PULIHSEKETIKA.COM
 - JAKARTA – Baru juga banyak orang mulai menata napas setelah harga kebutuhan hidup naik turun…

Eh, tiba-tiba kabar lain datang:

Harga Pertamax naik.

Dan bukan naik tipis.

Yang bikin ramai, sebagian pihak menilai kenaikan ini terasa seperti datang mendadak—bahkan disebut minim komunikasi ke publik dan DPR. Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) PDIP Komisi VI DPR, Mufti Anam, menyayangkan keputusan kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green yang menurutnya tidak lebih dulu dibahas dengan Komisi VI DPR sebagai mitra pengawasan. Ia menyebut kebijakan tersebut terkesan “sembunyi-sembunyi”.


Aku, KARTO, langsung kepikiran satu hal:

Kalau bensin naik, yang deg-degan bukan cuma pemilik mobil.

Ojol mikir biaya bensin.

Pedagang mikir ongkos kirim.

Orang kerja mikir biaya berangkat.

Dan biasanya…

Kalau BBM mulai bergerak, harga lain ikut gelisah.


Memangnya Naik Seberapa?

Mulai 10 Juni 2026, harga Pertamax (RON 92) naik dari sekitar Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 naik dari sekitar Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Sementara jenis BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar disebut tetap pada harga sebelumnya.

Kalau dihitung cepat…

Isi bensin yang biasanya terasa “aman”, sekarang bisa bikin orang mikir dua kali sebelum muter jauh.

Dan yang paling terasa sering kali bukan cuma kendaraan pribadi.

Tapi biaya hidup secara pelan-pelan.

Karena ketika ongkos distribusi naik, harga barang di pasar kadang ikut bergerak. Para pengamat ekonomi dan akademisi juga menilai kenaikan BBM non-subsidi dapat memberi efek domino ke biaya transportasi, UMKM, hingga daya beli masyarakat.


Pemerintah dan Pertamina Bilang Apa?

Di sisi lain, Pertamina menyebut penyesuaian harga ini dilakukan mengikuti mekanisme evaluasi harga BBM non-subsidi yang mempertimbangkan harga minyak dunia dan keekonomian pasar. Kenaikan disebut sudah dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator.

Jadi secara aturan…

Ini disebut bagian dari formula pasar.

Tapi tetap saja, di lapangan pertanyaannya sederhana:

“Kenapa rasanya hidup makin mahal?”


KARTO Bilang Gini…

Aku percaya rakyat Indonesia itu tahan banting.

Tapi rakyat juga manusia.

Kalau tiap bulan ada kejutan baru…

Dompet bisa ikut kehilangan arah.

Yang bikin orang kadang kesal bukan cuma karena harga naik.

Tapi karena terasa seperti:

“Lho… kok tiba-tiba?”

Karena komunikasi itu penting.

Rakyat mungkin bisa menerima kabar pahit…

Asal jangan merasa ditinggal tanpa penjelasan.


Penutup: Yang Ditakutkan Bukan Cuma Harga BBM, Tapi Efek Berantainya

Kalau Pertamax naik, mungkin ada yang bilang:

“Kan itu non-subsidi, bukan buat semua orang.”

Tapi hidup tidak sesederhana itu.

Karena ketika biaya energi berubah…

Sering kali yang ikut berubah bukan cuma angka di SPBU.

Tapi juga isi dompet rakyat di akhir bulan.