
Muncul di lengan kanan.
Mereka mengira terkena knalpot motor.
Namun keesokan harinya...
Luka itu bertambah.
Muncul lagi di punggung.
Kemudian di dada.
Lalu di kaki.
Yang aneh...
Seno sama sekali tidak pernah merasa terkena api.
Tidak pernah tersiram air panas.
Tidak pernah mengalami kecelakaan.
Tetapi setiap pagi...
Selalu muncul luka bakar baru.
Aku memutuskan datang ke rumah mereka.
Rumah itu berada di kaki gunung.
Jauh dari keramaian.
Dikelilingi kebun kopi dan hutan pinus.
Begitu tiba...
Aku langsung merasakan hawa tidak nyaman.
Udara terasa berat.
Seolah ada sesuatu yang mengawasi.
Ketika melihat Seno untuk pertama kalinya...
Aku langsung mengerti mengapa keluarganya ketakutan.
Sebagian kulit lengannya melepuh.
Dada kirinya penuh bekas luka hitam.
Lehernya terlihat seperti pernah terkena panas luar biasa.
Namun dokter tidak menemukan penyebabnya.
Semua hasil pemeriksaan normal.
Malam itu aku berbincang langsung dengannya.
Awalnya tidak ada hal aneh.
Namun saat aku bertanya apakah ia memiliki musuh...
Wajahnya berubah.
"Ada satu orang."
"Siapa?"
"Mantan rekan kerja saya."
"Ada masalah?"
Seno mengangguk.
Ternyata beberapa bulan sebelumnya terjadi perselisihan soal tanah warisan.
Perdebatan besar.
Ancaman.
Dan sumpah serapah.
Sampai akhirnya hubungan mereka putus total.
Aku mulai curiga.
Karena banyak gangguan gaib berawal dari dendam.
Malam pertama aku berjaga di rumah itu.
Sekitar pukul satu dini hari.
Semua terlihat normal.
Namun menjelang pukul tiga...
Aku mendengar sesuatu.
Suara seperti bara api.
KRETEK...
KRETEK...
KRETEK...
Padahal tidak ada api.
Tidak ada tungku.
Tidak ada pembakaran.
Tetapi suara itu semakin jelas.
Semakin dekat.
Aku keluar rumah.
Dan melihat sesuatu yang membuat tubuhku membeku.
Di halaman belakang.
Tepat di dekat pohon nangka tua.
Berdiri sosok hitam.
Tinggi.
Kurus.
Tubuhnya seperti diselimuti asap.
Namun yang paling mengerikan adalah matanya.
Merah menyala.
Seperti bara api yang baru ditiup angin.
Makhluk itu diam.
Menatap rumah.
Tidak bergerak.
Tidak berkedip.
Aku membaca doa.
Seketika sosok itu menghilang.
Namun bersamaan dengan itu...
Terdengar jeritan dari dalam rumah.
Aku berlari masuk.
Dan menemukan Seno berguling di lantai.
Berteriak kesakitan.
Tubuhnya mengejang.
Asap tipis keluar dari lengan kirinya.
Aku tidak sedang bercanda.
Aku benar-benar melihat asap.
Keluar dari kulitnya sendiri.
Saat bajunya dibuka...
Muncul luka baru.
Besar.
Merah.
Seperti baru saja disentuh besi membara.
Padahal tidak ada sumber panas apa pun.
Keesokan paginya aku menemui seorang sesepuh tua bernama Mbah Kromo.
Begitu mendengar ceritaku...
Wajahnya langsung pucat.
"Kalau benar seperti itu..."
Ia berhenti bicara.
"Lalu?"
"Itu bukan santet biasa."
"Apa?"
Mbah Kromo menatapku lama.
Kemudian berbisik.
"SINGKIR GENI."
Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.
Lalu Mbah Kromo mulai bercerita.
Menurut ilmu lama yang diwariskan turun-temurun...
Singkir Geni adalah ilmu pemanggil unsur panas gaib.
Bukan api biasa.
Melainkan energi yang dipercaya berasal dari makhluk penghuni alam lain.
Konon pelakunya harus melakukan ritual berat.
Puasa.
Semedi.
Dan membuat perjanjian tertentu.
Sebagai gantinya...
Ia memperoleh kemampuan mengirim panas mematikan kepada korbannya.
Semakin besar kebencian pelaku...
Semakin cepat panas itu bekerja.
Aku bertanya apakah ilmu tersebut bisa membunuh.
Jawaban Mbah Kromo membuatku merinding.
"Bukan bisa."
"Tapi memang untuk itu."
Malam berikutnya aku memutuskan berjaga di kamar Seno.
Aku tidak ingin kehilangan momen apa pun.
Pukul dua dini hari.
Semuanya masih normal.
Pukul tiga kurang sepuluh menit.
Udara tiba-tiba berubah.
Aneh.
Karena suhu kamar menjadi sangat panas.
Padahal di luar hujan.
Keringat mulai mengalir.
Dinding terasa hangat.
Lantai terasa hangat.
Bahkan udara yang kuhirup seperti berasal dari tungku pembakaran.
Kemudian aku melihatnya.
Di sudut kamar.
Ada sosok hitam berdiri.
Kali ini lebih jelas.
Tubuhnya penuh retakan merah menyala.
Seperti batu lava.
Asap keluar dari seluruh tubuhnya.
Dan matanya...
Masih merah membara.
Makhluk itu menatap Seno.
Lalu perlahan mengangkat tangan.
Seketika Seno menjerit.
Jeritan yang tidak pernah kulupakan sampai hari ini.
Kulit di bagian dadanya mulai memerah.
Lalu menghitam.
Seperti dibakar sesuatu yang tidak terlihat.
Aku membaca doa sekuat-kuatnya.
Makhluk itu mulai mundur.
Namun tidak pergi.
Ia terus menatap.
Seolah ingin menyelesaikan tugasnya.
Malam itu berlangsung sangat panjang.
Dan saat fajar tiba...
Makhluk tersebut menghilang.
Aku tahu satu hal.
Jika dibiarkan...
Seno tidak akan bertahan lama.
Penyelidikan kemudian membawaku pada sebuah gubuk tua di tengah hutan pinus.
Lokasi yang disebut beberapa warga sebagai tempat ritual terlarang.
Aku datang bersama beberapa warga.
Dan menemukan sesuatu.
Di dalam gubuk itu terdapat lingkaran hitam.
Abu.
Lilin.
Dan foto Seno.
Foto itu penuh bekas tusukan.
Serta bercak hitam seperti arang.
Saat itulah aku yakin.
Seseorang memang sedang mengincarnya.
Malam terakhir menjadi malam paling mengerikan.
Karena untuk pertama kalinya...
Aku melihat akibat penuh dari Singkir Geni.
Sekitar pukul tiga dini hari.
Makhluk itu muncul kembali.
Namun kali ini tidak sendirian.
Di belakangnya berdiri bayangan-bayangan lain.
Puluhan.
Seperti manusia hangus.
Tubuh mereka hitam gosong.
Mata mereka menyala merah.
Udara menjadi panas luar biasa.
Kaca jendela mulai berembun.
Cat tembok seperti mengering.
Dan Seno kembali berteriak.
Tiba-tiba dari dadanya muncul asap tebal.
Kemudian nyala kecil.
Sangat kecil.
Namun nyata.
Aku langsung membaca doa tanpa henti.
Orang-orang di rumah ikut berdoa.
Suasana berubah menjadi sangat mencekam.
Jeritan makhluk itu menggema.
Keras.
Memekakkan telinga.
Lalu satu per satu bayangan hangus di belakangnya mulai menghilang.
Makhluk utama itu mundur.
Mundur.
Mundur.
Lalu lenyap seperti asap yang tertiup angin.
Dan pada saat yang sama...
Api kecil di dada Seno padam.
Ia pingsan.
Namun masih hidup.
Beberapa hari kemudian kondisi Seno membaik.
Luka-lukanya mulai mengering.
Tidak ada luka baru.
Tidak ada panas aneh.
Tidak ada lagi sosok bermata merah.
Sampai sekarang aku masih mengingat kejadian itu.
Bukan karena rasa takut.
Melainkan karena satu hal.
Saat meninggalkan kampung tersebut...
Mbah Kromo sempat berkata kepadaku.
"Marfuah..."
"Iya, Mbah?"
"Jangan pernah mencari ilmu yang bisa membakar orang."
Aku mengangguk.
Lalu ia melanjutkan.
"Karena setiap api yang dikirim kepada orang lain..."
"Suatu hari akan mencari jalan pulang kepada pemiliknya."
Dan itulah sebabnya...
Sampai sekarang...
Nama SINGKIR GENI masih menjadi salah satu ilmu paling ditakuti dalam cerita-cerita lama yang pernah kudengar.
Entah benar-benar ada.
Atau hanya legenda.
Namun satu hal yang pasti...
Aku pernah melihat seseorang terluka oleh panas yang tidak terlihat.
Dan pengalaman itu cukup untuk membuatku tidak ingin bertemu dengannya lagi.
TAMAT


0Komentar