PulihSeketika.Com
 - Ada satu hal yang menurut saya sudah terlalu lama menjadi tanda tanya.

Kenapa kita begitu sering mendengar kalimat...

"Belajar yang rajin supaya nanti mudah cari kerja."

Tetapi setelah lulus...

Justru banyak yang kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Lalu muncul pertanyaan yang lebih besar.

Apakah masalahnya ada pada anak mudanya?

Atau justru sistem kita yang belum sepenuhnya berubah mengikuti zaman?

Saya percaya...

Indonesia tidak kekurangan orang pintar.

Yang kita kekurangan adalah sistem yang benar-benar mampu melihat kemampuan seseorang secara utuh.


Ijazah Itu Penting. Tapi Apakah Sudah Cukup?

Sebelum ada yang salah paham...

Saya tidak sedang mengatakan bahwa sekolah itu tidak penting.

Saya juga tidak sedang meremehkan kuliah.

Justru pendidikan adalah fondasi yang sangat penting.

Namun...

Ijazah hanyalah bukti bahwa seseorang pernah menyelesaikan sebuah jenjang pendidikan.

Sedangkan kemampuan adalah bukti bahwa seseorang mampu menyelesaikan sebuah pekerjaan.

Dua hal itu saling berkaitan.

Tetapi tidak selalu sama.


Dunia Sudah Berubah Sangat Cepat

Dulu...

Kalau ingin menjadi editor video...

Harus masuk sekolah tertentu.

Kalau ingin menjadi programmer...

Harus kuliah jurusan komputer.

Kalau ingin menjadi desainer...

Harus punya gelar tertentu.

Hari ini?

Seorang anak di desa bisa belajar dari internet.

Belajar dari YouTube.

Belajar dari kursus daring.

Belajar dari pengalaman.

Belajar langsung dari proyek nyata.

Bahkan ada yang membangun bisnisnya sendiri sebelum lulus sekolah.

Pertanyaannya...

Apakah sistem rekrutmen kita ikut berubah secepat itu?


Banyak Anak Muda Hebat Tidak Pernah Diberi Kesempatan

Saya sering melihat anak muda yang luar biasa.

Editing videonya hebat.

Desainnya luar biasa.

Ngoding sangat cepat.

Jago membuat musik.

Menguasai kecerdasan buatan.

Punya portofolio yang panjang.

Sudah menghasilkan uang dari karya mereka.

Tetapi...

Karena tidak memiliki ijazah tertentu...

Lamaran mereka berhenti di tahap administrasi.

Belum diwawancarai.

Belum dites.

Belum sempat menunjukkan kemampuan.

Kesempatan sudah berakhir bahkan sebelum dimulai.

Bukankah ini sesuatu yang patut kita renungkan?


Di Era AI, Skill Menjadi Mata Uang Baru

Hari ini dunia kerja sedang berubah.

Kecerdasan buatan mampu membantu membuat desain.

Menulis.

Menganalisis data.

Menyusun laporan.

Bahkan membantu membuat aplikasi.

Dalam kondisi seperti ini...

Perusahaan tentu membutuhkan orang yang mampu belajar cepat, beradaptasi, dan menyelesaikan masalah.

Kemampuan untuk terus belajar menjadi semakin penting.

Karena teknologi akan terus berubah.

Dan manusia yang terus berkembang akan selalu dibutuhkan.


Bukan Berarti Semua Syarat Harus Dihapus

Saya juga memahami sudut pandang perusahaan.

Ada profesi yang memang harus memiliki pendidikan formal.

Dokter.

Perawat.

Pilot.

Apoteker.

Insinyur pada bidang tertentu.

Profesi-profesi tersebut memerlukan standar kompetensi dan regulasi yang jelas demi keselamatan masyarakat.

Itu tidak bisa ditawar.

Tetapi bagaimana dengan profesi kreatif?

Content creator.

Editor.

Animator.

Fotografer.

Digital marketing.

Desainer.

Programmer.

Video editor.

Musisi.

Apakah semuanya harus selalu dinilai dari selembar ijazah?

Ataukah sudah waktunya kemampuan nyata mendapatkan porsi yang lebih besar dalam proses seleksi?


Portofolio Seharusnya Memiliki Nilai Lebih

Bayangkan ada dua pelamar.

Yang pertama...

Memiliki ijazah dengan nilai sangat baik.

Tetapi belum pernah membuat proyek nyata.

Yang kedua...

Memiliki portofolio puluhan proyek.

Pernah bekerja dengan berbagai klien.

Memiliki hasil karya yang bisa langsung dilihat.

Namun latar belakang pendidikannya berbeda.

Bukankah akan lebih adil jika keduanya diberi kesempatan membuktikan diri melalui tes kemampuan?

Karena dunia kerja pada akhirnya membutuhkan hasil.


Pendidikan dan Dunia Kerja Jangan Berjalan Sendiri-Sendiri

Inilah tantangan besar kita.

Sekolah sering kali fokus mengajarkan teori.

Industri membutuhkan praktik.

Mahasiswa mengejar kelulusan.

Perusahaan mencari pengalaman.

Akibatnya...

Lulusan baru sering dianggap belum siap.

Padahal mereka baru saja menyelesaikan pendidikan.

Artinya ada jarak yang perlu dipersempit.

Kolaborasi antara dunia pendidikan, pelatihan, dan industri menjadi semakin penting agar lulusan memiliki bekal yang relevan dengan kebutuhan lapangan kerja.


Yang Perlu Kita Bangun

Kalau saya boleh berpendapat...

Ada beberapa hal yang menurut saya layak dipikirkan bersama.

  • Seleksi kerja lebih banyak menggunakan tes kemampuan nyata.
  • Portofolio menjadi salah satu pertimbangan utama untuk profesi kreatif dan digital.
  • Program magang diperluas agar lulusan memperoleh pengalaman sejak dini.
  • Sertifikasi kompetensi lebih mudah diakses oleh masyarakat.
  • Kolaborasi kampus, sekolah, dan dunia industri diperkuat.
  • Pelatihan teknologi dan AI diperbanyak untuk semua kalangan.
  • Kesempatan wawancara diberikan lebih luas kepada pelamar yang menunjukkan kemampuan, meskipun jalur pendidikannya berbeda.

Indonesia Butuh Kesempatan, Bukan Sekadar Persyaratan

Saya percaya...

Negeri ini dipenuhi anak-anak muda yang luar biasa.

Mereka belajar sendiri.

Mereka bekerja keras.

Mereka menciptakan karya.

Mereka mencoba berkali-kali.

Sayangnya...

Tidak sedikit yang berhenti di depan pintu karena syarat administrasi.

Padahal...

Mungkin merekalah orang yang selama ini sedang dicari.


Penutup

Saya tidak sedang mengajak Indonesia meninggalkan pendidikan.

Justru sebaliknya.

Pendidikan harus terus menjadi fondasi.

Namun fondasi yang kuat akan jauh lebih bermanfaat jika di atasnya dibangun ruang untuk menunjukkan kemampuan.

Karena pada akhirnya...

Ijazah bisa membuka pintu.

Tetapi kemampuanlah yang membuat seseorang tetap dipercaya.

Dan mungkin...

Sudah waktunya kita membangun budaya kerja yang tidak hanya bertanya,

"Kamu lulusan mana?"

Tetapi juga bertanya,

"Apa yang bisa kamu lakukan untuk membawa perubahan?"