PULIHSEKETIKA.COM - Belakangan ini, saya mulai merasakan suasana yang semakin jelas. Di tengah masyarakat, muncul dua arus yang sama-sama kuat. Ada yang berdiri mendukung Presiden dengan penuh optimisme. Ada pula yang memilih bersikap kritis, bahkan menentang beberapa kebijakan yang dianggap belum sesuai harapan.
Sebagian orang menganggap kondisi ini sebagai tanda perpecahan. Namun bagi saya, belum tentu demikian.
Justru saya melihatnya dari sudut yang berbeda.
Kalau kita pernah mengendarai mobil, kita pasti tahu satu hal. Mobil tidak akan berjalan dengan baik hanya karena memiliki mesin yang kuat. Mobil juga membutuhkan rem yang berfungsi dengan baik.
Mesin memberikan tenaga.
Rem memberikan kendali.
Tanpa mesin, mobil tidak akan bergerak.
Tanpa rem, mobil bisa kehilangan arah.
Begitu pula sebuah negara.
Kelompok yang PRO ibarat bensin yang membuat kendaraan terus melaju. Mereka memberikan semangat, optimisme, kepercayaan, dan energi agar pemerintahan memiliki kekuatan untuk menjalankan program-programnya.
Di sisi lain, kelompok yang KONTRA bukan selalu musuh. Dalam demokrasi, mereka bisa menjadi rem yang mengingatkan ketika laju kendaraan mulai terlalu cepat atau ada jalan yang perlu diperhatikan kembali.
Masalahnya bukan pada ada atau tidaknya rem.
Masalahnya adalah apabila rem dipakai untuk menghentikan perjalanan selamanya.
Begitu pula bensin. Masalah bukan pada banyaknya bahan bakar, tetapi jika pengemudi lupa mengendalikan kecepatan.
Artinya, keduanya sama-sama memiliki fungsi.
Saya justru khawatir apabila suatu negara hanya memiliki satu suara. Ketika semua orang hanya berkata "iya", siapa yang akan mengingatkan jika ada kekeliruan?
Sebaliknya, jika semua orang hanya berkata "tidak", siapa yang akan memberikan ruang agar pembangunan terus berjalan?
Demokrasi memang sering terdengar gaduh.
Kadang membuat lelah.
Kadang membuat media sosial dipenuhi perdebatan yang tidak ada habisnya.
Namun kegaduhan tidak selalu berarti kehancuran.
Kadang itu pertanda bahwa masyarakat masih peduli.
Masih mau berpikir.
Masih mau mengawasi.
Yang perlu kita jaga adalah jangan sampai perbedaan pendapat berubah menjadi kebencian terhadap sesama anak bangsa.
Berbeda pilihan tidak berarti berbeda tujuan.
Saya yakin, sebagian besar masyarakat Indonesia, baik yang mendukung maupun yang mengkritik Presiden, sama-sama menginginkan satu hal.
Indonesia yang semakin maju.
Ekonomi yang semakin baik.
Lapangan pekerjaan yang semakin luas.
Harga kebutuhan pokok yang stabil.
Pendidikan yang berkualitas.
Dan masa depan yang lebih cerah untuk anak-anak kita.
Tujuan akhirnya sama.
Yang berbeda hanyalah cara memandang jalan menuju ke sana.
Saya justru melihat Presiden berada pada posisi yang unik. Dukungan menjadi energi untuk terus bekerja. Kritik menjadi pengingat agar setiap kebijakan semakin matang.
Kalau mampu menerima keduanya secara proporsional, seorang pemimpin justru akan tumbuh menjadi lebih kuat.
Karena sejarah menunjukkan bahwa banyak pemimpin besar bukan dibentuk oleh tepuk tangan semata, tetapi juga oleh kritik yang membuat mereka terus memperbaiki diri.
Maka menurut saya, masyarakat juga memiliki tanggung jawab.
Yang mendukung, jangan sampai menutup mata terhadap kekurangan.
Yang mengkritik, jangan sampai kehilangan objektivitas.
Dukungan tanpa evaluasi bisa berubah menjadi pembenaran.
Kritik tanpa solusi bisa berubah menjadi kemarahan yang tidak menghasilkan apa-apa.
Indonesia terlalu besar untuk dihabiskan hanya dengan saling menyerang.
Energi bangsa ini jauh lebih bermanfaat apabila digunakan untuk saling mengingatkan, saling memperbaiki, dan saling menjaga agar arah pembangunan tetap berada di jalur yang benar.
Karena pada akhirnya...
PRO adalah bahan bakar yang membuat bangsa terus bergerak.
KONTRA adalah rem yang memastikan bangsa tidak kehilangan arah.
Dan kendaraan bernama Indonesia membutuhkan keduanya agar bisa sampai ke tujuan dengan selamat.
Bukan siapa yang paling keras suaranya yang akan dikenang sejarah.
Melainkan siapa yang paling tulus menjaga negeri ini, meski melalui cara yang berbeda.
- Bangsa


0Komentar