PulihSeketika.Com - Ada masa ketika hidup tidak berjalan seperti yang pernah kita bayangkan.
Dahulu kita punya rencana.
Di umur sekian ingin sudah mapan.
Punya pekerjaan bagus.
Punya tabungan.
Membangun usaha.
Mempunyai rumah.
Menikah.
Membahagiakan orang tua.
Membuat sesuatu yang bisa dibanggakan.
Pokoknya dalam kepala, kehidupan terlihat rapi.
Lalu kita benar-benar menjalani hidup.
Ternyata...
berantakan juga.
Hehehe.
Ada rencana yang gagal.
Ada orang yang pergi.
Ada uang yang hilang.
Ada pekerjaan yang tidak berjalan.
Ada keputusan yang ternyata salah.
Ada kesempatan yang terlambat kita sadari.
Ada tahun-tahun ketika rasanya kita hanya bertahan.
Kemudian suatu malam kita duduk sendirian dan berpikir:
“Kok hidupku jadi begini?”
Lebih berat lagi ketika melihat usia.
Waktu terus berjalan.
Lalu muncul ketakutan:
“Apa aku masih punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya?”
Kalau kamu sedang berada dalam fase itu, aku ingin mengajakmu melihat hidup dari sudut yang sedikit berbeda.
Mungkin memang ada bagian cerita yang tidak bisa diubah.
Tetapi selama kehidupan masih berjalan, bagian yang sudah terjadi bukanlah seluruh ceritanya.
Masih ada halaman berikutnya.
Mari kita ngobrol.
Masa Lalu Tidak Bisa Diedit, Tetapi Ia Tidak Harus Menulis Seluruh Masa Depan
Kita semua mempunyai bagian kehidupan yang kalau diberi kesempatan mungkin ingin diubah.
Seandainya dahulu tidak mengambil keputusan itu.
Seandainya dahulu lebih berani.
Seandainya dahulu tidak mempercayai orang tersebut.
Seandainya mulai lebih cepat.
Seandainya menabung.
Seandainya belajar.
Seandainya tidak berhenti.
Kata “seandainya” bisa menjadi tempat tinggal yang sangat melelahkan.
Karena tidak peduli berapa lama kita memikirkannya, masa lalu tetap tidak berubah.
Yang bisa berubah adalah cara kita menggunakan apa yang sudah terjadi.
Kesalahan bisa menjadi pengetahuan.
Kegagalan bisa menjadi informasi.
Kehilangan bisa mengubah prioritas.
Pengalaman buruk bisa membuat kita lebih berhati-hati.
Bukan berarti semua hal buruk harus dianggap sebagai berkah.
Ada pengalaman yang memang buruk.
Titik.
Tetapi setelah itu terjadi, kita masih mempunyai pilihan:
Apakah kejadian itu hanya akan menjadi luka, atau suatu hari juga menjadi sesuatu yang membuat kita lebih memahami hidup?
Jangan Menganggap Satu Fase Buruk Sebagai Kesimpulan Seluruh Kehidupan
Ketika sedang berada di tengah masalah, kita mudah berpikir bahwa hidup akan seperti ini selamanya.
Keuangan sedang sulit:
“Aku akan begini terus.”
Pekerjaan gagal:
“Karierku selesai.”
Usaha tutup:
“Aku memang tidak bisa berhasil.”
Hubungan berakhir:
“Aku tidak akan menemukan siapa-siapa lagi.”
Padahal kita sedang mengambil kondisi hari ini lalu menggunakannya untuk meramalkan puluhan tahun kehidupan.
Kita tidak tahu.
Hari ini hanyalah hari ini.
Memang ada masalah yang membutuhkan waktu lama untuk diselesaikan.
Tidak semua berubah dalam seminggu.
Tetapi perubahan sering terjadi dari keputusan kecil yang dikumpulkan dalam waktu panjang.
Satu keterampilan.
Satu perkenalan.
Satu pekerjaan.
Satu pelanggan.
Satu keputusan finansial.
Satu kebiasaan.
Kemudian sesuatu mulai bergerak.
Umur Bukan Bukti Bahwa Kesempatanmu Sudah Habis
Salah satu hal yang membuat manusia takut memulai lagi adalah umur.
“Sudah terlambat.”
Terlambat dibanding siapa?
Kalau ada batas usia nyata untuk sesuatu, tentu perlu kita terima.
Tetapi banyak hal dalam kehidupan tidak mempunyai garis waktu seketat yang kita bayangkan.
Belajar sesuatu yang baru.
Membangun usaha.
Menulis.
Berkarya.
Mengubah kebiasaan.
Memperbaiki keuangan.
Membangun relasi yang lebih sehat.
Memulai pekerjaan baru.
Tidak semuanya harus dilakukan pada usia tertentu.
Kadang yang membuat kita berhenti bukan kenyataan bahwa kesempatan sudah habis.
Kita berhenti karena malu menjadi pemula pada usia sekarang.
Padahal lima tahun dari sekarang umur kita tetap bertambah, mau mencoba atau tidak.
Kalau memang ada sesuatu yang realistis untuk dimulai hari ini, mungkin pertanyaannya bukan:
“Bukankah sudah terlambat?”
Tetapi:
“Kalau tidak mulai sekarang, kapan?”
Hidup Tidak Harus Kembali Seperti Dulu untuk Bisa Menjadi Baik Lagi
Ini penting terutama setelah kehilangan sesuatu.
Kita sering ingin hidup kembali seperti sebelum masalah terjadi.
Ingin keuangan kembali seperti dulu.
Karier seperti dulu.
Hubungan seperti dulu.
Diri kita seperti dulu.
Tetapi kadang tidak bisa.
Dan mungkin memang tidak perlu.
Kehidupan berikutnya bisa mempunyai bentuk berbeda.
Tidak sama bukan berarti lebih buruk.
Mungkin pekerjaan berubah.
Lingkungan berubah.
Prioritas berubah.
Mimpi berubah.
Kamu juga berubah.
Jangan terlalu sibuk membangun replika masa lalu sampai tidak melihat kemungkinan kehidupan baru.
Terkadang bangkit bukan berarti kembali menjadi orang yang dahulu.
Bangkit berarti belajar menjadi seseorang yang baru setelah melewati apa yang terjadi.
Tidak Semua Kemajuan Akan Terlihat Dramatis
Kita suka cerita perubahan yang besar.
Dari bangkrut menjadi miliarder.
Dari gagal menjadi terkenal.
Dari nol menjadi luar biasa.
Bagus.
Tetapi sebagian besar perubahan hidup tidak seperti film.
Kadang kemajuannya sangat biasa.
Bulan ini pengeluaran sedikit lebih teratur.
Minggu ini olahraga dua kali.
Hari ini mengirim lamaran.
Mulai belajar satu kemampuan.
Kembali menghubungi seseorang.
Menyelesaikan satu pekerjaan.
Tidur sedikit lebih baik.
Tidak spektakuler.
Tetapi kehidupan memang sering diperbaiki seperti memperbaiki rumah.
Satu bagian.
Kemudian bagian berikutnya.
Jangan menunggu perubahan besar untuk percaya bahwa perubahan sedang terjadi.
Kamu Tidak Membutuhkan Seluruh Rencana untuk Memulai
Kadang kita tidak bergerak karena ingin mengetahui semuanya terlebih dahulu.
“Kalau aku mengambil jalan ini, lima tahun lagi bagaimana?”
Tidak tahu.
Dan memang tidak selalu bisa diketahui.
Kita hanya perlu cukup informasi untuk mengambil langkah berikutnya.
Bayangkan berjalan malam dengan lampu kecil.
Cahayanya mungkin hanya beberapa meter.
Tetapi setelah berjalan beberapa meter, bagian berikutnya terlihat.
Begitu terus.
Kehidupan sering seperti itu.
Kita tidak membutuhkan peta lengkap sampai akhir.
Kadang cukup:
“Apa langkah terbaik yang bisa kulakukan dengan informasi yang kumiliki sekarang?”
Lakukan.
Kemudian lihat lagi.
Jangan Menunggu Percaya Diri untuk Bergerak
Kita sering berpikir:
“Nanti kalau sudah yakin, aku mulai.”
Padahal keyakinan sering muncul setelah kita mulai.
Pertama kali pasti ragu.
Pertama kali membuka usaha.
Melamar pekerjaan.
Belajar bidang baru.
Membuat karya.
Berbicara dengan orang baru.
Semua bisa terasa menakutkan.
Keberanian bukan kondisi ketika rasa takut hilang.
Kadang keberanian hanyalah:
“Aku takut, tetapi langkah kecil ini masih bisa kulakukan.”
Itu cukup.
Berhenti Menghukum Dirimu dengan Versi Kehidupan yang Tidak Pernah Terjadi
Ini mungkin bagian yang cukup berat.
Kita kadang bukan hanya berduka terhadap sesuatu yang hilang.
Kita berduka terhadap kehidupan yang seharusnya terjadi menurut kepala kita.
“Seharusnya sekarang aku sudah punya rumah.”
“Seharusnya bisnis itu berhasil.”
“Seharusnya hubungan itu bertahan.”
“Seharusnya aku sudah berada di posisi tertentu.”
Tetapi kehidupan versi itu tidak terjadi.
Dan terus membandingkan kehidupan nyata dengan kehidupan imajiner akan membuat apa pun yang kita punya terasa kurang.
Lihat kenyataan.
Bukan untuk menyerah.
Tetapi untuk mengetahui titik keberangkatan yang sebenarnya.
“Baik. Ini hidupku sekarang.”
Dari sini, apa yang bisa dilakukan?
Itu jauh lebih berguna.
MAINDFULL: Tanyakan Apa yang Masih Bisa Ditulis dari Ceritamu
Bayangkan hidup seperti buku.
Beberapa bab sudah selesai.
Ada bab yang menyenangkan.
Ada yang mungkin tidak ingin dibaca lagi.
Ada keputusan tokoh utamanya yang membuat kita ingin berteriak:
“Kenapa sih kamu melakukan itu?”
Hehehe.
Tetapi bukunya belum selesai.
Coba tanyakan:
Kalau lima tahun berikutnya menjadi bab baru, aku ingin bab itu bercerita tentang apa?
Tidak perlu langsung tentang kekayaan atau kesuksesan besar.
Mungkin:
Tentang aku yang akhirnya belajar menjaga kesehatan.
Tentang aku yang berani memulai kembali.
Tentang aku yang memperbaiki hubungan dengan keluarga.
Tentang aku yang belajar mengelola uang.
Tentang aku yang kembali berkarya.
Tentang aku yang berhenti hidup berdasarkan penilaian orang.
Kemudian tanyakan:
Apa satu tindakan hari ini yang sesuai dengan cerita itu?
Di situlah perubahan dimulai.
Kamu Tidak Harus Membuktikan Comeback kepada Siapa Pun
Ketika pernah jatuh, kita kadang ingin bangkit secara spektakuler supaya orang-orang melihat.
“Lihat, aku berhasil.”
Tidak perlu.
Bangkitlah untuk kehidupanmu.
Tidak semua kebangkitan membutuhkan penonton.
Kalau sekarang hidupmu menjadi lebih tenang, itu cukup.
Kalau kondisi finansial perlahan membaik, bagus.
Kalau bisa tidur lebih nyenyak, itu kemajuan.
Kalau sekarang lebih mampu menjaga diri, hebat.
Kamu tidak membutuhkan tepuk tangan agar perubahan menjadi nyata.
CLOSING: Ceritamu Belum Selesai
Mungkin kalau melihat beberapa tahun terakhir, ada bagian kehidupan yang membuatmu kecewa.
Ada rencana yang tidak terjadi.
Ada waktu yang terasa terbuang.
Ada keputusan yang ingin diperbaiki.
Aku tidak akan mengatakan:
“Lupakan semuanya.”
Tidak.
Itu bagian dari hidupmu.
Akui.
Pelajari.
Kalau perlu, sesali sebentar.
Tetapi jangan tinggal di sana selamanya.
Karena selama kamu masih menjalani kehidupan, masih ada sesuatu yang bisa dilakukan.
Mungkin tidak bisa memperbaiki semuanya.
Ada hal yang memang tidak bisa dikembalikan.
Tetapi selalu ada kemungkinan untuk menentukan bagaimana kita menjalani bagian berikutnya.
Kalau uang hilang, mungkin bisa dibangun kembali perlahan.
Kalau pekerjaan selesai, mungkin ada keterampilan yang bisa dipelajari.
Kalau sebuah mimpi gagal, mungkin ada bentuk baru yang bisa dicoba.
Kalau kamu pernah membuat keputusan buruk, keputusan berikutnya tidak harus sama.
Kamu tidak membutuhkan kehidupan sempurna untuk memulai perubahan.
Kamu hanya membutuhkan satu keputusan yang sedikit lebih baik daripada kemarin.
Kemudian ulangi.
Satu hari.
Satu minggu.
Satu bulan.
Mungkin hasilnya tidak langsung terlihat.
Tidak apa-apa.
Kita sudah belajar bahwa hidup bukan perlombaan.
Kita juga sudah belajar bahwa capek boleh.
Gagal bukan identitas.
Memulai kembali bukan sesuatu yang memalukan.
Kesulitan finansial tidak menghapus harga diri.
Dan kebahagiaan tidak harus menunggu seluruh masalah selesai.
Sekarang tinggal satu hal:
tetap bersedia menulis halaman berikutnya.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di hidupmu.
Dan kamu juga mungkin belum tahu.
Tetapi justru karena belum tahu...
jangan terlalu cepat menulis akhir cerita.
Besok masih ada kemungkinan.
Minggu depan masih ada pilihan.
Tahun depan mungkin ada sesuatu yang hari ini bahkan belum terpikirkan.
Jadi kalau malam ini kamu merasa hidup sudah terlalu jauh berantakan, ambil napas.
Lihat kenyataan.
Kemudian katakan:
“Baik. Ini bukan cerita yang dahulu kurencanakan.”
Lalu tambahkan:
“Tetapi ceritanya belum selesai.”
Besok bangun.
Tulis satu halaman lagi melalui tindakanmu.
Tidak harus indah.
Tidak harus hebat.
Yang penting jujur.
Yang penting bergerak.
Dan siapa tahu, beberapa tahun dari sekarang kamu melihat kembali fase ini dan berkata:
“Ternyata waktu itu bukan akhir hidupku. Itu hanya bagian ketika ceritaku berubah arah.”
Selama perjalanan masih berlangsung, jangan buru-buru menilai seluruh ceritanya dari satu bab yang buruk.
Hidupmu belum selesai.
Masih ada halaman kosong.
Dan mulai hari ini...
kamu masih mempunyai kesempatan untuk menulis sesuatu yang berbeda di sana.
— DJ BANGSA EAA



0Komentar