PULIHSEKETIKA.COM
 - Jumat siang di jantung Ibu Kota tidak berjalan seperti biasanya.

Saya, Adi Sinatra, melihat bagaimana ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi turun ke jalan membawa satu pesan yang membuat banyak orang terkejut: "Menuju Indonesia Bangkrut."

Tagar itu bukan sekadar slogan. Bukan pula sekadar teriakan demonstrasi yang biasa kita dengar setiap tahun. Di balik kalimat tersebut tersimpan kegelisahan mendalam mengenai arah kebijakan negara, kondisi ekonomi rakyat, hingga penggunaan anggaran negara yang dinilai semakin jauh dari kebutuhan masyarakat.


Aksi yang dipelopori oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) itu berlangsung di kawasan Jakarta Pusat. Massa mahasiswa berusaha menuju Bundaran HI sebagai simbol ruang publik dan pusat perhatian nasional. Namun perjalanan mereka tidak berjalan mulus karena mendapat pembatasan dari aparat keamanan.


Lima Tuntutan yang Menggema dari Jalanan

Dari berbagai orasi yang disampaikan, saya mencatat ada lima tuntutan utama yang menjadi dasar aksi tersebut.


1. Hentikan Pemborosan APBN

Mahasiswa menilai pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara harus lebih transparan dan fokus pada kebutuhan mendasar masyarakat. Mereka mempertanyakan sejumlah program yang dianggap tidak memiliki prioritas langsung terhadap kesejahteraan rakyat.


2. Turunkan Harga Kebutuhan Pokok dan BBM

Kenaikan harga berbagai kebutuhan sehari-hari menjadi sorotan utama. Menurut para mahasiswa, rakyat kecil saat ini menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat akibat mahalnya harga bahan pokok dan bahan bakar.


3. Hentikan Program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta sejumlah program lain yang menyerap anggaran besar menjadi sasaran kritik. Massa menilai anggaran tersebut seharusnya dapat diarahkan untuk sektor yang lebih mendesak seperti pendidikan dan kesehatan.


4. Tolak Militerisme di Ranah Sipil

Mahasiswa juga menyuarakan kekhawatiran terhadap semakin luasnya keterlibatan unsur militer dalam sektor sipil. Mereka meminta pemerintah menjaga prinsip demokrasi dan supremasi sipil sebagaimana amanat reformasi.


5. Presiden Harus Bertanggung Jawab

Tuntutan terakhir adalah desakan agar pemerintah mengakui berbagai persoalan yang terjadi dan memberikan pertanggungjawaban secara terbuka kepada masyarakat. Para demonstran menilai evaluasi kebijakan perlu dilakukan sebelum kondisi menjadi semakin kompleks.


Jalan Ditutup, Massa Tetap Bertahan

Yang menarik perhatian saya bukan hanya isi tuntutan mereka.

Mahasiswa mengaku sempat mengalami beberapa kali penghadangan ketika bergerak menuju lokasi aksi. Berbagai barikade dan kendaraan pengamanan ditempatkan di sejumlah titik strategis Jakarta. Bahkan ketika waktu salat Jumat tiba, sebagian peserta aksi mengaku kesulitan melanjutkan perjalanan menuju lokasi yang telah direncanakan sebelumnya.

Namun di tengah berbagai hambatan tersebut, massa tetap bertahan dan melanjutkan orasi mereka.

Bagi mereka, aksi ini bukan hanya tentang satu kebijakan atau satu program pemerintah. Ini adalah bentuk peringatan bahwa suara generasi muda masih hidup dan masih ingin didengar.


Ketika Mahasiswa Kembali Menjadi Alarm Bangsa

Sebagai seseorang yang mengikuti dinamika bangsa ini dari waktu ke waktu, saya melihat demonstrasi mahasiswa selalu memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar keramaian jalanan.

Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa mahasiswa sering menjadi alarm ketika mereka merasa arah perjalanan bangsa mulai menjauh dari harapan rakyat.

Apakah seluruh tuntutan mereka benar?

Apakah seluruh kritik mereka tepat?

Itu tentu menjadi ruang diskusi yang terbuka bagi semua pihak.

Namun satu hal yang tidak bisa diabaikan adalah kenyataan bahwa keresahan itu nyata. Dan ketika keresahan itu telah turun ke jalan, pemerintah maupun masyarakat perlu mendengarkannya dengan kepala dingin.

Saya, Adi Sinatra, akan terus mengikuti perkembangan isu ini dan menghadirkan informasi terbaru untuk pembaca setia PULIHSEKETIKA.COM.

"Karena sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh mereka yang berkuasa, tetapi juga oleh mereka yang berani mengingatkan ketika kekuasaan mulai kehilangan arah."