PULIHSEKETIKA.COM
 - JAKARTA – Pernah nggak sih kamu merasa dulu hidup terasa lebih “lega”? Bisa ngopi tanpa mikir dua kali, sesekali healing walau dekat rumah, beli kebutuhan tanpa terlalu sering buka kalkulator. Tapi sekarang? Banyak orang mulai berpikir panjang bahkan untuk hal-hal kecil.

Kalau kamu merasa begitu, ternyata kamu tidak sendirian.


Aku, KARTO, beberapa hari ini memperhatikan satu hal: wajah-wajah orang di jalan masih sama, pusat perbelanjaan masih ramai, warung kopi tetap penuh. Tapi anehnya, di balik senyum dan keramaian itu, banyak orang diam-diam sedang bertahan hidup.

Dan ternyata, apa yang dirasakan masyarakat ini bukan cuma perasaan semata.

Laporan terbaru dari lembaga keuangan global, World Bank atau Bank Dunia, mengungkap sesuatu yang cukup bikin kening berkerut: kelas menengah di Indonesia ternyata menyusut hampir separuh dalam tujuh tahun terakhir.


Dulu 14,5 Persen, Sekarang Tinggal 7 Persen. Kok Bisa?

Mari kita bicara dengan bahasa sederhana.

Pada tahun 2018, sekitar 14,5 persen pekerja Indonesia masih tergolong masuk kategori kelas menengah. Namun pada tahun 2025, jumlah itu turun menjadi hanya sekitar 7 persen saja. Artinya, dalam kurun waktu tujuh tahun, kelompok masyarakat yang biasanya menjadi “mesin ekonomi” ini mengalami penyusutan hampir setengahnya.


Bayangkan begini…

Dulu ada tetangga yang masih bisa nyicil motor, ngajak keluarga makan tiap akhir pekan, bahkan masih sempat nabung. Sekarang? Banyak yang mulai berkata:

“Yang penting cukup dulu buat bulan ini.”

Kalimat sederhana, tapi dalam maknanya.

Karena faktanya, pertumbuhan ekonomi memang berjalan, tapi tidak semua orang ikut merasakan naik kelas.


Gaji Jalan di Tempat, Harga Hidup Jalan Terus

Aku jadi ingat obrolan dengan seorang teman ojek online.

Katanya, “Pendapatan sih ada, To… tapi rasanya nggak pernah cukup.”

Nah, inilah salah satu masalah besar yang juga disorot Bank Dunia. Mereka menyebut pendapatan riil masyarakat kelas menengah cenderung melambat bahkan turun setelah dihitung dengan inflasi. Sederhananya: uang memang masuk, tapi nilainya makin terasa kecil ketika dipakai belanja kebutuhan hidup.

Belum lagi fenomena setengah pengangguran—orang yang sebenarnya bekerja, tapi jam kerja atau penghasilannya belum cukup layak untuk hidup nyaman. Menurut laporan tersebut, angkanya mencapai sekitar 32,7 persen.

Artinya?

Banyak orang terlihat bekerja. Tapi belum tentu hidupnya benar-benar aman.


Kenapa Ini Bahaya untuk Indonesia?

Nah ini yang sering tidak dibahas.

Kalau kelas menengah melemah, yang ikut kena bukan cuma dompet pribadi. Ekonomi negara juga bisa ikut limbung.

Kenapa?

Karena kelas menengah adalah kelompok yang paling sering belanja: beli motor, renovasi rumah, makan di restoran, beli gadget, sampai membiayai pendidikan anak.

Mereka ibarat mesin penggerak konsumsi nasional.

Kalau mesinnya mulai ngos-ngosan, roda ekonomi ikut melambat.


KARTO Bilang Gini…

Kadang kita terlalu sibuk menyalahkan diri sendiri.

“Kayaknya aku gagal.”
“Kenapa hidup makin berat?”
“Kok duit cepat habis?”

Padahal mungkin masalahnya lebih besar dari sekadar kemampuan mengatur uang.

Ketika lapangan kerja produktif masih terbatas, upah tidak tumbuh sehat, dan harga kebutuhan terus naik, maka bertahan hidup saja sudah jadi perjuangan bagi banyak orang.

Tapi bukan berarti harapan habis.

Bank Dunia menilai Indonesia masih punya peluang besar untuk membalik keadaan—asal fokus pada lapangan kerja berkualitas, pendidikan yang relevan, pelatihan tenaga kerja, dan investasi yang membuka pekerjaan dengan penghasilan lebih baik.


Penutup: Jangan Sampai Kita Sibuk Bertahan, Tapi Lupa Bergerak

Aku percaya satu hal.

Rakyat Indonesia itu kuat. Terlalu kuat malah kadang.

Kita sering tersenyum padahal dompet tipis. Tetap bercanda walau tagihan menumpuk. Tetap bekerja meski kepala penuh pikiran.

Tapi negara juga perlu memastikan bahwa kerja keras rakyat bukan cuma cukup untuk bertahan… melainkan juga bisa membuat mereka naik kelas.

Karena kalau kelas menengah terus menyusut, jangan heran kalau suatu hari nanti bukan lagi soal “ingin kaya”…


Tapi sekadar bertahan hidup tanpa takut besok kekurangan.

Menurut kamu, sekarang hidup terasa makin berat atau masih aman-aman saja? Tulis pendapatmu di kolom komentar PulihSeketika.com.