PULIHSEKETIKA.COM - "Kalau mahasiswa hanya diajak melihat apa yang ingin diperlihatkan, itu namanya kunjungan. Tapi kalau mahasiswa diberi ruang melihat apa yang selama ini disembunyikan, barulah itu pendidikan."
Belakangan ini publik ramai membahas langkah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang mengajak sejumlah mahasiswa mengikuti kunjungan kerja ke berbagai daerah untuk melihat program-program pemerintah. Ada yang memuji karena dianggap membuka ruang dialog. Ada pula yang menilai langkah tersebut tidak lebih dari pencitraan politik. Perdebatan ini muncul setelah sebelumnya Gibran juga menerima sebagian perwakilan mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi.
Bagi saya, justru perdebatan ini menarik.
Bukan soal siapa yang benar.
Tetapi soal bagaimana kita memandang posisi mahasiswa dalam demokrasi.
Mahasiswa Jangan Sampai Kehilangan Fungsi
Saya tidak pernah mempermasalahkan pejabat bertemu mahasiswa.
Itu bahkan hal yang bagus.
Negara memang membutuhkan komunikasi.
Tetapi komunikasi akan kehilangan maknanya kalau hanya berjalan satu arah.
Kalau mahasiswa hanya diajak melihat keberhasilan pemerintah, sementara tidak diberi kesempatan melihat kekurangannya, akhirnya yang terjadi hanyalah wisata politik.
Padahal mahasiswa bukan rombongan tamu VIP.
Mahasiswa adalah kelompok intelektual yang tugasnya mempertanyakan.
Kritik Bukan Berarti Membenci
Sering kali masyarakat dibuat seolah hanya memiliki dua pilihan.
Kalau memuji pemerintah berarti nasionalis.
Kalau mengkritik pemerintah berarti membenci negara.
Padahal logika itu keliru.
Justru orang yang peduli biasanya lebih sering mengkritik.
Karena ia ingin sesuatu menjadi lebih baik.
Seorang dosen mengoreksi skripsi mahasiswa bukan karena benci.
Orang tua menegur anak bukan karena tidak sayang.
Begitu pula rakyat kepada pemimpinnya.
Kritik bukan musuh.
Kritik adalah vitamin demokrasi.
Jangan Jadikan Kamera Sebagai Tujuan
Saya tidak tahu apakah kegiatan tersebut memang murni ingin mendengar suara mahasiswa atau memiliki tujuan komunikasi politik.
Dan sejujurnya, publik memang berhak memiliki penilaian masing-masing.
Karena setiap aktivitas pejabat publik pasti akan dibaca secara politik. Hal itu juga disampaikan sejumlah pengamat bahwa langkah elite politik hampir selalu memunculkan pro dan kontra.
Tetapi ada satu hal yang menurut saya penting.
Kalau sebuah kegiatan lebih sibuk mengatur angle kamera dibanding menyelesaikan persoalan rakyat...
Maka yang sedang dibangun bukan solusi.
Melainkan persepsi.
Padahal rakyat hari ini tidak kekurangan foto.
Yang kurang adalah hasil nyata.
Mahasiswa Jangan Mudah Terpesona
Kalau saya menjadi mahasiswa yang diajak ikut kunjungan kerja...
Saya justru akan bertanya lebih banyak.
Mengapa program ini berhasil di sini tetapi gagal di daerah lain?
Apa kendala sebenarnya?
Berapa anggaran yang digunakan?
Apa indikator keberhasilannya?
Bagaimana kritik masyarakat sekitar?
Itulah fungsi mahasiswa.
Bukan sekadar tersenyum ketika kamera menyala.
Karena sejarah Indonesia menunjukkan bahwa perubahan besar lahir dari mahasiswa yang berani bertanya, bukan mahasiswa yang hanya pandai berfoto.
Pemimpin Besar Tidak Takut Dikritik
Saya percaya pemimpin yang baik justru membutuhkan kritik.
Karena kritik membuat kebijakan menjadi lebih kuat.
Kalau semua orang di sekitar hanya mengatakan "baik, Pak..."
Lama-lama pemimpin hidup di dunia yang tidak nyata.
Ia hanya mendengar tepuk tangan.
Padahal di luar pagar istana, masih banyak rakyat yang bertepuk jidat.
Rakyat Sudah Semakin Dewasa
Hari ini masyarakat jauh lebih kritis dibanding sepuluh tahun lalu.
Satu video bisa dipotong.
Satu narasi bisa diperiksa.
Satu pencitraan bisa dibandingkan dengan kondisi lapangan.
Artinya, membangun citra saja tidak cukup.
Yang dibutuhkan adalah konsistensi.
Kalau program memang berhasil...
Tidak perlu terlalu banyak menjelaskan.
Rakyat sendiri yang akan menceritakannya.
Penutup
Saya tidak sedang mengatakan bahwa mengajak mahasiswa itu salah.
Saya juga tidak mengatakan bahwa semua itu pasti pencitraan.
Yang saya ingin sampaikan sederhana.
Kalau pemerintah ingin mengajak mahasiswa...
Ajaklah mereka melihat seluruh kenyataan.
Bukan hanya bagian yang indah.
Biarkan mahasiswa tetap menjadi mahasiswa.
Yang berani bertanya.
Yang berani mengkritik.
Yang berani berbeda pendapat.
Karena negara ini tidak dibangun oleh orang-orang yang selalu setuju.
Tetapi oleh orang-orang yang berani berpikir.
– Bangsa
"Jangan takut kritik membuat pemerintah terlihat lemah. Yang membuat pemerintah benar-benar lemah adalah ketika tidak ada lagi yang berani mengingatkan."


0Komentar