PulihSeketika.Com - "Teknologi memang bisa mempercepat pendidikan. Tetapi ketika sinyal saja masih menjadi barang mewah bagi sebagian anak Indonesia, apakah kita sedang membangun masa depan... atau sedang memperlebar jarak?"
Katanya Semua Sudah Serba Digital...
Hari ini hampir semua urusan pendidikan mulai bersentuhan dengan teknologi.
Absensi digital.
Rapor digital.
Ujian berbasis komputer.
Platform pembelajaran.
Administrasi daring.
Semuanya terdengar modern.
Semuanya terdengar hebat.
Namun saya selalu teringat satu pertanyaan sederhana...
Apakah seluruh Indonesia benar-benar sudah siap berjalan di jalur yang sama?
Indonesia Tidak Hanya Terdiri dari Kota Besar
Di kota, internet mungkin sudah menjadi kebutuhan sehari-hari.
Tetapi di banyak daerah, sinyal masih menjadi perjuangan.
Ada anak yang harus berjalan ke bukit hanya untuk mengirim tugas.
Ada guru yang mengunduh materi pembelajaran ketika sedang berada di kecamatan karena di sekolahnya tidak ada jaringan yang memadai.
Ada sekolah yang memiliki komputer, tetapi tidak memiliki koneksi internet yang stabil.
Ironisnya, mereka tetap diminta mengikuti sistem yang sama.
Bukan karena mereka tidak mau maju.
Tetapi karena kondisi di lapangan memang belum sepenuhnya mendukung.
Momentum untuk Mengevaluasi, Bukan Menyalahkan
Belakangan, publik kembali menyoroti berbagai kebijakan pendidikan yang pernah dijalankan, termasuk terkait program digitalisasi yang menjadi bagian dari pembahasan di ruang publik.
Biarlah setiap proses hukum maupun evaluasi kebijakan berjalan sesuai aturan yang berlaku.
Kita menghormati asas praduga tak bersalah dan percaya bahwa setiap proses harus dilakukan secara objektif.
Namun sebagai masyarakat, kita juga boleh bertanya...
Apakah setiap kebijakan digital telah disesuaikan dengan kebutuhan dan kesiapan setiap daerah?
Karena kebijakan yang baik bukan hanya terlihat bagus di atas kertas.
Tetapi juga mampu dijalankan dengan baik di lapangan.
Teknologi Adalah Alat, Bukan Tujuan
Saya tidak pernah menolak kemajuan teknologi.
Justru saya percaya teknologi bisa membuka kesempatan belajar yang lebih luas.
Tetapi jangan sampai kita lupa.
Laptop tidak otomatis membuat pendidikan menjadi berkualitas.
Aplikasi tidak otomatis membuat siswa lebih memahami pelajaran.
Internet tidak otomatis membuat guru lebih mudah mengajar.
Semua itu hanyalah alat.
Yang paling penting tetap guru yang menginspirasi, murid yang semangat belajar, dan lingkungan sekolah yang mendukung proses pendidikan.
Jangan Sampai Anak-Anak Kita Tertinggal Karena Alamat Rumahnya
Anak yang lahir di kota memiliki hak yang sama dengan anak yang lahir di pelosok.
Mimpi mereka sama besarnya.
Semangat mereka sama tingginya.
Yang berbeda hanyalah akses.
Kalau pembangunan digital tidak dilakukan secara merata, maka teknologi yang seharusnya menjadi jembatan justru bisa berubah menjadi tembok pemisah.
Dan itu adalah hal yang tidak boleh kita biarkan.
Penutup
Saya percaya Indonesia mampu membangun pendidikan yang modern.
Saya juga percaya digitalisasi adalah bagian dari masa depan.
Namun masa depan tidak boleh hanya dinikmati oleh mereka yang tinggal di tempat dengan sinyal penuh.
Kemajuan baru benar-benar berarti ketika bisa dirasakan oleh semua.
Bukan hanya oleh sekolah yang berada di pusat kota.
Tetapi juga oleh sekolah kecil di ujung desa.
Karena pada akhirnya...
Ukuran keberhasilan pendidikan bukanlah seberapa canggih teknologi yang kita miliki.
Melainkan seberapa banyak anak Indonesia yang bisa meraih cita-citanya tanpa dibatasi oleh tempat mereka dilahirkan.
— Bangsa
.jpg)

0Komentar