PULIHSEKETIKA.COM - "Masa sih satu juta rupiah bisa buat liburan tujuh hari keliling Pulau Jawa?"
Kalimat itu hampir selalu muncul setiap kali aku menceritakan perjalanan ini.
Ada yang tertawa.
Ada yang menganggap aku bercanda.
Bahkan ada yang yakin aku pasti mendapat sponsor.
Padahal kenyataannya tidak.
Aku benar-benar berangkat hanya dengan uang sekitar Rp1.000.000 di dompet.
Tanpa hotel berbintang.
Tanpa naik pesawat.
Tanpa makan di restoran mahal.
Yang kubawa hanyalah sebuah tas ransel berisi pakaian secukupnya, kamera kecil, botol minum, buku catatan, dan rasa penasaran yang sangat besar.
Perjalanan ini bukan tentang hidup serba kekurangan.
Justru sebaliknya.
Aku ingin membuktikan bahwa liburan murah bukan berarti murahan.
Aku ingin menikmati setiap kota, berbincang dengan orang-orang baru, mencicipi makanan khas, melihat matahari terbit dari tempat yang belum pernah kukunjungi, dan pulang membawa cerita yang jauh lebih berharga daripada uang yang kukeluarkan.
Dan ternyata…
Tahun 2026 masih menyimpan banyak kejutan bagi para pemburu liburan hemat.
Hari Pertama – Berangkat dengan Satu Tas dan Satu Mimpi
Pukul lima pagi aku sudah berada di stasiun.
Udara masih dingin.
Suasana belum terlalu ramai.
Aku sengaja memilih kereta ekonomi karena sejak awal perjalanan ini memang memiliki satu aturan sederhana.
Setiap rupiah harus memiliki tujuan.
Saat menunggu kereta datang, aku membeli sarapan sederhana dari pedagang di sekitar stasiun.
Bukan karena tidak mampu membeli makanan mahal.
Tetapi karena aku ingin merasakan perjalanan seperti backpacker sesungguhnya.
Saat kereta mulai bergerak meninggalkan kota, aku melihat matahari perlahan muncul di balik sawah.
Perjalanan baru dimulai.
Dan entah kenapa aku sudah merasa bahagia.
Belajar Bahwa Perjalanan Tidak Selalu Tentang Destinasi
Di dalam kereta aku bertemu seorang bapak yang ternyata hobi berkeliling Indonesia menggunakan transportasi umum.
Beliau bercerita bahwa tempat terbaik sering kali bukan yang paling terkenal.
Melainkan tempat yang membuat kita merasa diterima.
Kalimat itu terus terngiang sepanjang perjalanan.
Karena benar.
Sering kali kita terlalu sibuk mengejar destinasi viral hingga lupa menikmati perjalanan itu sendiri.
Hari Kedua – Kota Pertama yang Mengajarkanku Hidup Lebih Santai
Aku tiba di Yogyakarta.
Namun kali ini aku tidak langsung menuju Malioboro.
Aku memilih masuk ke gang-gang kecil yang dipenuhi warung sederhana.
Di sana aku sarapan bersama warga lokal.
Aku berbincang dengan pemilik warung yang sudah puluhan tahun berjualan.
Beliau mengatakan sesuatu yang membuatku tersenyum.
"Liburan itu jangan buru-buru, Mbak. Kota ini paling indah kalau dinikmati pelan-pelan."
Hari itu aku berjalan kaki hampir ke mana-mana.
Menghemat ongkos sekaligus menikmati suasana kota.
Aku mengunjungi taman kota, pasar tradisional, kampung seni, hingga menikmati senja di tempat yang bahkan tidak dipungut tiket masuk.
Dan malam itu, ketika menghitung pengeluaran, aku terkejut.
Biayanya jauh lebih kecil daripada yang kubayangkan.
Hari Ketiga – Tidur di Hostel, Pulang dengan Teman Baru
Aku memilih menginap di hostel.
Awalnya aku ragu.
Namun ternyata justru di sanalah petualangan sesungguhnya dimulai.
Aku bertemu traveler dari berbagai daerah.
Ada yang sedang bersepeda keliling Jawa.
Ada yang sedang solo traveling.
Ada pula mahasiswa yang sedang liburan setelah ujian.
Kami saling bertukar cerita hingga larut malam.
Aku baru sadar bahwa menginap murah bukan berarti kehilangan kenyamanan.
Justru aku mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh hotel mewah.
Persahabatan.
Hari Keempat – Berburu Wisata Gratis
Hari ini aku membuat tantangan baru.
Aku ingin menikmati satu hari penuh tanpa masuk ke tempat wisata berbayar.
Awalnya kupikir akan membosankan.
Ternyata justru menjadi salah satu hari favoritku.
Aku berjalan menyusuri kawasan bersejarah.
Menikmati arsitektur bangunan tua.
Duduk di taman kota.
Mengunjungi sentra UMKM.
Melihat seniman jalanan berkarya.
Dan sore harinya aku menikmati matahari terbenam dari bukit kecil yang bisa diakses secara gratis.
Aku mulai memahami bahwa keindahan tidak selalu memiliki harga tiket.
Hari Kelima – Mencari Makanan Enak Tanpa Menguras Dompet
Sebagai pecinta kuliner, tentu aku tidak ingin melewatkan kesempatan mencicipi makanan khas.
Namun aku punya aturan.
Aku hanya makan di tempat yang ramai oleh warga lokal.
Bukan karena viral.
Melainkan karena biasanya itulah pertanda makanan tersebut memang enak.
Hari itu aku menemukan warung sederhana yang menyajikan makanan rumahan dengan rasa luar biasa.
Saat membayar, aku sampai mengecek ulang uang di tanganku.
Murah sekali.
Aku tersenyum.
Kadang restoran terbaik memang tidak memiliki dekorasi mewah.
Hari Keenam – Naik Transportasi Lokal
Hari ini aku sengaja meninggalkan aplikasi transportasi daring.
Aku mencoba menggunakan angkutan lokal.
Naik bus.
Berjalan kaki.
Sesekali menyewa sepeda.
Selain lebih hemat, aku juga bisa melihat kehidupan sehari-hari masyarakat secara lebih dekat.
Aku melewati sawah.
Perkampungan.
Pasar tradisional.
Anak-anak yang pulang sekolah.
Semua terasa begitu hidup.
Perjalanan sederhana itu justru menjadi bagian favoritku.
Hari Ketujuh – Saat Menghitung Semua Pengeluaran
Perjalanan hampir selesai.
Aku duduk di sebuah kafe kecil sambil membuka buku catatan.
Satu per satu semua pengeluaran mulai kuhitung.
Transportasi.
Penginapan.
Makan.
Minum.
Tiket.
Jajanan.
Aku menjumlahkannya perlahan.
Lalu berhenti.
Menghitung ulang.
Karena aku tidak percaya.
Totalnya masih berada di sekitar target yang kutetapkan sejak awal.
Aku benar-benar berhasil menikmati tujuh hari perjalanan tanpa membuat dompet menangis.
Yang paling mengejutkan bukan jumlah uang yang tersisa.
Melainkan jumlah pengalaman yang berhasil kukumpulkan.
Rahasia Liburan Hemat Ala Lastari
Selama perjalanan ini aku menemukan beberapa kebiasaan sederhana yang sangat membantu.
1. Berangkat Saat Low Season
Harga transportasi dan penginapan biasanya jauh lebih bersahabat.
2. Jalan Kaki Sebisa Mungkin
Selain hemat, kita menemukan banyak tempat menarik yang tidak muncul di aplikasi peta.
3. Menginap di Hostel atau Homestay
Lebih murah dan memberi kesempatan bertemu orang-orang baru.
4. Makan di Warung Lokal
Lebih autentik, lebih hemat, dan mendukung usaha masyarakat setempat.
5. Membawa Botol Minum Sendiri
Pengeluaran kecil sering kali menumpuk tanpa kita sadari.
6. Membuat Anggaran Harian
Aku selalu menentukan batas pengeluaran setiap hari agar tidak kebablasan.
Itinerary Sederhana 7 Hari Keliling Jawa
| Hari | Aktivitas |
|---|---|
| 1 | Berangkat menggunakan kereta ekonomi, menikmati perjalanan |
| 2 | Menjelajahi Yogyakarta dengan berjalan kaki |
| 3 | Menginap di hostel dan bertemu traveler lain |
| 4 | Wisata gratis di taman kota, kawasan bersejarah, dan bukit |
| 5 | Wisata kuliner di warung lokal |
| 6 | Menjelajah menggunakan transportasi umum |
| 7 | Menikmati pagi terakhir, membeli oleh-oleh sederhana, pulang |
Estimasi Budget
| Kebutuhan | Estimasi |
|---|---|
| Transportasi | Rp350.000 |
| Hostel | Rp250.000 |
| Makan | Rp250.000 |
| Transportasi lokal | Rp75.000 |
| Oleh-oleh & cadangan | Rp75.000 |
| Total | ± Rp1.000.000 |
Biaya di atas adalah contoh estimasi. Pengeluaran dapat berbeda tergantung kota asal, waktu perjalanan, pilihan transportasi, dan gaya liburan.
Pelajaran Terbesar dari Perjalanan Ini
Selama tujuh hari aku belajar bahwa liburan bukan tentang seberapa mahal hotel yang kita tempati.
Bukan tentang berapa banyak tempat yang berhasil kita datangi.
Dan bukan pula tentang seberapa viral foto yang kita unggah.
Liburan adalah tentang pulang dengan hati yang lebih penuh.
Tentang cerita yang tidak bisa dibeli.
Tentang senyum orang-orang yang kita temui di perjalanan.
Tentang keberanian keluar dari rutinitas.
Aku menyadari bahwa uang memang penting.
Tetapi kreativitas dalam menyusun perjalanan jauh lebih menentukan.
Dengan perencanaan yang matang, sedikit fleksibilitas, dan kemauan untuk menikmati hal-hal sederhana, liburan hemat bisa menjadi pengalaman yang luar biasa.
Penutup: Liburan Murah Bukan Berarti Mengurangi Kebahagiaan
Saat kereta membawaku pulang, aku memandangi sawah yang kembali berlalu di balik jendela.
Ranselku masih sama.
Isinya tidak bertambah banyak.
Namun isi kepalaku dipenuhi kenangan baru.
Aku bertemu orang-orang baik.
Menikmati makanan sederhana yang rasanya luar biasa.
Menyaksikan matahari terbit dan tenggelam di tempat-tempat yang sebelumnya hanya kulihat di internet.
Dan yang paling penting, aku membuktikan pada diriku sendiri bahwa liburan menyenangkan tidak harus menghabiskan banyak uang.
Karena pada akhirnya, yang membuat sebuah perjalanan terasa mahal bukanlah biaya yang kita keluarkan, melainkan nilai pengalaman yang kita bawa pulang.
Aku Lastari, dan perjalanan tujuh hari dengan budget sekitar satu juta rupiah ini mengajarkanku bahwa petualangan terbaik sering kali dimulai dari keberanian untuk melangkah, bukan dari tebalnya isi dompet. 🌿🚆🎒
.jpg)

0Komentar