PULIHSEKETIKA.COM
 - Mengapa leluhur Jawa selalu berpesan agar jangan pernah kehilangan Jawanya? Simak pesan leluhur Rarasati Pancawarna tentang identitas, unggah-ungguh, tata krama, dan filosofi hidup orang Jawa yang masih relevan hingga zaman modern.


Diceritakan Oleh Rarasati Pancawarna

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Nak...

Suatu hari aku pernah mendengar seorang sesepuh berkata dengan suara yang tenang namun penuh makna:

"Dadi wong Jawa kuwi ojo nganti ilang Jawane."

Menjadi orang Jawa itu jangan sampai kehilangan Jawanya.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun semakin usia bertambah, semakin aku memahami bahwa kalimat tersebut bukan sedang membicarakan suku.

Bukan sedang membicarakan bahasa.

Bukan pula sedang membicarakan pakaian adat.

Yang dimaksud para leluhur jauh lebih besar dari itu.

Mereka sedang berbicara tentang karakter.

Tentang cara hidup.

Tentang tata krama.

Tentang kebijaksanaan yang telah diwariskan selama ratusan tahun.

Hari ini, izinkan aku, Rarasati Pancawarna, mengajak kalian menyelami salah satu pesan leluhur yang paling dalam maknanya.

Mengapa orang Jawa jangan pernah kehilangan Jawanya?


Menjadi Jawa Bukan Sekadar Lahir di Tanah Jawa

Banyak orang mengira menjadi Jawa berarti lahir di Jawa.

Padahal leluhur mengajarkan sesuatu yang berbeda.

Menjadi Jawa bukan soal tempat lahir.

Melainkan tentang nilai yang hidup dalam diri.

Seseorang bisa lahir di tanah Jawa tetapi kehilangan nilai-nilai Jawa.

Sebaliknya, seseorang yang lahir jauh dari Pulau Jawa bisa saja memiliki jiwa Jawa yang kuat karena menjalankan kebijaksanaan yang diwariskan leluhur.

Karena bagi leluhur, Jawa bukan hanya wilayah.

Jawa adalah cara memandang kehidupan.


Apa yang Dimaksud "Jawa" Menurut Leluhur?

Ketika leluhur berkata:

"Ojo ilang Jawane."

Yang dimaksud bukanlah logat bicara.

Melainkan sifat-sifat mulia yang selama ini menjadi pegangan hidup.

Seperti:

  • Hormat kepada orang tua.
  • Menghargai orang lain.
  • Menjaga ucapan.
  • Menjaga perasaan sesama.
  • Rendah hati.
  • Sabar.
  • Tidak sombong.
  • Mengutamakan kerukunan.

Nilai-nilai inilah yang sesungguhnya disebut "Jawanya".


Orang Jawa Dikenal Karena Unggah-Ungguhnya

Nak...

Apa yang membuat seseorang dihormati?

Kekayaan?

Jabatan?

Kecerdasan?

Mungkin iya.

Namun dalam pandangan leluhur Jawa, yang paling utama adalah unggah-ungguh.

Unggah-ungguh adalah tata krama.

Cara bersikap.

Cara berbicara.

Cara menghormati orang lain.

Orang Jawa dahulu sangat menjaga tutur kata.

Bukan karena takut.

Melainkan karena memahami bahwa kata-kata dapat menjadi jembatan maupun luka.

Maka mereka memilih berbicara dengan bijak.


Leluhur Mengajarkan "Ajining Diri Ana Ing Lathi"

Ada pepatah Jawa yang sangat terkenal:

Ajining diri ana ing lathi.

Harga diri seseorang ada pada lisannya.

Leluhur memahami bahwa manusia sering dinilai dari apa yang keluar dari mulutnya.

Orang yang kasar mungkin ditakuti.

Namun belum tentu dihormati.

Orang yang santun mungkin terlihat sederhana.

Namun biasanya lebih disegani.

Karena itulah orang Jawa diajarkan untuk berpikir sebelum berbicara.


Orang Jawa Tidak Suka Pamer

Perhatikan para sesepuh zaman dahulu.

Banyak di antara mereka memiliki ilmu tinggi.

Memiliki sawah luas.

Memiliki kedudukan penting.

Namun mereka tetap sederhana.

Leluhur sering mengingatkan:

"Ojo dumeh."

Jangan mentang-mentang.

Jangan mentang-mentang kaya.

Jangan mentang-mentang pintar.

Jangan mentang-mentang berkuasa.

Karena hidup bisa berubah kapan saja.

Kesombongan hanya akan menjauhkan manusia dari kebijaksanaan.



Filosofi Padi yang Semakin Berisi Semakin Merunduk

Orang Jawa sangat dekat dengan alam.

Mereka belajar dari sawah.

Mereka belajar dari sungai.

Mereka belajar dari gunung.

Salah satu pelajaran terbesar datang dari padi.

Padi yang kosong berdiri tegak.

Namun padi yang berisi justru merunduk.

Leluhur menjadikan padi sebagai simbol manusia.

Semakin tinggi ilmu seseorang.

Seharusnya semakin rendah hatinya.

Semakin banyak rezekinya.

Seharusnya semakin bijaksana perilakunya.


Kerukunan Adalah Harta yang Sangat Berharga

Orang Jawa memiliki prinsip:

Rukun agawe santosa.

Kerukunan menciptakan kekuatan.

Karena itu leluhur tidak suka melihat pertengkaran yang tidak perlu.

Mereka selalu mencari jalan damai.

Bukan karena lemah.

Tetapi karena memahami bahwa permusuhan sering merugikan semua pihak.

Kerukunan dianggap lebih berharga daripada kemenangan sesaat.


Mengapa Banyak Orang Mulai Kehilangan Jawanya?

Inilah pertanyaan yang penting.

Kita hidup di era modern.

Teknologi berkembang pesat.

Informasi datang setiap detik.

Namun tanpa disadari, banyak nilai luhur mulai terkikis.

Orang semakin mudah marah.

Semakin mudah menghina.

Semakin mudah merendahkan orang lain.

Semakin sulit mendengarkan.

Semakin sulit menghargai perbedaan.

Padahal itulah hal-hal yang sejak dahulu dijaga oleh leluhur Jawa.


Kehilangan Jawa Bukan Berarti Tidak Bisa Berbahasa Jawa

Banyak orang mengira kehilangan Jawa berarti tidak bisa berbahasa Jawa.

Padahal tidak sesederhana itu.

Ada orang yang fasih berbahasa Jawa.

Namun kasar kepada orang tua.

Suka merendahkan orang lain.

Tidak menghormati sesama.

Apakah itu masih Jawa?

Sebaliknya ada orang yang tidak fasih berbahasa Jawa.

Namun santun.

Rendah hati.

Menghormati orang lain.

Menjaga kerukunan.

Bukankah nilai-nilai itu justru inti dari ajaran Jawa?


Orang Jawa Diajarkan Menjadi Teduh

Nak...

Perhatikan pohon besar.

Ia memberi keteduhan.

Tidak memilih siapa yang berteduh di bawahnya.

Begitulah gambaran manusia ideal menurut banyak petuah Jawa.

Hadirnya membawa ketenangan.

Ucapannya membawa kesejukan.

Tindakannya membawa manfaat.

Bukan kegaduhan.

Bukan permusuhan.

Bukan kebencian.


Pesan Leluhur yang Mulai Terbukti di Zaman Modern

Hari ini dunia penuh persaingan.

Banyak orang berlomba menjadi yang paling terkenal.

Paling kaya.

Paling berkuasa.

Namun pada akhirnya, manusia tetap mencari hal yang sama:

  • Rasa hormat.
  • Kepercayaan.
  • Persahabatan.
  • Kedamaian.

Dan semua itu justru lahir dari nilai-nilai yang sejak lama diajarkan leluhur Jawa.


Orang Jawa Boleh Modern, Tetapi Jangan Kehilangan Akar

Leluhur tidak pernah melarang kemajuan.

Tidak pernah melarang pendidikan tinggi.

Tidak pernah melarang teknologi.

Tidak pernah melarang perubahan zaman.

Yang mereka khawatirkan adalah ketika manusia melupakan akar budayanya.

Karena pohon setinggi apa pun akan tumbang jika akarnya hilang.

Begitu pula manusia.

Setinggi apa pun pendidikan dan jabatannya.

Jika kehilangan karakter, maka ia kehilangan fondasi kehidupannya.


Pesan Rarasati Pancawarna untuk Generasi Muda

Nak...

Menjadi orang Jawa bukan berarti harus hidup seperti seratus tahun yang lalu.

Bukan berarti menolak kemajuan.

Bukan berarti menutup diri dari dunia.

Namun menjadi orang Jawa berarti tetap membawa nilai luhur ke mana pun kita pergi.

Ketika berbicara, bawalah kesantunan.

Ketika berhasil, bawalah kerendahan hati.

Ketika berbeda pendapat, bawalah penghormatan.

Ketika memiliki kekuasaan, bawalah kebijaksanaan.

Karena itulah Jawa yang sesungguhnya.


Penutup: Jangan Sampai Hilang Jawanya

Kini kita mengerti.

Ketika leluhur berkata:

"Ojo nganti ilang Jawane."

Mereka tidak sedang berbicara tentang pakaian adat.

Tidak sedang berbicara tentang rumah joglo.

Tidak sedang berbicara tentang bahasa semata.

Mereka sedang berbicara tentang nilai kehidupan.

Tentang karakter yang membuat manusia dihormati.

Tentang kebijaksanaan yang membuat manusia tetap rendah hati meskipun tinggi.

Tentang tata krama yang menjaga kehormatan diri.

Tentang kerukunan yang menjaga kedamaian bersama.

Maka di tengah dunia yang semakin cepat berubah, mari kita jaga warisan itu.

Karena boleh jadi, yang paling berharga dari menjadi orang Jawa bukanlah apa yang terlihat di luar.

Melainkan apa yang hidup di dalam hati.

Aku, Rarasati Pancawarna, percaya bahwa budaya akan tetap hidup selama nilai-nilainya masih dijalankan.

Dan selama kesantunan, kerendahan hati, serta kebijaksanaan masih kita jaga, maka Jawa tidak akan pernah hilang.

Salam budaya. Salam kearifan Nusantara.