PULIHSEKETIKA.COM
 - "Masa Sih Rp100 Ribu Bisa Keliling Jogja Seharian?"

Kalimat itu langsung keluar dari mulut temanku ketika aku menunjukkan rincian pengeluaran setelah pulang dari Yogyakarta.

Jujur saja...

Kalau beberapa tahun lalu ada yang mengatakan aku bisa menikmati liburan seharian di Jogja hanya dengan uang sekitar seratus ribu rupiah, mungkin aku juga tidak akan percaya.

Di kepalaku, liburan selalu identik dengan hotel mahal.

Sewa mobil.

Masuk tempat wisata berbayar.

Makan di restoran yang sedang viral.

Dan pulang dengan dompet yang jauh lebih tipis.

Namun perjalanan kali ini mengubah semuanya.

Aku sengaja mencoba sesuatu yang berbeda.

Aku menyewa motor.

Mengisi bensin secukupnya.

Lalu membiarkan jalanan Yogyakarta menentukan ke mana aku harus pergi.

Ternyata...

Justru perjalanan tanpa rencana yang terlalu rumit itulah yang menjadi liburan paling menyenangkan yang pernah kurasakan.


Pukul 06.00, Petualangan Dimulai

Udara Yogyakarta pagi itu masih sangat sejuk.

Aku mengambil motor sewaan yang sudah kupesan sehari sebelumnya.

Motor matic sederhana.

Tidak baru.

Tidak mewah.

Tetapi mesinnya halus.

Pemilik rental hanya berpesan satu hal.

"Kalau nemu jalan kecil yang menarik, jangan takut masuk. Jogja itu indahnya justru di jalan-jalan yang jarang dilewati."

Aku mengangguk.

Kalimat itu ternyata menjadi awal petualangan yang luar biasa.


Sarapan Rp10.000 yang Rasanya Bintang Lima

Aku sengaja menghindari kafe.

Sebagai gantinya, aku berhenti di sebuah warung kecil yang dipenuhi warga lokal.

Menu paginya sederhana.

Nasi, sayur, telur, tempe, dan teh hangat.

Saat membayar, aku sempat tersenyum.

Totalnya bahkan tidak sampai harga satu gelas kopi di pusat kota.

Namun rasanya...

Luar biasa.

Aku percaya satu hal.

Kalau warung dipenuhi warga sekitar, hampir pasti makanannya enak.


Jalanan Jogja Adalah Destinasi Wisata Itu Sendiri

Banyak orang berpikir tujuan adalah hal yang paling penting.

Padahal bagiku...

Perjalanan menuju tempat itulah yang paling berkesan.

Motor melaju perlahan melewati:

Sawah hijau.

Petani yang sedang bekerja.

Anak-anak bersepeda menuju sekolah.

Warung kopi pinggir jalan.

Pohon-pohon besar yang menaungi jalan desa.

Aku tidak terburu-buru.

Sesekali berhenti hanya untuk mengambil napas.

Menikmati angin pagi.

Dan mengabadikan pemandangan yang mungkin tidak akan pernah masuk media sosial siapa pun.


Destinasi Pertama: Hutan Pinus yang Menenangkan

Aku tiba di sebuah kawasan hutan pinus.

Udara langsung berubah dingin.

Suara kendaraan menghilang.

Digantikan suara dedaunan yang tertiup angin.

Aku mematikan mesin motor.

Lalu duduk di bangku kayu.

Tidak melakukan apa-apa.

Hanya menikmati suasana.

Kadang...

Liburan terbaik memang bukan tentang banyak aktivitas.

Melainkan memberi kesempatan kepada pikiran untuk beristirahat.


Menemukan Warung Kopi yang Tidak Ada di Google

Saat melanjutkan perjalanan, aku melihat papan kecil bertuliskan:

"Kopi Tubruk Asli."

Aku langsung berhenti.

Warungnya sederhana.

Hanya beberapa kursi bambu.

Pemiliknya seorang bapak berusia sekitar enam puluh tahun.

Kami mengobrol hampir satu jam.

Beliau bercerita bagaimana dulu jalan itu masih berupa tanah.

Bagaimana wisata perlahan berkembang.

Dan bagaimana beliau tetap memilih mempertahankan warung kecilnya.

Secangkir kopi pagi itu terasa jauh lebih nikmat karena ditemani cerita.


Pantai yang Tidak Terlalu Ramai

Menjelang siang aku menuju kawasan Gunungkidul.

Banyak wisatawan berkumpul di pantai-pantai terkenal.

Aku justru memilih pantai yang sedikit lebih sepi.

Pasir putih.

Air laut biru.

Ombak berkejaran menuju bibir pantai.

Aku duduk di bawah pohon.

Membuka bekal kecil yang kubeli dari pasar.

Saat itu aku berpikir...

Mungkin inilah definisi kaya yang sesungguhnya.

Punya waktu.

Punya kebebasan.

Dan bisa menikmati alam tanpa tergesa-gesa.


Full Tangki, Pikiran Ikut Penuh Semangat

Motor yang kupakai ternyata sangat irit.

Bensin yang kuisi di pagi hari masih tersisa banyak.

Aku pun melanjutkan perjalanan tanpa memikirkan biaya tambahan.

Aku melewati jalan-jalan kecil.

Jembatan bambu.

Perkampungan.

Persawahan.

Semuanya terasa seperti film yang diputar perlahan di depan mataku.


Menjelang Sore di Bukit dengan Pemandangan Jogja

Sore hari aku berhenti di sebuah bukit.

Dari atas sana terlihat hamparan hijau yang luas.

Langit mulai berubah warna.

Angin bertiup pelan.

Beberapa pengendara motor lain juga berhenti.

Kami saling menyapa.

Tidak saling mengenal.

Tetapi sama-sama menikmati senja.

Aku baru sadar.

Motor bukan hanya kendaraan.

Motor mempertemukan banyak cerita.


Malam di Angkringan Favorit Warga

Hari mulai gelap.

Aku kembali ke pusat kota.

Namun aku tidak mencari restoran.

Aku menuju angkringan.

Suasananya hangat.

Mahasiswa.

Pekerja.

Wisatawan.

Semua duduk berdampingan.

Aku memesan nasi kucing, sate usus, dan teh hangat.

Sambil makan, aku mendengar berbagai percakapan dari meja sebelah.

Tentang tugas kuliah.

Tentang pekerjaan.

Tentang mimpi.

Entah kenapa suasana seperti ini selalu membuatku merasa dekat dengan Jogja.


Total Pengeluaran yang Membuatku Tersenyum

Sesampainya di penginapan, aku langsung membuka catatan kecil.

Aku mulai menghitung pengeluaran hari itu.

KebutuhanEstimasi Biaya
Sewa motorRp40.000
BensinRp20.000
SarapanRp10.000
Makan siangRp15.000
Angkringan malamRp15.000
Total± Rp100.000

Biaya tersebut adalah contoh estimasi untuk perjalanan hemat dan dapat berbeda tergantung waktu, lokasi, serta pilihan tempat makan atau penyewaan motor.

Aku tersenyum.

Seratus ribu rupiah.

Namun pengalaman yang kudapat terasa jauh lebih mahal.


Tips Touring Motor Hemat Ala Lastari

Kalau kamu ingin mencoba liburan seperti ini, berikut beberapa tips yang selalu kulakukan.

1. Berangkat Sejak Pagi

Udara lebih sejuk.

Jalan masih lengang.

Lebih banyak waktu menikmati perjalanan.


2. Gunakan Motor yang Irit Bahan Bakar

Motor matic atau motor bebek sangat cocok untuk menjelajahi Jogja.


3. Gunakan Google Maps Hanya Sebagai Panduan

Jangan takut keluar dari rute utama.

Kadang jalan kecil justru menyimpan kejutan terbaik.


4. Selalu Pakai Helm dan Jaket

Keselamatan adalah prioritas utama.

Pastikan juga kondisi motor dalam keadaan baik sebelum berangkat.


5. Bawa Botol Minum Sendiri

Selain lebih hemat, kamu juga membantu mengurangi sampah plastik.


6. Nikmati Perjalanan, Jangan Terburu-buru

Tidak semua tempat harus dikunjungi dalam satu hari.

Biarkan perjalanan berjalan dengan ritmenya sendiri.


Yang Paling Berharga Bukan Motornya

Saat mengembalikan motor rental, pemiliknya bertanya,

"Gimana Jogjanya?"

Aku hanya tersenyum.

Lalu menjawab,

"Yang paling indah ternyata bukan tempat wisatanya."

Beliau tertawa kecil.

Seolah sudah tahu jawabannya.

Karena memang benar.

Yang paling membekas adalah perjalanan.

Jalan-jalan kecil.

Obrolan dengan warga.

Warung sederhana.

Angin sore.

Dan kebebasan yang hanya bisa dirasakan ketika mengendarai motor tanpa terburu-buru.


Penutup: Liburan Terbaik Tidak Selalu Menggunakan Kendaraan Mewah

Hari itu aku pulang dengan pakaian yang sedikit berdebu.

Helm yang masih berbau angin laut.

Dan hati yang terasa jauh lebih ringan.

Aku belajar bahwa untuk menikmati sebuah kota, kita tidak membutuhkan mobil mahal.

Tidak perlu itinerary yang rumit.

Tidak harus menghabiskan banyak uang.

Kadang, yang kita butuhkan hanyalah sebuah motor, jalan yang belum pernah dilewati, dan keberanian untuk berhenti ketika menemukan pemandangan yang indah.

Karena setiap tikungan selalu menyimpan cerita baru.

Setiap jalan desa selalu memiliki senyum yang berbeda.

Dan setiap perjalanan selalu mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak pernah diukur dari mahalnya kendaraan, melainkan dari seberapa dalam kita menikmati setiap kilometer yang dilalui.

Aku Lastari, dan sejak hari itu aku percaya bahwa Yogyakarta paling indah dinikmati dari atas jok motor, dengan angin sebagai teman perjalanan dan rasa penasaran sebagai penunjuk arah.