PULIHSEKETIKA.COM
 - "Kita hidup di zaman ketika seseorang bisa lebih sibuk mencari sudut pengambilan gambar terbaik daripada mencari cara terbaik menyelamatkan nyawa orang lain."

Ada satu hal yang belakangan ini membuat saya sering termenung.

Bukan soal politik.

Bukan soal ekonomi.

Tetapi soal sesuatu yang lebih sederhana, namun mungkin jauh lebih berbahaya.

Empati.

Coba perhatikan.

Setiap kali ada kecelakaan.

Ada orang pingsan di pinggir jalan.

Ada korban banjir.

Ada orang menangis.

Atau ada perkelahian di tempat umum.

Apa yang pertama kali dilakukan banyak orang?

Bukan berlari membantu.

Bukan menghubungi ambulans.

Bukan mengamankan lokasi.

Melainkan...

Mengeluarkan telepon genggam.

Menekan tombol rekam.

Lalu berharap videonya masuk FYP.

Saya tidak mengatakan semua orang seperti itu.

Masih banyak masyarakat Indonesia yang luar biasa peduli.

Masih banyak yang rela menjadi relawan.

Masih banyak yang berhenti di tengah perjalanan demi membantu orang asing.

Tetapi kita juga tidak bisa menutup mata.

Fenomena "rekam dulu, bantu belakangan" semakin sering terlihat.

Dan itu layak kita renungkan.


Ketika Penderitaan Menjadi Hiburan

Saya kadang bertanya dalam hati.

Kapan tepatnya penderitaan orang lain berubah menjadi tontonan?

Seorang ibu menangis kehilangan anak.

Direkam.

Korban kecelakaan bersimbah darah.

Direkam.

Orang kelaparan.

Direkam.

Bahkan orang yang sedang mengalami gangguan mental pun sering dijadikan bahan candaan.

Direkam.

Diunggah.

Diberi musik sedih.

Lalu...

Menunggu jutaan penonton.

Yang lebih menyedihkan lagi.

Kolom komentarnya sering dipenuhi kalimat seperti:

"Pertama."

"Masuk FYP nih."

"Like dulu sebelum viral."

Entah sejak kapan rasa iba kalah oleh rasa ingin terkenal.


Algoritma Tidak Salah, Tetapi Kita Harus Lebih Bijak

Banyak yang menyalahkan media sosial.

Katanya semua ini gara-gara algoritma.

Menurut saya...

Tidak sepenuhnya.

Algoritma memang menyukai konten yang banyak ditonton.

Tetapi algoritma tidak pernah memaksa kita merekam orang yang sedang menderita.

Yang memegang kamera adalah manusia.

Yang memilih mengunggah adalah manusia.

Yang memilih mencari keuntungan dari penderitaan orang lain juga manusia.

Teknologi hanyalah alat.

Yang menentukan arah adalah hati kita.


Dunia Digital Mengubah Cara Kita Merasa

Dulu...

Kalau melihat orang jatuh.

Refleks kita adalah menolong.

Sekarang...

Sebagian orang justru refleks mencari posisi kamera terbaik.

Saya khawatir.

Bukan karena telepon genggamnya.

Tetapi karena hati kita mulai terbiasa melihat penderitaan sebagai sesuatu yang biasa.

Semakin sering melihat video orang menangis.

Semakin sering melihat kecelakaan.

Semakin sering melihat tragedi.

Lama-lama kita tidak lagi terkejut.

Padahal rasa terkejut itulah yang melahirkan empati.


Jangan Sampai Anak-Anak Belajar Hal yang Salah

Yang lebih saya khawatirkan adalah generasi berikutnya.

Anak-anak sekarang tumbuh bersama media sosial.

Mereka belajar dari apa yang mereka lihat.

Kalau setiap hari mereka melihat orang mendapatkan perhatian karena merekam musibah...

Mereka bisa menganggap itulah perilaku yang normal.

Padahal yang seharusnya menjadi contoh adalah orang yang menolong.

Bukan orang yang paling cepat mengunggah.


Menolong Tidak Selalu Harus Hebat

Ada yang berkata,

"Saya bukan dokter, jadi saya tidak bisa membantu."

Tidak selalu begitu.

Membantu tidak harus menjadi pahlawan.

Kadang cukup:

Menghubungi ambulans.

Mengatur lalu lintas agar tidak macet.

Memberikan air minum.

Memayungi korban dari panas.

Menghibur keluarga yang panik.

Atau...

Kalau memang tidak bisa membantu sama sekali.

Setidaknya jangan membuat penderitaan mereka menjadi konsumsi publik.

Karena setiap manusia berhak menjaga martabatnya, bahkan di saat paling sulit dalam hidupnya.


Viral Itu Sementara, Kemanusiaan Selamanya

Saya paham.

Di era sekarang, semua orang ingin kontennya ramai.

Ingin banyak penonton.

Ingin banyak pengikut.

Itu bukan sesuatu yang salah.

Tetapi jangan sampai mengejar angka membuat kita kehilangan rasa.

Sebab ketika seseorang sedang berada di titik terendah hidupnya...

Ia tidak membutuhkan kamera.

Ia membutuhkan uluran tangan.

Video yang viral mungkin hanya bertahan beberapa hari.

Tetapi pertolongan yang tulus bisa dikenang seumur hidup.


Mari Kembalikan Indonesia yang Ramah

Saya percaya bangsa ini sebenarnya dikenal karena gotong royong.

Karena saling membantu.

Karena tidak tega melihat orang lain kesusahan.

Nilai-nilai itu jangan sampai hilang hanya karena kita hidup di zaman serba digital.

Gunakan teknologi.

Gunakan media sosial.

Gunakan kamera.

Tetapi jangan pernah biarkan kamera mengambil alih hati kita.

Kalau suatu hari nanti kita melihat seseorang membutuhkan pertolongan...

Semoga yang pertama kali bergerak bukan jari untuk menekan tombol rekam.

Melainkan kaki untuk mendekat.

Dan tangan untuk membantu.

Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang teknologinya maju.

Tetapi bangsa yang warganya masih mampu merasakan sakit yang dialami orang lain.


Penutup

Mungkin yang sedang hilang dari negeri ini bukan kecanggihan teknologi.

Bukan juga kemampuan membuat konten.

Yang mulai langka justru sesuatu yang sejak dulu menjadi kekuatan bangsa Indonesia.

Empati.

Mari kita buktikan bahwa di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar viral, masih ada orang-orang yang memilih menjadi penolong daripada penonton.

Karena pada akhirnya...

Orang tidak akan mengingat berapa banyak video yang kita unggah.

Tetapi mereka akan selalu mengingat siapa yang datang ketika mereka membutuhkan pertolongan.


— Bangsa

"Kalau hati mulai kalah oleh kamera, mungkin yang perlu diperbaiki bukan teknologi kita, tetapi cara kita memandang sesama manusia."