PulihSeketika.Com - Ada satu pertanyaan yang sejak lama mengganggu pikiran saya.
Kalau seseorang sudah pernah jatuh dalam hidupnya, apakah dia pantas dihukum selamanya?
Kalau seorang pengusaha pernah gagal, apakah dia tidak boleh bangkit lagi?
Kalau SLIK-nya sudah terlanjur berantakan karena masa sulit beberapa tahun lalu, apakah pintu kesempatan harus ditutup rapat sampai kapan pun?
Saya rasa, inilah salah satu ironi terbesar yang sedang kita hadapi.
Bukankah Semua Orang Bisa Gagal?
Mari kita jujur.
Tidak semua pengusaha yang kreditnya macet adalah penipu.
Tidak semua yang gagal membayar cicilan adalah orang yang sengaja lari dari tanggung jawab.
Banyak yang jatuh karena keadaan.
Pandemi.
Usaha sepi.
Harga bahan baku naik.
Pembeli hilang.
Bencana.
Atau bahkan karena mereka terlalu lama bertahan demi mempertahankan karyawan.
Mereka bukan tidak mau bayar.
Mereka memang tidak mampu pada saat itu.
Dan itu berbeda.
KUR Dibuat Untuk Siapa?
Selama ini kita sering mendengar bahwa Kredit Usaha Rakyat (KUR) hadir untuk membantu UMKM berkembang.
Kalimat itu indah.
Tetapi di lapangan muncul pertanyaan yang cukup menggelitik.
Kalau hanya orang yang kondisi keuangannya sudah bagus yang mudah mendapatkan KUR...
Lalu siapa yang sebenarnya sedang dibantu?
Bukankah yang sedang kesulitan justru lebih membutuhkan modal?
Kalau orang sudah punya usaha sehat, omzet stabil, aset banyak, bahkan SLIK sangat bagus...
Bisa jadi mereka memang layak mendapatkan pembiayaan.
Tetapi mereka bukan satu-satunya yang membutuhkan kesempatan.
Yang Pernah Jatuh Tidak Berarti Tidak Bertanggung Jawab
Saya mengenal banyak pelaku usaha.
Ada yang pernah bangkrut.
Ada yang rumahnya dijual.
Mobil habis.
Tabungan kosong.
Namun hari ini mereka berhasil membangun usaha lagi.
Artinya apa?
Artinya kegagalan bukan identitas seseorang.
Kegagalan hanyalah sebuah fase.
Kalau dunia selalu menghukum orang karena masa lalunya, mungkin banyak perusahaan besar di dunia tidak akan pernah berdiri.
Karena sejarah bisnis penuh dengan cerita gagal sebelum akhirnya berhasil.
SLIK Jangan Menjadi Vonis Seumur Hidup
Saya memahami bahwa bank harus menjaga risiko.
Uang yang dipinjamkan bukan uang pribadi pegawai bank.
Ada aturan.
Ada manajemen risiko.
Ada tanggung jawab kepada negara maupun masyarakat.
Semua itu memang penting.
Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah...
Apakah penilaian hanya boleh berhenti pada angka di layar komputer?
SLIK memang memberikan gambaran mengenai riwayat kredit seseorang.
Namun hidup manusia tidak berhenti pada satu data.
Ada orang yang lima tahun lalu gagal.
Hari ini usahanya sudah berjalan lagi.
Sudah punya pelanggan.
Sudah disiplin mengelola keuangan.
Sudah belajar dari kesalahan.
Tetapi karena catatan masa lalu...
Kesempatan kembali tertutup.
Padahal justru modal itulah yang bisa mempercepat pemulihannya.
Ironinya, Banyak yang Akhirnya Meminjam ke Tempat yang Salah
Ketika akses pembiayaan formal tertutup...
Orang tidak berhenti membutuhkan modal.
Mereka tetap mencari jalan.
Sayangnya, jalan yang ditemukan kadang jauh lebih mahal.
Ada yang meminjam dengan bunga tinggi.
Ada yang terjebak pinjaman tidak sehat.
Ada yang akhirnya kembali gagal karena beban cicilan semakin berat.
Bukankah ini menjadi lingkaran yang tidak kita inginkan?
Kalau sistem formal terlalu sulit diakses oleh mereka yang sedang bangkit...
Bukankah risiko sosialnya justru menjadi lebih besar?
Negara Butuh Pengusaha yang Bangkit, Bukan Pengusaha yang Menyerah
Setiap usaha kecil yang kembali hidup membawa dampak yang luar biasa.
Satu warung buka lagi.
Dua orang kembali bekerja.
Satu bengkel berkembang.
Tiga montir kembali mendapat penghasilan.
Satu toko ramai.
Pemasok ikut bergerak.
Rantai ekonomi berjalan.
Karena itu, kebangkitan satu UMKM bukan hanya soal satu pemilik usaha.
Melainkan tentang kehidupan banyak keluarga.
Semakin banyak usaha bangkit...
Semakin kuat ekonomi daerah.
Semakin kecil angka pengangguran.
Semakin besar perputaran uang.
Mungkin Sudah Saatnya Ada Jalur Kesempatan Kedua
Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua orang harus langsung diberi pinjaman.
Tentu tidak.
Seleksi tetap penting.
Analisis tetap diperlukan.
Kemampuan membayar tetap harus dinilai.
Tetapi mungkin sudah waktunya ada ruang bagi mereka yang benar-benar menunjukkan perubahan.
Misalnya, pelaku usaha yang telah menjalankan usaha kembali dengan baik selama periode tertentu, memiliki arus kas yang sehat, dan menunjukkan komitmen untuk memperbaiki rekam jejaknya, dapat memperoleh kesempatan untuk dinilai secara lebih menyeluruh, bukan hanya berdasarkan catatan lama.
Pendekatan seperti ini tetap menjaga prinsip kehati-hatian, namun juga membuka peluang bagi pelaku usaha yang benar-benar ingin bangkit.
Karena Semua Orang Berhak Memperbaiki Masa Depannya
Saya percaya...
Bangsa yang kuat bukan bangsa yang hanya memberi hadiah kepada mereka yang sudah berhasil.
Tetapi bangsa yang mampu memberi kesempatan kepada mereka yang pernah gagal, lalu berusaha bangkit dengan cara yang benar.
Kesalahan memang harus menjadi pelajaran.
Tetapi pelajaran tidak seharusnya berubah menjadi hukuman tanpa akhir.
Kalau seseorang telah menunjukkan itikad baik, bekerja keras, dan membangun usahanya kembali, mungkin sudah waktunya sistem juga melihat perjalanan itu secara utuh.
Karena pada akhirnya...
Ekonomi tidak tumbuh hanya dari perusahaan besar.
Ia juga tumbuh dari warung kecil yang kembali buka.
Dari bengkel yang kembali ramai.
Dari petani yang kembali menanam.
Dari pedagang yang kembali berjualan.
Dan dari pengusaha kecil yang dulu pernah jatuh...
Tetapi hari ini hanya meminta satu hal.
Bukan belas kasihan.
Melainkan kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka mampu bangkit kembali.


0Komentar