PULIHSEKETIKA.COM
 - Namaku Marfuah.

Kalau kalian tinggal di kampung, mungkin pernah mendengar larangan aneh dari orang tua.

Jangan jemur pakaian sampai malam.

Jangan biarkan pakaian tertinggal di jemuran setelah magrib.

Dan yang paling sering kudengar sejak kecil adalah:

"Kalau ada celana sobek yang tiba-tiba muncul di jemuran, jangan disentuh malam-malam."

Dulu aku menganggap itu hanya mitos.

Sampai suatu kejadian yang kualami sendiri membuatku tidak pernah lagi menganggap remeh larangan tersebut.

Kejadian ini terjadi sekitar lima tahun lalu.

Dan sampai sekarang, setiap kali melihat celana tua yang sobek di bagian lutut...

Aku selalu teringat wajah seseorang yang seharusnya sudah lama berada di dalam kubur.


Saat itu aku mendapat undangan dari seorang ibu bernama Bu Sulastri.

Rumahnya berada di sebuah kampung yang cukup terpencil.

Lokasinya berada di dekat area persawahan dan kebun karet.

Awalnya masalah yang disampaikan terdengar sepele.

Bahkan aku sempat mengira mereka hanya terlalu percaya tahayul.

Namun ternyata aku salah.

Sangat salah.


Saat aku tiba di rumah Bu Sulastri, suasana rumah itu terasa muram.

Ada tiga anggota keluarga yang tinggal di sana.

Bu Sulastri.

Suaminya, Pak Darto.

Dan anak perempuan mereka bernama Rina.

Begitu aku duduk, Bu Sulastri langsung bercerita.

"Bu Marfuah... kami sudah tiga bulan tidak tenang."

"Ada apa?"

Ia menunjuk ke arah belakang rumah.

"Semua bermula dari jemuran."

Aku mengernyit.

"Jemuran?"

Bu Sulastri mengangguk.


Tiga bulan sebelumnya, mereka menemukan sebuah celana panjang tua.

Warnanya hitam kusam.

Sobek besar pada bagian lutut kanan.

Awalnya mereka mengira celana itu milik tetangga yang terbawa angin.

Namun anehnya...

Tidak ada satu pun tetangga yang mengaku memilikinya.

Akhirnya celana itu dibuang.

Masuk ke tempat sampah.

Keesokan paginya...

Celana itu kembali tergantung di jemuran.

Persis di tempat yang sama.


Pak Darto tertawa waktu pertama kali melihatnya.

Ia mengira seseorang sedang bercanda.

Celana itu dibuang lagi.

Kali ini dibakar.

Sampai menjadi abu.

Malamnya hujan deras turun.

Dan keesokan pagi...

Celana yang sama kembali muncul.

Masih utuh.

Masih sobek di lutut kanan.

Masih tergantung di jemuran.


Aku mulai tertarik.

Karena kejadian seperti ini biasanya tidak sesederhana yang terlihat.

Aku meminta melihat celana tersebut.

Bu Sulastri membawanya dari lemari.

Begitu celana itu diletakkan di depanku...

Aku langsung merasakan hawa dingin.

Bukan dingin biasa.

Melainkan hawa yang sering muncul saat ada sesuatu yang tidak kasatmata sedang berada di dekatku.


Celana itu terlihat sangat tua.

Kainnya sudah tipis.

Beberapa bagian bahkan hampir hancur.

Namun yang membuatku merinding adalah baunya.

Ada aroma tanah basah.

Tanah kuburan.

Aku mengenali bau itu.

Karena pernah menciumnya berkali-kali dalam berbagai kejadian mistis.


Aku bertanya.

"Ada kejadian lain setelah celana ini muncul?"

Wajah Bu Sulastri langsung berubah pucat.

"Ada."

"Apa?"

Ia menelan ludah.

"Ladang kami gagal panen."

"Lalu?"

"Anak saya sering sakit."

Pak Darto ikut menambahkan.

"Dan hampir setiap malam..."

Ia berhenti.

"Setiap malam apa?"

Pak Darto memandangku dengan mata ketakutan.

"Kami mendengar seseorang berjalan di dekat jemuran."


Malam itu aku memutuskan menginap.

Aku ingin melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi.

Menjelang magrib aku mulai memperhatikan area belakang rumah.

Di sana terdapat jemuran bambu yang cukup panjang.

Persis di samping pohon mangga tua.

Entah kenapa pohon itu terasa menyeramkan.

Padahal siang hari terlihat biasa saja.


Malam semakin larut.

Pukul sebelas.

Belum ada apa-apa.

Pukul satu dini hari.

Masih sepi.

Namun sekitar pukul dua lewat tiga puluh menit...

Aku mendengar suara.

KREK...

KREK...

KREK...

Seperti langkah kaki seseorang.

Pelan.

Menyeret.


Aku membuka jendela.

Suara itu berasal dari belakang rumah.

Dari arah jemuran.

Aku mengambil senter dan keluar.

Udara malam terasa sangat dingin.

Kabut tipis mulai turun dari area persawahan.

Dan di bawah cahaya bulan...

Aku melihat sesuatu.

Celana sobek itu.

Bergerak.


Awalnya aku mengira mataku salah melihat.

Namun tidak.

Celana itu benar-benar bergerak.

Pelan.

Berayun.

Padahal tidak ada angin.

Tidak ada siapa-siapa.


Lalu aku mendengar suara napas.

Berat.

Serak.

Tepat di belakangku.

Aku langsung berbalik.

Tidak ada siapa pun.

Namun saat menyorotkan senter ke arah pohon mangga...

Aku melihat sosok lelaki berdiri di sana.


Tubuhnya kurus.

Sangat kurus.

Wajahnya tertutup bayangan.

Ia mengenakan kaus lusuh.

Dan...

Celana yang sama.

Celana sobek di lutut kanan.


Jantungku berdetak keras.

Sosok itu diam.

Tidak bergerak.

Tidak berkedip.

Hanya menatapku.

Kemudian perlahan...

Ia mengangkat tangan.

Menunjuk ke arah sawah.

Lalu menghilang.

Begitu saja.


Esok paginya aku mulai mencari informasi.

Aku bertanya kepada penduduk sekitar.

Awalnya tidak ada yang mau bicara.

Namun setelah cukup lama...

Seorang kakek tua akhirnya menceritakan sesuatu.


Tujuh tahun sebelumnya.

Ada seorang lelaki bernama Jono.

Ia terkenal miskin.

Bekerja sebagai buruh tani.

Hidup sendirian.

Tidak punya keluarga.

Tidak punya istri.

Tidak punya anak.


Suatu hari Jono menghilang.

Begitu saja.

Tidak ada yang tahu ke mana perginya.

Penduduk mengira ia merantau.

Atau pindah kampung.

Namun beberapa orang percaya ada sesuatu yang lebih buruk telah terjadi.


Aku bertanya.

"Mengapa?"

Kakek itu menatapku.

Lalu berbisik.

"Karena sebelum menghilang..."

"Jono sering terlihat memakai celana sobek di lutut kanan."


Bulu kudukku langsung berdiri.


Aku mulai menyelidiki lebih jauh.

Dan akhirnya menemukan fakta mengejutkan.

Ternyata sebelum rumah Bu Sulastri dibangun...

Lahan itu pernah menjadi tempat tinggal Jono.

Rumah kecilnya berdiri tepat di lokasi yang sekarang menjadi kebun belakang.


Aku kembali ke rumah Bu Sulastri.

Saat memeriksa area belakang...

Aku menemukan sesuatu.

Tanah yang terlihat berbeda.

Lebih cekung.

Lebih gelap.

Seolah pernah digali.


Malam berikutnya aku berjaga di lokasi itu.

Sendirian.

Dengan doa yang terus kubaca.

Tepat pukul tiga dini hari.

Suara langkah kembali terdengar.

KREK...

KREK...

KREK...


Namun kali ini tidak hanya satu suara.

Ada suara lain.

Seperti seseorang menggali tanah.

GUK...

GUK...

GUK...


Aku menyorotkan senter.

Dan darahku seperti berhenti mengalir.

Di dekat jemuran...

Ada sosok lelaki tua sedang menggali tanah dengan tangan kosong.

Tanpa alat.

Tanpa cangkul.

Tangannya penuh lumpur.

Kukunya hitam.

Kulitnya membusuk.

Dan ia mengenakan...

Celana sobek itu.


Sosok tersebut berhenti menggali.

Lalu perlahan menoleh ke arahku.

Wajahnya hancur.

Sebagian pipinya seperti sudah membusuk.

Matanya kosong.

Namun ada kesedihan yang sangat dalam di sana.


Ia tidak menyerang.

Tidak mengejar.

Tidak menakut-nakuti.

Ia hanya menunjuk tanah yang digalinya.

Terus menunjuk.

Berulang-ulang.


Aku memahami maksudnya.

Esok pagi aku meminta warga membantu menggali lokasi tersebut.

Awalnya mereka menolak.

Namun akhirnya setuju.


Penggalian baru berjalan sekitar satu meter.

Saat cangkul mengenai sesuatu.

TOK!

Benda keras.


Tanah dibersihkan.

Dan yang muncul membuat semua orang terdiam.

Tulang manusia.


Penggalian dilanjutkan.

Dan akhirnya ditemukan kerangka lengkap.

Masih mengenakan sisa pakaian tua.

Termasuk potongan kain hitam yang sobek pada bagian lutut kanan.


Penduduk kampung gempar.

Polisi datang.

Pemeriksaan dilakukan.

Meski sudah bertahun-tahun berlalu, dugaan kuat mengarah pada pembunuhan lama yang tidak pernah terungkap.


Kerangka itu akhirnya dimakamkan secara layak.

Doa bersama dilakukan.

Dan sejak hari itu...

Celana sobek misterius tidak pernah muncul lagi.


Namun cerita belum selesai.

Karena sebelum aku meninggalkan kampung tersebut...

Aku mengalami sesuatu yang sampai sekarang masih kuingat.


Malam terakhir.

Aku berdiri di teras rumah.

Memandang jemuran yang kini kosong.

Tidak ada lagi celana misterius.

Tidak ada lagi langkah kaki.

Tidak ada lagi suara aneh.


Lalu dari kejauhan.

Di tepi sawah.

Aku melihat seseorang berdiri.

Lelaki kurus.

Mengenakan pakaian lusuh.

Dan untuk pertama kalinya...

Celananya tidak sobek lagi.


Ia menatapku.

Tersenyum kecil.

Kemudian membungkuk pelan.

Seolah mengucapkan terima kasih.


Sesaat kemudian kabut datang.

Menyelimutinya.

Dan ketika kabut itu menghilang...

Sosok tersebut sudah tidak ada.


Sampai hari ini aku masih percaya.

Tidak semua gangguan gaib datang untuk mencelakai manusia.

Ada yang datang karena marah.

Ada yang datang karena dendam.

Namun ada juga yang datang karena ingin didengar.

Ingin ditemukan.

Ingin dipulangkan.


Jadi jika suatu hari kalian menemukan pakaian asing yang terus kembali ke jemuran...

Jangan langsung menganggapnya sebagai kebetulan.

Karena mungkin saja...

Ada seseorang yang sudah lama terkubur dalam diam.

Dan satu-satunya cara ia bisa meminta pertolongan...

Adalah melalui selembar celana sobek yang tergantung di jemuran.

TAMAT