TSM7GfYpGUWoGUr7BUr0GSO9

MANCHESTER UNITED KALAH DARI CITY YANG MAIN 10 ORANG! Old Trafford Kok Malah Jadi Tempat Tetangga Pesta?


PulihSeketika.Com
 - BERITA BOLA DJ BANGSA EAA — Gol City Memang Kontroversial, Tapi MU Juga Harus Berkaca: Lawan Sepuluh Pemain Kok Tidak Bisa Menang?

Saya harus mengawali tulisan ini dengan pengakuan.

Di Premier League saya suka Manchester United.

Manchester City saya nikmati.

Arsenal juga saya suka.

Iya.

Silakan bingung.

Hahaha.

Tetapi justru karena saya suka Manchester United, saya ingin bertanya:

MU MAU SAMPAI KAPAN BEGINI?

Manchester Derby dimainkan di Old Trafford pada Minggu, 13 September 2026.

Manchester City kehilangan Phil Foden sejak menit ke-23.

Kartu merah.

City bermain dengan 10 pemain.

Masih panjang sekali pertandingan.

Kalau Anda pendukung Manchester United, tentu mulai berpikir:

“Nah! Ini kesempatan!”

Old Trafford.

Lawan rival sekota.

Unggul jumlah pemain.

Apa lagi yang kurang?

Ternyata...

Malah Manchester City yang menang 1-0.

Erling Haaland mencetak satu-satunya gol pada menit ke-60.

Mas...

Saya mau marah tapi bingung mulai dari mana.

Hahaha.


PHIL FODEN KARTU MERAH MENIT 23

Pertandingan berubah ketika Phil Foden terlibat insiden dengan Bruno Fernandes.

Foden melakukan gerakan menendang ke arah tubuh Bruno.

Wasit memberikan kartu merah.

VAR memeriksa keputusan tersebut dan mengonfirmasinya sebagai violent conduct.

Artinya?

Mulai menit ke-23 Manchester City bermain dengan sepuluh orang.

Secara teori, ini keuntungan besar bagi Manchester United.

Masih ada sekitar 67 menit waktu normal.

Ditambah injury time.

Main di kandang.

Dukungan Old Trafford.

Derby.

Lawan sepuluh orang.

Kalau saya pemain MU?

Saya berpikir:

“Tekan mereka sampai tidak bisa keluar!”

Tetapi kenyataannya tidak semudah itu.


CITY MALAH TERLIHAT SEPERTI TIM YANG TAHU HARUS BERBUAT APA

Ini yang membuat saya salut kepada Manchester City.

Setelah kehilangan satu pemain, mereka tidak panik.

Tidak berantakan.

Tidak tiba-tiba semua pemain berdiri di depan gawang sambil berdoa.

Hahaha.

Mereka menyesuaikan permainan.

Menjadi lebih disiplin.

Lebih kompak.

Dan menunggu kesempatan.

Premier League bahkan menggambarkan kemenangan tersebut sebagai hasil dari kebersamaan, mentalitas dan kualitas City ketika bermain dengan sepuluh orang.

Ini salah satu ciri tim yang sudah terbiasa dengan tekanan.

Keadaan berubah?

Adaptasi.

Bukan panik.


MENIT 60: HAALAND DATANG

Kemudian datanglah menit ke-60.

Josko Gvardiol mengirim bola.

Erling Haaland menyelesaikannya.

Gol.

Manchester United 0-1 Manchester City.

Haaland lagi.

Kalau orang ini sudah berada dekat kotak penalti, bek memang tidak boleh tidur sepersekian detik.

Badannya besar.

Gerakannya cepat.

Finishing-nya tajam.

Dan gol tersebut tercatat sebagai gol kesembilan Haaland dalam Manchester Derby.

Tetapi...

Cerita belum selesai.

Karena gol ini kemudian menjadi kontroversi besar.


TERNYATA GOL HAALAND SEHARUSNYA TIDAK DISAHKAN

Nah.

Ini penting.

Saat gol terjadi, Haaland awalnya dinyatakan offside oleh asisten wasit.

VAR kemudian memeriksa dan menyatakan Haaland berada dalam posisi onside.

Gol diberikan.

Masalahnya adalah posisi Enzo Fernández.

Enzo berada dalam posisi offside dan kemudian dinilai ikut memengaruhi permainan.

Beberapa hari setelah pertandingan, Pro Ref, badan yang mengelola perangkat pertandingan Premier League, mengakui bahwa keputusan mengesahkan gol tersebut adalah sebuah kesalahan.

Howard Webb mengatakan mereka merasa perlu mengakui adanya kesalahan dalam situasi tersebut.

Jadi fans United yang protes?

Ada dasarnya.

Ini bukan sekadar:

“Ah, fans MU cari alasan.”

Tidak.

Badan perwasitannya sendiri mengakui terjadi kesalahan.


TAPI MU JUGA JANGAN BERSEMBUNYI DI BALIK VAR

Nah!

Ini bagian penting menurut saya.

Apakah Manchester United dirugikan?

Ya, berdasarkan pengakuan Pro Ref mengenai gol tersebut.

Tetapi apakah itu berarti seluruh masalah United selesai dijelaskan dengan kalimat:

“Gara-gara VAR!”

Menurut saya tidak.

Karena Manchester City bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-23.

Manchester United punya waktu sangat panjang untuk mencetak gol.

Bahkan sebelum Haaland mencetak gol.

Bahkan setelah Haaland mencetak gol.

Tetapi skor akhirnya?

0.

Itu juga harus dibicarakan.


OLD TRAFFORD HARUSNYA MENJADI TEMPAT YANG MENAKUTKAN

Ini yang membuat saya sedih melihat Manchester United sekarang.

Saya tumbuh mengenal Old Trafford sebagai:

The Theatre of Dreams.

Tempat lawan datang dengan tekanan.

Tempat pertandingan belum selesai sebelum peluit terakhir.

Tempat lahirnya istilah:

Fergie Time.

Tempat Manchester United pernah membuat lawan merasa:

“Kalau belum unggul tiga gol, belum aman.”

Sekarang?

City datang.

Kehilangan satu pemain.

Lalu tetap pulang membawa tiga poin.

Ini bukan Old Trafford yang ingin saya lihat.


CITY JUSTRU MENUNJUKKAN MENTALITAS DERBY

Saya sebelumnya pernah menulis:

Manchester City terlalu kuat atau Premier League yang harus belajar mengejarnya?

Pertandingan ini memberikan contoh.

City tidak bermain sempurna.

Mereka kehilangan Foden.

Situasinya sulit.

Bermain tandang.

Derby.

Sepuluh pemain.

Tetapi mereka menemukan cara untuk bertahan.

Memilih momentum.

Dan mencetak gol—meski kemudian keputusan gol itu diakui keliru oleh badan perwasitan.

Mentalitas bertanding mereka tetap patut diperhatikan.

Karena kartu merah tidak membuat mereka kehilangan kepala.


UNITED SEBENARNYA PUNYA PELUANG

Jangan mengira Manchester United sama sekali tidak mengancam.

Marcus Rashford sempat menghantam tiang pada babak pertama.

Kobbie Mainoo juga mengenai tiang pada babak kedua.

Bryan Mbeumo mendapat peluang pada akhir pertandingan.

Jadi peluang ada.

Masalahnya?

Tidak masuk.

Dan sepak bola memang kejam.

Tiang tidak memberikan setengah gol.

Peluang tidak memberikan setengah poin.

Yang dihitung:

bola masuk atau tidak.


SAYA JUSTRU KANGEN MU YANG KEJAM

Manchester United tidak harus bermain seperti Manchester City.

Tidak perlu.

United punya DNA sendiri.

Saya justru ingin MU kembali menemukan identitasnya.

Cepat.

Agresif.

Berani.

Menyerang.

Old Trafford hidup.

Pemain lawan merasa tertekan.

Kalau lawan bermain sepuluh orang?

Hukum!

Bukan malah kita yang kebobolan.

Hahaha.


HAALAND MEMANG MENYEBALKAN KALAU JADI LAWAN

Saya juga harus memberi kredit kepada Erling Haaland.

Sebagai penikmat sepak bola, saya suka striker seperti ini.

Tidak perlu 200 sentuhan.

Tidak perlu setiap lima menit melakukan skill untuk masuk highlight TikTok.

Dia cuma menunggu.

Bola datang.

Dor.

Gol.

Walaupun gol derby kali ini akhirnya dinilai seharusnya dianulir, naluri Haaland berada di area berbahaya tetap terlihat.

Dan sepanjang musim, pemain seperti Haaland tidak boleh diberikan ruang.


CITY ERA ENZO MARESCA JUGA MENARIK

Ada perubahan besar di Manchester City.

Era Pep Guardiola sudah berakhir dan sekarang City berada di bawah Enzo Maresca.

Menariknya, awal musim mereka justru berjalan sangat kuat.

Kemenangan derby ini menjaga start sempurna City di Premier League, empat kemenangan dari empat pertandingan.

Itulah mengapa saya bilang:

Jangan menganggap City selesai hanya karena Pep sudah tidak di sana.

Justru sekarang kita akan melihat apakah budaya kemenangan yang dibangun selama bertahun-tahun bisa diteruskan.


UNITED? EMPAT LAGA BARU EMPAT POIN

Sebaliknya, Manchester United setelah empat pertandingan liga baru mengumpulkan empat poin: satu kemenangan, satu seri dan dua kekalahan.

Masih awal musim?

Betul.

Jangan panik berlebihan.

Tetapi jangan juga setiap minggu berkata:

“Masih awal musim.”

Nanti tahu-tahu Natal.

Hahaha.

Manchester United membutuhkan konsistensi.

Karena klub sebesar United tidak bisa selamanya hidup dari kalimat:

“Sedang membangun.”

Membangun itu bagus.

Tetapi suatu saat rumahnya harus jadi juga.


JANGAN SALAHKAN SATU PEMAIN SAJA

Kalau United gagal, jangan langsung:

“Bruno salah!”

“Striker salah!”

“Bek salah!”

“Kiper salah!”

Masalah klub besar biasanya lebih kompleks.

Sistem.

Kepercayaan diri.

Konsistensi.

Pengambilan keputusan.

Kualitas skuad.

Mentalitas.

Pelatih.

Manajemen.

Semua berhubungan.

Makanya perubahan Manchester United tidak bisa hanya:

beli satu superstar lalu berharap semua selesai.

Sudah pernah mencoba.

Tidak sesederhana itu.


RONALDO? YA TENTU SAYA INGAT

Hahaha.

Tidak lengkap membahas Manchester United tanpa saya menyebut Bang Dodo.

Cristiano Ronaldo pernah datang sebagai bocah kurus.

Pergi sebagai Ballon d'Or.

Kemudian kembali ketika sudah menjadi legenda.

Saya tahu periode keduanya tidak berakhir indah.

Tetapi satu hal dari Ronaldo yang saya ingin lihat kembali di United adalah:

rasa tidak terima terhadap kekalahan.

Bukan marah sembarangan.

Tetapi rasa:

“Saya tidak mau kalah.”

United membutuhkan pemain-pemain dengan mental seperti itu.


PENUTUP: VAR SALAH, TAPI UNITED TETAP HARUS BERKACA

Jadi kita harus adil.

Manchester City menang 1-0 di Old Trafford.

Phil Foden dikartu merah pada menit ke-23.

Haaland mencetak gol pada menit ke-60.

Kemudian Pro Ref mengakui gol tersebut seharusnya tidak disahkan karena keterlibatan Enzo Fernández dari posisi offside.

Manchester United memang punya alasan merasa dirugikan.

Itu fakta yang harus diakui.

Tetapi saya juga tidak mau United menggunakan VAR sebagai selimut untuk menutupi masalah sendiri.

Lawan bermain sepuluh orang sejak menit 23.

Main di Old Trafford.

Anda punya peluang.

Tetapi tidak mencetak gol.

Itu juga fakta.

Sebagai orang yang menyukai Manchester United, saya justru ingin klub ini marah kepada dirinya sendiri.

Bukan sekadar marah kepada wasit.

Evaluasi.

Bangkit.

Dan kembalikan Old Trafford menjadi tempat yang membuat lawan takut.

Karena nama Manchester United terlalu besar kalau setiap musim pembicaraannya hanya:

“Kapan bangkit?”

Saya ingin suatu hari bisa menulis:

“SETAN MERAH SUDAH KEMBALI!”

Bukan karena nostalgia.

Bukan karena era Sir Alex.

Tetapi karena Manchester United hari ini memang kembali kuat.

Dan untuk City?

Selamat tiga poin.

Walaupun golnya ternyata bermasalah.

Hahaha.

Derby selesai.

Tetapi masalah Manchester United?

Belum.


BERITA BOLA DJ BANGSA EAA
Berita terbaru, fakta pertandingan, sedikit fanatisme, humor, dan celotehan sepak bola ala DJ BANGSA EAA.

0Komentar

https://www.pulihseketika.com/2026/08/10000-orang-rp10000-daftar-pendukung.html
https://www.pulihseketika.com/2026/08/10000-orang-rp10000-daftar-pendukung.html
© Copyright - PULIHSEKETIKA.COM - FRESH NEWS ENTERTAINMENT FOR YOU #waktunyapulih
Berhasil Ditambahkan

Tulis Apa Yang Ingin Kamu Cari Dan Tekan ENTER Untuk Mencari.