PULIHSEKETIKA.COM
 - Namaku Marfuah.

Di kampung tempat aku dibesarkan, ada banyak sekali petuah yang diwariskan dari orang-orang tua.

Sebagian terdengar masuk akal.

Sebagian lagi terdengar seperti mitos.

Namun ada satu larangan yang selalu diucapkan dengan wajah serius.

Bahkan oleh orang-orang yang biasanya tidak percaya hal-hal gaib.

Mereka selalu berkata:

"Jangan terburu-buru membereskan barang milik orang yang baru meninggal sebelum 40 hari."

Dulu aku mengira itu hanyalah cara orang tua menghormati almarhum.

Sampai suatu kejadian membuatku memahami mengapa larangan itu diwariskan turun-temurun.

Dan sejak saat itu...

Aku tidak pernah lagi menganggap remeh masa 40 hari setelah kematian seseorang.


Kejadian ini terjadi sekitar tujuh tahun lalu.

Saat itu aku didatangi seorang wanita bernama Bu Wati.

Usianya sekitar empat puluh tahun.

Namun wajahnya terlihat jauh lebih tua.

Matanya sembab.

Tubuhnya gemetar.

Seperti orang yang sudah lama tidak tidur.

Begitu duduk di rumahku, ia langsung menangis.

"Bu Marfuah... saya takut pulang ke rumah."

Aku terdiam.

Biasanya orang yang datang kepadaku meminta bantuan karena gangguan gaib.

Namun ketakutan Bu Wati terlihat berbeda.

Seolah ia benar-benar dihantui sesuatu.


"Ada apa, Bu?"

Ia mengusap air mata.

"Lima belas hari yang lalu suami saya meninggal."

Aku mengangguk pelan.

"Innalillahi..."

Bu Wati kembali menangis.

Namun yang membuatku mulai curiga adalah kalimat berikutnya.

"Semenjak itu... suami saya seperti belum pergi."


Aku menatapnya.

"Maksud Ibu?"

Bu Wati menelan ludah.

Lalu berbisik.

"Saya masih sering mendengar dia berjalan di dalam rumah."


Bulu kudukku langsung berdiri.


Menurut cerita Bu Wati, suaminya bernama Pak Saman.

Seorang petani yang meninggal mendadak akibat serangan jantung.

Tidak ada kejadian aneh saat pemakaman.

Tidak ada pertanda apa pun.

Semuanya berlangsung normal.

Namun masalah mulai muncul seminggu kemudian.


Awalnya hanya suara langkah kaki.

Terdengar dari kamar almarhum.

Muncul setiap malam.

Tepat sekitar pukul dua belas.


KREK...

KREK...

KREK...


Seperti seseorang berjalan memakai sandal tua.

Pelan.

Teratur.

Dan selalu berakhir di depan pintu kamar.


Bu Wati mencoba mengabaikannya.

Namun gangguan semakin sering terjadi.

Lampu menyala sendiri.

Pintu lemari terbuka.

Dan beberapa kali ia mencium aroma minyak rambut yang biasa dipakai almarhum semasa hidup.


Aku bertanya.

"Ada sesuatu yang dilakukan setelah almarhum meninggal?"

Wajah Bu Wati langsung berubah.

Ia tampak ragu.

Sangat ragu.


"Ada."

"Apa?"

"Saya membuka lemarinya."


Aku diam.

Menunggu penjelasan.


Ternyata hanya tiga hari setelah pemakaman...

Bu Wati dan anak-anaknya mulai membagi pakaian almarhum.

Sebagian diberikan kepada tetangga.

Sebagian dijual.

Sebagian dibuang.


Aku tidak langsung menyimpulkan apa pun.

Namun dalam banyak cerita yang pernah kudengar...

Ada kepercayaan lama bahwa keluarga sebaiknya tidak terburu-buru mengutak-atik barang peninggalan almarhum.

Bukan karena barang tersebut berhantu.

Melainkan sebagai bentuk penghormatan dan masa berduka.


Tetapi apa yang terjadi berikutnya jauh lebih mengerikan.


Pada malam kesepuluh setelah kematian.

Bu Wati terbangun karena mendengar suara lemari dibuka.


KLEK...

KREEEK...


Padahal ia tinggal sendirian di kamar.

Anak-anaknya tidur di ruangan lain.


Saat membuka mata...

Ia melihat sesuatu.


Di depan lemari.

Ada seorang pria berdiri membelakanginya.


Pria itu mengenakan baju yang sama persis seperti pakaian terakhir yang dikenakan Pak Saman sebelum dimakamkan.


Bu Wati membeku.

Tubuhnya tidak bisa bergerak.

Mulutnya tidak mampu berteriak.


Sosok itu berdiri diam.

Lalu perlahan menoleh.


Dan ketika wajahnya terlihat...

Bu Wati pingsan.


Keesokan paginya ia ditemukan anaknya tergeletak di lantai.


Setelah mendengar cerita tersebut, aku memutuskan datang langsung ke rumah mereka.


Rumah itu berada di ujung kampung.

Dikelilingi kebun singkong dan pohon bambu.

Saat tiba menjelang sore...

Aku langsung merasakan sesuatu.


Rumah itu tidak terasa menyeramkan.

Tidak terasa angker.

Namun terasa...

Sedih.


Sulit menjelaskannya.

Tetapi suasana rumah seperti dipenuhi kesedihan yang belum selesai.


Malam itu aku menginap.

Aku memilih tidur di ruang tengah.

Dekat kamar almarhum.


Pukul sebelas malam.

Tidak ada apa-apa.


Pukul satu dini hari.

Masih sunyi.


Namun tepat pukul dua belas lewat empat puluh menit...

Aku mendengar suara.


KREK...

KREK...

KREK...


Langkah kaki.


Suara itu berasal dari dalam kamar almarhum.


Aku bangkit.

Memegang tasbih.

Membaca doa.


Suara langkah itu terus terdengar.


KREK...

KREK...

KREK...


Lalu berhenti.


Tepat di depan pintu kamar.


Dan saat itulah...

Pintu kamar perlahan terbuka sendiri.


KREEEEEK...


Aku merasakan hawa dingin menjalar dari tengkuk hingga punggung.


Dari dalam kamar yang gelap...

Muncul aroma minyak rambut.

Aroma yang sama seperti yang diceritakan Bu Wati.


Kemudian aku melihat sesuatu.


Ada sosok lelaki berdiri di balik pintu.


Wajahnya samar.

Tubuhnya samar.

Seperti kabut berbentuk manusia.


Namun satu hal yang jelas.

Ia sedang memandang ruang tamu.


Memandang ke arahku.


Aku terus membaca doa.

Tidak berhenti.


Sosok itu tidak bergerak.

Tidak mendekat.

Tidak menyerang.


Ia hanya berdiri.

Diam.


Kemudian perlahan menghilang.


Malam berikutnya aku kembali berjaga.

Dan kali ini aku menemukan sesuatu yang penting.


Di bagian belakang lemari almarhum...

Ada sebuah kotak kayu tua.


Bu Wati mengaku belum pernah melihatnya.


Saat dibuka...

Di dalamnya terdapat surat-surat lama.

Foto keluarga.

Dan sebuah buku catatan.


Buku itu ternyata berisi tulisan tangan Pak Saman.


Catatan tentang hidupnya.

Tentang anak-anaknya.

Tentang istrinya.

Tentang harapan-harapan yang belum sempat ia sampaikan.


Di halaman terakhir terdapat tulisan yang membuat kami semua menangis.


"Kalau aku meninggal duluan, jangan buru-buru membuang barang-barangku."

"Biarkan dulu beberapa waktu."

"Karena aku ingin keluargaku tahu bahwa setiap benda itu menyimpan kenangan kita."


Bu Wati menangis tersedu-sedu.


Ia mengaku tidak pernah mengetahui keberadaan buku tersebut.


Malam itu untuk pertama kalinya sejak kematian suaminya...

Tidak ada suara langkah.


Tidak ada pintu terbuka sendiri.


Tidak ada aroma minyak rambut.


Aku mengira semuanya sudah selesai.


Namun ternyata belum.


Karena malam ke-39 setelah kematian Pak Saman...

Terjadi sesuatu yang tidak pernah kulupakan.


Aku sedang berada di rumah ketika Bu Wati menelepon.

Suaranya panik.


"Bu Marfuah... tolong datang."


Aku langsung berangkat.


Saat tiba...

Semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah.

Wajah mereka pucat.


"Ada apa?"


Anak sulung Pak Saman menunjuk jendela.


Aku melihat ke arah sana.


Di kaca jendela terdapat bekas telapak tangan.


Dari luar.


Padahal hujan turun deras malam itu.


Yang membuatku merinding...

Bekas telapak tangan itu terlihat seperti baru saja menempel beberapa detik sebelumnya.


Dan ukurannya...

Sama persis dengan tangan Pak Saman.


Malam itu kami membaca doa bersama.

Hingga menjelang subuh.


Tepat saat azan pertama terdengar dari masjid...

Sebuah angin lembut masuk melalui celah jendela.


Aroma minyak rambut itu kembali muncul.


Namun kali ini berbeda.


Tidak menakutkan.


Tidak membuat merinding.


Justru terasa hangat.


Seperti seseorang sedang berpamitan.


Dan setelah itu...

Semuanya berhenti.


Hari ke-40 berlalu.


Tidak ada lagi langkah kaki.

Tidak ada lagi sosok di depan lemari.

Tidak ada lagi suara pintu terbuka sendiri.


Rumah kembali normal.


Sebelum aku pulang, Bu Wati bertanya kepadaku.


"Menurut Bu Marfuah... apakah itu benar-benar suami saya?"


Aku terdiam cukup lama.


Lalu menjawab.


"Ada hal yang tidak selalu bisa dijelaskan manusia."


"Tapi yang pasti..."


"Kadang-kadang yang belum selesai bukan urusan orang yang meninggal."


"Melainkan perasaan orang yang ditinggalkan."


Sampai hari ini...

Aku masih mengingat kejadian tersebut.


Dan setiap kali mendengar seseorang berkata bahwa masa 40 hari hanyalah angka biasa...

Aku teringat rumah Pak Saman.

Teringat langkah kaki di tengah malam.

Teringat aroma minyak rambut yang datang tanpa wujud.

Dan teringat sebuah perpisahan yang tampaknya belum sempat terucapkan.


Karena terkadang...

Yang paling menyeramkan bukanlah hantu.

Melainkan kenangan yang belum sempat dilepaskan.

TAMAT