PULIHSEKETIKA.COM - Ada satu kalimat yang belakangan ini semakin sering terdengar.
"Sekarang hidup makin susah."
Kalimat itu keluar dari mulut pedagang kecil, buruh, pegawai, bahkan pengusaha. Anehnya, di saat yang sama kita juga melihat pusat perbelanjaan penuh, konser selalu ramai, kafe tidak pernah sepi, jalanan macet hampir sepanjang hari, dan media sosial dipenuhi orang-orang yang sedang liburan.
Lalu pertanyaannya...
Sebenarnya siapa yang benar?
Apakah memang hidup sekarang semakin sulit?
Atau sebenarnya kita hanya hidup di zaman yang membuat semua orang merasa kurang?
Jawaban saya mungkin tidak akan menyenangkan semua orang.
Karena menurut saya...
Hidup memang sedang lebih berat. Tetapi bukan hanya karena ekonomi. Melainkan karena cara dunia bekerja sudah berubah.
Dulu Orang Miskin Itu Terlihat Miskin
Mari kita kembali sekitar 20 sampai 30 tahun lalu.
Saat itu seseorang hidup sederhana bukanlah sesuatu yang memalukan.
Naik sepeda biasa.
Naik angkot.
Motor butut.
Rumah kecil.
Tidak punya AC.
Televisi tabung.
Semua itu dianggap normal.
Tidak ada tekanan untuk terlihat kaya.
Tidak ada tuntutan membeli ponsel baru setiap tahun.
Tidak ada kebutuhan membuat konten agar dianggap berhasil.
Orang bekerja.
Makan.
Tidur.
Besok bekerja lagi.
Hidup memang sederhana.
Bukan berarti mudah.
Tetapi tekanan sosial jauh lebih kecil.
Sekarang Semua Orang Sedang Berlomba Menjadi "Terlihat Berhasil"
Hari ini berbeda.
Media sosial mengubah definisi kesuksesan.
Orang tidak lagi cukup menjadi bahagia.
Orang ingin terlihat bahagia.
Tidak cukup punya motor.
Harus motor terbaru.
Tidak cukup punya rumah.
Harus rumah estetik.
Tidak cukup makan enak.
Harus difoto.
Tidak cukup jalan-jalan.
Harus upload.
Akhirnya...
Yang kita kejar bukan lagi kebutuhan.
Tetapi pengakuan.
Dan pengakuan itu tidak pernah ada habisnya.
Gaji Naik, Tetapi Harga Hidup Jauh Lebih Cepat Naik
Inilah masalah yang paling nyata.
Banyak orang memang mengalami kenaikan pendapatan.
Namun pengeluaran naik lebih cepat.
Harga makanan.
Biaya sekolah.
Transportasi.
Listrik.
Internet.
Tempat tinggal.
Semuanya ikut bergerak.
Belum lagi muncul kebutuhan-kebutuhan baru yang dulu bahkan tidak ada.
Sekarang internet bukan lagi hiburan.
Tetapi kebutuhan.
Handphone bukan lagi kemewahan.
Melainkan alat bekerja.
Laptop menjadi syarat mencari uang.
Langganan aplikasi menjadi kebutuhan kerja.
Artinya...
Pendapatan bertambah belum tentu membuat hidup terasa lebih ringan.
Dunia Digital Membuka Kesempatan, Tetapi Juga Membuka Persaingan Tanpa Batas
Dulu seseorang bersaing dengan orang sekampung.
Sekarang?
Satu pekerjaan bisa diperebutkan ribuan orang.
Satu produk harus melawan jutaan toko online.
Satu video harus bersaing dengan miliaran video lain.
Dunia memang memberi kesempatan lebih besar.
Tetapi persaingan juga menjadi jauh lebih kejam.
Itulah sebabnya banyak orang merasa sudah bekerja keras...
Tetapi hasilnya tidak sebanding.
Kita Bukan Lagi Membeli Barang. Kita Membeli Gaya Hidup.
Inilah jebakan terbesar zaman sekarang.
Kita membeli kopi bukan karena haus.
Tetapi karena tempatnya Instagramable.
Kita membeli pakaian bukan karena rusak.
Tetapi karena tren berubah.
Kita membeli gadget bukan karena tidak bisa dipakai.
Tetapi karena takut dianggap ketinggalan.
Tanpa sadar...
Pengeluaran kita bukan lagi ditentukan kebutuhan.
Tetapi ditentukan algoritma.
Setiap hari kita disuguhi iklan.
Konten.
Influencer.
Review.
Diskon.
Flash sale.
Semua membuat kita merasa...
"Aku juga butuh itu."
Padahal belum tentu.
Apakah Pemerintah Menjadi Satu-satunya Penyebab?
Saya rasa tidak sesederhana itu.
Pemerintah memang memiliki peran besar dalam menjaga stabilitas ekonomi, membuka lapangan kerja, mengendalikan inflasi, memastikan subsidi tepat sasaran, dan menciptakan iklim usaha yang sehat.
Namun ada hal yang sering kita lupakan.
Tidak semua kesulitan berasal dari kebijakan.
Sebagian datang dari perubahan global.
Perang antarnegara.
Krisis energi.
Perubahan iklim.
Nilai tukar mata uang.
Gangguan rantai pasok dunia.
Harga komoditas internasional.
Semua itu memengaruhi harga barang yang akhirnya sampai ke dapur masyarakat.
Artinya, tidak semua persoalan bisa diselesaikan hanya dengan menyalahkan satu pihak. Di sisi lain, pemerintah tetap dituntut untuk mengambil kebijakan yang tepat agar dampaknya terhadap masyarakat dapat ditekan semaksimal mungkin.
Mengapa Banyak Orang Bekerja Lebih Keras, Tetapi Tetap Tidak Kaya?
Ini pertanyaan yang sangat menyakitkan.
Karena memang banyak yang mengalaminya.
Bekerja dari pagi.
Lembur.
Bahkan memiliki pekerjaan sampingan.
Tetapi tabungan tetap tipis.
Mengapa?
Karena biaya hidup meningkat.
Utang konsumtif bertambah.
Investasi minim.
Inflasi terus berjalan.
Pendapatan habis untuk bertahan.
Akhirnya...
Orang merasa seperti berlari di atas treadmill.
Capek.
Berkeringat.
Tetapi tidak pernah maju.
Kaya Hari Ini Tidak Selalu Berarti Aman Besok
Zaman sekarang perubahan berlangsung sangat cepat.
Pekerjaan bisa hilang karena teknologi.
Usaha bisa kalah oleh platform digital.
Profesi baru muncul.
Profesi lama menghilang.
Artinya...
Tidak ada lagi zona nyaman.
Semua orang dipaksa terus belajar.
Kalau berhenti berkembang...
Dunia akan berjalan meninggalkan kita.
Yang Paling Mahal Hari Ini Adalah Ketenangan
Banyak orang punya uang.
Tetapi tidak punya waktu.
Punya mobil.
Tetapi jarang pulang.
Punya rumah.
Tetapi tidak menikmati keluarga.
Punya jabatan.
Tetapi tidak bisa tidur nyenyak.
Ironisnya...
Yang paling dicari manusia hari ini bukan lagi kemewahan.
Melainkan ketenangan.
Dan ketenangan tidak bisa dibeli.
Jadi, Benarkah Hidup Semakin Susah?
Jawaban saya...
Ya.
Tetapi bukan karena satu faktor.
Hidup terasa lebih berat karena beberapa hal datang bersamaan:
- Biaya hidup meningkat.
- Persaingan semakin luas.
- Ekspektasi sosial semakin tinggi.
- Teknologi berkembang sangat cepat.
- Informasi membanjiri pikiran setiap hari.
- Tekanan untuk terlihat sukses semakin besar.
- Kebutuhan baru terus bermunculan.
Semua itu membuat manusia modern merasa lelah, bahkan ketika secara materi hidupnya mungkin lebih baik dibanding generasi sebelumnya.
Refleksi Bangsa: Jangan Sampai Kita Salah Mengukur Bahagia
Saya percaya satu hal.
Banyak orang hari ini sebenarnya tidak miskin.
Mereka hanya terus-menerus membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain.
Media sosial membuat kita melihat potongan terbaik dari hidup orang lain, lalu tanpa sadar membandingkannya dengan kenyataan hidup kita sendiri yang penuh perjuangan.
Padahal setiap orang punya cerita yang tidak selalu terlihat di layar.
Karena itu, bekerja keras tetap penting. Berusaha meningkatkan taraf hidup juga penting. Tetapi jangan sampai seluruh hidup habis hanya untuk mengejar pengakuan.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan hanya soal angka di rekening, melainkan juga kemampuan untuk hidup dengan tenang, menjaga keluarga, tetap sehat, dan tidur tanpa dihantui kecemasan yang berlebihan.
Mungkin benar hidup hari ini semakin sulit.
Namun kesulitan itu tidak boleh membuat kita kehilangan arah.
Justru di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, kita perlu lebih bijak menentukan mana yang benar-benar kebutuhan, mana yang hanya keinginan, dan mana yang sekadar ilusi yang diciptakan zaman.
Karena kalau kita terus mengejar standar hidup orang lain, sebesar apa pun penghasilan kita, rasanya akan selalu kurang.
Dan itulah kemiskinan yang paling berbahaya: merasa tidak pernah cukup, padahal sebenarnya kita sudah memiliki banyak hal yang patut disyukuri.


0Komentar