PULIHSEKETIKA.COM - Belakangan ini saya kembali melihat media sosial dipenuhi perdebatan mengenai sosok Tiyo Ardianto, mantan Ketua BEM yang dikenal cukup vokal menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan bangsa. Ada yang memujinya sebagai mahasiswa pemberani. Ada pula yang menganggap kritik-kritiknya terlalu keras bahkan berlebihan.
Yang menarik perhatian saya justru bukan siapa yang benar dan siapa yang salah.
Yang membuat saya berpikir adalah bagaimana sebuah kritik mampu membelah masyarakat menjadi dua kubu yang sama-sama merasa sedang membela Indonesia.
Setiap kali muncul tokoh yang vokal, selalu ada dua reaksi.
Sebagian orang berdiri di belakangnya.
Sebagian lagi berdiri berhadapan dengannya.
Lalu saya bertanya kepada diri sendiri...
Apakah memang beginilah wajah demokrasi?
Ataukah kita mulai kehilangan kemampuan untuk mendengar sebelum menghakimi?
Hari ini saya ingin mengajak kalian melihat persoalan ini dari sudut pandang yang lebih tenang.
Bukan untuk membela siapa pun.
Bukan pula untuk menjatuhkan siapa pun.
Melainkan mencoba memahami mengapa perdebatan seperti ini terus terjadi di negeri yang sama-sama kita cintai.
Ketika Kritik Selalu Menjadi Perdebatan
Saya percaya satu hal.
Indonesia dibangun bukan hanya oleh orang-orang yang selalu setuju.
Indonesia juga dibangun oleh orang-orang yang berani mengatakan bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Dalam perjalanan bangsa ini, kritik bukanlah sesuatu yang asing.
Mahasiswa sejak dahulu memiliki sejarah panjang dalam menyampaikan aspirasi masyarakat.
Mulai dari era reformasi hingga sekarang, mahasiswa sering menjadi kelompok yang paling keras menyuarakan berbagai persoalan sosial, ekonomi, pendidikan maupun politik.
Karena itulah ketika seorang mantan Ketua BEM seperti Tiyo Ardianto menyampaikan kritik, perhatian publik tentu sangat besar.
Namun perhatian besar selalu datang bersama risiko besar.
Semakin banyak orang mendengar, semakin banyak pula orang yang akan menilai.
Mengapa Banyak Orang Mendukung Tiyo Ardianto?
Saya mencoba memahami alasan mereka yang mendukung.
Bukan karena saya harus setuju.
Tetapi karena setiap pendapat layak dipahami.
Sebagian masyarakat melihat keberanian Tiyo sebagai sesuatu yang mulai jarang ditemukan.
Mereka merasa mahasiswa memang seharusnya menjadi penyambung suara rakyat.
Ketika ada kebijakan yang dianggap belum tepat, mereka berharap ada pihak yang cukup berani untuk mengingatkan.
Dalam pandangan kelompok ini, kritik bukanlah kebencian.
Kritik adalah bentuk kepedulian.
Karena orang yang benar-benar peduli biasanya tidak akan diam ketika melihat sesuatu yang menurutnya perlu diperbaiki.
Saya memahami cara berpikir ini.
Sebab tanpa kritik, sebuah negara bisa kehilangan cermin untuk melihat kekurangannya sendiri.
Kritik Tidak Selalu Berarti Membenci
Menurut saya, salah satu kesalahan terbesar masyarakat hari ini adalah menganggap kritik identik dengan permusuhan.
Padahal belum tentu demikian.
Seorang anak bisa mengkritik ayahnya.
Seorang pegawai bisa mengkritik kantornya.
Seorang mahasiswa bisa mengkritik pemerintahnya.
Semua itu belum tentu lahir karena kebencian.
Bisa jadi justru karena rasa memiliki.
Karena ingin melihat keadaan menjadi lebih baik.
Saya rasa inilah yang juga diyakini oleh banyak pendukung Tiyo Ardianto.
Mereka melihat kritik sebagai bentuk partisipasi dalam demokrasi.
Bukan ancaman.
Di Sisi Lain, Mengapa Banyak yang Tidak Setuju?
Namun saya juga mencoba mendengarkan kelompok yang berbeda pandangan.
Mereka memiliki alasan yang tidak boleh diabaikan.
Sebagian masyarakat merasa kritik yang terlalu keras terkadang justru memperkeruh suasana.
Ada pula yang beranggapan bahwa kritik sebaiknya selalu diiringi solusi yang realistis.
Karena mengkritik jauh lebih mudah dibandingkan menjalankan sebuah kebijakan.
Mereka melihat pemerintah menghadapi persoalan yang sangat kompleks.
Tidak semua keputusan dapat memuaskan seluruh masyarakat.
Dalam sudut pandang ini, kritik memang penting.
Tetapi cara menyampaikannya juga dianggap sama pentingnya.
Saya pikir pendapat ini juga layak dihargai.
Karena demokrasi bukan hanya soal kebebasan berbicara.
Demokrasi juga mengajarkan tanggung jawab dalam menggunakan kebebasan tersebut.
Apakah Kritik Harus Selalu Disukai?
Jawaban saya sederhana.
Tidak.
Kritik memang tidak diciptakan untuk membuat semua orang nyaman.
Kritik justru sering hadir karena ada rasa tidak nyaman terhadap suatu keadaan.
Kalau semua kritik selalu diterima dengan tepuk tangan, mungkin namanya bukan kritik lagi.
Karena itu saya tidak heran ketika kritik Tiyo Ardianto menuai pro dan kontra.
Yang penting menurut saya bukan apakah semua orang menyukainya.
Tetapi apakah ruang untuk menyampaikan pendapat tetap terbuka.
Dan apakah setiap perbedaan bisa dibalas dengan argumentasi, bukan dengan kebencian.
Demokrasi Tidak Pernah Menjanjikan Semua Orang Akan Sepakat
Saya rasa kita perlu mengingat satu hal.
Demokrasi bukan mesin pencetak keseragaman.
Demokrasi justru menyediakan ruang bagi berbagai pandangan yang berbeda.
Selama perbedaan itu disampaikan dengan damai dan sesuai aturan hukum, maka masyarakat berhak menentukan sendiri mana pendapat yang menurut mereka paling masuk akal.
Di sinilah kedewasaan diuji.
Apakah kita mampu berbeda pendapat tanpa saling merendahkan?
Apakah kita mampu berdebat tanpa harus memusuhi?
Saya percaya pertanyaan-pertanyaan inilah yang jauh lebih penting daripada sekadar memilih kubu.
Ketika Media Sosial Menjadi Ruang Sidang Terbesar di Indonesia
Saya sering berpikir, mungkin zaman sudah benar-benar berubah.
Dulu, sebuah pendapat membutuhkan waktu berhari-hari untuk menyebar. Orang harus menulis di surat kabar, tampil di televisi, atau berbicara dalam forum tertentu agar didengar masyarakat luas.
Sekarang?
Cukup satu unggahan.
Satu video berdurasi beberapa menit.
Bahkan hanya satu potongan kalimat.
Dalam hitungan jam, jutaan orang sudah memiliki pendapat.
Sayangnya, yang sering terjadi bukanlah diskusi.
Melainkan penghakiman.
Saya melihat fenomena ini hampir setiap hari.
Begitu ada tokoh yang menyampaikan kritik, kolom komentar berubah menjadi arena pertarungan.
Orang-orang saling menyerang.
Sebagian bahkan belum membaca utuh apa yang disampaikan, tetapi sudah memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah.
Saya merasa inilah tantangan terbesar demokrasi di era digital.
Bukan lagi soal siapa yang boleh berbicara.
Melainkan apakah masyarakat masih mau mendengarkan sampai selesai.
Algoritma Tidak Pernah Peduli Mana yang Benar
Ada satu hal yang menurut saya sering dilupakan.
Media sosial memiliki algoritma.
Dan algoritma tidak bekerja berdasarkan kebenaran.
Algoritma bekerja berdasarkan perhatian.
Semakin banyak orang marah...
Semakin banyak komentar muncul...
Semakin besar peluang sebuah konten disebarkan.
Artinya, perdebatan sering kali menjadi "bahan bakar" media sosial.
Saya tidak mengatakan bahwa semua orang sengaja mencari kontroversi.
Namun kita perlu sadar bahwa sistem digital memang cenderung memperbesar sesuatu yang mengundang emosi.
Itulah mengapa satu kritik bisa berkembang menjadi perdebatan nasional hanya dalam waktu singkat.
Apakah Mahasiswa Masih Menjadi Suara Rakyat?
Saya kemudian teringat sejarah Indonesia.
Mahasiswa bukanlah kelompok baru dalam perjalanan bangsa ini.
Sejak dulu, kampus dikenal sebagai tempat lahirnya gagasan-gagasan besar.
Banyak perubahan dalam sejarah Indonesia tidak lepas dari keberanian mahasiswa menyampaikan aspirasi.
Mereka turun ke jalan.
Mereka berdiskusi.
Mereka menulis.
Mereka menyampaikan kritik.
Karena itulah saya memahami mengapa sebagian masyarakat menganggap suara mantan Ketua BEM masih memiliki pengaruh.
Bukan semata karena jabatan yang pernah dipegang.
Tetapi karena mahasiswa sejak lama memiliki posisi moral sebagai salah satu pengawas kehidupan berbangsa.
Namun di sisi lain, saya juga memahami bahwa zaman telah berubah.
Kini masyarakat memiliki akses informasi yang jauh lebih luas.
Setiap kritik akan langsung diuji oleh jutaan pasang mata.
Setiap pernyataan akan dianalisis dari berbagai sudut.
Dan setiap kesalahan sekecil apa pun bisa menjadi sorotan nasional.
Kritik Memerlukan Keberanian, Tetapi Juga Kebijaksanaan
Saya percaya menyampaikan kritik bukan pekerjaan mudah.
Butuh keberanian.
Karena kita tahu tidak semua orang akan menyukai apa yang kita katakan.
Namun keberanian saja belum cukup.
Saya juga percaya kritik membutuhkan kebijaksanaan.
Kebijaksanaan dalam memilih kata.
Kebijaksanaan dalam memahami situasi.
Kebijaksanaan dalam menerima bahwa orang lain juga memiliki hak untuk berbeda pendapat.
Begitu pula bagi pihak yang menerima kritik.
Tidak semua kritik harus dianggap sebagai serangan.
Kadang kritik hanyalah ajakan untuk melihat persoalan dari sisi yang berbeda.
Kalau kedua pihak sama-sama mau saling mendengar, saya yakin ruang dialog akan jauh lebih sehat daripada ruang saling menghina.
Mengapa Kita Terlalu Cepat Memilih Kubu?
Ada kebiasaan yang menurut saya semakin kuat di masyarakat.
Begitu muncul satu isu, kita merasa harus segera menentukan posisi.
Pro atau kontra.
Mendukung atau menolak.
Hitam atau putih.
Padahal kenyataan tidak selalu sesederhana itu.
Seseorang bisa saja setuju terhadap sebagian kritik yang disampaikan Tiyo Ardianto, tetapi tidak setuju dengan cara penyampaiannya.
Atau sebaliknya.
Seseorang bisa saja menghargai keberanian mahasiswa, tetapi memiliki pandangan berbeda mengenai solusi yang ditawarkan.
Sayangnya, ruang seperti itu semakin sempit.
Media sosial sering memaksa kita menjadi dua kubu yang saling berhadapan.
Padahal berpikir kritis justru berarti mampu melihat persoalan dari berbagai sisi.
Demokrasi Bukan Tentang Siapa yang Paling Keras Berteriak
Saya ingin mengajak pembaca merenungkan satu hal.
Apakah demokrasi diukur dari seberapa keras seseorang berbicara?
Menurut saya, tidak.
Demokrasi diukur dari apakah semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berbicara.
Dan yang tidak kalah penting...
Apakah kita mau mendengar.
Sebab demokrasi yang sehat bukan hanya dipenuhi suara.
Tetapi juga dipenuhi telinga yang bersedia mendengarkan.
Tanpa itu, kita hanya akan saling berbicara.
Tidak ada yang benar-benar memahami.
Menjadi Dewasa dalam Berbeda Pendapat
Saya percaya Indonesia tidak kekurangan orang pintar.
Indonesia juga tidak kekurangan orang yang peduli.
Yang kadang masih kurang adalah kesediaan untuk menerima bahwa orang lain bisa memiliki sudut pandang berbeda.
Perbedaan bukan ancaman.
Perbedaan adalah kenyataan.
Justru karena berbeda, kita memiliki kesempatan untuk saling melengkapi.
Saya berharap setiap kritik yang muncul dapat dijawab dengan data, argumentasi, dan dialog yang sehat.
Bukan dengan caci maki.
Bukan dengan kebencian.
Apalagi dengan tindakan yang mengarah pada intimidasi atau kekerasan.
Karena ketika ruang dialog hilang, yang tersisa hanyalah kebisingan.
Dan dari kebisingan, sangat sulit menemukan solusi.
Saya Tidak Sedang Mencari Siapa yang Menang
Setelah saya mencoba melihat persoalan ini dari berbagai sudut pandang, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana.
Saya tidak sedang mencari siapa yang menang.
Saya juga tidak sedang menentukan siapa yang paling benar.
Karena menurut saya, setiap orang memiliki hak untuk menyampaikan pandangan selama dilakukan dengan cara yang bertanggung jawab dan tetap menghormati hukum yang berlaku.
Yang ingin saya cari justru sesuatu yang jauh lebih penting.
Apakah dari semua perdebatan ini kita benar-benar mendapatkan pelajaran?
Atau jangan-jangan kita hanya sibuk mencari lawan?
Saya melihat begitu banyak energi yang habis hanya untuk saling membuktikan siapa yang paling benar.
Padahal bangsa ini masih memiliki begitu banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.
Kemiskinan.
Lapangan pekerjaan.
Pendidikan.
Kesehatan.
Pembangunan daerah.
Ketimpangan ekonomi.
Teknologi.
Ketahanan pangan.
Masih banyak persoalan yang membutuhkan pikiran-pikiran terbaik anak bangsa.
Sayang sekali apabila energi kita habis hanya untuk saling menyerang di media sosial.
Jangan Sampai Berbeda Pendapat Berubah Menjadi Permusuhan
Saya selalu percaya bahwa berbeda pendapat adalah hal yang sangat wajar.
Bahkan dalam satu keluarga pun sering terjadi perbedaan pandangan.
Ayah bisa berbeda dengan anak.
Suami bisa berbeda dengan istri.
Sahabat pun bisa memiliki sudut pandang yang tidak sama.
Lalu mengapa ketika berbicara tentang politik atau kebijakan publik, kita sering kali merasa bahwa orang yang berbeda pendapat harus dianggap sebagai musuh?
Menurut saya, di sinilah kita perlu belajar menjadi masyarakat yang lebih dewasa.
Perbedaan bukan alasan untuk memutus persaudaraan.
Perbedaan juga bukan alasan untuk saling membenci.
Justru melalui perbedaan, kita belajar melihat sesuatu yang mungkin tidak pernah kita pikirkan sebelumnya.
Kalau semua orang berpikir sama, mungkin kita tidak akan pernah menemukan solusi baru.
Saya Percaya Indonesia Lebih Besar daripada Satu Perdebatan
Terkadang saya merasa media sosial membuat kita lupa bahwa Indonesia sangatlah luas.
Ada jutaan orang yang setiap hari bekerja keras demi keluarganya.
Ada petani yang sejak subuh berada di sawah.
Ada nelayan yang melaut.
Ada guru yang mengajar.
Ada tenaga kesehatan yang menjaga pasien.
Ada pelaku UMKM yang berjuang mempertahankan usahanya.
Ada mahasiswa yang belajar demi masa depan.
Ada aparat yang menjalankan tugasnya.
Ada pekerja yang mencari nafkah dari pagi hingga malam.
Mereka semua mungkin memiliki pilihan politik yang berbeda.
Mereka mungkin memiliki tokoh favorit yang berbeda.
Namun pada akhirnya mereka tetap hidup berdampingan sebagai sesama warga negara Indonesia.
Karena itu saya percaya, Indonesia jauh lebih besar daripada satu perdebatan yang sedang ramai hari ini.
Kritik Akan Selalu Ada
Saya rasa selama negara ini masih berdiri sebagai negara demokrasi, kritik tidak akan pernah hilang.
Hari ini mungkin yang menjadi sorotan adalah Tiyo Ardianto.
Besok bisa saja tokoh lain.
Lusa mungkin orang yang sama sekali berbeda.
Itulah dinamika demokrasi.
Yang berubah hanyalah nama.
Yang tetap sama adalah perbedaan pendapat.
Maka yang harus kita bangun bukanlah budaya membungkam.
Tetapi budaya berdialog.
Karena kritik yang dijawab dengan argumentasi akan melahirkan pembelajaran.
Sebaliknya, kritik yang dijawab dengan kebencian hanya akan menghasilkan konflik yang tidak pernah selesai.
Kepada Mereka yang Mendukung
Kalau Anda termasuk orang yang mendukung kritik Tiyo Ardianto, saya berharap dukungan itu tidak berhenti pada emosi.
Dukunglah dengan data.
Dukunglah dengan gagasan.
Dukunglah dengan diskusi yang santun.
Karena tujuan utama kritik seharusnya adalah memperbaiki keadaan, bukan sekadar memenangkan perdebatan.
Kepada Mereka yang Tidak Setuju
Dan apabila Anda termasuk yang tidak sepakat dengan pandangan Tiyo Ardianto, saya juga berharap ketidaksetujuan itu disampaikan dengan cara yang baik.
Jawablah kritik dengan argumentasi.
Jawablah dengan fakta.
Jawablah dengan sudut pandang yang berbeda.
Bukan dengan penghinaan.
Bukan dengan ancaman.
Apalagi dengan tindakan yang melanggar hukum.
Karena ketika kita mampu menjawab kritik secara dewasa, justru di situlah kualitas demokrasi terlihat.
Yang Saya Pelajari Hari Ini
Kalau ada satu pelajaran yang saya ambil dari polemik ini, maka pelajaran itu adalah bahwa demokrasi bukan hanya soal hak berbicara.
Demokrasi juga tentang kemampuan mendengar.
Tentang kemampuan menerima bahwa orang lain mungkin memiliki pengalaman hidup yang berbeda.
Tentang kemampuan berdiskusi tanpa kehilangan rasa hormat.
Saya sadar, itu tidak mudah.
Bahkan saya sendiri mungkin belum selalu berhasil melakukannya.
Namun saya percaya, bangsa yang besar dibangun oleh masyarakat yang terus belajar.
Belajar mendengar.
Belajar memahami.
Belajar menerima perbedaan.
Penutup dari Bangsa
Kalau hari ini saya menulis opini ini, bukan karena saya ingin mengajak kalian memilih satu kubu tertentu.
Saya hanya ingin mengajak kita semua mengingat kembali bahwa Indonesia tidak dibangun oleh orang-orang yang selalu sepakat.
Indonesia dibangun oleh keberagaman.
Keberagaman suku.
Keberagaman agama.
Keberagaman budaya.
Termasuk keberagaman pendapat.
Maka mari kita jaga ruang demokrasi ini dengan sebaik-baiknya.
Biarkan kritik hadir.
Biarkan jawaban juga hadir.
Biarkan masyarakat menilai dengan akal sehat.
Karena saya yakin, ketika perbedaan pendapat disampaikan dengan etika, dijawab dengan argumentasi, dan diterima dengan kedewasaan, Indonesia justru akan menjadi bangsa yang semakin kuat.
Saya percaya masa depan negeri ini tidak ditentukan oleh seberapa keras kita berteriak.
Melainkan oleh seberapa bijak kita berdiskusi.
Dan semoga, siapa pun yang sedang membaca tulisan ini, baik yang setuju maupun yang tidak setuju dengan saya, tetap memiliki satu tujuan yang sama.
Yaitu melihat Indonesia menjadi negara yang semakin maju, adil, damai, dan mampu menyatukan perbedaan menjadi kekuatan.
Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca hingga akhir.
Karena bagi saya, membaca sampai selesai adalah tanda bahwa kita masih mau mendengar sebelum mengambil kesimpulan.
Bagaimana menurut Anda?
Apakah kritik yang disampaikan tokoh mahasiswa merupakan bagian penting dalam menjaga demokrasi? Ataukah kritik sebaiknya selalu disertai pendekatan dan solusi yang lebih konstruktif?
Sampaikan pendapat Anda di kolom komentar PULIHSEKETIKA.COM. Mari berdiskusi secara santun, saling menghargai, dan bersama-sama menjaga ruang demokrasi yang sehat untuk Indonesia.



0Komentar