PULIHSEKETIKA.COM
 - "Kalau semua masalah selesai hanya dengan gunting pita dan foto bersama, mungkin negeri ini sudah menjadi negara paling sempurna di dunia."


Kita Ini Suka Meresmikan, Tapi Kadang Lupa Menyelesaikan

Saya pernah berpikir begini.

Bangsa ini sebenarnya hebat.

Apa pun bisa diresmikan.

Mulai dari gedung, jalan, program, aplikasi, kampanye, gerakan, hingga slogan baru.

Kadang sebelum manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat, acaranya sudah dibuat semegah mungkin.

Ada panggung.

Ada spanduk.

Ada sambutan.

Ada tepuk tangan.

Ada dokumentasi.

Besoknya muncul di media.

Lalu masyarakat kembali menjalani hidup seperti biasa.

Masalahnya masih sama.


Negeri yang Sibuk Berfoto

Kalau dipikir-pikir, kamera mungkin sudah menjadi saksi paling setia perjalanan negeri ini.

Setiap ada kegiatan...

Foto.

Rapat...

Foto.

Penandatanganan...

Foto.

Peninjauan...

Foto.

Tanam pohon...

Foto.

Bahkan kadang pohonnya belum tentu tumbuh, tapi fotonya sudah lebih dulu viral.

Saya tidak mengatakan dokumentasi itu salah.

Justru dokumentasi memang penting.

Yang menjadi pertanyaan adalah...

Apakah dokumentasi itu sedang merekam sebuah hasil, atau sekadar sebuah acara?


Kadang yang Diresmikan Baru Harapan

Ada satu kebiasaan yang menurut saya menarik.

Sesuatu yang baru dimulai kadang dirayakan seolah-olah sudah selesai.

Padahal masyarakat sebenarnya lebih ingin melihat hasil akhirnya.

Mereka tidak terlalu peduli siapa yang memegang gunting pita.

Yang mereka pedulikan sederhana.

Apakah jalan itu benar-benar nyaman dilewati?

Apakah pelayanan benar-benar lebih cepat?

Apakah hidup mereka menjadi lebih baik?

Kalau jawabannya belum, maka seremoni hanya menjadi kenangan.


Rakyat Tidak Hidup dari Spanduk

Masyarakat tidak sarapan dengan baliho.

Tidak makan siang dengan pidato.

Tidak membayar sekolah menggunakan slogan.

Yang mereka butuhkan adalah pelayanan yang benar-benar terasa.

Air bersih mengalir.

Jalan yang layak.

Sekolah yang nyaman.

Rumah sakit yang mudah diakses.

Lapangan pekerjaan.

Harga kebutuhan yang stabil.

Hal-hal sederhana seperti itulah yang sebenarnya paling dirindukan.


Kadang Kita Terlalu Cepat Merayakan

Saya sering melihat sebuah fenomena.

Baru satu langkah berjalan...

Sudah dibuat perayaan.

Baru ada rencana...

Sudah dibuat konferensi.

Baru ada konsep...

Sudah dibuat deklarasi.

Padahal perjalanan menuju hasil masih panjang.

Bukankah lebih indah jika yang dirayakan adalah keberhasilan menyelesaikan pekerjaan?

Bukan keberanian memulai pekerjaan.

Karena memulai memang penting.

Tetapi menyelesaikan jauh lebih sulit.


Seremoni Tidak Salah, Asal Jangan Menjadi Tujuan

Saya tidak anti seremoni.

Dalam banyak budaya, seremoni memiliki makna.

Sebagai bentuk penghormatan.

Sebagai ungkapan syukur.

Sebagai penanda sejarah.

Semua itu baik.

Yang menjadi persoalan adalah ketika seremoni terasa lebih besar daripada substansinya.

Ketika energi habis untuk acara, tetapi perhatian terhadap pelaksanaan justru berkurang.

Saat itulah masyarakat mulai bertanya.

Apakah yang lebih penting memang pekerjaannya, atau hanya terlihat sedang bekerja?


Bangsa Hebat Bukan Karena Banyak Acara

Negara maju bukan dikenal karena sering mengadakan peresmian.

Tetapi karena masyarakatnya benar-benar merasakan manfaat dari kebijakan dan pelayanan yang baik.

Orang mungkin lupa siapa yang memotong pita.

Tetapi mereka tidak akan lupa jalan yang mulus.

Mereka mungkin lupa siapa yang memberi sambutan.

Tetapi mereka akan selalu ingat pelayanan publik yang memudahkan hidup mereka.

Karena manfaat selalu lebih lama hidup daripada seremoni.


Mari Mengukur Keberhasilan dengan Dampak

Sudah saatnya kita mengubah cara memandang keberhasilan.

Bukan lagi bertanya:

"Berapa banyak acara yang sudah dibuat?"

Melainkan:

"Berapa banyak masalah yang berhasil diselesaikan?"

Bukan:

"Berapa banyak peserta yang hadir?"

Tetapi:

"Berapa banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya?"

Karena ukuran keberhasilan bukan jumlah kursi yang terisi.

Melainkan jumlah kehidupan yang berubah menjadi lebih baik.


Kritik Ini Bukan untuk Menyalahkan

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun.

Saya percaya banyak orang bekerja dengan sungguh-sungguh demi kemajuan bangsa.

Namun kritik adalah bagian dari rasa cinta.

Karena mencintai negeri bukan hanya memuji ketika semuanya baik.

Tetapi juga berani mengingatkan ketika ada yang perlu diperbaiki.

Jika suatu program memang baik, maka biarkan hasilnya yang berbicara.

Tidak perlu terlalu banyak panggung.

Tidak perlu terlalu banyak tepuk tangan.

Manfaat yang nyata akan menjadi promosi terbaik.


Penutup: Masyarakat Tidak Menunggu Acara Berikutnya

Saya membayangkan suatu hari nanti.

Ketika sebuah program selesai dijalankan.

Tidak ada panggung megah.

Tidak ada pesta besar.

Hanya ada senyum masyarakat karena hidup mereka benar-benar berubah.

Mungkin itulah seremoni yang paling indah.

Seremoni tanpa panggung.

Seremoni tanpa karpet merah.

Seremoni yang hadir dalam bentuk jalan yang lebih baik, sekolah yang lebih layak, pelayanan yang lebih cepat, dan harapan yang benar-benar tumbuh.

Karena pada akhirnya...

Bangsa ini tidak akan dikenang karena seberapa sering kita bertepuk tangan.

Bangsa ini akan dikenang karena seberapa banyak persoalan yang berhasil kita selesaikan.