PulihSeketika.Com - Beberapa tahun terakhir saya melihat perubahan yang luar biasa.
Dulu kalau ditanya anak kecil ingin jadi apa...
Jawabannya dokter.
Guru.
Tentara.
Polisi.
Pilot.
Insinyur.
Petani.
Nelayan.
Hari ini?
Jawabannya mulai berubah.
"Aku mau jadi YouTuber."
"Aku mau jadi TikToker."
"Aku mau jadi streamer."
"Aku mau jadi seleb media sosial."
Saya tersenyum.
Karena menjadi kreator konten bukan sesuatu yang salah.
Bahkan banyak kreator yang berhasil membuka lapangan kerja, mengedukasi masyarakat, dan menghasilkan karya luar biasa.
Tetapi...
Ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya.
Kalau suatu hari semua orang ingin membuat konten... siapa yang akan menciptakan hal-hal yang layak dijadikan konten?
Indonesia Sedang Mengalami Pergeseran Mimpi
Media sosial telah mengubah banyak hal.
Hari ini...
Popularitas bisa datang lebih cepat.
Penghasilan bisa datang dari layar ponsel.
Seseorang bisa dikenal jutaan orang tanpa pernah tampil di televisi.
Ini adalah peluang besar.
Dan kita patut bersyukur.
Tetapi setiap perubahan selalu membawa tantangan baru.
Ketika semua orang mengejar perhatian...
Siapa yang tetap fokus menghasilkan karya nyata?
Negara Tidak Bisa Berdiri Hanya Dengan Kamera
Coba bayangkan.
Besok pagi...
Tidak ada petani yang pergi ke sawah.
Tidak ada nelayan yang melaut.
Tidak ada teknisi yang memperbaiki listrik.
Tidak ada sopir yang mengantar barang.
Tidak ada perawat yang berjaga.
Tidak ada guru yang mengajar.
Tidak ada pekerja yang merawat mesin di pabrik.
Tetapi...
Semua sedang siaran langsung.
Lucu memang kalau dibayangkan.
Tetapi di balik kelucuan itu ada pertanyaan serius.
Negara dibangun oleh begitu banyak profesi yang sering kali tidak viral.
Yang Viral Belum Tentu Paling Penting
Di media sosial...
Sering kali yang paling ramai bukan yang paling dibutuhkan.
Kadang...
Video 30 detik mendapatkan jutaan penonton.
Sementara seseorang yang bekerja membangun jembatan selama berbulan-bulan bahkan tidak pernah dikenal namanya.
Padahal...
Kalau jembatan itu tidak dibangun...
Konten pun mungkin tidak akan sampai ke banyak daerah.
Inilah ironi zaman digital.
Jangan Sampai Kita Kehilangan Minat Pada Profesi Penting
Saya tidak khawatir Indonesia kekurangan kreator.
Saya justru khawatir Indonesia kekurangan orang yang mau menjadi ahli.
Ahli pertanian.
Ahli perikanan.
Ahli mesin.
Ahli kesehatan.
Ahli pendidikan.
Ahli energi.
Ahli teknologi.
Ahli manufaktur.
Karena bangsa yang maju membutuhkan keseimbangan.
Bukan hanya orang yang pandai berbicara di depan kamera.
Tetapi juga orang-orang yang bekerja di balik layar kehidupan.
Konten Kreator Juga Membutuhkan Profesi Lain
Mari kita pikirkan.
Seorang YouTuber membeli kamera.
Siapa yang membuat kameranya?
Seorang streamer memakai internet.
Siapa yang membangun jaringan internet?
Seorang influencer minum kopi saat membuat konten.
Siapa yang menanam kopinya?
Seorang kreator mengendarai mobil menuju lokasi syuting.
Siapa yang merakit mobilnya?
Semua saling terhubung.
Tidak ada profesi yang berdiri sendiri.
Yang Kita Butuhkan Bukan Memilih Salah Satu
Kadang masyarakat seolah dipaksa memilih.
Mau jadi kreator...
Atau pekerja biasa.
Padahal...
Mengapa harus memilih?
Bukankah seorang dokter juga bisa membuat konten edukasi?
Seorang petani bisa berbagi ilmu pertanian.
Seorang guru bisa mengajar jutaan orang lewat internet.
Seorang nelayan bisa mengenalkan kekayaan laut Indonesia.
Seorang teknisi bisa membagikan ilmu yang sangat bermanfaat.
Artinya...
Konten hanyalah media.
Nilainya ditentukan oleh isi yang dibawa.
Indonesia Perlu Lebih Banyak Pencipta, Bukan Sekadar Perekam
Kadang saya berpikir...
Kita terlalu sibuk merekam keberhasilan orang lain.
Tetapi lupa membangun keberhasilan kita sendiri.
Kita terlalu cepat ingin menjadi terkenal.
Tetapi terlalu lambat membangun keahlian.
Padahal...
Popularitas bisa datang dan pergi.
Tetapi keahlian akan tetap bernilai sepanjang hidup.
Yang Bisa Kita Lakukan
Kalau saya boleh memberikan beberapa gagasan...
- Pendidikan perlu mengenalkan lebih banyak ragam profesi yang dibutuhkan bangsa.
- Anak muda didorong membangun keahlian sebelum mengejar popularitas.
- Profesi seperti petani, guru, tenaga kesehatan, teknisi, dan pekerja industri mendapat ruang apresiasi yang lebih besar.
- Konten digital diarahkan untuk mengangkat karya, inovasi, dan solusi, bukan hanya sensasi.
- Dunia pendidikan dan industri kreatif berkolaborasi agar teknologi menjadi alat untuk memperkuat sektor-sektor penting, bukan menggantikannya.
Penutup
Saya percaya...
Menjadi konten kreator adalah profesi yang layak dihargai.
Sama seperti guru.
Sama seperti petani.
Sama seperti nelayan.
Sama seperti dokter.
Sama seperti teknisi.
Sama seperti semua orang yang setiap hari bekerja dengan jujur.
Karena pada akhirnya...
Sebuah bangsa tidak dibangun oleh satu profesi.
Ia dibangun oleh jutaan orang yang saling melengkapi.
Media sosial boleh membuat seseorang terkenal.
Tetapi keahlian, kerja keras, dan manfaat bagi sesamalah yang membuat seseorang benar-benar berarti.
Jadi...
Kalau semua orang ingin menjadi konten kreator...
Tidak masalah.
Asalkan tetap ada yang menciptakan sesuatu yang layak untuk diceritakan kepada dunia.
.jpg)

0Komentar