PULIHSEKETIKA.COM - Namaku Marfuah.
Kalau kalian sering membaca cerita-ceritaku, kalian pasti tahu bahwa aku tidak pernah sembarangan menceritakan sebuah kejadian. Banyak orang mengira aku hanya sedang mendongeng, padahal sebagian besar kisah yang kubagikan berasal dari pengalaman yang benar-benar pernah kudengar, kulihat, atau bahkan kualami sendiri.
Dan malam ini...
Aku akan menceritakan sesuatu yang sampai sekarang masih membuat bulu kudukku berdiri setiap kali mengingatnya.
Tentang...
SOROP.
Kalau kalian berasal dari Jawa Barat atau beberapa daerah di Jawa Tengah, mungkin pernah mendengar nama itu.
Sebagian orang menyebut Sorop sebagai hantu.
Sebagian lagi menyebutnya sebagai makhluk penunggu batas antara alam manusia dan alam yang tidak terlihat.
Namun menurut orang-orang tua yang pernah bertemu dengannya...
Sorop bukan sekadar hantu.
Sorop adalah pertanda.
Pertanda bahwa sesuatu akan diambil.
Dan ketika Sorop datang...
Biasanya ada yang tidak akan pernah kembali.
Kejadian ini terjadi sekitar delapan tahun lalu.
Saat itu aku masih sering diminta membantu orang-orang yang mengalami gangguan aneh di kampung-kampung terpencil.
Suatu sore, seorang lelaki bernama Pak Rahmat datang ke rumahku.
Wajahnya pucat.
Matanya cekung.
Seperti sudah berhari-hari tidak tidur.
"Ada apa, Pak?" tanyaku.
Ia duduk perlahan.
Lalu berkata dengan suara gemetar.
"Bu Marfuah... tolong keluarga saya."
Aku diam mendengarkan.
"Saya rasa ada sesuatu di rumah kami."
"Apa maksudnya?"
Pak Rahmat menelan ludah.
"Kami sering mendengar suara orang berjalan di atap."
"Itu biasa."
"Bukan, Bu."
"Suaranya selalu muncul menjelang subuh."
Aku mulai memperhatikan.
"Dan setiap suara itu muncul..."
Pak Rahmat berhenti bicara.
Wajahnya semakin pucat.
"Lalu?"
"Ada anggota keluarga yang sakit."
Aku mengernyit.
Pak Rahmat melanjutkan.
"Dua bulan lalu ibu saya meninggal."
"Sebulan lalu adik saya meninggal."
"Minggu kemarin anak saya masuk rumah sakit."
Aku merasakan hawa tidak enak.
Karena pola seperti itu tidak normal.
Sangat tidak normal.
Malam berikutnya aku memutuskan datang ke rumah Pak Rahmat.
Rumah itu berada di pinggir hutan bambu.
Jauh dari pemukiman.
Hanya ada tiga rumah di sekitar sana.
Sisanya kebun dan semak.
Begitu turun dari motor, aku langsung merasakan sesuatu.
Udara di sekitar rumah terasa dingin.
Padahal saat itu musim kemarau.
Aku menatap pohon bambu yang berdiri rapat di belakang rumah.
Daunnya diam.
Tidak bergerak.
Padahal angin cukup kencang.
Pengalaman mengajariku satu hal.
Kalau alam sekitar tiba-tiba terasa berbeda dari seharusnya...
Biasanya ada sesuatu yang sedang memperhatikan.
Malam itu aku menginap.
Sekitar pukul sebelas malam semua penghuni rumah sudah tidur.
Aku memilih duduk di ruang tengah.
Membaca doa.
Menunggu.
Satu jam.
Dua jam.
Tidak ada apa-apa.
Sampai sekitar pukul tiga dini hari.
Tiba-tiba.
KREK...
Suara kayu diinjak.
Aku membuka mata.
KREK...
KREK...
KREK...
Suara itu berasal dari atas rumah.
Langkah kaki.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Seolah seseorang sedang berjalan mengelilingi atap.
Aku berdiri.
Memperhatikan.
Langkah itu terus bergerak.
Dari ujung kiri.
Ke ujung kanan.
Lalu kembali lagi.
Tidak tergesa-gesa.
Tidak berat.
Tetapi cukup jelas untuk membuat siapa pun sulit bernapas.
Aku keluar rumah.
Langit masih gelap.
Aku mendongak.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun suara langkah itu masih terdengar.
Seolah berasal dari tempat yang tidak bisa kulihat.
Aku membaca doa.
Lalu mendengar suara lain.
Suara napas.
Tepat dari arah belakang rumah.
Aku berbalik.
Hutan bambu.
Gelap.
Sangat gelap.
Dan dari dalam kegelapan itu...
Aku melihat sesuatu.
Sepasang mata.
Menyala kemerahan.
Diam.
Mengawasi.
Aku tidak bergerak.
Makhluk itu juga tidak bergerak.
Kami saling menatap beberapa detik.
Lalu mata itu perlahan menghilang.
Masuk ke dalam gelap.
Dan bersamaan dengan itu...
Suara langkah di atap berhenti.
Subuh tiba.
Azan berkumandang.
Aku mengira semuanya selesai.
Namun saat azan hampir selesai...
Tiba-tiba suara muazin terputus.
Begitu saja.
Seperti radio yang dimatikan.
Aku membeku.
Karena suara azan dari masjid tidak mungkin berhenti mendadak.
Kecuali...
Ada sesuatu yang lebih dulu mendengarnya.
Pak Rahmat keluar dari kamar.
Wajahnya ketakutan.
"Bu Marfuah..."
Aku menoleh.
Ia menunjuk kamar anaknya.
Anaknya yang sedang sakit mendadak kejang.
Tubuhnya membiru.
Matanya terbuka lebar.
Dan ia berteriak dengan suara yang bukan miliknya.
"SOROP SUDAH DATANG!"
Aku langsung masuk ke kamar.
Anak itu terus meronta.
Tiga orang dewasa bahkan kesulitan menahannya.
Matanya menatap langit-langit.
Tidak berkedip.
Kemudian ia berkata lagi.
"KALIAN TERLAMBAT."
Suara itu berat.
Serak.
Seperti suara lelaki tua.
Aku membaca doa sekuat-kuatnya.
Beberapa menit kemudian tubuhnya lemas.
Pingsan.
Ruangan mendadak sunyi.
Namun di dalam hati...
Aku tahu masalah ini belum selesai.
Justru baru dimulai.
Pagi hari aku menemui seorang sesepuh kampung.
Namanya Mbah Karta.
Usianya lebih dari delapan puluh tahun.
Saat mendengar cerita tentang suara langkah di atap dan mata merah di hutan bambu, wajahnya langsung berubah.
"Kalian melihatnya?"
Aku mengangguk.
Mbah Karta menarik napas panjang.
"Itu Sorop."
Aku meminta penjelasan.
Lalu lelaki tua itu bercerita.
Menurut cerita leluhur, Sorop bukan hantu biasa.
Ia tidak tinggal di kuburan.
Tidak tinggal di pohon besar.
Tidak juga tinggal di sungai.
Sorop berjalan.
Berpindah-pindah.
Mengikuti manusia yang telah ditandai.
Konon bentuk aslinya tidak pernah jelas.
Kadang terlihat seperti lelaki tua.
Kadang seperti wanita.
Kadang hanya sepasang mata merah.
Namun satu cirinya selalu sama.
Ia datang menjelang subuh.
Dan selalu berjalan di atas rumah calon korbannya.
Aku bertanya.
"Apa yang terjadi setelah itu?"
Mbah Karta menatapku lama.
Kemudian menjawab.
"Biasanya ada yang meninggal."
Aku diam.
"Lalu kalau tidak ada yang meninggal?"
Ia menggeleng.
"Berarti ada yang lebih buruk."
Jantungku berdegup lebih cepat.
"Apa?"
"Hilang."
Hari itu aku memutuskan menyelidiki lebih jauh.
Aku mendatangi dua rumah lain di sekitar lokasi.
Ternyata mereka juga pernah mendengar langkah kaki di atap.
Tetapi hanya sekali.
Rumah Pak Rahmat berbeda.
Suara itu muncul hampir setiap malam.
Seolah Sorop sedang menunggu sesuatu.
Atau seseorang.
Malam kedua aku berjaga lagi.
Kali ini aku duduk di teras belakang.
Menghadap hutan bambu.
Pukul dua lewat lima puluh menit.
Udara mulai berubah.
Dingin.
Sangat dingin.
Lalu terdengar suara.
SRET...
SRET...
SRET...
Seperti seseorang menyeret kain panjang di tanah.
Aku menyorotkan senter.
Tidak ada apa-apa.
Namun suara itu semakin dekat.
Semakin dekat.
Dan tiba-tiba.
Aku melihat sosok tinggi berdiri di antara bambu.
Tubuhnya kurus.
Terlalu kurus.
Kepalanya miring.
Rambutnya panjang menutupi wajah.
Aku tidak bisa melihat matanya.
Tetapi aku tahu.
Makhluk itu sedang menatapku.
Aku membaca doa.
Sosok itu tidak bergerak.
Lalu perlahan.
Sangat perlahan.
Ia mengangkat tangannya.
Menunjuk rumah Pak Rahmat.
Kemudian menghilang.
Begitu saja.
Seolah ditelan gelap.
Pada saat yang sama.
Dari dalam rumah terdengar jeritan.
Aku berlari masuk.
Dan menemukan anak Pak Rahmat berdiri di sudut kamar.
Masih tidur.
Tetapi berdiri.
Matanya tertutup.
Kepalanya menengadah ke langit-langit.
Lalu ia berkata.
"DIA ADA DI ATAS."
Kami semua menoleh ke atas.
Dan saat itulah...
KREK.
Langkah kaki kembali terdengar.
Tepat di atas kamar.
Selangkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Kemudian berhenti.
Tepat di atas posisi anak itu berdiri.
Aku merasakan hawa yang sangat berat.
Seperti ada sesuatu besar sedang berada di atas rumah.
Mengintip.
Menunggu.
Tiba-tiba anak itu membuka mata.
Sepenuhnya.
Namun yang kulihat membuat darahku seperti berhenti mengalir.
Matanya hitam.
Seluruhnya hitam.
Tidak ada bagian putih.
Tidak ada iris.
Hanya hitam.
Pekat.
Dan ia tersenyum.
Senyum yang tidak mungkin dilakukan anak kecil.
"Dia lapar."
katanya.
Malam itu menjadi malam paling panjang yang pernah kualami.
Kami terus membaca doa sampai matahari terbit.
Begitu cahaya pagi muncul...
Suara langkah menghilang.
Dan anak itu kembali normal.
Tidak mengingat apa pun.
Aku mulai mencari asal mula gangguan itu.
Dan akhirnya menemukan sesuatu.
Dulu.
Sebelum rumah Pak Rahmat dibangun.
Di lokasi itu pernah ada sumur tua.
Sumur yang ditutup puluhan tahun lalu.
Karena beberapa orang ditemukan meninggal di dekatnya.
Tanpa sebab jelas.
Aku meminta Pak Rahmat menunjukkan lokasi sumur.
Ternyata letaknya tepat di belakang rumah.
Di dekat hutan bambu.
Tertutup semen.
Dan sudah lama terlupakan.
Saat kami membongkar sebagian penutupnya...
Tercium bau busuk yang luar biasa.
Bukan bau bangkai.
Bukan bau lumpur.
Melainkan bau seperti kain tua yang membusuk ratusan tahun.
Aku menyorotkan lampu ke dalam.
Dan melihat sesuatu.
Di dasar sumur.
Ada tumpukan benda putih.
Awalnya kukira batu.
Namun setelah diamati...
Itu tulang.
Banyak sekali tulang.
Manusia.
Pak Rahmat hampir pingsan.
Aku sendiri merinding.
Karena jumlahnya tidak sedikit.
Dan yang paling mengerikan...
Di antara tulang-tulang itu terdapat sebuah tengkorak yang menghadap ke atas.
Seolah sedang menatap kami.
Meski tidak memiliki mata.
Malam berikutnya adalah puncaknya.
Aku tahu Sorop tidak akan membiarkan kami begitu saja.
Dan benar.
Sekitar pukul tiga dini hari.
Seluruh rumah berguncang.
Bukan gempa.
Tetapi seperti ada sesuatu yang melompat ke atas atap.
BRAK!
Suara keras menggema.
Anak-anak menangis.
Orang dewasa berteriak.
Lalu terdengar langkah.
Cepat.
Berlari.
Mengelilingi rumah.
BRAK!
BRAK!
BRAK!
Seolah makhluk raksasa sedang berputar-putar di atas kepala kami.
Aku keluar.
Membawa lampu.
Dan apa yang kulihat malam itu tidak akan pernah kulupakan.
Di atas atap.
Ada sosok hitam besar.
Merangkak.
Tubuhnya panjang.
Tangannya terlalu panjang.
Kakinya bengkok.
Kepalanya menoleh ke arahku.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Dan aku melihat wajahnya.
Wajah tua.
Keriput.
Mulut robek sampai ke telinga.
Mata merah menyala.
Itulah pertama dan terakhir kalinya aku melihat Sorop dengan jelas.
Makhluk itu menatapku.
Lalu mengeluarkan suara.
Bukan raungan.
Bukan tawa.
Melainkan suara seperti puluhan orang berbisik bersamaan.
Aku tidak mengerti apa yang dikatakannya.
Namun tubuhku langsung lemas.
Seolah seluruh tenaga disedot keluar.
Aku terus membaca doa.
Tidak berhenti.
Sampai akhirnya makhluk itu menjerit.
Jeritan panjang yang membuat kaca jendela bergetar.
Lalu melompat ke arah hutan bambu.
Menghilang.
Dan tidak pernah kembali lagi.
Beberapa hari kemudian sumur tua itu dibersihkan.
Tulang-tulang di dalamnya dimakamkan secara layak.
Doa bersama dilakukan.
Dan sejak saat itu.
Suara langkah di atap tidak pernah terdengar lagi.
Anak Pak Rahmat sembuh.
Keluarganya kembali normal.
Namun ada satu hal yang masih membuatku tidak tenang.
Sebelum aku pulang.
Mbah Karta mengatakan sesuatu.
Sesuatu yang sampai hari ini masih kuingat.
"Bu Marfuah."
"Iya, Mbah?"
"Kalau suatu hari menjelang subuh Ibu mendengar langkah kaki di atap rumah..."
Aku diam.
"Jangan langsung keluar."
"Kenapa?"
Mbah Karta menatapku dalam-dalam.
Lalu berbisik.
"Karena kalau itu benar Sorop..."
"Berarti dia bukan sedang mencari rumah."
"Dia sedang mencari orang."
Sampai sekarang...
Kadang aku masih terbangun menjelang subuh.
Mendengar suara aneh dari atap rumah.
Dan setiap kali itu terjadi...
Aku selalu mengingat pesan Mbah Karta.
Aku tidak langsung keluar.
Aku hanya berdoa.
Dan berharap...
Suara itu hanyalah suara kucing.
Bukan langkah kaki sesuatu yang sudah lama menunggu di kegelapan.
Sesuatu...
Yang oleh orang-orang tua disebut...
SOROP.
Pesan dari MARFUAH:
Tidak semua makhluk gaib datang untuk menakut-nakuti manusia. Ada yang datang sebagai pertanda. Ada yang datang sebagai pengingat. Dan ada pula yang datang untuk mengambil sesuatu. Jika kalian pernah mendengar suara langkah kaki di atap rumah menjelang subuh, jangan panik. Perbanyak doa dan mendekatlah kepada Tuhan. Karena perlindungan terbaik bukanlah keberanian, melainkan keimanan.
Tamat.



0Komentar