PULIHSEKETIKA.COM - "Kalau Mau Touring, Jangan Cari Jalan yang Cepat. Carilah Jalan yang Membuatmu Sulit Melupakannya."
Kalimat itu diucapkan seorang bapak penjaga SPBU ketika aku sedang mengisi bensin sebelum memulai perjalanan.
Awalnya aku hanya tersenyum.
Kupikir itu hanya basa-basi.
Namun tiga hari kemudian, saat motorku kembali memasuki jalan menuju rumah, aku baru memahami maksudnya.
Perjalanan ini bukan tentang siapa yang paling cepat sampai.
Bukan juga tentang berapa kilometer yang berhasil kutempuh.
Perjalanan ini adalah tentang setiap tikungan yang memperlihatkan laut biru.
Setiap tanjakan yang menghadiahkan hamparan perbukitan hijau.
Setiap warung sederhana yang menyajikan kopi hangat dan cerita yang tidak akan pernah kutemukan di internet.
Aku sengaja memilih jalur selatan Pulau Jawa.
Bukan karena jalannya selalu mulus.
Bukan karena paling dekat.
Tetapi karena banyak orang berkata,
"Kalau ingin melihat Indonesia yang sebenarnya, cobalah berkendara di jalur selatan."
Dan mereka ternyata tidak berlebihan.
Hari Pertama – Full Tangki, Doa, dan Sebuah Peta
Jam menunjukkan pukul lima pagi.
Langit masih gelap.
Motor sudah siap.
Tas kecil terikat rapi di belakang.
Aku mengecek kembali perlengkapan.
- Jas hujan.
- Sarung tangan.
- Power bank.
- Air minum.
- Ban dalam cadangan.
- Toolkit sederhana.
Sebelum menyalakan mesin, aku menarik napas panjang.
Hari ini bukan sekadar touring.
Hari ini aku ingin memberi hadiah kepada diriku sendiri.
Hadiah berupa waktu.
Matahari Terbit dari Jalanan Selatan
Tidak lama setelah meninggalkan kota, langit mulai berubah warna.
Aku sengaja berhenti di pinggir jalan.
Matahari perlahan muncul dari balik bukit.
Embun masih menempel di dedaunan.
Sawah terlihat berkilau terkena cahaya pagi.
Tidak ada suara klakson.
Tidak ada kemacetan.
Hanya suara mesin motor yang perlahan mendingin.
Aku duduk di atas rumput.
Menyeruput kopi dari termos kecil.
Saat itulah aku sadar...
Sunrise paling indah ternyata bukan yang berada di tempat wisata.
Melainkan yang kita temukan tanpa sengaja.
Jalan Berkelok yang Tidak Pernah Membosankan
Semakin ke selatan, jalan mulai berubah.
Tikungan demi tikungan muncul.
Naik.
Turun.
Kadang melewati hutan.
Kadang berada tepat di tepi jurang yang memperlihatkan laut biru di kejauhan.
Aku tidak pernah terburu-buru.
Justru setiap tikungan membuatku ingin memperlambat motor.
Karena selalu ada pemandangan baru yang menunggu.
Warung Sarapan yang Mengubah Rencana
Sekitar pukul delapan pagi aku berhenti di warung kecil.
Tidak ada papan nama.
Hanya beberapa meja kayu.
Aku memesan nasi pecel dan teh panas.
Ibu pemilik warung bertanya,
"Mau ke mana, Mbak?"
Aku menjawab,
"Belum tahu... pokoknya ke arah selatan."
Beliau tertawa.
Lalu mengambil selembar kertas.
Beliau menggambar jalan kecil menuju sebuah pantai yang bahkan tidak muncul di aplikasi peta.
Katanya,
"Kalau mau lihat laut yang masih sepi, lewat sini."
Aku langsung mengubah rute.
Dan keputusan itu menjadi keputusan terbaik sepanjang perjalanan.
Pantai yang Bahkan Tidak Ada Penjualnya
Setelah hampir satu jam melewati jalan kecil, aku akhirnya tiba.
Aku mematikan mesin motor.
Lalu terdiam.
Di depanku terbentang pantai yang luar biasa indah.
Pasir putih.
Air laut biru kehijauan.
Karang besar berdiri kokoh di bibir pantai.
Yang paling mengejutkan...
Tidak ada keramaian.
Tidak ada antrean.
Tidak ada musik keras.
Hanya ombak.
Angin.
Dan beberapa nelayan yang sedang memperbaiki jaring.
Aku duduk hampir satu jam tanpa membuka ponsel.
Rasanya seperti menemukan dunia kecil yang terlupakan.
Hari Kedua – Jalan Pegunungan yang Membuatku Berkali-kali Berhenti
Pagi berikutnya perjalanan berlanjut menuju kawasan perbukitan.
Kabut tipis menyelimuti jalan.
Udara berubah dingin.
Aku mengenakan jaket.
Di kanan kiri terbentang perkebunan kopi dan cengkeh.
Sesekali aroma tanah basah terbawa angin.
Aku berkali-kali berhenti.
Bukan karena lelah.
Tetapi karena terlalu banyak pemandangan yang sayang dilewatkan.
Kadang perjalanan memang harus diperlambat agar hati sempat menikmati semuanya.
Bertemu Komunitas Touring
Di sebuah SPBU aku bertemu rombongan pengendara motor dari berbagai kota.
Mereka mengajakku minum kopi.
Kami saling berbagi cerita.
Ada yang sudah berkeliling Sumatra.
Ada yang baru pulang dari Bali.
Salah seorang di antara mereka berkata,
"Touring itu bukan soal motornya. Tapi soal siapa yang kamu temui di jalan."
Aku mengangguk pelan.
Karena selama dua hari ini, aku sudah bertemu begitu banyak orang baik.
Senja Terindah yang Tidak Ada Tiket Masuknya
Sore hari aku berhenti di sebuah bukit kecil.
Tidak ada gerbang.
Tidak ada loket.
Tidak ada papan wisata.
Hanya jalan tanah menuju puncak.
Aku duduk sambil melihat matahari perlahan tenggelam ke balik Samudra Hindia.
Langit berubah menjadi jingga.
Kemudian merah muda.
Lalu ungu.
Aku tidak mengambil banyak foto.
Beberapa pemandangan memang lebih pantas disimpan di dalam hati.
Hari Ketiga – Perjalanan Pulang yang Justru Tidak Ingin Kupercepat
Hari terakhir selalu terasa aneh.
Aku mulai mengarah pulang.
Namun setiap melihat jalan kecil, aku masih ingin berhenti.
Setiap melihat sawah, aku ingin memotret.
Setiap melewati warung kopi, aku ingin singgah.
Aku baru sadar.
Aku tidak sedang mengejar tujuan.
Aku sedang menikmati perjalanan.
Motor Mengajarkanku Melihat Indonesia Lebih Dekat
Kalau menggunakan mobil, mungkin aku tidak akan mencium aroma sawah setelah hujan.
Tidak akan mendengar suara ombak dari kejauhan.
Tidak akan merasakan udara pegunungan yang berubah setiap kilometer.
Motor membuatku benar-benar menjadi bagian dari perjalanan.
Aku bisa berhenti kapan saja.
Berbelok ke jalan kecil.
Menyapa warga.
Dan menemukan tempat-tempat yang tidak pernah muncul di media sosial.
Estimasi Budget Touring 3 Hari
| Kebutuhan | Estimasi Biaya |
|---|---|
| Bensin | Rp180.000 |
| Penginapan sederhana (2 malam) | Rp300.000 |
| Makan & minum | Rp250.000 |
| Tiket wisata & parkir | Rp70.000 |
| Dana cadangan | Rp100.000 |
| Total | ± Rp900.000 |
Estimasi ini dapat berbeda tergantung rute, jenis motor, konsumsi bahan bakar, serta pilihan penginapan dan tempat makan.
Checklist Sebelum Touring Ala Lastari
Sebelum berangkat, aku selalu memastikan beberapa hal berikut:
Motor
- Ganti oli jika sudah waktunya.
- Cek tekanan ban.
- Periksa rem depan dan belakang.
- Pastikan semua lampu berfungsi.
- Isi bahan bakar sebelum memasuki jalur yang minim SPBU.
Perlengkapan
- Helm berstandar SNI.
- Jaket riding.
- Sarung tangan.
- Jas hujan.
- Toolkit sederhana.
- Power bank.
- Air minum dan camilan.
Mental
- Jangan terburu-buru.
- Istirahat setiap 2–3 jam.
- Jangan memaksakan diri saat lelah.
- Hormati pengguna jalan lain dan masyarakat di setiap daerah yang dikunjungi.
Yang Paling Berharga Bukan Kilometer yang Kutempuh
Saat motor kembali memasuki halaman rumah, odometer menunjukkan angka yang jauh lebih besar daripada saat berangkat.
Namun angka itu bukan hal yang paling kuingat.
Yang masih membekas justru wajah ibu pemilik warung yang menggambar rute di atas kertas.
Nelayan yang melambaikan tangan dari pantai.
Anak-anak desa yang tersenyum ketika aku berhenti membeli es.
Kabut pagi di pegunungan.
Dan langit senja di tepi Samudra Hindia.
Semuanya menjadi bagian dari perjalanan yang tidak bisa diukur dengan kilometer.
Penutup: Touring Terbaik Selalu Dimulai Ketika Kita Berani Keluar dari Jalan Utama
Banyak orang menganggap touring hanyalah perjalanan dari satu kota ke kota lain.
Bagiku tidak.
Touring adalah cara paling jujur untuk mengenal Indonesia.
Karena setiap tikungan membawa cerita.
Setiap tanjakan menghadiahkan pemandangan.
Dan setiap perhentian mempertemukan kita dengan orang-orang yang mengingatkan bahwa keramahan masih hidup di sepanjang jalan.
Tiga hari di jalur selatan Jawa membuatku pulang dengan tubuh yang sedikit lelah, jaket yang dipenuhi debu, dan motor yang harus segera dicuci.
Namun di balik semua itu, aku membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga.
Rasa syukur karena masih diberi kesempatan melihat betapa indahnya negeri ini dari balik kaca helm.
Aku Lastari, dan sejak perjalanan itu aku percaya bahwa jalur selatan Jawa bukan sekadar rute touring. Ia adalah rangkaian cerita yang menunggu untuk ditemukan, satu tikungan demi satu tikungan.
.jpg)

0Komentar